
Setelah acara pertunangan Gavin dengan Tasya, Mochi tidak pernah lagi bertemu dengan Gavin. Hingga kini, usia kandungannya delapan bulan. Gio tidak pernah menyakitinya lagi. Namun, Gio berubah sejak kedatangan Viola yang sering mengganggunya.
Denting bel berbunyi. Mochi yang baru keluar dari kamar pun membuka pintu. Sejak hamil besar, kamar Gio dan Mochi pindah di bawah. Naura tidak ingin terjadi sesuatu dengan cucunya.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam. Cari Gio?" tebak Mochi.
"Iya, Gio ada Mo?"
"Ada, di ruang kerjanya." Mochi menyingkir memberi jalan masuk untuk tamu yang datang.
"Viola," panggil Mochi.
Viola menoleh.
"Ya?"
Mochi mendekati Viola.
"Aku harap, kamu nggak akan merebut Gio dari kami."
Dahi Viola mengerut.
"Kami?" ulang Viola
"Iya, aku dan anak ini." Mochi mengelus perutnya yang menonjol.
"Mo, gue nggak akan setega itu. Apalagi, peganggu rumah tangga lo," bantah Viola.
"Tapi, Vi, sejak ada kamu, Gio berubah. Gio nggak seperti dulu lagi."
"Berubah maksudnya? Gio berubah karena gue maksud lo?"
"Viola, aku sama kamu sama-sama perempuan. Jika memang kamu nggak berniat nerusak rumah tangga aku, kenapa kamu selalu saja berusaha mendekati Gio?" cecar Mochi.
"Dengar, Mochi. Seorang Viola Valencia sejak dulu kenal dekat sama Gio. Jadi, wajar dong kalau gue dekat sama Gio? Apalagi perusahaan kami kerja sama," tutur Viola.
"Tapi, Viβ"
"Udahlah, gue ngerti maksud lo. Asal lo tahu, gue masih hargai lo sebagai istri Gio. Masalah Gio berubah, itu urusan lo sama Gio. Nggak ada hubungannya sama gue."
Viola pergi ke ruang kerja Gio. Mochi mendesah kasar.
Mochi pergi keluar rumah menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Mochi hanya duduk di taman kompleks. Mochi mengusap perutnya.
"Sayang, Mama nggak sabar nunggu kamu lahir." Mochi tersenyum lebar.
"Mochira."
Mochi menoleh.
"Gavin," gumam Mochi refleks berdiri.
"Apa kabar?" Gavin mendekati Mochi.
"Stop, Gavin." Mochi melirik sekitarnya.
"Kenapa? Kamu takut, suami kamu marah? Aku hanya ingin tahu kabar kamu."
Gavin duduk di samping Mochi. Mochi ikut duduk ketika tangan Gavin menuntunnya untuk duduk.
"Gavin, jangan dekati aku lagi. Kamu sudah punya Tasya. Sebentar lagi, kalian akan menikah," cicit Mochi menunduk.
Gavin menggenggam tangan Mochi.
"Kamu makin cantik." Mochi mendongak.
"Lepas, Gavin." Mochi melepas tangan yang di genggam Gavin.
"Sudah waktunya aku mengambil apa yang menjadi milikku."
"Maksud kamu apa, Gavin?"
"Seseorang yang sudah lama aku lepas. Aku tak ingin lagi melepaskannya, kali ini."
__ADS_1
Gavin menatap Mochi lekat.
"Gavin, sudahi semuanya. Kamu tega memisahkan anak ini dengan ayahnya? Kamu pernah bilang. Kita nggak boleh egois hanya mementingkan perasaan kita," sanggah Mochi.
"Mochi, beberapa bulan ini, aku menghilang untuk bangkit kembali. Aku menata masa depan aku bersama Tasya untuk memulihkan keadaan," terang Gavin.
"Gavin, apapun alasan kamu, kita nggak bisa bersama lagi. Kamu tahu itu kan?"
"Aku tahu. Aku dan Tasya bukan seperti yang kamu pikirkan. Nanti, kamu akan tahu yang sebenarnya. Aku minta, kamu jaga kandungan kamu, ya. Biar anak ini sehat." Gavin meletakkan tangannya di perut Mochi.
Dug
Usapan Gavin mendapat respons. Gavin tersenyum.
"Dia nendang!" jerit Gavin antusias.
Gavin kembali mengusap perut Mochi. Tendangan kembali Gavin dapatkan, membuatnya terkekeh.
"Aneh, Gio sering usap perut aku, tapi dia nggak mau respons. Tapi, kalau sama kamu, dia mau," balas Mochi.
"Baby boy Arion."
"Arion?" ulang Mochi.
Gavin bangkit, duduk sejajar dengan perut Mochi.
"Baby Arion, itu nama kamu. Papa Gavin harap, besar nanti, kamu bisa jaga mama ya. Melindungi mama Mochi." Gavin mengusap perut Mochi dan mengecupnya.
Mata Mochi berkaca-kaca.
"Gavin ...."
Gavin bangkit menghapus air mata Mochi.
"Kenapa kamu nangis? Gio menyakiti kamu?" cecar Gavin.
Mochi menggeleng.
"Ngantuk," keluh Mochi.
"Kok, bisa?"
"Nggak tahu, setiap di usap perut Mochi pasti ngantuk."
"Dasar, putri tidur," ejek Gavin.
"Mochi mau pulang," kata Mochi dengan menguap lebar.
"Mochi, gimana kalau kita jalan-jalan, biar kamu nggak ngantuk?" tawar Gavin.
"Nggak, nanti Gio marah. Gio di rumah," tolak Mochi.
"Yaudah, aku antar kamu ya," bujuk Gavin.
Mochi mengangguk.
Gavin menemani Mochi pulang ke rumah Gio.
"Rumah Gio kenapa sepi?" tanya Gavin menilik sekitarnya.
Mochi ikut menyapu pandang. Mobil yang terparkir di samping rumah pun juga tidak ada.
"Gio di rumah, sebelum Mochi keluar tadi."
"Sama siapa?"
"Sama ...."
Mochi melangkah dengan cepat. Mochi membuka pintu yang tidak di kunci. Mochi bergegas menuju kamar. Nihil, Gio tidak ada.
"Mo, ingat, kamu lagi hamil," tegur Gavin.
"Maaf ...."
Mochi menghela napas keluar kamar. Mochi duduk di sofa.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Gavin penasaran.
"Gio pasti pergi dengan Viola."
"Viola? Siapa?"
"Tetangga Gio dulu waktu sekolah, sekaligus rekan bisnis."
Dahi Gavin mengerut.
"Mertua kamu ke mana?"
"Papa, mama pergi ke luar kota ada acara gathering bisnis," balas Mochi menyandar di sofa.
"Sejak kapan?"
"Semalam."
Gavin manggut-manggut.
"Mo, kamu masih mencintai aku?" tanya Gavin tiba-tiba.
"Entahlah Gavin. Aku nggak tahu, masih cinta sama kamu atau nggak. Karena, sejak bersama Gio, aku nggak pernah ingat kamu lagi."
Hati Gavin mencelus. Gavin mengepalkan tangannya erat.
"Kenapa? Apa kamu lupa sama cinta kita? Apa kamu nggak ingin memulai hubungan lagi dengan aku?" cecar Gavin.
"Bukan. Gavin, status kita sudah berbeda. Aku dan kamu nggak bisa bersama. Benang takdir mengikatku bersama Gio." Mochi menatap sendu Gavin.
Gavin berpindah tempat duduk di samping Mochi menggenggam tangannya.
"Apa dengan seperti ini, detak jantung kamu masih merasa hal yang sama seperti dulu?" Gavin mengecup tangan Mochi lembut.
Mochi hanya memperhatikan Gavin. Gavin nekat mengecup bibir Mochi membuatnya terkejut.
"Gavin ...."
Darah Mochi berdesir. Sejak kehamilannya, Mochi selalu merasakan hormonnya bergejolak. Gio yang selalu sibuk, jarang memperhatikan Mochi.
"Apa yang kamu rasakan?"
"A-aku ...." Napas Mochi tercekat, ketika Gavin kembali meraup bibirnya. Mochi menyambut bibir Gavin.
Mochi tanpa sadar melenguh, membangkitkan gairah Gavin. Mochi melepas tautan bibir mereka.
"Ma-maaf, a-aku ...."
"Sssst, aku ngerti. Ini hormon kehamilan kamu kan? Apa, sejak kamu hamil Gio pernah menyentuh kamu?"
"Pernah, tapi jarang. Sejak kandungan aku membesar, Gio tidak pernah menyentuh aku."
Mochi menunduk, merasa malu dengan apa yang di lakukannya dengan Gavin.
"Maaf, aku yang salah. Aku nggak bermaksud melecehkan kamu. Kini, aku tahu, kalau perasaan kamu telah berubah," kata Gavin sendu.
Mochi mendongak.
"Gavin, maksud aku bukanβ"
"Mochi, ucapan kamu memang benar. Harusnya, aku tidak merusak rumah tangga kamu. Aku lihat kamu bahagia bersama Gio."
"Gavin ...." Air mata Mochi menetes.
"Jangan nangis. Kamu tidur ya, aku temani."
Mochi memeluk Gavin dengan air mata yang mengalir. Gavin mengusap punggung Mochi.
Mochi ketiduran karena lelah menangis. Gavin membawa Mochi ke kamarnya.
"Aku janji, akan merebut kamu kembali jika Gio sampai menyakiti kamu," gumam Gavin mengecup dahi Mochi sebelum keluar dari kamar Mochi.
*Maaf, baru up yang nunggu lama π
Maaf juga buat ceritanya yang makin absurd π
__ADS_1
Jangan lupa saran dan kritik π*