
"Gio, lepas! Tangan aku sakit," ronta Mochi melepas cengkeraman tangan Gio di pergelangan tangannya.
Gio menyentak tangan Mochi kasar.
"Jadi, ini alasan kamu mau ke taman?"
"Gak, Gio, aku gak tahu kalau ada Gavin," sanggah Mochi.
"Gak tahu, apa kamu sengaja? Kamu ingat status kamu sekarang Mochi!" sarkas Gio.
"Aku tahu, Gio, kamu percaya sama aku," pinta Mochi menjelaskan.
"Kenapa tadi kamu masih bela dia? Aku suami kamu, Mochi," protes Gio.
"Aku gak bela siapa-siapa. Aku gak mau kalian bertengkar, itu aja," terang Mochi mengikuti langkah kaki Gio masuk ke rumah.
"Ada apa ini, Gio?"
Elang yang ingin berangkat ke kantor harus mendengar keributan di rumahnya.
"Gak ada Pa, kok, Papa belum berangkat ke kantor?" dalih Gio mengalihkan perhatian Elang.
"Kamu gak usah mengalihkan perhatian Papa. Apa yang terjadi?" selidik Elang menilik Gio dan Mochi bergantian.
Mochi menelan salivanya memandang tatapan tajam mata hitam Elang.
"Mochi, ada apa?" tanya Elang pada Mochi.
"Hum, itu ... Mo-Mochiโ"
"Tadi, Gio marah Pa sama Mochi. Mochi ingin ke taman depan kompleks karena cucu Papa mau ke sana," potong Gio.
"Oh, Papa kira ada apa. Soalnya, raut wajah kalian tegang, kayak terjadi sesuatu," balas Elang.
"Papa, belum berangkat?" sahut Naura melihat keberadaan suaminya masih di rumah.
"Ini mau berangkat. Papa jalan dulu, assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gio memastikan Elang sudah pergi ketika mendengar mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Ikut aku." Gio menarik tangan Mochi ke kamar.
"Gio! Kamu jangan kasar sama Mochi, ingat dia lagi hamil," peringat Naura melepas paksa tangan Gio.
"Ma, Mochi berani selingkuh dari Gio. Apa Gio harus diam saja?"
Mochi menggeleng dengan bulir air matanya yang jatuh menetes.
"Gak, Ma. Itu gak benar, Mochi gak selingkuh. Gio salah paham," bantah Mochi.
"Gio, Mochi, tenangkan diri kalian. Ikut Mama," lerai Naura membawa Mochi ke taman belakang rumah yang di suguhi rerumputan hijau dengan banyak tanaman bunga-bunga.
Gio menyusul langkah Naura. Naura membawa Gio dan Mochi duduk di ayunan sofa yang menghadap ke rerumputan hijau di depannya.
"Sebagai seorang Ibu, Mama akan gagal ketika anak-anak Mama hubungan rumah tangganya tidak harmonis. Apalagi kalian baru saja menikah. Mama ingin sedikit memberi wejangan," tutur Naura membelai rambut panjang Mochi.
Mochi menyandar manja di bahu Naura.
__ADS_1
"Ma, Gio salah paham," ujar Mochi.
"Mama jangan percaya omongan Mochi," sahut Gio duduk menyandar dengan tangan bersedekap dada.
"Ck, kalian jangan kayak anak kecil. Ingat, kalian baru menikah masa bertengkar karena salah paham?"
"Mama tanya sama Mochi."
"Ma, tadi Mochi ketemu Gavin di taman kompleks gak sengaja. Padahal Mochi gak janjian, tapi Gio nuduh Mochi selingkuh," aku Mochi.
"Banyak alasan! Kenapa Gavin bisa tahu, kalau kamu ada di sana, kalau gak kamu yang kasih tahu?" cecar Gio.
"Sudah! Gio, Mochi ayo baikan. Ini hanya salah paham. Jangan egois, ingat janin yang ada di rahim Mochi. Kasian dia, kalau lihat orang tuanya bertengkar," lerai Naura.
Mochi mengusap perutnya yang datar. Gio menoleh.
"Maafin Mochi, Ma, Gio. Kalau Mochi belum bisa jadi menantu dan istri yang baik," lirih Mochi menunduk.
Naura mengambil tangan Gio dan Mochi.
"Selalu ingat pesan Mama. Selalu ada ujian di setiap pernikahan. Gak ada yang namanya jalanan mulus tanpa adanya lubang. Pasti ada, besar kecilnya. Begitu juga dengan rumah tangga. Kalian harus bisa saling mengerti dan kerja sama. Harus ada yang mengalah satu sama lain," ungkap Naura.
"Kayak Mama hadapi sikap keras kepala papa?" tebak Gio.
"Ya, karena sebagai seorang istri jika ingin mempertahankan rumah tangganya harus belajar mengalah. Kecuali, jika pasangan kita selingkuh, atau punya pasangan lain dalam artian istri kedua," terang Naura.
Gio dan Mochi bungkam.
"Yaudah, Mama tinggal dulu ya, kalian bicara dari hati ke hati," lanjut Naura beranjak dari duduknya meninggalkan Gio dan Mochi.
"Gi-Gio, Mochi minta maaf," cicitnya.
"Aku juga minta maaf Mochi. Mungkin, karena rasa cemburu, aku kasar sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu," ucap Gio mengecup pucuk kepala Mochi.
"Aku tahu Gio, aku udah maafin kamu," balas Mochi merangkul Gio.
Aku harus belajar membuka hati untuk Gio, batin Mochi.
"Kamu ada ingin yang lain Mochi? Kalau ada, biar aku belikan," ujar Gio antusias.
"Ada sih, tapi, kamu pasti gak mau mengabulkannya."
Gio menatap Mochi yang menunduk.
"Apa Sayang?"
"Aku mau makan es krim sama cokelat," kata Mochi mendongak.
"Es krim? Cokelat?"
Mochi mengangguk.
"Memangnya boleh, Sayang? Apa nanti gak terjadi sesuatu sama bayi kita?"
"Gak, kan, aku baru ngidam. Beda sama hamil besar," balas Mochi.
"Aku gak sabar, nunggu bayi kita lahir," kata Gio mengusap perut datar Mochi.
"Sabar, masih delapan bulan lagi."
__ADS_1
Gio beranjak dari duduk, menekuk lutunya sejajar dengan perut Mochi. Gio mencium perut Mochi bertubi-tubi dari balik piyama winni the pooh kesukaan Mochi.
"Udah Gio, geli." Mochi kegelian ketika Gio mencium perut Mochi.
"Sayang, sehat-sehat ya di dalam sana. Papa udah gak sabar nunggu kamu lahir." Gio mengusap perut datar Mochi. Mochi hanya tersenyum.
"Gio, bangun," perintah Mochi.
Gio kembali duduk di samping Mochi. Gio merangkul Mochi menyandarkan di bahunya.
"Belajarlah membuka hati untuk aku Mochi. Aku gak sejahat yang kamu kira, kalau kamu sedikit saja bisa belajar mencintai aku, demi anak kita kelak."
Gio mengusap rambut panjang Mochi.
"Aku janji, akan belajar mencintai kamu."
"Kita mulai lembaran baru, tanpa ada masa lalu lagi. Ikhlaskan semuanya Mochi. Karena aku sekarang suami kamu, masa depan kamu."
Mochi mendongak.
"Maafin sikap aku. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untuk kamu dan keluarga kecil kita nanti," putus Mochi.
Gio tersenyum lebar. Gio mengusap pipi Mochi perlahan mendekatkan wajahnya. Mochi menghindar.
"Kenapa Mo? Apa kamu masih trauma?"
"Gak, bukan begitu Gio," dalih Mochi gelisah.
"Lalu? Apa bayang-bayang Gavin melintas saat kalian berdua kissing?" tebak Gio.
Mochi menelan salivanya. Gio bisa-bisanya menebak apa isi hati dan pikirannya.
"Bu-bukanโ"
"Mulut kamu bisa bohong, tapi mata kamu gak, Mo."
Gio menatap lekat manik mata Mochi.
"Kamu jangan salah menduga, kamu gak ingat pesan Mama tadi?"
"Ingat, gimana aku bisa lupa? Aku juga gak ingin rumah tangga yang baru saja kita bina hancur hanya karena Gavin!" sarkas Gio.
Mochi mengambil tangan Gio menenangkannya.
"Gio, aku minta kamu jangan khawatir. Sebagai seorang istri, aku akan menjaga martabat aku demi kamu."
"Buktikan kalau memang benar, kamu belajar mencintai aku," pinta Gio.
Mochi ragu-ragu mendekatkan kepalanya ke bibir Gio. Mochi memegang rahang Gio, perlaha wajahnya mendekat. Gio menubrukkan bibirnya ke bibir Mochi cepat. Mochi berusaha menyeimbangi permainan Gio. Seperti candu, Gio tak ingin melepas Mochi.
Naura melihat anak dan menantunya dari kejauhan.
Semoga rumah tangga kalian tetap harmonis sampai kapan pun, batin Naura tersenyum.
*Yuhuu update!
Bosan kan di kasih konflik terus ๐ Nih, aku kasih yang bikin baper apa bikin laper? wkwk ๐
Jangan lupa saran dan kritik ๐
__ADS_1
Happy Reading ๐*