Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #19


__ADS_3

Diandra mengembuskan napas berkali-kali ketika melangkah memasuki rumah. Dengan gurat wajah lelah, Diandra melewati Gavin yang duduk di sofa.


"Dian."


Diandra memberhentikan langkah kaki nya dan berbalik mendekati Gavin.


"Kenapa ?"


"Lo dari mana ?"


"Ketemu Mochi"


Gurat wajah Gavin berubah, Gavin sedikit tersentak mendengar nama itu.


"Mochi ?" ulang Gavin.


Diandra mengangguk.


"Gagal deh, Mochi jadi Kakak ipar," desah Diandra.


"Maksud lo ?"


Diandra menatap Gavin." Mochi mau nikah."


"Nikah ? sama siapa ?" tanya Gavin penasaran.


"Sama Gio."


"Gio ?" ulang Gavin lagi.


"Iya. Gio Atmajaya, teman satu kelas gue sama Mochi."


Gavin terdiam. Diandra merasa kasihan sekaligus senang karena akhir nya Mochi mendapatkan laki-laki yang sangat tulus menyayangi diri nya. Tapi, melihat Gavin tak berdaya seperti ini, Diandra menjadi tidak tega.


"Lo sayang sama Mochi ?"


Gavin bangkit dari duduk nya tanpa menjawab pertanyaan Diandra. Gavin mengambil kunci mobil di meja.


Diandra hanya mengusap wajah nya. Diandra hanya bisa berdoa semoga apapun keputusan yang terbaik untuk Mochi, Diandra akan mendukung nya.


Gavin tahu tujuan nya kali ini. Gavin hanya ingin minta maaf secara langsung. Gavin tidak ingin mengganggu kebahagiaan Mochi lagi.


Beberapa menit kemudian, Gavin sampai di rumah Mochi. Rumah Mochi kali ini berbeda. Rumah bergaya minimalis, dengan taman serta banyak bunga-bunga indah di depan nya. Gavin tersenyum kecut ketika sebuah mobil mewah terparkir rapi di samping rumah.


Gavin melangkah keluar dari mobil nya. Gavin mengetuk pintu rumah Mochi.


"Assalammualaikum," ucap Gavin.


"Waalaikum--salam,"jawab Mochi terkejut.


Gavin dan Mochi saling pandang. Gavin menilik Mochi dari atas sampai bawah. Gadis udik nya sudah berubah menjadi gadis moderen. Mochi memakai blazer hitam di lapisi tanktop putih serta rok span selutut berwarna senada.

__ADS_1


"Siapa yang datang sayang ?"


Gio menyusul Mochi yang tak kunjung kembali dari depan membuka pintu.


"Gavin ?"


"Iya. Maaf kedatangan gue kesini hanya meminta waktu Mochi sebentar. Gue perlu bicara, boleh ?"


Gio memandang Mochi yang menatap nya dengan tatapan berkaca-kaca.


"30 menit. Gue rasa cukup."


"Makasih Gio."


"Ayo Mochi, kita bicara di luar," ajak Gavin canggung.


Mochi mengikuti langkah kaki Gavin, sembari memandang Gio. Gio mengalihkan pandangan nya. Mochi mengikuti Gavin, masuk ke mobil.


Mobil Gavin meninggalkan pekarangan rumah Mochi.


"Lho, Nak Gio ? Mochi kemana ?" tanya Rita yang melihat Gio berada di depan pintu.


"Mochi pergi sama Gavin Bunda."


"Gavin ? kenapa kamu membiarkan Gavin membawa Mochi Gio ? kalau terjadi apa-apa dengan Mochi bagaimana ?"


Rita sangat khawatir. Rita sangat marah terhadap Gavin yang berniat tidak baik pada putri semata wayang nya.


Rita menoleh, menautkan alis nya bingung mendengar kata ambigu Gio.


Suasana canggung yang di rasakan Mochi dan Gavin, sama seperti di saat mereka yang tidak saling mengenal. Atmosfer di mobil berubah. Tidak ada lagu, atau topik pembicaraan. Gavin dan Mochi sama-sama bungkam. Mochi yang mengalihkan pandangan nya ke luar jendela kaca memperhatikan pohon-pohon rindang yang hijau di lewati nya.


"Lo bahagia ya Mo sama Gio ?"


Mochi menoleh mendengar pertanyaan Gavin.


"Bahagia."


Gavin hanya mengangguk. Gavin membawa Mochi ke sebuah danau dengan rerumputan hijau yang luas. Gavin keluar dari mobil nya yang di ikuti Mochi.


"Lo sekarang cantik, pantas Gio jatuh cinta sama lo," kata Gavin memandang danau dengan tatapan lurus.


"Gio bukan kamu yang brengsek."


Gavin tersenyum dan mengangguk.


"Untuk itu lah, gue kembali hanya ingin minta maaf atas semua kesalahan gue dan menghadiri acara pernikahan lo."


Mochi memandang Gavin yang tetap lurus menatap hamparan danau. Air mata Mochi lolos membasahi kedua pipi nya.


"Aku udah memaafkan kamu."

__ADS_1


Gavin menoleh dan mendekati Mochi dengan air mata yang terus mengalir.


Gavin menghapus air mata Mochi yang terus menetes.


"Lo nggak usah nangis. Apa yang lo tangisin ? lo nggak boleh nangis lagi. Sekarang, lo udah ada Gio yang selalu ada buat lo."


Gavin menatap tepat di manik mata Mochi. Mochi juga menatap Gavin. Mochi yang sudah tidak tahan, memeluk Gavin dan menumpahkan semua rasa sakit beserta rasa rindu nya. Bahu Mochi bergetar dengan isak tangis nya yang menyayat hati Gavin.


Gavin memeluk Mochi erat.


Gavin mengurai pelukan nya ketika tangis Mochi sedikit reda.


"A-aku--a-aku—"


"Stop. Jangan bicara apa pun lagi. Gue ngerti. Gue bisa rasakan perasaan lo.Tapi, gue nggak pantas sama lo Mochi. Lo baik, sedangkan gue—"


Mochi meletakkan jari telunjuk nya di bibir Gavin.


"Aku sayang sama kamu. Dari dulu, perasaan aku nggak pernah berubah," kata Mochi dengan suara serak nya.


"Maaf, udah menyakiti lo terlalu dalam. Mungkin, melepaskan lo dengan Gio adalah pilihan terbaik."


Gavin memejamkan mata nya menetralisir kesedihan nya. Gavin maju selangkah mendekati Mochi. Gavin mengecup dahi Mochi dengan memejam kan kedua mata nya dengan air mata yang yang tanpa Gavin sadari mengalir dengan sendirinya. Gavin menghapus air mata nya cepat, sebelum Mochi menyadari nya. Mochi membuka mata nya yang terpejam ketika Gavin selesai mengecup dahi nya.


"Kamu sayang sama aku ?"


"Nggak. Gue nggak pernah punya rasa sama lo cewek udik. Lo jangan ge-er, tadi gue cium lo karena masih teringat moment romantis film yang gue tonton."


Mochi hanya tersenyum tipis.


"Yaudah, kalau gitu aku lega sekarang. Semua masalah selesai, dan aku bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang kamu," kata Mochi berbalik dengan tersenyum lega dan melangkahkan kaki nya.


Mochi terdiam ketika sepasang tangan melingkar di perut nya dari belakang.


"Ga-Gavin."


Gavin berbisik di telinga Mochi,"cukup diam dan dengarkan. Gavin Angkasa sudah jatuh ke pesona cewek udik."


Mochi tersenyum lebar. Mochi berbalik melepaskan tangan Gavin.


"Makanya jangan gengsi ! kena kan kamu ?" Mochi mengejek Gavin.


"Oh, jadi lo ngerjain gue ?"


Mochi menyengir lebar. Mochi berlari sebelum mendapat amukan Gavin.


"MOCHI ...!"


Seseorang yang melihat mereka dari kejauhan hanya tersenyum getir.


Jangan lupa kritik dan saran 🤗

__ADS_1


__ADS_2