
Gavin mengusap wajahnya frustasi ketika sampai di rumah. Raut wajah Gavin terlihat marah ketika suasana rumah terlihat sepi.
"DIANDRA ! PAPA ! MAMA ! KALIAN DIMANA !" teriak Gavin.
Langkah kaki terdengar mendekati Gavin.
"Kak, kenapa lo teriak kayak di hutan sih ?" tanya Diandra melihat Gavin yang tidak seperti biasanya.
"Papa mana ?"
"Gavin, ada apa ?" tanya Zura datang bersama Ferry.
"Gavin ingin bicara masalah penting !" sahutnya ketus.
Diandra, Ferry dan Zura mengikuti Gavin duduk di sofa.
"Kenapa Gavin ? sepertinya kamu terlihat marah sekali," kata Zura.
"Ma, gimana Gavin nggak marah ? kalau kalian menyimpan rahasia yang selama ini Gavin nggak tahu !"
Zura dan Ferry saling pandang.
"Maksud lo Kak ?" timpal Diandra penasaran.
"Pa, kenapa waktu itu Papa tolong Gavin ? kenapa nggak biarin Gavin mati aja ?"
"Gavin, kamu bicara apa sayang ?" sela Zura.
"Gavin marah sama diri Gavin sendiri. Akibat ulah Gavin, Papa, Mama, Diandra keluarga kita terlibat masalah," desah Gavin.
"Gavin—Papa minta maaf—"
"Pa, ini bukan salah Papa. Ini semua salah Gavin, ulah Gavin. Jika tidak, perusahaan Papa tidak akan terkena imbas seperti ini," lirih Gavin.
"Gavin, Papa tidak ingin kamu kehilangan kebahagiaan kamu lagi. Maka dari itu, Papa berusaha mencari cara agar kamu bisa sembuh total," tutur Ferry.
"Bukan dengan cara mengorbankan perusahaan Papa."
"Kamu tahu darimana Gavin ?" sela Zura.
"Keluarga Atmajaya."
"Lo juga tahu Kak, kalau Gio ingin menikahi Mochi dalam waktu dekat ini ?" sambung Diandra.
"Kakak tahu Dian. Ini semua ada hubungannya dengan Mochi."
"Maksud kamu Gavin ?" tanya Ferry.
"Papa Gio, menjamin perusahaan kita aman, jika Gavin menjauh dari Mochi," ujar Gavin.
"Apa ?"
"Lo diam aja Kak ? apa lo nggak mau berbuat sesuatu ?" sahut Diandra.
"Kakak pasti melakukan sesuatu Diandra. Tapi, Kakak juga nggak mau egois memilih kebahagiaan Kakak daripada keluarga Kakak."
Zura, Ferry dan Diandra saling pandang dan tersenyum.
"Kita akan selalu mendukung kamu Gavin," sahut Ferry.
"Makasih ya Pa, maaf, udah buat kalian susah karena ulah Gavin selama ini," lirih nya sendu.
"Nggak apa-apa Gavin. Mama sudah cukup senang kamu menganggap Mama sebagai Mama kandung kamu," timpal Zura.
"Diandra nggak dianggap nih ?" sahutnya mencebik lucu.
"Udah besar, sebentar lagi mau jadi milik orang lain," celetuk Ferry.
__ADS_1
"Ah, Papa ...." Diandra menyembunyikan rona merah dipipinya.
Ya, Diandra akhirnya menjatuhkan pilihan pada sikembar somplak. Siapa lagi, jika bukan Leo yang terang-terangan melamar Diandra. Sementara Geo ? tidak menunjukkan tanda serius pada Diandra.
***
"Bunda, Mochi nggak mau ketemu siapapun," rengeknya manja di kasur.
"Sayang, kamu nggak boleh gitu, ayo, temui dulu orangnya. Kalau dia macam-macam, Bunda tendang anunya," bujuk Rita.
"Ih, Bunda ...."
Mochi tergelak mendengar perkataan Bundanya. Rita bersyukur dalam hati, ketika masih bisa melihat putri kesayangannya tersenyum.
"Mochi."
"Bunda tinggal ya, ingat pesan Bunda tadi," bisik Rita ditelinga Mochi.
"Kenapa lagi ?" ketus Mochi.
"Mochi, aku minta maaf. Aku salah," aku Gio."
"Jelas kamu salah Gio ! kamu tega merusak aku ! kalau kamu cinta, harusnya kamu menjaga aku, bukan merusak !" hardik Mochi dengan napas naik turun emosi.
"Aku akan tanggung jawab Mochi. Aku mencintai kamu."
"Aku nggak pernah mencintai kamu Gio !" balas Mochi memandang Gio sinis.
"Aku harus apa Mo, supaya dapat maaf dari kamu ?" lirih Gio.
"Pergi dari hadapanku, jangan pernah kembali. Aku akan urus surat pengunduran diri."
Gio menggeleng.
"Nggak. Kamu nggak boleh pergi Mo. Aku akan tanggung jawab ! seandainya kamu hamil, aku Ayah dari anak itu !" sentak Gio.
"Itu tidak akan terjadi Gio !"
"Kamu yakin Mochi ? bagaimana jika kamu dimasa subur ?"
Lagi. Mochi terdiam.
"Tidak ! itu tidak akan terjadi Gio !" sanggah Mochi.
"Mochi ... apa salah, aku mencintai kamu ? apa selama ini, aku tidak pernah ada tempat dihati kamu ?" tanya Gio lirih.
Mochi memandang Gio yang terlihat menatapnya sendu.
"Kamu punya tempat dihati aku Gio."
"Sebagai Abang ?" Gio tertawa hambar.
"Gio—aku—"
"Mochira, udah banyak pengorbanan yang aku lakukan untuk kamu. Apa kamu membalasnya dengan cara seperti ini ?"
"Jadi, selama ini kamu nggak ikhlas bantu aku Gio ?"
"Aku ikhlas Mochi. Tapi, aku nggak ikhlas, jika Gavin merebut kamu dari aku !" balas Gio.
"Jangan bawa-bawa Gavin Gio ! ini nggak ada hubungannya sama Gavin !"
"Nggak ada ? aku baru tahu, calon istri aku berciuman dengan orang lain."
Mochi terkejut. Gio mengetahuinya.
"Kenapa Mochi ? benar bukan ?" tebak Gio.
__ADS_1
"Kamu salah paham Gio. Gavin tidak—"
"Tidak berniat mencium kamu begitu ? aku baru tahu, jik tidak berniat tapi menikmati," sarkas Gio.
"Lalu, kamu mau apa Gio ? Gavin cinta pertama aku."
"Nggak masalah. Sekarang, aku memiliki kamu dengan utuh," bisik Gio mendekati Mochi yang terdiam.
Mochi terdiam dengan air mata yang mengalir. Gio benar, Gavin pasti kecewa jika tahu dirinya sudah tidak suci lagi.
"Kamu sengaja Gio ?"
"Kamu salah Mochi. Aku mabuk memang tidak sengaja, karena kamu juga lah alasannya. Sepertinya, takdir berpihak padaku," terang Gio menyeringai.
Mochi menatap Gio penuh amarah.
"Kamu jahat Gio ! kamu tega memperkosa aku ! aku nggak mau nikah sama kamu !" teriak Mochi dengan napas yang tersengal-sengal.
Haris dan Rita mendengar pertengkaran Gio dan Mochi.
"Ayah, Bunda takut Gio menyakiti Mochi," tutur Rita gelisah menunggu di ruang tamu.
"Tunggu lah sebentar Bun, Gio tidak akan menyakiti Mochi. Ini semua salah Ayah. Karena Ayah, Mochi jadi korban," lirih Haris sendu.
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Ini bukan salah Ayah," bela Rita.
"Jika saja Ayah tidak menyusahkan, pasti Mochi tidak akan terkekang dengan Gio sampai detik ini."
"Ayah ...."
Rita memeluk Haris dengan menumpahkan tangisannya.
Mochi menangis terisak dengan lirih.
"Apa yang kamu tangiskan Mochi ? hidup bahagialah denganku," tawar Gio.
"Aku benci kamu Gio."
"Aku mencintai kamu Mochira."
"Kamu nggak cinta Gio, kamu hanya obsesi."
"Terserah apa kata kamu Mochi, aku akan tetap menikahi kamu."
"Aku tidak ingin menikah dengan kamu !" balas Mochi.
"Kita lihat saja Mochi, apa yang bisa kamu lakukan nanti."
Mochi memandang Gio.
"Apa maksud kamu Gio ?"
"Aku pastikan, kamu akan menerima tawaran pernikahan dariku. Dan, Gavin akan meninggalkan kamu," lanjut Gio.
"Nggak ! kamu bohong Gio. Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi !" hardik Mochi.
"Terserah. Cepat atau lambat, semua akan terjawab."
"Brengsek kamu Gio ! ******** !"
Mochi memukul dada Gio sekeras-kerasnya. Gio berusaha menampik tangan mungil Mochi.
"Dont cry baby, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku."
"In your ****** !" balas Mochi menatap nyalang Gio.
Jangan lupa kritik dan saran 🤗😘
__ADS_1