Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #20


__ADS_3

Senyum yang tersungging di bibir Mochi tidak dapat di sembunyikan lagi di saat Gavin menggenggam sebelah tangan nya.


"Mulai gila ya ? senyum-senyum sendiri," celetuk Gavin memandang sesaat sebelum mengalihkan pandangan kedepan.


"Nggak. Kalau nyetir ya nyetir aja, nggak usah mata nya lirik-lirik !" Mochi melepas pegangan tangan Gavin.


Gavin hanya tersenyum tipis.


"Jadi, sekarang kita ?"


"Hah ? kita apa ?" ulang Mochi.


"Nggak ada. Masalah Gio gimana ?" tanya Gavin yang fokus memandang jalanan di depan nya.


Mochi diam. Mochi bingung ingin berkata apa pada Gavin. Gavin mengelus pucuk kepala Mochi.


"Jangan banyak pikiran, nanti cepat tua."


Mochi mendelik sinis dengan mencebik. Gavin hanya terkekeh pelan.


Mobil yang di kendarai Gavin memasuki pekarangan rumah Mochi. Mobil Range Rover milik Gio masih terparkir di samping rumah Mochi. Di teras rumah, Rita duduk menunggu kedatangan Mochi.


"Assalammualaikum, Bunda," ucap Mochi menyalami tangan Rita.


"Waalaikumsalam. Mochi kamu kemana aja ? Gio dari tadi nunggu kamu," jawab Rita melirik Gavin yang berdiri di belakang Mochi.


"Assalammualaikum Bunda," ucap Gavin menyalami tangan Rita.


"Waalaikumsalam. Sudah kan bicara nya ? Bunda minta kamu pulang."


"Gavin minta maaf Bunda, sampaikan permintaan Gavin dengan Ayah juga."


Gavin memandang Mochi sebentar dengan Mochi yang menggelengkan kepala nya.


"Sebaik nya, lo nggak usah dekati Mochi lagi. Karena Mochi, udah jadi milik gue."

__ADS_1


Bariton suara terdengar seiring langkah kaki mendekat membuat Mochi menegang karena lelaki itu merangkul Mochi. Rita memberi ruang pada Gio di dekat Mochi.


"Gio. Maksud nya apa ?" tanya Mochi penasaran.


"Bunda udah menerima lamaran Nak Gio, dalam waktu dekat kalian akan menikah."


Mochi terperangah mendengar perkataan Rita.


"Bunda ! kenapa nggak tanya Mochi dulu ? kenapa Bunda mengambil keputusan secara sepihak ?"


"Mochi, jaga nada bicara lo. Nggak baik di depan Bunda lo bicara kayak gitu," peringat Gavin.


"Ck, sejak kapan seorang Gavin bisa bersikap santun ?" Gio mengejek Gavin dengan sikap nya yang tiba-tiba berubah.


"Gio, gue tahu banyak salah sama Mochi dan keluarga nya. Tapi, lo nggak berhak ikut campur."


"Jelas gue berhak. Gue yang selama ini membantu Mochi dari keterpurukan nya,"sanggah Gio.


"Stop ! Bunda nggak mau ada keributan di rumah Bunda. Gio, Gavin lebih baik kalian pulang."


Mochi memandang Gavin dengan mata berkaca-kaca.


Gavin pergi meninggalkan Mochi. Sebelum itu, Gavin melempar senyum terbaik nya untuk Mochi. Mochi pun turut tersenyum seakan semua baik-baik saja.


"Bunda, Gio izin pamit ya, assalammualaikum."


"Waalaikumsalam Nak Gio hati-hati."


Setelah kepergian Gio, Rita membawa Mochi masuk ke rumah dan mendudukkan Mochi di sofa.


"Bunda, Ayah dengar tadi ada suara keributan di luar ada apa ?" tanya Haris yang keluar dari kamar.


"Nggak ada apa-apa Yah. Cuma orang minta sumbangan, nggak Bunda kasih banyak eh, malah marah-marah mereka," dalih Rita.


"Oh, Ayah kira ada apa."

__ADS_1


"Ayah kok keluar ? memang Ayah udah merasa baikan ?"


"Ayah bosan di kamar terus. Padahal, Ayah kan nggak sakit parah," celetuk Haris.


Rita dan Mochi saling pandang. Ya, sejak beberapa tahun silam, Haris jatuh sakit. Kelelahan bekerja yang tiada henti mengakibatkan Haris terkena penyakit gagal jantung. Seluruh tubuh Haris mengalami pembengkakan, di mulai dari perut, hingga kedua kaki yang menyulitkan Haris berjalan.


Ditambah lagi, sesak napas yang Haris miliki. Mochi harus berkerja lebih keras untuk mencari biaya untuk pengobatan Haris. Setelah kejadian yang menimpa Mochi waktu itu, sempat Haris mengalami stress, yang mengakibatkan Haris sakit-sakit an memikirkan Mochi. Tidak ada pilihan lain, Mochi lah yang menggantikan pekerjaan paruh waktu Haris di kantor sebagai office girl yang ternyata adalah perusahaan milik keluarga Gio. Pertemuan yang terjadi terus menerus mengakibatkan Gio jatuh hati pada Mochi. Awal nya, Gio hanya iseng mendatangi kantor sang Papa berujung Gio yang hampir setiap hari nya mengunjungi Mochi, bahkan tak segan menjadi teman suka duka Mochi.


"Mochi, Nak Gio sudah meminta izin pada Ayah, jika dia ingin melamar kamu."


"Mochi, Bunda harap kamu menerima nya. Karena, Gio selama ini sudah membantu keluarga kita," sambung Rita mengusap bahu Mochi.


Mochi masih diam dan menunduk memainkan jemari tangan nya dengan gelisah.


"Tapi, Mochi nggak bisa Ayah. Mochi ...."


"Gavin lagi ?"


Mochi menaikkan pandangan nya menatap Haris dengan setitik air mata yang lolos membasahi pipi nya.


"Mau sampai kapan ? ingat Mochi, Gavin hanya memberi kamu duka, sedangkan Gio memberi kamu bahagia."


"Mo-Mochi mencintai Gavin," cicit nya.


Rita menggenggam kedua tangan Mochi.


"Cinta bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu sayang. Gio sangat mencintai kamu. Mungkin, Tuhan tidak mengizinkan kamu dan Gavin untuk bersama," kata Rita menghapus air mata yang menetes di pipi Mochi.


"Ayah harap, kamu memutuskan yang terbaik. Sebagai orang tua, Ayah lebih memilih Gio, laki-laki yang tepat untuk menggantikan Ayah menjaga kamu."


"Mencintai serta menyayangi kamu dengan kasih sayang yang tulus," timpal Rita.


"Mochi ke kamar dulu, Ayah, Bunda."


Mochi bangkit dari duduk nya membuat Rita dan Haris menghela napas.

__ADS_1


Di kamar, Mochi menumpahkan isak tangis nya hingga kedua mata Mochi bengkak dan Mochi tertidur .Di tengah malam nan sunyi, Mochi terbangun dan melaksanakan salat tahajjud. Mochi berdoa, jika memang Gio yang terbaik untuk hidup nya tunjukkan jalan agar Mochi bisa menerima dengan ikhlas rencana Tuhan, dan jika memang bukan Gio yang terbaik, Mochi meminta di jauhkan. Setiap air mata yang menetes di mata Mochi, mengakhiri segala doa Mochi.


__ADS_2