Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #21


__ADS_3

Jemari tangan yang ditekan seirama dengan tombol keyboard tidak mengalihkan pandangan Mochi sedetikpun dari layar monitor di hadapan nya. Mochi sangat fokus membuat jadwal agenda Gio.


"Mochi."


"Ya Gio ?"


Mochi tetap melanjutkan pekerjaan nya tanpa melihat Gio. Gio merasa Mochi berbeda. Biasanya, Mochi selalu menyambut nya dengan hangat. Kini, Mochi seperti acuh.


Gio memegang tangan Mochi. Mochi mengalihkan tatapan nya sembari melepas tangan Gio.


"Ini di kantor Gio, kalau yang lain lihat gimana ?"


"Lho, biasa nya juga gitu kan Mo ? kamu kok hari ini berubah ?"


"Berubah gimana Gio ? aku seperti yang kemarin kok. Aku kan lagi ada kerjaan."


"Kamu ikut keruangan aku."


Gio menarik tangan Mochi paksa mengikuti langkah kaki Gio. Mochi terpaksa berdiri mengikuti Gio keruangan nya.


"Gio, kamu kenapa ?"


"Kamu yang kenapa Mochi ? setelah pertemuan kamu dengan Gavin, kamu berubah !"


Gio menatap tajam Mochi. Mochi melangkah mendekati Gio.


"Kamu salah Gio. Aku nggak berubah. Aku masih Mochi yang sama," kata Mochi meyakinkan Gio.


"Kenapa sampai sekarang, kamu belum jawab lamaran aku Mo ? kamu niat nggak membuka hati untuk aku ?"


Gio berbalik membelakangi Mochi berusaha menetralisir amarah nya. Tangan Gio terkepal di meja.


"Aku-"


"Cukup Mo. Aku udah tahu jawaban kamu. Gavin lagi ?" Gio kembali menghadap Mochi yang menunduk memilin ujung blazer yang di pakai nya.


Gio memegang bahu Mochi. Mochi mendongak.


"Mochira, Gio Atmajaya sungguh-sungguh mencintai kamu. Mungkin, aku bukan Gavin yang sempurna. Tapi, cinta yang aku punya untuk kamu murni."


Mochi menatap tepat di manik mata Gio yang tidak menyiratkan kebohongan. Namun, Mochi tidak bisa. Sebagian hati nya telah terisi penuh tentang Gavin, cinta pertama nya.


"Aku sayang sama kamu Gio. Tapi, aku menyayangi kamu sebagai Abang, nggak lebih."


Gio memandang Mochi dengan tatapan menyiratkan kekecewaan. Gio lagi-lagi melangkah menjauhi Mochi menghadap ke meja kerja nya.

__ADS_1


"Gio, aku minta maaf udah mengecewakan kamu. Aku nggak tahu kenapa belum bisa melupakan Gavin."


"Keluar Mochi."


Suara dingin Gio yang tidak ingin Mochi dengar. Jika Gio sudah berkata seperti itu, Mochi waswas dengan Gio yang bisa saja bersikap tidak hangat.


Mochi menggelengkan kepala nya dan tetap melangkah mendekati Gio. Mochi memeluk Gio dari belakang. Gio memejamkan mata nya untuk menahan amarah yang sedari tadi sudah menggebu-gebu berontak keluar.


"Aku minta maaf Gio. Hiks, aku benar-benar minta maaf."


Gio selalu lemah, jika sudah mendengar suara Mochi bergetar menahan tangis.


Gio melepas tangan Mochi yang melingkar di pinggang nya. Gio berbalik menghadap Mochi.


"Jangan nangis Mochi. Aku udah pernah bilang kan ? jangan jadi wanita cengeng."


"Nggak bisa hiks, Gio marah sama Mochi."


"Nggak usah drama Mochi. Ini taktik kamu kan biar aku nggak marah ?"


Mochi mencebik. Gagal sudah usaha nya membujuk Gio.


Gio terkekeh melihat kepolosan Mochi. Mochi menautkan alis nya bingung.


"Yah, Gio kok tahu ? nanti Gio nggak luluh lagi sama tangisan Mochi," ucap nya mencebik manja.


Gio lagi-lagi hanya terkekeh dan memeluk Mochi.


"Aku sayang sama kamu Mochi. Apa pun akan aku lakukan agar kamu bahagia. Sekalipun itu harus melepas kamu dengan Gavin."


Mochi mengurai pelukan nya menatap Gio.


"Apa itu artinya, kamu ?" tanya Mochi dengan mata berbinar-binar.


Gio hanya mengangguk tersenyum.


"Makasih Gio. Aku nggak tahu mau bilang apa. Aku sayang Gio. Makasih untuk semua nya Gio. Mochi bahagia, karena Gio mengikhlaskan Mochi bersama Gavin,"celoteh nya riang.


Gio hanya terkekeh mendengar celotehan Mochi.


"Sekarang, kerjakan tugas kamu sampai selesai ya."


"Siap Pak Bos !" kata Mochi dengan gaya ala hormat upacara.


Gio mengusap pucuk kepala Mochi dengan sayang. Mochi tersenyum lebar meninggalkan ruangan Gio.

__ADS_1


Mochi bergegas mengerjakan pekerjaan nya untuk menemui Gavin. Mochi mengetikkan pesan singkat pada Gavin yang tempo hari Gavin diam-diam mengambil ponsel nya.


*To : My Lovely Gavin 💞


Kita ketemu ya hari ini di tempat kemarin 😊


Send !


From : Mochi is Mine !


Oke. Nanti pulang aku jemput !


Mochi tersenyum membalas pesan Gavin.


To : My Lovely Gavin


Iya. Bye Gavin, jangan lupa makan siang ya nanti 🤗


From : Mochi is Mine !


Iya too*


Gavin hanya bisa tersenyum geli. Jadi, seperti ini rasanya jatuh cinta ? jika tahu dari dulu seperti ini, Gavin pasti tidak akan pernah mempermainkan perempuan.


"Gila lo Kak ? senyum-senyum sendiri," kata Diandra bergidik yang melihat Gavin di kasur nya tersenyum sendiri memandangi ponsel.


"Sejak kapan lo di situ ?"


"Sejak lo dari tadi senyum-senyum nggak jelas."


Gavin bangkit dari duduk nya melangkah mendekati Diandra yang berdiri bersedekap dada di depan pintu.


"Perlu apa ?"


"Papa panggil lo Kak. Kata nya ada yang perlu di bicarakan penting."


"Bicara soal apa ?" tanya Gavin menautkan alis nya.


Diandra mengangkat bahu nya acuh.


"Kata Mama penting buat masa depan lo."


"Yaudah, bilang Papa, Mama gue bentar lagi turun."


Diandra segera pergi meninggalkan kamar Gavin.

__ADS_1


__ADS_2