
Diandra, Haris dan Rita sangat mengkhawatirkan Mochi, yang belum pulang dari sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 wib. Haris duduk di kursi sofa yang sudah sedikit usang, sedangkan Rita dan Diandra berjalan hilir mudik.
Suara motor dengan gas menderu, memasuki halaman rumah sederhana Mochi. Haris, Rita dan Diandra bergegas melihat siapa gerangan yang mengendarai motor.
"Mochi ... ya Allah sayang, Bunda khawatir," ucap Rita mendekati Mochi yang perlahan turun dari motor cross Gavin.
"Maaf Bunda, Mochi ...." Mochi memandang Gavin. Gavin menggeleng memberi kode pada Mochi. Mochi pun mengerti.
"Mochi !" panggil Diandra.
Diandra mengerutkan dahi bingung, menilik keberadaan Gavin. Banyak pertanyaan berseliweran di benak Diandra, mengapa Gavin tiba-tiba perduli dengan Mochi.
"Mochi, gue pulang dulu ya," pamit Gavin.
"Kamu siapa Nak ?" tanya Rita.
"Saya Gavin Tante."
"Terima kasih, Nak Gavin sudah mengantarkan Mochi pulang," balas Rita.
"Sama-sama Tante," balas Gavin tersenyum.
Diandra menganga melihat Gavin yang tidak seperti biasa nya.
"Kak Gavin !" panggil Diandra.
"Gavin, Kakak kamu Diandra ?" tanya Haris.
"Iya Ayah, Kak Gavin Kakak Dian."
"Kebetulan sekali. Hari sudah semakin gelap. Sebaik nya, Nak Gavin istirahat dulu sembari sholat magrib berjama'ah," kata Haris.
Gavin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Ayo, Nak Gavin," ajak Rita.
Gavin terpaksa turun dari motor nya, mengikuti langkah kaki Rita, Mochi, Haris, dan Diandra masuk kedalam rumah.
Gavin menelisik rumah Mochi. Gavin tertegun. Rumah sederhana, dengan pilar-pilar penyangga kayu yang sedikit rapuh. Langit-langit rumah dengan triplek yang sudah di makan rayap, dan banyak peta karena sudah bocor. Ketika Gavin melangkahkan kaki nya ke ruang tamu, pandangan Gavin jatuh pada kursi sofa yang sudah usang.
"Silakan duduk Nak Gavin. Nak Gavin, ingin ikut sholat berjama'ah ?" tawar Haris.
"Maaf, Om, duluan saja," ringis Gavin.
Haris tersenyum mengangguk. Sepeninggal Haris, Gavin merasa keluarga sederhana ini sangat harmonis, tidak seperti keluarga nya.
"Gavin, sadar ! ingat tujuan lo itu apa !" gumam Gavin memukul kepala nya untuk tidak berempati.
"Kak Gavin, kenapa ?" tanya Mochi yang sudah berganti pakaian, dan membawa segelas air putih.
"Lo nggak sholat ?"
"Nggak Kak. Biasa perempuan."
Gavin mengangguk.
__ADS_1
"Maaf ya Kak, hanya ini minuman yang bisa Mochi berikan," ujar Mochi takut-takut.
"Iya nggak apa-apa. Lo punya utang sama gue."
Mochi menoleh dengan mengerutkan dahi nya bingung.
"Utang ?" ulang Mochi.
"Iya, karena gue udah nolong lo."
"Jadi, Kak Gavin nggak ikhlas nolong Mochi ?"
"Ikhlas ! tapi, gue minta imbalan," cecar Gavin.
"Kalau ikhlas, nggak mungkin Kak Gavin minta imbalan," sanggah Mochi.
"Hish, pokok nya lo punya utang sama gue ! lo harus nurut sama gue !" perintah Gavin tanpa bantahan.
"Tapi—"
"Ada apa ini Mochi ?" tanya Haris yang melihat Mochi dan Gavin seperti berdebat tentang sesuatu.
"Nggak ada Ayah, ini tadi ... Kak Gavin mau pulang," cicit Mochi.
Gavin terperangah mendengar perkataan perempuan di depan nya ini.
"Benar Nak Gavin ?" ulang Haris.
"Eh, i-iya Om," jawab Gavin.
"Iya Kak, masakan Bunda enak lho," sambung Diandra.
Gavin mengangkat sebelah alis nya. Sebenar nya Gavin sangat malas berbicara dengan Diandra, tapi apa boleh buat demi melancarkan tujuan utama nya.
"Jangan bingung Nak Gavin, Diandra memang memanggil Saya Ayah, dan Ibu Mochi Bunda," sela Haris ketika Gavin diam.
"Mochi, Diandra, bantu Bunda ya menyiapkan makanan," pinta Rita.
"Siap Bunda !" sahut Mochi dan Diandra serentak sembari terkekeh pelan.
"Mari Nak Gavin, maaf ya rumah nya sederhana. Mungkin, Nak Gavin kurang nyaman," tutur Haris.
"Eh, nggak apa-apa Om."
Haris dan Gavin pergi menuju meja makan. Meja makan yang hanya ada empat kursi kayu, dan meja kayu persegi yang tidak terlalu lebar beralaskan seperti karpet plastik. Hidangan di atas meja, hanya ada tahu,tempe goreng serta sayur bayam.
"Sekali lagi, maaf Nak Gavin. Lauk pauk nya hanya ada ini," ucap Haris sungkan.
"Nggak apa-apa Om, yang penting halal," sahut Gavin tersenyum.
Lagi dan lagi, Diandra terperangah.
"Silakan, duduk Nak Gavin," lanjut Haris.
Gavin duduk di kursi kayu itu ragu-ragu. Sementara, Mochi dan Diandra duduk berdua berbagi tempat.
__ADS_1
"Baca doa dulu ya," peringat Haris lagi.
"Nah, silakan di makan Nak Gavin," kata Rita mengambilkan nasi, dan lauk pauk di meja untuk Gavin.
Gavin hanya membalas nya dengan tersenyum mengangguk. Sementara Mochi dan Diandra terlihat sibuk berdebat sembari tersenyum lebar. Ingatan Gavin melayang ke masa lalu nya. Gavin menggeleng. Gavin mencoba memakan makanan nya.
Tidak terlalu buruk. Baru kali ini, gue makan kayak gini. Sederhana banget, pantas anak ***** ini betah banget berteman sama cewek udik ini, sama-sama serasi. Batin Gavin.
Setelah selesai makan malam, Gavin pamit pulang begitu juga dengan Diandra.
"Terima kasih makan malam nya Ayah, Bunda. Maaf, Diandra suka sekali numpang makan di sini, hehe," kata Diandra sembari menyengir lebar.
"Tidak apa Nak Dian, Ayah maklum."
"Gavin pulang dulu, Om, Tante," pamit Gavin menyalami tangan kedua orang tuan Mochi.
"Dian juga Ayah, Bunda," sambung Dian menyalami tangan kedua orang tua Mochi.
Mochi yang sudah selesai mencuci piring pun turut berjalan keluar rumah nya.
"Hati-hati ya kalian," peringat Mochi.
"Mochi, besok lo gue jemput," ujar Gavin.
"Assalammualaikum," ucap Dian.
"Waalaikumsalam."
Gavin memakai helm full face nya , dan menghidupkan motor. Diandra pergi menuju mobil nya.
Setelah kepergian Gavin dan Diandra, Haris dan Rita menggoda Mochi.
"Cie, anak Ayah udah punya gebetan," goda Haris.
"Ish, Ayah. Hanya teman nggak lebih," sanggah Mochi tersenyum malu-malu masuk ke rumah.
Rita dan Haris hanya saling melempar senyum. Putri mereka satu-satu nya sudah mulai beranjak dewasa.
****
"Kak Gavin tunggu !" panggil Diandra setelah memarkirkan mobil nya di garasi.
Gavin berdecak malas.
"Kak, kenapa tiba-tiba lo baik sama Mochi ? setahu gue, lo nggak pernah bersikap sebaik itu sama perempuan," cecar Diandra.
Gavin menolehkan pandangan nya menatap Diandra sinis.
"Bukan urusan lo !" ketus Gavin.
"Memang bukan urusan gue Kak, tapi gue nggak mau lo ada niat buruk sama Mochi," lanjut Diandra lagi.
"Lo nggak usah ikut campur urusan gue ! lo bukan siapa-siapa ! urus aja diri lo sendiri sama nyokap lo yang ***** itu !" hardik Gavin melangkah kan kaki nya masuk ke rumah.
Diandra sangat jengkel. Diandra mengepalkan kedua tangan nya penuh emosi.
__ADS_1
"Aarrgh ! Kak Gavin sialan ! lo lihat aja, gue nggak akan tinggal diam sampai lo sakiti Mochi dan Mama !" gumam Diandra.