
Seperti biasa nya setiap pagi, sekolah Pelita Bangsa selalu sepi ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 wib. Hanya penjaga sekolah, bernama Pak Yayan yang setiap pagi mengontrol kelas dan bertugas membuka pagar sekolah. Pagi ini, Mochi bangun lebih pagi dan datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Hanya ada satu alasan, apalagi kalau bukan rutinitas hari-hari nya yang menyelipkan sebuah surat di loker Gavin.
"Oh, jadi semua surat itu dari lo ?"
Bariton suara dengan nada dingin mengejutkan Mochi. Napas Mochi tercekat. Diri nya ketahuan, jika selama ini Mochi lah yang mengirimkan surat yang isi nya selalu menyemangati Gavin.
Mochi perlahan membalikkan tubuh nya dan menunduk.
"Ma-maaf."
Gavin bukan lah anak yang rajin datang pagi-pagi sekali kesekolah. Namun, Gavin hanya penasaran siapa yang mengirim surat yang isi nya hanya kata-kata semangat, bukan seperti isi surat lain yang mengungkapkan perasaan, atau sekedar memuja Gavin. Gavin melangkah mendekati Mochi. Mochi yang tersadar, melangkahkan kaki nya mundur.
"Kenapa ? bukan nya lo suka sama gue ?"
Jantung Mochi berdebar-debar. Diri nya sedekat ini dengan Gavin, terasa mimpi. Mochi berusaha menaikkan pandangan nya menatap langsung Gavin.
Deg mata indah Gavin berwarna coklat hazel, menghipnotis Mochi. Belum lagi, paras wajah tampan Gavin dengan rahang tegas dan kokoh yang membuat Gavin menjadi seorang lelaki sempurna di mata Mochi.
"Lo tuli ?"
Mochi terhenyak tatkala mendengar pertanyaan Gavin yang seakan mengejek diri nya.
"Nggak."
Gavin tersenyum miring. Benar, kata Geo dan Leo. Jika perempuan di depan nya ini jika di poles sedikit saja, kecantikan nya akan tampak natural.
"Lo bukan nya cewek yang suka di bully Tasya heh ?" tanya Gavin lagi.
Tanpa sadar, Gavin banyak berbicara pagi ini.
Mochi mengangguk."I-iya."
"Lo,—"
"Heh, kalian ! kenapa pacaran di sana ?"
Pak Yayan, memergoki Gavin dan Mochi berduaan di loker yang sepi.
"Ma-maaf," kata Mochi terbata-bata meninggalkan Gavin yang berdiri dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku celana nya.
"Eh, den Gavin. Maaf Den, Pak Yayan kira siapa," sambung Pak Yayan lagi setelah melihat sosok Gavin secara menyeluruh.
"Perempuan tadi siapa Pak ?"
"Maksud den Gavin neng Mochi ?"
Gavin mengangguk.
"Neng Mochi itu, salah satu anak murid beasiswa disini. Setiap pagi, memang anak itu selalu datang pagi-pagi sekali dan selalu menyelipkan sesuatu di salah satu loker kelas XII," ungkap Pak Yayan.
__ADS_1
Gavin lagi-lagi hanya mengangguk dan meninggalkan Pak Yayan tanpa membalas atau sekadar mengucapkan terima kasih.
****
Mochi hanya tersenyum-senyum sendiri di dalam kelas nya. Diandra yang baru saja datang mengerutkan dahi heran melihat Mochi seperti ini.
Diandra memegang dahi Mochi.
"Lo sakit Mo ?" tanya Diandra khawatir.
"Nggak. Kenapa ?"
"Seram gue lihat lo pagi-pagi udah senyum sendirian," celetuk Diandra.
"Ih, Diandra kamu ya. Aku itu, lagi senang soal nya tadi pagi aku langsung bertatap wajah sama Gavin !" pekik Mochi girang.
"Hah ? kok bisa ?" tanya Diandra bingung.
"Bisa lah, karena aku ketahuan kirim surat di loker Gavin," jawab Mochi keceplosan.
"Surat ? loker ? oh, gue tahu. Ini alasan lo selama ini datang setiap pagi diam-diam ?" tanya Diandra menyelidik.
Mochi menyengir."Ehehe, nggak tiap pagi juga Dian."
"Mochi ... Mochi. Lo kenapa sih suka sama Gavin ? udah tahu Gavin playboy, suka tebar pesona lagi," celoteh Diandra.
"Memang nya kenapa Dian ? Gavin baik kok, nggak kayak yang kamu bilang."
"Jangan melamun Dian, bel udah masuk tuh," peringat Mochi.
Dian duduk di meja nya yang bersebelahan dengan Mochi.
Guru Bahasa Indonesia bernama Bu Farah, terlihat memasuki kelas.
"Assalammualaikum, selamat pagi."
"WAALAIKUMSALAM, SELAMAT PAGI BU' !"
"Baiklah, hari ini kita akan belajar tentang bagaimana menulis resensi sebuah buku. Buka buku paket halaman 329. Baca dan pahami. Jika tidak tahu, silahkan bertanya," tutur Bu Farah.
Seluruh murid kelas XI IPA 3, mengikuti perintah Bu Farah.
Setelah beberapa jama proses belajar mengajar, Bu Farah memberi tugas kelompok untuk membuat sebuah resensi buku.
"Semua nya sudah, Ibu' jelaskan. Kali ini, tugas kalian membuat sebuah resensi buku, yang akan ibu bagi beberapa kelompok.
Kelompok satu, Riana Theresia, Delima, Anggun Cantika, Hanif Maulana, Ocha Melia Citra. Kelompok dua, Diandra Putri Gunawan, Mochira, Fero Wardana, Keyla Annastasia, Gio Triatmaja. Blablabla ...."
"Yes ! kita satu kelompok," ujar Diandra girang.
__ADS_1
"Ada yang mau kamu tanyakan Diandra ?" tanya Bu Farah memandang Diandra yang terlihat bersuara.
"Eh, ng-nggak Bu," jawab Dian.
"Kelompok sudah Ibu bagikan. Resensi buku bebas. Asal jelas amanat tersurat dan tersirat di dalam nya. Kumpulkan tugas kalian 3 hari lagi. Saya permisi," tukas Bu Farah berlalu pergi keluar kelas XI IPA 3.
Bel tanda ganti pelajaran berbunyi. Teman-teman di kelas mereka terlihat sibuk mencari kelompok masing-masing.
"Mau kerjakan di mana tugas nya Dian ?" tanya Keyla.
"Di rumah Dian aja gimana ? nggak mungkin kan, di rumah Mochi ?"
"Lo apaan sih Fer ! mau di rumah Dian atau Mochi, gue oke aja," sahut Gio menyikut perut Fero yang selalu asal berbicara.
"Karena Mochi yang paling bisa diandalkan, gue nurut apa kata Mochi aja," timpal Dian.
Mochi menoleh ke arah Dian. Dian hanya membalas dengan tersenyum.
"Di rumah Dian aja. Biar kita semua nyaman," usul Mochi.
"Nah, gitu dong. Sekalian gue mau pendekatan sama mama Dian ... kali aja gue di terima jadi calon mantu," sambung Fero dengan cengiran lebar nya.
"Calon mantu ? calon pembantu iya Fer," celetuk Gio.
"Iya. Kriteria Dian jauh dari type kayak lo Fer. Apalagi mulut lo sebelas dua belas sama si Tasya," timpal Keyla.
Mochi hanya tersenyum simpul. Memang, di kelas nya ada beberapa anak yang baik pada nya. Ada juga yang tidak baik. Namun, Mochi hanya bersikap tak acuh.
"Lo lawan dulu gue Fer, baru lo bisa jadi calon pacar gue," sahut Dian menantang Fero.
Fero hanya cengengesan mendengar perkataan Diandra. Fero tahu, jika Diandra sangat jago ilmu bela diri.
"Deal ya di rumah Dian ?" tanya Keyla.
"Deal. Yaudah, nanti sepulang sekolah kita langsung ke rumah Dian ya," sahut Mochi.
"Yah ... kok pulang sekolah ? kenapa nggak hari minggu aja ?"
Fero tidak setuju, jika pulang sekolah nanti mereka mengerjakan tugas. Karena, Fero ingin mengikuti adu balap dengan sekolah lain.
"Oh, iya besok kan minggu. Gimana Mo, Dian ?" tanya Gio.
"Boleh. Tapi, kalau tugas rumah udah selesai ya," sambung Mochi.
"Habis dzuhur, jam 2 siang. Kalian datang ke rumah," kata Dian.
"Oke, deal."
Mereka kembali ketempat duduk masing-masing, mengingat Guru Bimbingan Konseling masuk terburu-buru. Itu artinya, Pak Dirga 'Guru Matematika' mereka tidak masuk yang di gantikan Bu Liana.
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan saran 🤗