
Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian naas yang hampir menimpa Mochi, membuat Mochi menjadi gadis yang pendiam. Ketika Nicko dan teman-temannya membawa Mochi pergi, Diandra datang tepat waktu bersama polisi yang membekuk Nicko dan kawanannya. Leo dan Geo membawa Gavin ke rumah sakit. Sementara Mochi menangis histeris melihat keadaan Gavin yang tidak baik-baik saja. Semua ini terjadi karena ulahnya. Jika tidak, pasti Gavin akan baik-baik saja sampai detik ini.
"Mo, melamun aja." Tepukan di pundak Mochi mengejutkannya.
Mochi mendesah kasar, karena pikirannya tentang Gavin buyar.
"Ada apa Dian?"
Diandra mengambil tempat duduk di didepan Mochi. Mochi menyandar di sandaran kursi memperhatikan lalu lalang murid yang berdesakan di kantin.
"Lo mau sampai kapan kayak gini?"
"Sampai aku bisa bertemu Gavin."
Diandra mengembuskan napas. Sejak orang tuanya membawa Gavin keluar negeri, Mochi tidak bisa mengunjungi Gavin di rumah sakit seperti biasa.
"Udah, jangan terlalu dipikirkan. Kita cuma bisa berdoa. Semoga Gavin baik-baik aja," timpal seorang laki-laki yang mengambil tempat duduk disamping Mochi.
"Ck, lo tahu apa sih, Gio? Jangan sok akrab deh sama kita," cetus Diandra mendelik pada Gio.
"Emang salah gue dekat sama Mochi? Emang ada larangan? Nggak kan?"
"Ya, nggak sih, tapi—"
"Stop! Kalian buat Mochi makin pusing."
__ADS_1
Mochi bangkit dari duduknya meninggalkan Diandra dan Gio. Diandra merasa Gio mendekati Mochi hanya karena ingin sesuatu. Karena selama ini, Gio tidak pernah mendekati Mochi.
"Mo, tunggu!" panggil Diandra ikut mengejar Mochi ke kelas.
"Cewek nggak tahu diri ya gitu. Sok polos,"
"Gara-gara dia, Gavin jadi celaka,"
"Lo tahu nggak sih? Musuh Niko jadiin dia pancingan. Padahal, Gavin dekati dia cuma mau mainin doang,"
Mochi mendengar bisik-bisik yang terlontar dari mulut siswi yang suka bergosip. Diandra yang mendengar langsung emosi.
"Heh! Kalian bisik-bisik apa nyindir? Nyindir didepan orangnya langsung lagi!"
"Santai aja kali, Dian. Sewot amat. Pms ya lo," celetuk salah satu siswi.
"Ck, udah Dian. Kamu nggak perlu meladeni mereka," Mochi menggamit lengan Diandra pergi meninggalkan orang-orang yang selalu mencibirnya.
"Tapi, Mo. Gue nggak suka kalau ada yang bilang lo yang nggak-nggak," keluh Diandra.
"Memang kenyataannya."
Diandra mengembuskan napas, lalu menggeleng. Diandra hanya berharap, kakaknya cepat pulih dan kembali agar sahabatnya tidak bersedih lagi.
***
__ADS_1
Mochi pulang sekolah dengan raut wajah letih. Bundanya—Rita, memperhatikan raut wajah Mochi yang sendu.
"Assalammualaikum, Bunda."
"Waalaikumsalam, Sayang."
Mochi membuka sepatu, meletakkan di rak. Mochi duduk di kursi ruang tamunya yang sudah usang. Rita ikut mendudukkan diri disamping Mochi.
"Kenapa Sayang?"
"Bunda, Mochi kangen Gavin ...," lirih Mochi.
"Kita berdoa ya, Sayang. Semoga Gavin cepat pulih," tambah Rita menenangkan Mochi.
"Iya, Bunda. Mochi harap, Gavin cepat pulih dan bisa berkumpul dengan teman-teman, juga keluarganya."
Rita mengusap pucuk kepala Mochi dengan sayang.
"Yaudah, sana ganti baju. Habis itu, makan siang," perintah Rita.
"Ayah mana Bunda?"
Mochi menilik kiri kanan mencari keberadaan ayahnya.
"Ayah... lagi keluar Sayang. Sebentar lagi, juga pulang kok," kata Rita.
__ADS_1
Mochi mengangguk, bangkit dari duduknya menuju kamar. Sementara Rita gelisah, ketika mendapati suaminya tak kunjung pulang. Rita khawatir, terjadi sesuatu dengan Haris.