
Gio yang saat ini tengah memilih ice cream di swalayan sesuai permintaan Mochi. Stok ice cream yang Mochi ingin sedang kosong di minimarket dekat kompleks rumah Gio. Gio terpaksa mencari swalayan jauh dari rumah.
Ice cream cokelat, vanilla, strawberry permintaan Mochi Gio dapatkan.
"Nah, ini nih, untung ada stoknya di sini," gumam Gio mengambil satu kotak ice cream besar.
"Maaf—"
"Gio?"
"Viola?" kata Gio memperhatikan Viola dari atas ke bawah yang berpenampilan beda dari biasanya memakai dress sabrina selutut berwarna merah menyala.
"Iya, kenapa? Gue Viola, lo lupa?"
"Viola tetangga rumah gue yang pindah bukan?"
"Ingat juga lo," celetuk Viola.
"Beda banget lo sekarang, dulu dekil, hitam gendut, suka gangguin gue," celetuk Gio.
Viola tersenyum mengejek.
"Kenapa? Sekarang gue cantik?" Viola bersedekap dada.
"Yes, you look beautiful."
"Gombal lo! Omong-omong, lo ngapain di sini? Beli ice cream?" tunjuk Viola pada kotak ice crem di tangan Gio.
"Oh, ini buat istri gue yang lagi ngidam," balas Gio menukar ice creamnya kembali.
"Istri? Lo udah nikah? Yah, gue gak ada kesempatan lagi dong?"
"Kesempatan? Emang lo mau jadi istri kedua gue?" kelakar Gio tertawa pelan.
"Mau aja, yang penting jadi istri lo," balas Viola santai.
Gio tertegun setelahnya tertawa.
"Gila lo! Eh, gue bayar ini dulu. Lo tinggal di mana?" tanya Gio berjalan bersisian dengan Viola.
"Di mana lagi kalau bukan samping rumah lo," celetuk Viola.
"Really? Wow, gue bakal kedatangan tamu yang berisik tiap hari dong kalau gitu," seloroh Gio.
"Yaps, gue bakal gangguin lo kayak hantu!"
"Ada-ada aja lo Vi."
Gio membayar ice cream di kasir. Viola memperhatikan Gio dari samping.
"Lo bawa mobil?" seru Gio keluar setelah membayar.
"Gak, tadi gue naik taksi, kenapa?"
"Bareng gue aja, gimana?" usul Gio.
"Hum, emang gak apa-apa? Takutnya istri lo nanti cemburu lagi."
"Gak kok, istri gue baik," terang Gio.
"Yaudah, boleh deh."
Gio menuju mobil bmw hitamnya yang di susul Viola memasuki mobil.
"Lo kemana aja selama ini?" tanya Gio menoleh sembari menginjak pedal gas.
__ADS_1
"Gue keluar negeri. Lo tahu sendiri, Papa, Mama gue suruh nyusul," ungkap Viola.
"Iya, orang tua lo kan super sibuk, hari-hari gue sepi sejak gak ada lo," Gio menoleh sekilas sebelum fokus menyetir.
Viola mengubah posisi duduknya miring ke arah Gio.
"Halah, lo banyak gaya banget, ada gue lo selalu menghindar kok, buktinya lo nolak pernyataan cinta gue waktu itu," balas Viola mendengkus.
Gio terkekeh pelan.
"Sorry, bukan karena fisik gue nolak lo, tapi, ada seseorang yang bisa buat gue jatuh cinta dengan kesederhanaannya," terang Gio.
"Siapa? Jangan bilang istri lo?" tebak Viola.
Gio mengangguk semangat.
"Kok bisa? Gue jadi penasaran deh. Seorang Gio Atmajaya yang ngakunya paling anti sama perempuan, sekarang bisa jatuh hanya karena pesona cewek?" sindir Viola.
"Dia beda Vi, tutur katanya yang lembut, cara dia memperlakukan seseorang tulus dengan hati. Gue beruntung bisa miliki dia," ungkap Gio tersenyum memandang arah jalanan di depannya.
Raut wajah Viola berubah melihat senyum Gio merekah.
Seandainya, lo tahu perasaan gue Gi, masih sama, batin Viola sendu.
***
Mochi yang sejak tadi hilir mudik di depan pintu menunggu kepulangan Gio. Naura yang mencari keberadaan Mochi terkejut melihat Mochi seperti telah terjadi sesuatu.
"Mochi? Kamu kenapa di sini?"
"Eh, Mama. Mochi lagi nunggu Gio, lama banget pulangnya," rajuk Mochi manja.
"Memangnya Gio kemana?"
"Tadi, Mochi ngidam ice cream, terus suruh Gio beli."
"Buat ice cream kali Ma," Mochi mencebik.
"Yaudah, kamu duduk aja dulu, gak baik hilir mudik di depan pintu," peringat Naura.
"Iya, Ma."
Naura mengusap pundak Mochi. Naura masuk ke rumah.
Senyum Mochi merekah, ketika melihat mobil bmw hitam memasuki pekarangan rumah. Namun, senyum Mochi memudar ketika melihat siapa yang turun dari dalam mobil.
"Ga-Gavin."
Gavin melangkah mendekati Mochi dengan membawa undangan di tangannya.
"Hai, Mochi," sapa Gavin.
"Hai."
"Ka-kamu ngapain ke sini? Kan, aku udah bilang, jangan—"
"Aku ke sini dengan niat baik kok, bukan ganggu kamu," potong Gavin cepat menyodorkan undangan berpita berwarna emas.
"Undangan?"
Gavin mengangguk.
Mochi membuka undangan itu. Mata Mochi melebar membaca nama yang tertera di undangan.
*Happy Engegement
__ADS_1
Gavin & Tasya*
"Kamu, Tasya? Tunangan?" lanjut Mochi dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, untuk apa aku masih setia dengan seseorang yang sudah milik orang lain?" sindir Gavin memasukkan tangan ke saku celananya.
Mata Mochi berair. Gavin mengalihkan pandangan tak ingin melihat Mochi menangis.
Suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Mochi menghapus cepat bulir air matanya yang menetes. Gio mengernyit ketika turun dari mobil melihat Gavin.
"Ngapain lo di sini?" tanya Gio mendekati Mochi sembari membawa ice cream di tangannya.
"Gue cuma mau kasih undangan."
Mata Gio menoleh ke arah Mochi yang memegang undangan. Gio merampas undangan itu menukarnya dengan ice cream ke tangan Mochi.
"Baguslah, kalau lo tunangan. Lo gak bakal ganggu Mochi lagi," kata Gio tersenyum mengejek.
Gavin mengepalkan tangan di dalam saku celana jeansnya.
"Untuk saat ini," balas Gavin pergi meninggalkan rumah Gio.
"Brengsek!" umpat Gio.
"Gio, apa ini rencana kamu menjauhkan aku dari Gavin?" cecar Mochi.
"Kamu nuduh aku?"
"Kenapa Gavin tiba-tiba datang bawa undangan pertunangan tanpa sebab?"
Gio memandang Mochi.
"Jadi, kamu berpikir aku yang buat Gavin kayak gitu?"
"Kenapa gak? Aku udah bilang Gio, jangan usik Gavin dan juga keluarganya!" sergah Mochi.
Gio mencengkeram rahang Mochi.
"Jangan pernah membentak aku! Aku suami kamu. Dan, masalah Gavin? Bisa saja Gavin memang tidak mencintai kamu, makanya Gavin memilih Tasya!"
Gio melepaskan cengkeramannya ketika bulir air mata Mochi turun membasahi pipi.
"Kamu tangisi orang yang gak pernah mencintai kamu? Lihat aku, Mochira! Apa yang kamu lihat dari Gavin? Apa semua pengorbanan aku selama ini, belum cukup?"
Gio menggeram menahan amarahnya pergi meninggalkan Mochi masuk ke rumah.
Tangis Mochi pecah. Naura yang melihat Gio seperti menahan amarah bergegas mencari Mochi di luar.
"Mochi," panggi Naura.
Naura memeluk Mochi membawa masuk ke rumah. Naura mendudukkan Mochi di sofa.
"Apa yang terjadi, Sayang?" Naura menghapus air mata Mochi.
"Gio tidak menepati janjinya, Ma."
"Janji apa?" Dahi Naura mengerut.
"Janji, kalau Mochi menikah dengan Gio, Gio gak akan ganggu hidup Gavin bersama keluarganya," ungkap Mochi memandang sendy Naura.
"Apa? Jadi kalian menikah, hanya karena sebuah perjanjian? Bukan karena kamu mengandung anak Gio?"
Mochi menelan salivanya susah payah. Mochi tanpa sadar keceplosan.
__ADS_1
*Maaf baru update! 🙈
Sejujurnya sejak semalam mau update, tapi tiba-tiba gak terpublish, 700 kata hilang hiks, jadi aku ngetik lagi, jangan lupa saran dan kritik 😘*