
Mochi yang mengikat tali sepatu, tak luput dari pandangan Haris. Batin Haris lirih, menilik seragam, tas serta sepatu anak nya yang sudah sedikit usang. Harus nya, Haris bisa memenuhi kebutuhan keluarga nya dengan layak karena Haris sudah naik jabatan di tempat nya bekerja. Namun, harapan itu pupus ketika salah satu karyawan yang tidak suka dan iri pada Haris, memfitnah nya.
Rita mendekati Haris dan mengusap pundak suami nya pelan.
"Ayah ... sudah. Jangan merasa bersalah lagi. Mungkin belum rezeki kita Yah."
"Iya Bun, maafkan Ayah," jawab Haris sendu.
Mochi yang sudah siap mengikat tali sepatu nya, memandang gurat wajah Ayah dan Bunda nya terlihat sendu.
"Ayah, Bunda, kenapa ?"
"Nggak apa-apa sayang. Yuk, sarapan dulu," dalih Rita.
Mochi hanya mengangguk. Suara gas motor yang menderu, terdengar di telinga Mochi.
"Kayak nya ada yang datang Bun. Mochi lihat dulu ya," ucap nya berlalu pergi.
Mochi membuka pintu rumah nya dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Ga-Gavin," gumam nya.
Gavin melepaskan helm full face nya, dan mengacak-acak rambut cepak nya. Mochi selalu menyukai gaya Gavin yang seperti ini. Di mata Mochi, Gavin sangat tampan.
"Heh, lo ngapain bengong di situ !" hardik Gavin membuyarkan lamunan Mochi.
"Gavin ? kok ke rumah Mochi ?" tanya Mochi.
"Lo lupa semalam gue bilang apa ?"
"Tapi kan, Mochi nggak punya hutang sama Gavin," aku nya.
Gavin berdecak malas dan turun dari motor nya.
"Ingat ! lo gue tolong nggak ikhlas !"
"Nak, Gavin," ujar Rita yang menyusul Mochi tak kunjung kembali.
"Eh, Tante," ringis Gavin.
"Mochi, kenapa Gavin nggak di suruh masuk, biar sarapan bersama," tegur Rita.
"Nggak Bun. Kak Gavin minta imbalan karena udah antar Mochi pulang semalam," balas Mochi polos.
Gavin mengembuskan napas nya.
Rita hanya tersenyum simpul, "Mochi ... nggak baik begitu sama tamu. Apa salah nya, mungkin Gavin seperti itu ingin lebih dekat sama kamu," goda Rita.
"Hish, Bunda ...."
__ADS_1
Mochi menyembunyikan rona merah yang menjalar di kedua pipi nya. Gavin memutar bola mata nya malas.
Jangan senang dulu lo cewek udik ! malas banget gue harus dekatin cewek kayak lo !
"Ayo masuk, Nak Gavin," ajak Rita.
Gavin hanya membalas tersenyum mengiyakan. Lagi dan lagi, Mochi terperangah. Bagi nya, ini pertama kali diri nya memperhatikan Gavin sedekat ini. Rita yang melihat Mochi tidak beranjak, merangkul bahu nya dan berbisik," udah, jangan di lihat terus, ganteng nya nggak bakal hilang kok," goda Rita terkekeh pelan.
"Assalammualaikum Om," ucap Gavin.
"Waalaikumsalam. Eh, Nak Gavin," jawab Haris.
"Sarapan dulu yuk. Maaf, hanya ada nasi goreng saja," ajak Haris sungkan.
"Nggak apa Om. Gavin sudah sarapan tadi," elak Gavin.
"Tuh, kan, Bun. Apa Mochi bilang. Kalau Kak Gavin itu cuma mau,- awh!" Mochi meringis, ketika Gavin menginjak sepatu nya.
"Kamu kenapa Mo ?" tanya Haris.
"Eh, nggak apa Ayah. Hum, sarapan yuk, Mochi udah lapar," dalih Mochi menyengir sembari memandang Gavin dengan tatapan cemberut.
Gavin pun terpaksa ikut sarapan. Suasana sarapan yang tenang. Masakan Bunda Mochi terasa nikmat , meski hanya sekadar nasi goreng putih biasa. Gavin memperhatikan interaksi Mochi bersama Haris dan Rita. Gavin membayangkan, jika diri nya yang saat ini menikmati sarapan bersama dengan sang mama. Harmonis, saling tertawa, dan saling menggoda. Gavin menggeleng. Gavin tidak boleh empati pada Mochi.
"Nggak enak nasi goreng nya Nak, Gavin ?" selidik Rita yang memperhatikan gelagat Gavin.
"Panggil nya jangan Tante Gavin, nanti Bunda Mochi merasa muda lagi," ujar Haris terkekeh.
"Ayah ...." Tegur Rita tersenyum malu-malu.
"Panggil Ayah, Bunda saja. Sama seperti Diandra," lanjut Haris.
Gavin mengangguk. Mereka melanjutkan sarapan. Setelah selesai sarapan, Gavin dan Mochi pamit berangkat ke sekolah.
Di pertengahan jalan, motor Gavin di hadang oleh motor cross bercat air brush. Gavin sudah menduga, jika di depan nya ini pasti Nicho.
"Kak Gavin, kok berhenti ?" cicit Mochi.
Nicho membuka helm nya, begitu juga dengan teman-teman nya.
"Wow, seorang Gavin Angkasa selera nya terjun payung,"ejek Azka.
"Lo nggak ada yang lain, selain lebih cantik dari cewek udik ini ?" timpal Nicho.
"Body oke lah, kalau wajah ... lebih cantik Tasya. Penampilan nya cupu ! layak buat jadi budak !" sela Frans teman Nicho.
"Budak napsu tentu nya," celetuk Azka lagi.
"Ahahahah."
__ADS_1
Mochi yang merasa takut dengan tatapan mengintimidasi Nicho dan teman-teman nya, bersembunyi di belakang punggung Gavin, sembari melingkarkan tangan nya memeluk pinggang Gavin.
"Mo-Mochi takut ...." Gavin mendengar perkataan Mochi yang lirih. Gavin mengeratkan pegangan tangan nya di setang motor nya.
"Pegangan yang kuat," bisik Gavin.
Gavin menarik tali gas nya kuat-kuat. Mochi semakin mempererat pelukan nya. Gavin mengolok-olok Nicho dan teman-teman nya. Di saat perhatian mereka teralih, Gavin mengambil kesempatan untuk melarikan diri.
Brum brum
"Shit ! Gavin sialan !" desis Azka.
"Cabut !" seru Nicho tersenyum menyeringai.
"Kok lo biarin Gavin lari sih, Nich ?" sela Frans.
"Kita tunggu tanggal main Gavin."
Azka dan Frans saling pandang, dan mengangkat bahu nya acuh.
Gavin dan Mochi sampai di sekolah. Di parkiran khusus staf guru dan Kepala Sekolah.
"Kak Gavin ... Mochi takut," cicit nya.
"Turun !"
Mochi menurut, dan menunduk takut.
Gavin turun dari motor nya, dan menaikkan dagu Mochi menghadap diri nya.
Cantik. Batin Gavin.
Gavin lagi-lagi menggeleng.
"Siapa pun yang melukai lo, akan berhadapan dengan Gavin Angkasa."
Mochi memandang tepat di manik mata Gavin. Pandangan Gavin tepat di bibir ranum berwarna pink yang amat menggoda Gavin untuk tidak mencecap nya. Gavin yang seperti terhipnotis, mengikis jarak di antara mereka. Ketika hampir dekat, Gavin mengingat tujuan awal nya kembali.
Gavin salah tingkah. Sementara Mochi menaik kan alis nya bingung.
"Makasih ya Kak Gavin. Aku senang, udah bisa sedekat ini sama Kakak," kata Mochi memberikan senyum termanis nya."Mochi ke kelas dulu ya," pamit nya lagi.
Gavin tertegun. Lagi dan lagi.
Sementara dari kejauhan, di mobil bmw berwarna merah menyala, seorang perempuan memegang setir kemudi nya kuat, hingga buku-buku jari nya memutih.
"Mochi sialan !" desis nya.
Kritik dan Saran 🤗
__ADS_1