Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #44


__ADS_3

Kebahagiaan yang selalu kita rasakan terkadang menjadikan kita lupa bahwa selalu ada rasa sedih yang menyelinap. Seperti halnya kebahagiaan yang dirasakan oleh Gio dan Mochi.


Orang tua Mochi ikut pulang mengantar Mochi. Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Mochi di perbolehkan pulang. Gio sangat antusias menggendong anaknya.


"Gio, hati-hati, nanti Lea jatuh," peringat Mochi.


"Nggak akan." Gio mengusap pipi kemerahan Lea yang tertidur di selimut tebal bayi.


"Ayo." Naura menggiring Mochi yang di bantu Rita. Haris membawa barang-barang Mochi.


"Gio, apa kamu sudah tahu, jika—"


"Ayah," tegur Rita memotong ucapan Haris.


Gio yang sibuk menyetir memandang spion tengah menatap Haris sekilas.


"Sudah tahu apa?"


"Nggak ada Gio. Maksud ayah tadi apa papa Gio sudah tahu kalau cucunya perempuan," sela Rita melirik Haris.


Mochi yang penasaran menoleh.


"Ada masalah apa Bunda?"


"Nggak ada masalah, Mochi, kamu jangan mikirin apapun ya," sambung Naura menenangkan.


Dahi Gio mengerut. Namun, Gio hanya tak acuh. Mobil Gio memasuki pekarangan rumah. Nuansa rumah klasik mewah putih tulang menjulang tinggi dengan pilar yang kokoh, Gio memarkirkan mobilnya di samping rumah.


Naura dan Rita turun lebih dulu membantu Mochi. Gio mengambil alih Lea dari tangan Mochi.


"Assalammualaikum." Naura mengucap salam membuka pintu yang tertutup.


"Waalaikumsalam," sahut Elang yang duduk di sofa ruang tamu.


"Pa, nggak mau lihat Princess Gio? Lea cantik banget," celoteh Gio mencium pipi Lea.


Elang tak menggubris, tetap melanjutkan pekerjaannya. Gio menyerahkan Lea pada Naura mendekati Elang dan menutup laptopnya.


Elang menatap tajam Gio.


"Pa, ini yang sudah sejak lama Papa nantikan, cucu Papa, anak Gio yang sekarang udah lahir. Apa Papa nggak mau lihat Azalea?"


"Nanti, Papa banyak kerjaan Gio," balas Elang membuka laptopnya kembali.


"GIO!"


Gio melempar laptop ke lantai begitu saja. Elang tampak menahan geramannya. Elang berdiri.


"Dengar, Elang Atmajaya tidak menerima cucu pertamanya lahir perempuan!" sarkas Elang.


"Tapi, kenapa, Pa? Apa salah anak Mochi?" sambung Mochi dengan mata berkaca-kaca.


"Salah kamu yang melahirkan anak perempuan!"


"Pa, perempuan atau laki-laki sama saja. Dia tetap cucu Papa, anak Gio," sanggah Gio.


"Di mata Papa tidak ada bedanya!" Elang memungut laptopnya pergi ke ruang kerjanya.


"Jadi, ini yang kalian rahasiakan dari Gio?" Gio menilik Haris, Naura dan Rita.


"Gio, Mama nggak bermaksud seperti itu," kata Naura.


"Ma, seharusnya jujur sama Gio. Kalau tahu begini, Gio nggak akan bawa Lea pulang ke rumah ini!" Gio mengusap wajahnya kasar pergi menuju kamar.


Air mata Mochi menetes. Haris dan Rita menenangkan Mochi. Naura menyuruh Mochi untuk istirahat.


Mochi menghapus air matanya mengingat Elang tidak menyukai Lea. Gio pergi menenangkan diri setelah berdebat dengan Elang. Mochi memandang putrinya yang tertidur di tempat tidur bayi. Setelah memberi Lea asi, Lea tertidur.


Ting!


Mochi mendekat ke ranjangnya mengambil ponsel. Mochi menggulir layar melihat pesan masuk di whatsappnya.


+628333888xxx

__ADS_1


Hai


Dahi Mochi mengerut. Mochi mengetik balasan.


+628137878xxx


Hai, siapa?


typing +628333888xxx


Gavin


+628137878xxx


Gavin? Kamu ganti nomor?


typing +08333888xxx


Iya, aku dengar, kamu udah melahirkan


+628137878xxx


Iya, tahu darimana?


Panggilan +628333888xxx


Mochi menekan slide tombol menjawab.


"Halo"


"Hai, kamu apa kabar?"


"Baik"


Suara Mochi terdengar sendu.


"Kamu nggak bahagia? Anak kamu udah lahir"


Mochi bangkit dari duduknya melihat Lea yang tidur di tempat tidurnya.


"Aku mau lihat anak kamu"


"Gavin, aku mohon sama kamu. Jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku bahagia"


"Aku nggak ganggu kamu. Aku ke sana sama Tasya"


Hati Mochi mencelus. Bodohnya Mochi masih mengharap Gavin memuja dirinya. Padahal, salahnya yang meminta Gavin untuk menjauhinya.


"Oh, iya"


"Yaudah, aku on the way"


Gavin mematikan telepon. Mochi menghela napas.


***


"Lo mau kemana Kak?" tanya Diandra melihat penampilan Gavin yang sudah rapi.


"Lihat baby Mochi."


"Mochi udah melahirkan? Ya ampun, dia kok nggak kasih tahu Dian sih," gerutu Diandra.


"Lo yakin mau ke sana?"


"Kenapa? Salah emangnya gue jenguk baby Mochi?"


"Gavin."


Diandra dan Gavin menoleh.


Zura mendorong kursi roda Ferry mendekati Gavin dan Diandra. Setelah Ferry sadar dari koma, dan keadaan Ferry stabil, Ferry di bawa pulang.


"Mama."

__ADS_1


"Gavin, kenapa kamu masih ingin mengganggu Mochi?"


"Ma, Gavin nggak ganggu. Gavin hanya ingin lihat baby Mochi," sanggah Gavin.


Ferry yang duduk di kursi roda seperti mengiyakan perkataan Zura dengan menganggukkan kepala.


"Pa, Ma. Gavin memang masih mencintai Mochi. Tapi, Gavin janji nggak akan merusak rumah tangga mereka, kecuali Gio yang mencoba menyakiti Mochi," terang Gavin memandang Zura dan Ferry bergantian.


Dahi Diandra mengerut.


"Menyakiti gimana maksud lo Kak?"


"Gio sedang dekat dengan teman lamanya. Gue takut Gio mengkhianati Mochi."


"Apapun masalah yang di hadapi Mochi, jangan pernah ikut campur. Mama nggak mau, kamu kena imbasnya," peringat Zura.


"Benar apa kata mama Kak, lo jangan lagi ganggu Mochi. Biarkan Mochi bahagia. Mungkin, Mochi bukan takdir lo," sambung Diandra.


"Gavin keluar dulu, ma cari udara segar," dalih Gavin.


Zura, dan Diandra saling pandang melihat kekerasan kepala Gavin.


Gavin keluar dari rumah menuju mobil. Gavin menginjak pedal gas melaju meninggalkan rumah.


Gavin sangat ingin menjenguk Mochi namun, Gavin ingin memberi hadiah untuk baby Mochi.


"Ck, tahu gini, gue ajak Diandra tadi," gumam Gavin.


Gavin memutar roda kemudi memasuki toko perlengkapan baby. Gavin sangat ingin memberi hadiah untuk baby Mochi. Mata Gavin memicing mengenal plat nomor mobil bmw hitam di depannya.


"Gio?" Gavin turun dari mobilnya memastikan.


"Lo ngapain?" Gavin menoleh melihat seorang wanita cantik berpakaian modis terlihat akrab dengan Gio membawa beberapa paperbag di tangannya.


"Ini teman lama lo, Gio?" tanya Gavin menilik perempuan disamping Gio.


"Hai, aku Viola. Teman lama Gio." Viola melempar senyum.


"Lo selingkuh, heh?" tuding Gavin.


"Jaga bicara lo! Viola bukan perempuan yang kayak lo pikirkan!" hardik Gio.


Gavin bersedekap dada.


"Ck, alasan klasik. Awal jadi teman, lama-lama jadi deman."


Gio mendekat, menarik kaos yang di pakai Gavin.


"Jaga bicara lo Gavin Angkasa. Gue bukan lo yang pernah mengkhianati Mochi," desis Gio menyeringai.


Tangan Gavin mengepal. Gavin melepas paksa tangan Gio dari bajunya dengan kasar.


"Ck, lo nggak usah ungkit masa lalu gue, pada nyatanya, lo yang nggak punya etika. Jalan sama cewek lain, sementara istri lo baru melahirkan."


Bugh!


Gio memberi bogem mentah pada Gavin. Gavin hanya tersenyum menyeka darah di bibirnya.


"Stop! Gio, kamu apa-apaan sih?" protes Viola menenangkan emosi Gio.


"Vi, laki-laki tidak tahu diri ini harus diberi pelajaran, supaya mulutnya tidak kurang ajar," kata Gio.


"Gio, kamu salah. Dengan seperti ini, apa yang dia tudingkan benar," sahut Viola.


"Apa?"


Gavin hanya tersenyum miring mendengar apa yang dikatakan Viola.


***Halo! Maaf baru up, wkwk cerita ku makin gaje ya 😂


Makasih sudah mau menunggu aku up, sejujurnya aku tak memiliki ide buat ngetik ini, hiks. Jangan lupa kritik dan saran ya 😘


Happy Reading***!

__ADS_1


__ADS_2