Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #41


__ADS_3

~Flashback~


"Gio! Maksud lo apa buat perusahaan papa gue collaps!" hardik Gavin menggebrak meja kerja Gio di ruangannya.


Gavin menerobos masuk ke kantor Gio. Meskipun telah di halangi security, Gavin tetap melawan. Gio membiarkan Gavin mengeluarkan sumpah serapahnya.


Gio tersenyum menyeringai di kursi kebesarannya.


"Gue suka, lo marah kayak gini."


"Lo gak usah main-main sama gue Gio!"


"Uh, takut .... Dengar Gavin Angkasa, lo punya apa sekarang? Semua aset perusahaan lo berada dalam kendali gue."


"Kenapa lo lakukan ini sama gue? Belum cukup puas lo ambil Mochi dari gue?" desis Gavin.


"Belum, kalau lo masih ada di dunia," balas Gio.


"Gio, lo gak bisa memaksakan kehendak lo. Kasian Mochi, gue berharap lo gak akan menyakiti Mochi."


"Apa maksud lo?"


"Tasya lihat lo tempo hari sama seorang perempuan."


Gio tertawa hambar.


"Jadi, lo kira gue selingkuh? Gue bukan lo!" sarkas Gio.


"Jangan sombong lo Gio, kekuasaan yang lo punya bisa mengendalikan lo," tutur Gavin


"Diam! Gue punya penawaran yang bagus buat lo," tawar Gio.


Dahi Gavin mengerut.


"Barter?" tebak Gavin.


"That's right, gue minta lo tunangan sama Tasya," ucap Gio.


"Gak! Gue akan rebut Mochi dari lo."


"Silakan. Lo tahu kan, apa akibatnya kalau lo gak menuruti ucapan gue?"


Gio tersenyum miring.


Tangan Gavin mengepal. Gavin menendang kursi di depannya.


"Lo pengecut! Lo cuma bisa main ancam! Lo banci?" Emosi Gio tersulut.


"Brengsek! Gue bukan banci! Asal lo tahu, mana ada banci bisa punya anak sama perempuan." Gio tersenyum mengejek.


Bugh!


Gavin tanpa aba-aba memukul hidung Gio. Gio meringis kesakitan.


"Shit!" Gio memegang hidungnya yang terasa patah. Pukulan Gavin sangat kuat.


"Ini belum seberapa. Gue pastikan, jika sampai terjadi sesuatu dengan Mochi, lo habis di tangan gue," ancam Gavin.


Gio kembali duduk di kursi kebesarannya mengambil tisu.


"It's okay, gue tunggu. Gue pastikan, lo akan menerima tawaran gue."

__ADS_1


"In your dream!"


Gavin pergi meninggalkan ruangan Gio dengan amarah yang menggebu.


"Dasar bodoh! Gavin, Gavin. Cukup mudah bagi gue buat memutar balikkan fakta. Luka ini, akan membuat lo berubah pikiran," gumam Gavin menyeringai licik.


***


"Kamu kenapa, Dian?"


"Aku khawatir sama keadaan papa."


"Kamu yang sabar ya, selalu berdoa buat papa, biar papa cepat sembuh."


"Makasih ya, Singa, kamu selalu ada untuk aku."


Leo terkekeh mendengar panggilan khusus untuk dirinya dari Diandra.


"Sama-sama Sayang, omong-omong, gimana keadaan papa?" tanya Leo mengusap rambut Diandra.


"Makanya, kamu sering datang, biar gak ketinggalan informasi," omel Diandra.


"Maaf, kamu kan tahu, aku kerja untuk masa depan kita," rayu Leo.


"Gombal!"


"Papa belum siuman, padahal kemarin jari tangan papa udah bergerak," terang Diandra.


"Yaudah, kita berdoa aja ya, semoga papa cepat sembuh," ujar Leo.


Diandra mengangguk.


"DIAN!" jerit Zura dari dalam kamar rawat Ferry.


"Ada apa Ma?"


"Papa ... papa udah sadar, jari-jari tangan papa udah bergerak," terang Zura dengan wajah berbinar-binar.


"Leo aja yang panggil dokter Tante," kata Leo bergegas memanggil dokter.


Dokter datang memeriksa keadaan Ferry. Ferry telah melewati masa komanya. Namun, Ferry terkena struk ringan sementara. Hingga menyebabkan Ferry tidak bisa bicara dan mati rasa pada tubuhnya jika di gerakkan. Hal ini, tentu saja membuat Zura, Diandra terpukul.


"Papa yang kuat ya, Dian sama mama pasti akan selalu mendukung papa."


Ferry yang telah membuka mata, hanya bisa meneteskan air mata. Bibir Ferry yang miring, membuat Ferry sulit untuk berbicara.


"Papa."


Hati Gavin membuncah ketika mendapati sang papa sudah sadar. Namun, senyum Gavin memudar ketika melihat kondisi sang papa.


"Apin, aapin, ap,a ...." Suara yang keluar dari mulut Ferry membuat hati Dian dan Zura terenyuh.


"Papa, jangan banyak bicara dulu, Papa pasti sembuh," tutur Gavin memberi semangat.


Ferry hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ma, kata dokter apa?" tanya Gavin.


"Papa terkena struk ringan, dan tubuhnya mati rasa untuk sementara. Tapi, kondisi papa akan kembali seperti semula, jika merawat papa dengan telaten serta memperhatikan papa dengan baik untuk proses kesembuhannya," cerocos Zura.


"Syukurlah, Gavin takut terjadi sesuatu sama papa," lirihnya sendu.

__ADS_1


"Sabar, Bro. Sebagai sahabat dan adik ipar lo, gue akan selalu dukung lo," ujar Leo menepuk pundak Gavin.


"Heh, kunyuk! Ngapain lo di sini? Harusnya lo masih di kantor!" ketus Gavin menoleh pada Leo yang menyengir.


"Ya, kan mau lihat calon mertua. Masa iya, calon mertua sakit gak di jenguk," dalih Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siapa juga yang mau restui lo? Gue belum kasih izin," sambung Gavin mendengkus.


"Yah, biarin, kan, Tante, sama om udah kasih izin." Leo menjulurkan lidah mengejek.


"Siapa bilang? Tante belum kasih restu. Sebelum kamu membuktikan keseriusan kamu sama Diandra," timpal Zura.


"Yah, kok, Tante ke hasut sama ucapan Gavin, sih?" Leo cemberut.


"Tante bercanda, oh, iya, Gavin, gimana dengan keadaan Mochi?"


Raut wajah Gavin berubah. Gavin menghela napas.


"Mochi baik, tapi, Gio ... kembali mengancam Gavin," ungkapnya.


"Maksud lo, Kak?" seru Diandra.


"Gio kembali membuat perusahaan kita collaps. Gio mau barter."


"Barter? Dengan apa?" sahut Leo.


"Tunangan dengan Tasya."


"Apa? Lo terima Kak?"


Gavin menggeleng.


"Gue belum kasih jawaban."


"Biarkan saja Gavin. Perusahaan dan uang bisa di cari, tapi pikirkan kebahagiaan kamu. Selama ini, kamu banyak mengalah dan berkorban demi keluarga kita," peringat Zura.


"Ma, gimana dengan biaya perawatan rumah sakit selama papa di rawat? Butuh biaya yang gak sedikit," keluh Gavin memijit pelipis.


"Apin, aapin, ap, a, ang, elum, isa, uat, laga, ita, ayak, ulu," ucap Ferry yang sulit berbicara.


"Ini bukan salah Papa. Ini salah Gavin, sedari awal, Gavin yang memulai semuanya. Gavin juga yang harus menyelesaikan semua ini."


"Jadi, lo terima penawaran Gio?" sambung Leo.


"Mungkin, karena gue gak mau keluarga gue terkena imbas masalah yang gue perbuat. Gue juga gak ingin Mochi di sakiti Gio," balas Gavin.


"Menyakiti Mochi? Gak akan Kak, itu gertakan Gio, lo percaya? Gio sangat mencintai Mochi, lo tahu sendiri 'kan, Kak?" seru Diandra.


"Gue tahu, Dian. Tapi, gue khawatir, kalau suatu saat nanti, Gio menyakiti Mochi hanya karena seorang perempuan."


"Siapa, maksud lo Gav?" cecar Leo.


Gavin mengangkat bahu.


"Seandainya, Gio menyakiti Mochi, apa yang akan kamu lakukan Gavin?" sela Zura.


"Gavin gak akan membiarkan itu terjadi. Gavin akan merebut Mochi dari tangan Gio, bagaimanapun caranya, meski nyawa Gavin taruhannya."


*Maaf, baru up 🙈


Huaa ceritanya kayak sinet wkwk, gaje banget yak😆

__ADS_1


Jangan lupa kritik dan saran 😘*


__ADS_2