
Diandra mengintip pergerakan Gavin. Diandra mengerutkan dahi bingung, melihat Gavin yang akhir-akhir ini aneh. Biasa nya, Gavin sangat malas bangun pagi, sekarang ? bahkan, Gavin sudah bersiap dengan seragam nya padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30 Wib. Pergerakan Gavin, tak luput dari perhatian Diandra. Sampai, Gavin diam-diam lewat pintu penghubung ke garasi mengambil motor nya.
"Sayang, kamu ngapain di sini ?" tanya Zura yang bingung mencari keberadaan Diandra.
"Eh, Mama. Ini Ma, Dian lagi nguntit Kak Gavin. Mama tahu nggak, akhir-akhir ini Kak Gavin berubah," celoteh nya.
"Berubah gimana ?"
"Itu, kebiasaan Kak Gavin. Mama kan tahu sendiri."
"Nanti aja bahas nya ya sayang, sekarang kamu siap-siap gih, kita sarapan dulu," peringat Zura.
Diandra mengangguk. Zura kembali ke meja makan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak nya.
"Ma, Dian mana ?" tanya Ferry yang tidak melihat keberadaan Diandra di meja makan.
"Ada Mas, lagi diatas siap-siap," sahut Zura memberikan roti yang sudah di beri selai cokelat pada Ferry.
"Pagi, Papa," sapa Diandra riang.
"Pagi sayang. Kamu lihat Kakak kamu ? apa dia masih belum bangun ?"
Ferry memandang Diandra sembari menggigit roti nya.
"Sudah Pa. Malahan, Kak Gavin udah berangkat dari tadi," celetuk Diandra mengambil roti serta selai kacang kesukaan nya.
Uhuk uhuk
Ferry tersedak, hingga Zura memberikan air putih.
"Kenapa Mas ?"
"Mas terkejut sayang. Biasa nya Gavin malas bangun. Sekarang, Gavin sudah pergi sepagi ini ?"
Zura tersenyum simpul.
"Mungkin, Gavin sudah berubah Mas. Setidak nya, Gavin berubah jadi lebih baik aja aku udah sangat bersyukur Mas," sahut Zura.
"Iya sayang, Mas harap begitu." Ferry dan Zura saling melempar senyum.
"Masih ada orang Pa, Ma di sini ! nanti aja mesra-mesra nya," omel Diandra bersungut-sungut.
Ferry dan Zura tertawa pelan mengejek ekspresi wajah Diandra.
"Makanya, cari pacar biar bisa mesra-mesra kayak Papa dan Mama," celetuk Ferry.
__ADS_1
"Ih, Papa ...!" rajuk Diandra.
"Sudah, Mas, Diandra. Habiskan sarapan nya, nanti telat lho," tegur Zura tersenyum menggeleng.
****
"Kak Gavin, udah sarapan ?"
Gavin menggeleng mendengar suara teriakan Mochi di balik helm full face nya. Mochi menepuk pundak Gavin kuat, membuat Gavin memberhentikan laju motor nya.
"Lo apaan sih ! kalau kita jatuh gimana ?" cerca Gavin.
"Ma-maaf Kak. Maksud Mochi, kalau Kak Gavin belum sarapan, Mochi udah buatkan nasi goreng suwir ayam kesukaan Kakak," cicit nya.
"Lo sebegitu nya tahu tentang gue, lo nguntit ya ?" selidik Gavin membuka kaca helm nya.
Mochi menggeleng cepat,"Nggak, Mochi cari tahu tentang Kakak dari Diandra."
Gavin mengembuskan napas nya.
"Kita berhenti aja dulu di situ," tunjuk Gavin didekat kedai kecil, beratapkan rumbia, dengan dua buah bangku panjang di dalam nya.
Mochi mengangguk dan turun dari atas motor Gavin. Begitu juga dengan Gavin yang melepas helm full face nya. Mochi duduk di salah satu bangku kedai itu. Kedai tak berpenghuni ditepi jalan yang sudah jarang di lewati kendaraan.
Gavin memperhatikan Mochi dalam diam.
"Ada angin apa lo mau buat makanan sama minuman untuk gue ?"
"Untuk melunasi utang," cengir Mochi.
"Jangan harap utang lo bisa lunas gitu aja !" ketus Gavin dengan bersedekap dada di tiang kayu penyangga kedai.
Mochi memanyunkan bibir nya. Gavin yang sangat gemas menjawil pipi Mochi.
"Hish, sakit !"
"Lo udah sarapan ?" tanya Gavin yang melihat sedari dekat wajah pucat Mochi.
"U-udah Kak," jawab nya gugup.
Gavin mengambil kotak makanan dan minuman dari tangan Mochi.
"Nggak usah bohong, wajah lo pucat gitu," sahut Gavin menyendok kan nasi goreng nya ke mulut Mochi.
"Tapi Kak—"
__ADS_1
"Kunyah, habis itu telan," potong Gavin menyuapkan nasi goreng suwir ayam ke mulut Mochi.
Mochi mengangguk dan mengambil kotak bekal makanan itu.
"Kak Gavin harus makan juga. Biar belajar nanti, bisa fokus," cerocos Mochi menyendok nasi goreng mengarahkan ke mulut Gavin.
Gavin tertegun. Dari jarak sedekat ini, Mochi terlihat sangat cantik. Jantung Gavin berdetak lebih cepat. Aliran darah Gavin seperti terhenti jika berada di dekat Mochi. Gavin membuka mulut nya dengan masih fokus menatap Mochi.
"Nih, minum dulu Kak," ujar Mochi membuyarkan lamunan Gavin.
Gavin meminum air putih nya. Jakun Gavin naik turun yang terlihat sangat seksi di mata Mochi. Mochi menggeleng.
"Lo kenapa ? ayan ?"
"Nggak Kak."
"Terus, kenapa lo geleng-geleng ?"
Mochi mengalihkan pandangan nya melihat sekitar. Dari kejauhan, Mochi melihat segerombol anak geng motor. Gavin melihat arah pandang Mochi yang membuat Mochi semakin takut.
"Kita harus pergi," sela Gavin cepat.
Gavin membantu Mochi membereskan makanan dan minuman yang di bawa nya. Gavin menggenggam tangan Mochi. Tanpa sadar, semburat merah muncul di kedua pipi Mochi.
"Buruan naik !"
Mochi berpegangan pada pundak Gavin menaiki motor cross Gavin. Gavin melajukan motor nya kencang sebelum geng motor yang Gavin yakini itu Nicho.
Nicho memberhentikan motor nya, hingga teman-teman nya ikut memberhentikan motor mereka.
"Kenapa Nic ?" tanya Azka.
Azka mengikuti arah pandang Nicho yang melihat Gavin bersama seorang perempuan.
"Gavin ?" sambung Frans.
Nicho mengangguk.
"Gue tahu apa yang lo pikirkan Nic," lanjut Azka.
"Menghitung hari," tambah Frans.
"Gue pastikan, kali ini Gavin bertekuk lutut di hadapan gue !" Nicho menyeringai dengan tatapan yang berkilat-kilat.
Teman-teman Nicho memandang Nicho bergidik.
__ADS_1