Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #28


__ADS_3

Mochira sudah bisa tersenyum kembali karena Gavin. Haris dan Rita sangat bahagia, sekaligus sedih. Beberapa hari berlalu, setelah Mochi pergi dengan Gavin, keanehan muncul pada diri Mochi. Rita sebagai Ibu, membuang jauh-jauh pikiran negatifnya tentang apa yang dialami Mochi saat ini.


"Bunda, ayo, masak sambal goreng, Mochi pengen banget. Lihat di iklan, air liur Mochi hampir netes," rengek Mochi manja pada Rita.


"Mochi, kamu nggak suka sambal goreng, apalagi itu manis, kamu kan, kurang suka makanan manis," peringat Rita.


"Sekali ... aja, Mochi lagi pengen banget," bujuk Mochi.


Rita menilik perubahan bentuk tubuh Mochi. Rita meneguk ludah dan menggeleng. Rita tidak ingin apa yang dipikirkannya terjadi.


"Kamu hamil Mochi ?"


Mochi terbelalak setelahnya tertawa hambar.


"Ahahaha, Bunda, doakan Mochi hamil ? nggak apa Bunda, Mochi mau hamil, tapi nanti anaknya Gavin," kata Mochi tersenyum mengusap lembut perutnya.


Rita dan Haris saling pandang.


"Mochi, Bunda kamu serius nanya," sambung Haris.


"Mochi, serius Ayah."


Rita menghela napas gusar.


"Bunda sama Ayah, kenapa ? beberapa hari ini, Mochi perhatikan, kalian aneh," kata Mochi memandang Rita dan Haris bergantian.


"Bunda nggak apa sayang, Bunda hanya memikirkan kamu," balas Rita.


"Mochi ? kan, Mochi baik-baik aja Bun."


Bunyi ketukan pintu diluar membuyarkan lamunan Rita.


"Biar Bunda aja yang buka," ucap Rita beranjak dari duduknya membuka pintu.


"Assalammualaikum."


Rita dengan malas melihat siapa yang datang ke rumahnya.


"Waalaikumsalam."


"Bunda, masih marah sama Gio ?"


"Sudahlah, Gio. Bunda tidak ingin membahas masalah ini lagi." Rita meninggalkan Gio yang mengikuti langkah kaki Rita masuk.


"Mochi ?"


Mochi melirik bariton suara yang menyebut namanya. Mochi sangat malas berhubungan dengan Gio lagi. Sejak insident itu, Mochi sangat membenci Gio.


"Ada apa lagi Gio ?" tanya Mochi dingin.


Mochi masih menghargai Gio mengingat, kebaikan Gio dan keluarganya selama ini pada keluarga Mochi.


"Mochi, kamu masih belum memaafkan, aku ?"


"Tidak akan pernah."


"Mungkin, kata maaf aku, nggak akan mengembalikan semuanya. Tapi—aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku ingin bertanggung jawab."


"Sudahlah, Gio. Aku tidak ingin membahasnya," elak Mochi bersandar di sofa memeluk bantal.


"Mochi, ada baiknya, kalian menyelesaikan masalah berdua," usul Haris.

__ADS_1


"Tapi, Ayah—"


"Mochi, selesaikan, Nak," timpal Rita memandang Mochi.


Mochi yang mengerti panggilan Bundanya hanya berdecak malas.


"Okey," putus Mochi dengan malas.


"Siap-siap ya, aku mau bawa kamu jalan-jalan sekalian," tutur Gio.


Mochi dengan malas-malasan bangkit dari sofa menuju kamar.


"Ayah, Bunda, Gio harap, kalian merestui hubungan Gio dan Mochi," pinta Gio.


"Jika kami tidak mau ?" seru Rita.


"Ayah dan Bunda tahu jawabannya," balas Gio santai.


"Kamu mengancam, kami ?" Haris menaikkan nada bicaranya satu oktaf.


"Tidak. Lebih tepatnya, mengingatkan. Bunda dan Ayah, harus bisa membujuk Mochi menikah dengan Gio. Jika tidak, Mochi akan mendapatkan akibatnya."


Raut wajah Haris memerah menahan amarah, jika saja Rita tidak menahan Haris, pasti Haria sudah memberi pelajaran untuk Gio. Mochi keluar dari kamar melihat raut wajah serius orang tuanya.


"Ayah, Bunda, kenapa wajah kalian kayak mau marah ?"


"Ah, Bunda sama Ayah tadi habis lihat pembunuhan sadis di televisi Mochi," sahut Gio mengalihkan perhatian.


Mochi mengernyitkan dahi bingung, melihat arah televisi yang mati.


"Televisinya mati kok, Ayah sama Bunda—"


"I-iya sayang, hati-hati," peringat Rita dengan khawatir.


"Gio, jaga Mochi, jika terjadi sesuatu pada Mochi, Ayah akan membunuh kamu."


Mochi merinding mendengar nada dingin seperti ancaman yang keluar dari mulut Haris.


"Ayah, Bunda, Mochi pamit ya, assalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ck, Ayah, kenapa diam aja ? Gio sudah berani mengancam kita," desah Rita.


"Bunda, Ayah tidak bisa melawan, Bunda tahu sendiri, jika Gio dan keluarganya banyak membantu keluarga kita. Ayah yang salah, karena sebagai kepala keluarga, Ayah tidak berguna," lirih Haris.


"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah, kepala keluarga yang terbaik. Kita jangan bertindak gegabah Ayah, jika tidak, Gio akan menyakiti Mochi."


***


Gio membawa Mochi ke pusat perbelanjaan di sebuah Mall X. Sedari tadi, Mochi hanya diam di dalam mobil. Mochi enggan membuka percakapan. Gio berusaha membuka obrolan.


"Mochi, apa aku seburuk itu dimata kamu ? lalu, bagaimana dengan kesalahan Gavin yang menyebabkan kamu trauma ?"


Mochi menoleh ketika Gio tiba-tiba membahas masa lalu Mochi.


"Kenapa kamu bahas masa lalu Gio ? ini tidak ada hubungannya dengan Gavin !"


"Aku nggak bilang Gavin. Kan, memang itu kenyataannya ?"


"Gavin lebih baik daripada kamu." Mochi mengalihkan pandangan keluar kaca jendela mobil.

__ADS_1


"Lebih baik apa jika dia sudah memberikan rasa trauma sama kamu," pancing Gio lagi.


"STOP !" Mochi memandang Gavin dengan sinis. "Gavin tidak pernah berbuat lebih sampai menyentuh aku ! sedangkan kamu ?"


"Oke, aku salah. Tapi, asal kamu tahu, aku tidak sengaja. Aku juga udah minta maaf, bahkan, bertanggung jawab Mochi."


"Kata maaf, tidak akan mengembalikan semuanya, Gio."


Mochi kembali mengalihkan arah pandangnya ke luar kaca jendela sembari menghapus air mata yang menggenang dipelupuk matanya.


Sialan ! Mochi, kamu milikku ! Aku pastikan, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku seutuhnya ! Batin Gio.


Gio memberhentikan mobilnya di basement Mall X.


"Turun, yuk," ajak Gio.


Mochi mengangguk keluar dari mobil Gio. Mochi mengedarkan pandangannya. Mochi samar-samar melihat mobil Gavin yang tidak jauh parkir dari mobil Gio.


"Gavin," gumam Mochi.


"Kenapa Mo ?" tanya Gio melihat arah pandang Mochi.


"Ada Gavin."


Gio mengikuti arah pandang Mochi.


"Gavin ? ngapain, dia disini ?" tanya Gio.


Mochi melangkahkan kakinya mendekati mobil Gavin. Mochi semakin penasaran, ketika siluet sepasang kekasih yang sepertinya tengah berciuman.


"Gavin ...," lirih Mochi.


Mochi menatap nanar pemandangan di depannya. Gavin, bersama dengan perempuan lain yang juga dikenalnya.


Gavin menatap datar Mochi.


"Nggak nyangka gue, selera Gavin ternyata ***** !" sindir Gio telak.


"Maksud lo apa hah, Gio !" hardik perempuan yang disebut Gio *****.


"Ck, memang benarkan ? kalau nggak, ngapain kalian ciuman di basement ?" Gio menyeringai melihat kepalan tangan Gavin dengan pandangan membunuh.


"Bilang aja lo iri ! gue sama Gavin mau memadu kasih, lo ganggu," sewot perempuan itu.


"Ck, masih hidup lo, Tasya ? gue kira, lo udah mati," sarkas Gio.


"Sialan lo ! gue masih hidup, demi my baby boy gue. Gue kangen banget bercumbu sama Gavin." Tasya mengecup bibir Gavin dengan memberi ******* pada bibir Gavin.


Air mata Mochi mendesak keluar. Mochi tidak menyangka, jika Gavin tega mempermainkannya seperti ini.


"Aku mau pulang, Gio."


"Tapi, Mo—"


"Aku mau pulang !" kekeuh Mochi menghapus air matanya berbalik meninggalkan Gavin dan Tasya.


"Mochi ! aku sayang sama kamu !" teriak Gavin.


Mochi tidak menggubris perkataan Gavin.


Kamu jahat Gavin, kalau kamu cinta sama aku, kamu nggak akan nyakiti aku. Batin Mochi lirih.

__ADS_1


__ADS_2