
Pesta pernikahan yang di gelar oleh Gio sudah selesai. Malam semakin mencekam, namun, Mochi tak kunjung bisa terlelap. Mochi masih memikirkan Gavin.
"Mochi."
"Ya, Gavin?"
Mochi tersadar dari lamunannya. Mochi berbalik melihat siapa yang memanggilnya.
"Gavin?" ulang Gio melangkah mendekati Mochi di balkon kamarnya.
"Ah, bukan, maksud aku Gio," cicit Mochi.
"Aku suami kamu, Mochi. Kamu ingat? Apa pantas seorang istri mengingat mantan pacarnya?"
Mochi menggeleng. Gio memegang bahu Mochi.
"Lihat aku, Mo. Apa kamu gak bisa membuka hati untuk aku sedikit saja?" Mochi mendongak menatap iris kecoklatan milik Gio.
"Maafkan aku, Gio," lirih Mochi.
Tangan Gio berpindah ke pipi Mochi. Gio mendekatkan wajahnya ke bibir Mochi. Mochi menegang.
"Akh!"
"Kamu kenapa, Mochi?" Gio sangat khawatir dengan janin di kandungan Mochi.
"Perut aku kram," dalih Mochi.
"Yaudah, kamu istirahat ya, aku tahu kamu pasti kelelahan. Kasian baby kita," balas Gio mengusap perut datar Mochi.
Mochi mengangguk. Gio menuntun Mochi ke kasur. Gio menyelimuti Mochi.
"Have a nice dream, Sayang." Gio mengecup dahi Mochi.
Mochi memejamkan matanya.
Aku tahu, kamu ingin menghindar dari aku kan? Kita lihat saja nanti, apa kamu masih bisa menghindar dari aku atau tidak, batin Gio menyeringai.
***
Semburat pagi dengan kicauan burung mulai terdengar. Mochi terbangun ketika merasakan tangan besar memeluknya posesif. Perlahan, Mochi melepaskan tangan itu, namun, yang ada semakin erat melingkari perutnya.
"Gi-Gio, perut aku sakit, kamu peluk erat," ucap Mochi.
Pelukan tangan Gio mengendur. Mochi bernapas lega. Mochi teringat, gadgetnya. Sejak hari pernikahan sampai detik ini, Mochi tidak melihat gadgetnya. Mochi perlahan duduk menyandar di dashboard ranjang. Mata Mochi menyusuri kamar Gio. Gadget Mochi berada di nakas samping Gio tertidur. Mochi menyibak selimut, menurunkan kaki menyentuh lantai ubin dan berjalan pelan sesekali melirik Gio. Mochi hampir mendapatkan gadgetnya ketika Gio lebih cepat menarik Mochi ke kasur.
"Akh! Gio!" jerit Mochi dengan napas tersengal-sengal.
Gio menindih Mochi tanpa menekan perutnya. Gio menatap Mochi.
"Kamu cantik," puji Gio memandang lekat Mochi.
"Gi-Gio, aku mau ambil gadget aku," cicit Mochi.
"Untuk apa, Sayang?" Tangan Gio menyusuri wajah Mochi.
__ADS_1
"Hum, a-aku mau kasih kabar ayah, sama bunda," dalih Mochi.
"Oh, ya? Kabar apa? Kabar, kalau kamu ingin bertemu Gavin?" tebak Gio.
Mochi menelan salivanya susah payah.
"Gak, Gio, bukan begitu."
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa membuka hati untuk aku Mochi? Apa dengan cara menghilangkan Gavin?"
Mochi semakin menelan salivanya dengan mata melotot.
"Jangan! Maksud aku ... aku gak mau suami aku jadi pembunuh," dalih Mochi.
Gio tersenyum miring. Gio mendekatkan wajah ke bibir Mochi, namun Mochi memalingkan wajahnya.
"Nasib Gavin dan keluarganya, berada di tangan kamu," bisik Gio.
Mochi kembali menatap Gio. Kesempatan itu tidak Gio sia-siakan, Gio menyambar bibir mungil Mochi kasar. Mochi meringis ketika Gio menggigit bibirnya. Ketukan pintu membuat Gio melepaskan bibir Mochi. Mochi meringis.
"Gio, kamu udah bangun? Ayo, bangun, ajak Mochi," kata Naura.
"Udah, Ma! Mama ganggu aja!" rutuk Gio kesal beranjak dari kasur menuju pintu.
Mochi menghembuskan napas lega.
"Kamu ya, kenapa baru bangun?"
"Mama kayak gak tahu aja deh, di mana-mana pengantin baru pasti lama bangunnya," cerocos Gio sebal.
Gio mengusap wajahnya frustasi.
"Ish, Mama udah deh, Gio mau mandi dulu, bye Ma," balas Gio menutup pintu kamar membuat Naura menggeleng.
"Mama, ya?" tanya Mochi.
"Iya, aku mandi dulu," kata Gio melangkah menuju kamar mandi. Mochi tersenyum ketika mendengar samar-samar percakapan mertua dengan suaminya tadi. Mochi dengan cekatan menyiapkan pakaian Gio sebagaimana kewajiban seorang istri.
***
"Mo, kamu kenapa sih, mau kita ke sini?" keluh Gio ketika duduk di taman kompleks rumahnya.
"Aku lagi ingin, ini juga kemauan anak kamu, Gio," rengek Mochi.
"Yaudah, aku tinggal bentar ya, mau ambil minum dulu, kamu hauskan?"
Mochi mengangguk. Gio beranjak dari duduknya mengusap pucuk kepala Mochi. Mochi duduk menyandar mengusap perutnya yang datar. Mochi hanya berbalut piyama stitch kesukaannya, karena Mochi tidak suka berdandan.
"Makasih, Gio," tutur Mochi ketika mengambil minum yang di sodorkan seseorang.
"Gavin."
Mochi terhenyak, ketika menyadari Gavin berada di sampingnya.
"Kamu kenapa di sini, Gavin?" Mochi menoleh kanan kiri melihat keberadaan Gio.
__ADS_1
Gavin duduk di samping Mochi.
"Aku rindu sama kamu."
Mata Mochi berkaca-kaca.
"Gavin, aku udah punya suami. Kamu jangan ganggu aku lagi," tutur Mochi dengan nada bergetar.
Gavin memandang Mochi.
"Aku tahu. Kenapa? Kamu udah mulai mencintai Gio?"
Mochi menunduk menyembunyikan air matanya. Gio memegang dagu Mochi agar menatapnya.
"Jangan nangis, apalagi menangisi aku yang gak berguna," ungkap Gavin menghapus air mata Mochi.
"Gavin ...."
"Kenapa kamu lakukan semua ini, Mochi? Apa karena aku gak mampu memberikan apa yang kamu butuhkan?"
Mochi menggeleng.
"Karena, aku mementingkan kebaikan daripada ego, Gavin."
"Kebaikan apa? Kebaikan yang sekarang kamu jadi istri Gio? Untuk apa Mo?" cecar Gavin.
"Untuk kebaikan hubungan kita!" sentak Mochi.
"Kebaikan hubungan apa? Dengan cara kamu menikah dengan Gio sekarang?" sarkas Gavin.
"Kamu salah paham, Gavin. Pernah kah kamu berpikir sekali aja jangan egois? Aku lakukan semua ini agar orang-orang yang aku sayangi aman dari jangkauan Gio dan keluarganya," terang Mochi.
Mochi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Gavin terdiam.
"Mo, maafkan aku, ini semua salah aku yang gak bisa berbuat apa-apa," lirih Gavin.
"Bukan salah siapa-siapa Gavin. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku minta, sekarang kita jalani hidup masing-masing. Aku gak mau Gio sampai salah paham, sama aku," putus Mochi.
"Tapi, Mo, itu artinya kamu melupakan hubungan kita?"
"Hubungan apa Gavin? Hubungan kita hanya sebatas perasaan yang gak bisa menyatu."
Mochi menghapus air matanya. Mochi bangkit dari duduknya beranjak pergi meninggalkan Gavin.
"Mochi, harusnya aku yang kecewa sama kamu. Bukan kamu yang kayak gini," protes Gavin menarik lengan Mochi.
"Lepas Gavin," desis Mochi melepaskan tangan Gavin.
"Aku gak akan melepaskan kamu, sebelum kamu jawab jujur, kalau kamu masih mencintai aku," kekeuh Gavin.
Gavin menarik Mochi lebih dekat, ketika Mochi berusaha melepas cengkeraman tangan Gavin yang erat. Mochi berada di pelukan Gavin.
"Lihat mata aku, kalau kamu memang ingin aku pergi dari hidup kamu," tantang Gavin.
Mochi mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Gi-Gio ...."