
Gavin memijit pelipis ketika sampai di rumah sakit yang duduk di kursi tunggu. Zura keluar dari ruang rawat Ferry.
"Gimana keadaan papa, Ma?" tanya Gavin khawatir.
"Tekanan darah tinggi mengakibatkan Papa terserang stroke, Gavin. Papa meluapkan emosi, hingga melupakan penyakit yang di deritanya," terang Zura.
"Apa? Stroke? Kenapa bisa Ma?" protes Gavin.
"Gavin, sakit papa sudah lama. Kata dokter, penyakit papa bisa lebih bahaya dari ini. Papa saat ini hanya terkena stroke sementara," tutur Zura.
"Ma, kenapa papa bisa kayak gini? Bukannya selama ini papa selalu bisa menahan amarahnya?" desak Gavin.
Zura duduk di samping Diandra.
"Papa bertengkar dengan pak Elang."
"Pak Elang? Papa Gio? Kenapa Ma?"
Zura mengangguk.
"Papa meminta pak Elang untuk tidak mencampuri urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, apalagi menyangkut anak-anak. Papa hanya ingin pak Elang bersikap sportif, bukan hanya mementingkan ego. Mama dengar dari salah satu karyawan yang tidak sengaja mendengar perdebatan mereka. Samar-samar, nama Gio, Mochi dan kamu terdengar Gavin," ungkap Zura menatap Gavin.
Gavin menghela napas. Gavin berpindah tempat dari dinding tempatnya bersandar ke kursi tunggu di samping Zura.
"Kak, papa sudah memutuskan untuk mementingkan kebahagiaan Kak Gavin. Papa rela mengalah demi Kak Gavin bahagia dengan Mochi," sambung Diandra.
"Maksud lo apa, Dek?"
"Kami ... memutuskan untuk memilih kebahagiaan Kak Gavin," cicit Diandra.
Gavin menghela napas bangkit dari kursi, duduk di bawah kaki Zura.
"Ma, kalian gak perlu melakukan hal itu. Awal mula masalah ini karena Gavin. Gavin yang harus bertanggung jawab. Maafkan Gavin, yang udah buat keluarga kita menderita," lirih Gavin menggenggam tangan Zura dan menatap Zura serta Diandra bergantian.
"Gavin, ini bukan salah kamu. Tidak salah siapa-siapa. Ini hanya ujian untuk kamu dan keluarga kita. Kamu gak boleh kayak gini. Kamu harus memperjuangkan kebahagiaan kamu," sanggah Zura.
"Tapi, Ma—"
"Benar apa kata Mama Kak, lo harus kuat, gak boleh lemah. Lo harus perjuangin cinta lo, kebahagiaan lo," sahut Diandra.
"Makasih ya, Ma, atas kebaikan dan ketulusan Mama selama ini sama Gavin. Maaf, jika dulu Gavin pernah bersikap tidak sopan sama Mama."
Zura tersenyum memegang pipi Gavin.
"Gak apa Gavin, saat ini kebahagiaan Mama sudah lebih dari cukup," kata Zura.
"Ma, udah deh, jangan kayak gitu sama Kak Gavin! Kan, dia laki-laki. Harusnya, yang di manja Diandra," ujar Diandra mencebik.
Gavin dan Zura tersenyum. Gavin dengan jahil mencubit pipi chubby Diandra.
__ADS_1
"KAK GAVIN! MA ...."
Diandra merengek pada Zura meminta pembelaan. Zura hanya tersenyum.
***
"Ayah harus merestui hubungan Gio dengan Mochi!" tegas Gio yang duduk di sofa bersama dengan Rita dan Haris.
"Gio, kamu lupa apa yang di katakan dokter tadi? Mochi kelelahan, dia gak boleh stress dan banyak pikiran. Besok, kamu minta tetap di adakan pernikahan? Kamu gila?" desis Haris.
"Ayah, ini hanya pernikahan. Gio gak mau acaranya di undur lagi!" bantah Gio.
"Ayah tidak setuju! Gio, seandainya waktu bisa di putar ulang, Ayah akan memilih tetap hidup miskin daripada harus berurusan dengan kamu dan keluarga kamu!"
Gio tersenyum mengejek.
"Di putar ulang? Gio juga tidak ingin punya perasaan terhadap Mochi dan membantu keluarga yang tidak tahu terima kasih!" sarkas Gio.
"GIO—"
"Gio, Bunda pikir kamu laki-laki yang baik. Tapi, ternyata kamu—"
"Kamu apa Bunda? Jahat? Tidak tahu sopan santun, begitu?" potong Gio. "Bunda harus ingat, atas dasar apa Gio berubah seperti ini."
"Gio, Gavin tidak salah. Kamu jangan pernah menyalahkan orang lain," protes Rita.
"Gio, Ayah dan bunda tidak menyalahkan kamu. Ini semua bukan salah siapa-siapa. Tapi, Ayah minta kamu jangan bersifat diktator seperti ini. Jadilah, Gio yang kami kenal," pinta Haris.
"Gio gak akan seperti ini, jika Gavin gak mengusik Mochi. Kembalinya Gavin, jadi ancaman untuk Gio. Ayah tahu kan, bagaimana perasaan Mochi pada Gavin?"
"Jika kamu masih memaksakan kehendak, Ayah akan menggagalkan pernikahan kamu," ancam Haris.
Gio tertawa meremehkan.
"Hah, menggagalkan? Ayah ... Ayah. Sebelum itu terjadi, Gio pastikan hidup orang yang Mochi cintai menderita," ungkap Gio.
"Apa maksud kamu, Gio? Orang yang Mochi cintai?" selidik Haris.
"Gio, jangan katakan jika—"
"Apa yang Bunda pikirkan benar. Papa Gio sudah memberi keluarga Gavin peringatan untuk tidak ikut campur masalah Gio dan Mochi," potong Gio.
"Apa?"
"Mochi, kenapa kamu keluar, Nak?" seru Haris melihat Mochi yang berjalan tertatih keluar dari kamar.
"Gio, maksud kamu apa?"
Mochi melangkah mendekati Gio.
__ADS_1
"Mochi, harusnya, kamu istirahat. Kamu gak dengar apa kata dokter tadi? Kamu harus jaga kandungan kamu, gak—"
"Aku tanya, apa maksud kamu, Gio!" sentak Mochi.
"Maksud apa, Mochi? Aku gak ada maksud apa-apa," dalih Gio menatap Mochi.
"Oh, jadi, apa yang aku dengar tadi, salah? Kalau kamu akan membuat hidup orang yang aku cintai menderita?" sindir Mochi.
"Jika kamu dengar, baguslah. Mungkin, ini bisa mengubah mind set kamu untuk gak menunda pernikahan kita," celetuk Gio.
"Kamu jangan pernah menggertak aku, Gio. Apa yang kamu lakukan dengan Gavin?"
"Hanya permainan bisnis. Kamu gak perlu khawatir. Masalah akan selesai, jika kamu menyetujui pernikahan kita."
"Gio! Mochi bukan barang yang bisa di tukar! Ayah jadi ragu, kalau kamu benar-benar mencintai Mochi," protes Haris.
"Terserah apa kata Ayah, Gio gak perduli. Gio hanya butuh jawaban Mochi," ucapnya memandang Mochi.
Mochi menarik napas, menghembuskannya panjang. Mochi lakukan berulang kali. Mochi tidak ingin amarahnya membahayakan janin yang ada di rahimnya.
"Baik, asal kamu berjanji tidak akan mengganggu Gavin dan keluarganya. Kamu harus pastikan, jika sampai kamu membuat hidup Gavin dan keluarganya menderita, aku akan pastikan janin yang ada di kandungan aku akan lenyap," ancam Mochi.
Gio tersenyum miring.
"Deal. Kalau begitu, sampi besok di pernikahan kita Mochi. Besok pagi, supir keluargaku akan menjemput. Persiapkan diri kamu, aku pulang. Assalammualaikum," kata Gio berdiri dari duduknya keluar dari rumah Mochi.
Mochi meringis, ketika perutnya merasa di cengkeram. Rita dengan sigap membawa Mochi duduk.
"Sayang, kenapa kamu menyetujui ide gila Gio? Kamu tahu kan, pernikahan itu tidak main-main?" bantah Rita.
"Bunda, Mochi tahu. Apa lagi yang harus Mochi lakukan? Jika Mochi menolak, Mochi juga gak bisa menghindar," terangnya menunduk menatap perutnya yang datar.
Hati Rita mencelus. Begitu juga dengan Haris. Rasa sesak di dada sebagai seorang ayah, sangat menghunjam perasaan Haris. Seperti di cabik-cabik, kebahagiaan sederhana mereka telah terkoyak. Haris kecewa dengan dirinya sendiri.
"Maafkan Ayah yang sudah gagal menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarga kita," kata Haris sendu.
"Ayah, ini bukan salah Ayah. Ini sudah jalan takdir hidup Mochi. Kita harus ikhlas Ayah," sambung Mochi.
"Meskipun, kamu mengorbankan kebahagiaan kamu dan juga Gavin?" timpal Rita.
"Jika itu merupakan jalan terbaik, Mochi ikhlas Bunda. Karena, mencintai tidak harus memiliki. Mungkin, bersama dengan Gio, kehidupan Gavin juga keluarganya, akan membaik."
Mochi menunduk menatap perutnya yang datar.
*Semoga ini yang terbaik untuk kita, Gavin. Maafkan aku. Batin Mochi menangis.
**Maaf, baru update 😁
Jangan lupa saran dan kritik ya 🤗😘***
__ADS_1