
Mochi meronta-ronta ketika Jeni dan Siera membawa Mochi masuk ke base camp. Sebuah rumah yangย tidak terlalu besar, dengan lampu remang-remang yang luas, dan beberapa sofa duduk untuk tempat bersantai. Bau asap rokok serta alkohol menguar di indra penciuman Mochi. Mochi menoleh dan mengernyit ketika mendengar bariton suara asing.
"Welcome in the basecamp 'The Eagle'," kata Nicho yang keluar dari tempat persembunyian nya bersama teman-teman nya.
"So seksi," kata Azka menilik penampilan Mochi dari atas hingga bawah.
"Bidadari tercantik yang sangat menggiurkan," tambah Frans.
"Ka-kalian siapa ?" tanya Mochi beringsut memundurkan langkah nya.
"Dia Nicho, yang mau ulang tahun Mochi. Lo di sini ya, gue mau ke toilet," sahut Jeni yang mengedipkan sebelah mata nya genit pada Nicho.
Mochi memandang sekeliling. Tidak ada kue, tidak ada musik. Yang ada hanya botol-botol minuman alkohol yang berserakan.
"Siera, Jeni! Mochi ikut!" teriak Mochi ketakutan.
"Eits, lo mau kemana? Kita belum kenalan," kata Nicho mencekal pergelangan tangan Mochi.
"A-aku Mochi. A-aku harus pergi," terang Mochi takut.
"Mochi? Nama yang cantik secantik orangnya," sambung Frans.
"Memangnya lo nggak tahu, kalau Gavin jadikan lo tumbal?" timpal Azka.
"Tumbal?" ulang Mochi dengan alis mengerut.
"Iya. Gavin kalah adu balap sama gue. Siapa yang kalah bebas minta apapun. Lo pasti tahu kan maksudnya?" Nicho menjelaskan pada Mochi, mengapa diri nya berada di basecamp Nicho.
"Ja-jadi , K-kak Gavin jadikan aku ba-bahan taruhan?" Setitik air mata lolos melewati kedua pipi putih mulus nya.
Kak Gavin kenapa tega? apa salah Mochi?
Nicho menghapus air mata Mochi, yang di tepis Mochi.
"Wow, gue suka cewek yang agresif," ujar Nicho tersenyum menyeringai.
Nicho memberi kode pada teman-teman nya untuk menahan Mochi. Mochi yang bisa menebak situasi segera melarikan diri. Namun, sial nya gerak-gerak Mochi sudah lebih dulu di ketahui teman-teman Nicho.
"Kalian mau apa! Please ... jangan ganggu Mochi," pinta Mochi memelas.
"Ck, gue nggak akan nyakitin lo. Paling--gue mau sedikit bermain dengan tubuh cantik lo ini," balas Nicho.
Napas Mochi tercekat. Mochi meneguk ludah nya kasar. Mochi harus berpikir. Satu-satu nya cara adalah berusaha melawan mereka.
Nicho, Azka dan Frans menunggu didalam basecamp, sementara teman-teman lain nya berjaga di sekitar basecamp. Mochi menelisik sekitar nya, mencari celah agar bisa keluar dari tempat terkutuk bagi nya.
"Akh! Lepas! Kak Gavin ...!" teriak Mochi sekuat yang dia bisa di kala Azka dan Frans menghalangi niat Mochi untuk kabur.
__ADS_1
"Mochi," gumam Gavin ketika mendengar suara teriakan Mochi.
Gavin bangkit dari duduk nya hingga Tasya yang duduk di pangkuan nya terjerembab.
"Awh, Gavin!" jerit Tasya.
"Sorry Sya, gue khilaf. Gue harus pergi," kata Gavin memakai kaos dan jaketnya kembali.
"Apa? Gue udah horny lo mau ninggalin gue Gav? Sinting lo!" maki Tasya menggeram kesal.
"Lo yang paksa gue! Gue harus tolong Mochi."
Tasya merapikan gaun seksinya dan bangkit mendekati Gavin.
"Lo lupa sama janji lo Gav? Biarkan Nicho bersenang-senang sama cewek udik! Kita juga bersenang-senang disini," bisik Tasya di telinga Gavin dengan menjilat telinga Gavin dengan sensual.
"*****! Lepasin tangan lo dari tubuh gue !" Gavin menyentak tangan Tasya kasar, ketika tangan Tasya mulai menyentuh titik sensitifnya.
Gavin mendorong Tasya, dan segera keluar dari tempat parkir khusus motor geng Nicho. Tempat itu di terangi dengan cahaya lampu remang-remang. Seperti gudang, namun tidak terlalu luas.
Tasya berdecak sebal. Tasya menyusul langkah kaki Gavin. Ketika Gavin ingin memasuki basecamp, teman-teman Nicho menghalang. Terjadi baku hantam yang menguras tenaga Gavin. Lebih dari 5 orang yang Gavin lawan.
"Gavin! Lo jangan nekat masuk! Lo bisa celaka !" pekik Tasya menghentikan langkah Gavin.
"Gue nggak perduli!"
Gavin berusaha membuka pintu kayu yang di kunci dari dalam. Gavin mencari celah agar bisa masuk ke dalam. Gavin mencari barang di sekitarnya untuk membuka pintu. Gavin mendapatkan tongkat base ball yang terletak di samping basecamp yang di gunakan teman-teman Nicho untuk tawuran. Gavin memukul kuat gagang pintu itu dan berusaha mendobrak.
Nicho, Azka dan Frans berdecak kesal. Gavin melihat Mochi menangis terisak di sofa dengan pakaian nya yang nyaris terlepas dari tubuh nya.
"Lo mau ikut gabung Gav? Lumayan, mulus," kata Nicho menyulut amarah Gavin.
"Brengsek!" maki Gavin berusaha menyerang Nicho, Azka dan Frans sekaligus.
"Geo! Lo cepat sedikit dong setir mobilnya! Gue khawatir nih, sama Mochi dan Kak Gavin," kata Diandra gelisah di dalam mobil.
"Sabar Dian! Lo kayak cewek yang mau lahiran, bawel!" tandas Geo.
"Buruan Geo!" teriak Diandra.
"Suara lo, mengalahkan toa masjid! Lo buruan telepon polisi deh sekalian. Biar mereka jera meresahkan warga dan anak sekolah lain karena ulah mereka," cerocos Geo.
Diandra mengutak-atik ponselnya. Sementara sedari tadi, Leo masih menjadi pendengar setia perdebatan unfaedah Dian dan Geo.
Gavin menendang dada Azka dan Frans, dan bersiap meninju wajah Nicho. Namun, gerakan Nicho lebih gesit hingga Nicho memelintir tangan Gavin ke belakang.
"Lo berani main-main sama gue?" desis Nicho.
__ADS_1
"Kasih pelajaran aja Nic, sakit nih dada gue," keluh Azka memegang dada nya yang terasa sesak.
"Gue nggak takut!" tantang Gavin lagi.
Prang!
"Akh! Kak Gavin!" jerit Mochi ketika Tasya menyakiti Mochi dengan mendekatkan pecahan botol ke leher Mochi.
"Sya! lepaskan Mochi!" perintah Gavin.
"Nope! Lo turuti apa mau Nicho, baru gue lepasin nih cewek udik," jawab Tasya santai.
Di saat Tasya lengah, Mochi berusaha melawan Tasya, dengan menggigit tangan Tasya dan menyikut perut Tasya.
"Akh!"
Gavin berusaha membalikkan keadaan. Gavin memelintir tangan Nicho ke belakang dan memukul tengkuknya kuat. Azka dan Frans mengambil botol minuman yang tergeletak di lantai dan langsung memecahkannya di kepala Gavin bertubi-tubi.
Prang !
Prang !
Prang !
Prang !
"KAK GAVIN!" raung Mochi mendekati Gavin yang terjatuh dengan banyak darah yang mengalir di kepalanya.
"Ma-maaf ...," lirih Gavin dengan napaa tersengal-sengal.
"Kak Gavin, bangun! Jangan tinggalkan Mochi," ucapnya memangku kepala Gavin yang mengeluarkan banyak darah.
Gavin hanya membalas dengan senyum getir. Mochi terlihat menangisi dirinya. Sedangkan dirinya? Mungkin ini hukuman pantas untuk dirinya yang lebih mementingkan ego.
Taya yang geram pun membalas perlakuan Mochi, dengan mengambil sisa-sisa pecahan botol itu melukai Mochi.
"Lo rasakan pembalasan gue *****!" geram Tasya mendekati Mochi dan menudingkan pecahan kaca botol di pundak Mochi.
"Awhs ...!" Mochi meraba pundaknya yang terkena tusukan kaca dan mencabutnya.
Nicho yang mulai sadar, memerintahkan membawa Mochi dan meninggalkan Gavin.
"Kak Gavin! Lepasin Mochi! Kak Gavin!" jerit Mochi dengan tangis yang menyayat hati Gavin.
Gavn berusaha bangkit, namun kepalanya pusing luar biasa menyebabkan pandangan matanya buram.
"Mochi ...."
__ADS_1
TBC
Hai, jangan lupa vote dan koment ya. Cerita ini lagi proses revisi. Karena alurnya kagak jelas ๐ ๐