Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #08


__ADS_3

Haris dan Rita khawatir dengan Mochi yang tak kunjung pulang dari rumah Diandra. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. Hujan deras disertai angin kencang, dan kilat serta petir saling bersahutan. Namun, Mochi tak kunjung memberi kabar atau sekadar menelfon.


Drrtt


+628523229xxx is caling ...


"Siapa yang nelfon Bunda ?" tanya Haris yang mendengar nada dering ponsel Rita.


"Nggak tahu Yah, nomor baru," balas Rita melihat nomor baru tanpa nama di ponsel nya.


"Angkat aja Bun, siapa tahu Mochi."


"Halo, assalammualaikum"


"...."


"Ya Allah Mo, Ayah sama Bunda khawatirin kamu"


"...."


"Iya. Hujan nya sangat deras disini. Kilat dan petir bersahutan"


"...."


"Yasudah, kalau begitu kalau hujan reda kamu pulang ya Nak"


"...."


Tuts


"Dari Mochi Bun ?" tanya Haris.


"Iya Yah, Mochi masih di rumah Diandra. Batrai ponsel Mochi low, makanya pinjam ponsel Diandra. Katanya, Dian ajak nginap kalau hujan nya nggak kunjung reda," ujar Rita.


"Yasudah Bun, semoga Mochi baik-baik saja di sana," kata Haris.


"Gimana Mo ?" tanya Dian.


"Ayah sama Bunda khawatir."


"Tuh kan, kamu sih bandel. Pakai ponsel aku aja, kamu nggak mau," celoteh Dian.


"Iya-iya Dian maaf, aku nggak enak nginap di sini."


"Kenapa Mo ? biasa aja. Gue nggak masalah kok. Papa sama Mama juga nggak masalah. Mama gue senang gue ada teman," balas Diandra menyengir.


Prang


Bunyi guci yang di pecahkan, terdengar oleh Mochi dan Diandra.


"Dian, ada apa di bawah ?" tanya Mochi penasaran.


"Paling Kak Gavin lagi. Lihat yuk Mo," ajak Diandra.


Mochi dan Diandra bergegas turun ke bawah melihat keributan Gavin, Papa dan Mama nya.


"Gavin mau pergi kemana, bukan urusan lo ***** !" bentak Gavin pada Zura.


"GAVIN !"

__ADS_1


Plak


Ferry menampar telak Gavin. Lagi dan lagi. Diandra dan Mochi terperangah melihat Gavin.


"Terus aja Papa bela ***** ini ! dia yang udah bunuh Mama Gavin !" teriak Gavin.


"STOP KAK !"


"Lo nggak usah ikut campur ! gue bukan Kakak lo !" hardik Gavin.


"Kak Gavin, kok kayak gitu ? Nggak boleh berteriak denga orang tua," timpal Mochi memberi nasihat.


Gavin memandang sinis Mochi, dan tertawa hambar.


"Heh, emang lo siapa nasihatin gue ? dasar cewek udik !"


"GAVIN !"


"Apa ? Papa mau tampar Gavin lagi ? silakan," sahut Gavin mendekat dengan memberikan pipi sebelah kanan nya.


Ferry merasa frustasi melihat sikap Gavin yang selalu memberontak.


"Gavin, kamu salah paham. Bukan Tante yang bunuh Mama Aruni. Tapi, ini semua kecelakaan Gavin," kata Zura.


"Kecelakaan lo bilang ? kecelakaan apa kalau gue lihat lo yang dorong Mama Aruni !" hardik Gavin.


"GAVIN ANGKASA ...."


Kesabaran Ferry sudah habis. Jika Ferry sudah berkata dingin dengan nama lengkap nya, maka Ferry tak akan segan mengambil semua fasilitas yang dia berikan pada Gavin.


"Mas, sudah. Jangan emosi, biarkan Gavin pergi," lerai Zura.


"Cih, ***** sialan," desis Gavin.


"Gavin ... coba ingat, apa kata Mama kamu. Ingat pesan mama kamu sebelum dia meninggal. Dia ingin kamu jadi anak yang baik dan berbakti kan ? kalau sikap kamu seperti ini, apa mama kamu tenang di alam sana melihat anak nya yang menjadi pemberontak ?"


Gavin terdiam. Gavin memandang lurus ke manik mata Mochi. Mata hitam pekat Mochi seakan menghipnotis diri nya. Ingatan Gavin melayang, ketika Gavin mendapati sebuah buku diary mama nya, agar Arvin menjadi anak yang baik dan berbakti.


Gavin menggeram, dengan gigi gemeletuk menahan emosi nya. Gavin pergi kembali ke kamar dengan langkah lebar dan berlari kecil.


Blam


"Eh, tumben Kak Gavin nurut sama lo Mo ?" tanya Diandra bingung.


Mochi salah tingkah. Diri nya juga tidak tahu mengapa diri nya seberani tadi.


"Mochi, terima kasih. Maaf, jika kamu harus mendengar kan keributan di rumah ini," ucap Ferry.


"Nggak apa-apa Om," balas Mochi.


Zura mendekati Mochi.


"Mochi, terima kasih ya. Berkat kamu, Gavin tidak jadi keluar rumah," tukas Zura memegang bahu Mochi.


"Pakai jimat apa lo Mo," celetuk Diandra.


"Dian ...." Tegur Ferry dan Zura bersamaan.


Mochi hanya tersenyum simpul, sedangkan Diandra menyengir kuda.

__ADS_1


"Udah ah, acara terima kasih nya. Sekarang, saat nya tidur," ucap Diandra.


"Baru pukul 19.30 sayang, masa' udah tidur aja sih," sambung Zura.


"Biasa Ma, Dian sama Mochi mau ngerumpi dulu hehe," cengir Diandra.


"Dasar. Semoga betah menginap di sini ya Mochi," kata Zura.


"Iya Tante," balas Mochi malu-malu.


"Anggap rumah sendiri saja Mochi," timpal Ferry merangkul mesra bahu Zura.


"Yuk, pergi Mo. Papa sama Mama nanti buat kita baper sama kemesraan mereka," sindir Dian.


Mochi dan Diandra pergi meninggalkan Ferry dan Zura. Ferry dan Zura hanya terkekeh kecil. Sementara, Gavin yang melihat dari atas hanya mendengkus kasar.


Pukul 02.00 wib


Mochi yang merasa gelisah karena tenggorokan nya kering, seketika membuka kedua mata nya. Mochi melihat samping kanan nya Diandra tertidur lelap. Mochi tidak ingin mengganggu Diandra. Perlahan, Mochi beranjak dari kasur nya tanpa menimbulkan bunyi yang berisik. Ketika Mochi berhasil keluar kamar, langkah kaki Mochi terhenti di depan kamar Gavin yang lampu kamar nya masih menyala terang.


Jantung Mochi berdebar-debar, takut akan sosok Gavin berdiri di depan nya. Ketika Mochi ingin melangkah, dari belakang seseorang membekap mulut Mochi.


Ketika Mochi meronta- ronta minta di lepaskan, mata Mochi melotot melihat Gavin bertelanjang dada. Mochi ingin berteriak, namun lagi-lagi Gavin membekap mulut Mochi.


"Sekali lo teriak, habis lo," bisik Gavin.


Mochi hanya mengedipkan mata nya sebagai jawaban. Gavin mengunci pintu kamar nya.


"Ga-gavin ... Mochi mau ke-keluar," kata Mochi terbata-bata.


"Lo nggak akan bisa kemana-mana, cewek udik," bisik Gavin lagi.


Mochi mencium aroma alkohol dari mulut Gavin. Pasti, Gavin sedikit mabuk. Mochi mengedarkan bola mata nya. Tepat sekali, botol vodka bertengger di atas meja belajar Gavin.


"Kak Gavin, mabuk ?"


"Hahaha, apa mabuk ? lo gila ya. Gue nggak mabuk," balas Gavin tertawa hambar.


Gavin semakin berani menyentuh Mochi. Mochi semakin menegang.


"Ja-jangan Gavin ...." Mata Mochi memandang pintu kamar Gavin. Kunci kamar nya, di simpan Gavin disaku celana nya. Mochi lupa.


"Lo cantik ...." Puji Gavin mendekati Mochi yang melangkah mundur membentur dinding.


Mochi memandang Gavin yang menatap nya sayu.


"Ga-gavin ... sadar," balas Mochi yang ketakutan.


Gavin memerangkap Mochi. Napas Mochi tersengal-sengal ketika Gavin semakin mendekatkan wajah nya. Mochi memalingkan wajah nya, ketika Gavin hendak mencium nya.


"Gue kangen bercumbu sama lo Tasya ...," lirih Gavin sendu membayangkan Tasya yang berada dengan nya saat ini.


Mochi terdiam. Mochi memandang Gavin. Harus nya, Mochi senang bisa sedekat ini sama Gavin. Namun, Gavin masih mengharapkan Tasya. Mochi mendorong Gavin sekuat tenaga nya. Tenaga Gavin yang tidak terlalu kuat akibat di pengaruhi alkohol, Gavin ambruk di lantai kamar nya. Mochi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mochi merogoh saku celana Gavin mengambil kunci kamar nya. Ketika Mochi keluar kamar Gavin, bertepatan dengan Diandra yang lewat.


"Mo, lo ngapain di kamar Kak Gavin ?" tanya Diandra sembari menguap lebar.


"Hum, nggak kok. Aku ... aku ... iseng aja coba buka pintu kamar nya, eh ternyata nggak di kunci," dalih Mochi.


Diandra mengerutkan dahi heran. Setahu Diandra, Gavin tidak pernah membiarkan pintu kamar nya tidak terkunci.

__ADS_1


"Tapi, Mo Kak Ga,—"


"Udah, balik ke kamar yuk, aku ngantuk nih," ajak Mochi menarik pergelangan tangan Diandra dengan banyak pertanyaan di  benak Diandra.


__ADS_2