
"Sya, gue gak mau Mochi nikah sama Gio!" jerit Gavin frustasi.
"Menikah? Lo tahu darimana?" tanya Tasya yang duduk di sofa memperhatikan Gavin.
"Kemarin, gue ketemu Mochi sama Gio. Lo kan, tahu, gimana liciknya Gio?" Gavin mendesah kasar mengacak-acak rambutnya.
"Gavin, lebih baik lo duduk, eneg gue lihat lo jalan gak jelas gitu," perintah Tasya.
Gavin berada di apartment Tasya. Gavin sangat bingung memikirkan cara apalagi yang harus dia lakukan untuk mencegah pernikahan Mochi.
"Gue bingung, apa gue harus mencegah pernikahan mereka kayak sintron di di televisi? Gue culik Mochi, terus gue bawa pergi?"
Tasya tergelak mendengar ucapannya Gavin.
"Heh, lo pikir hidup kayak di sinetron? Gavin ... Gavin! Gak seperti kenyataan! Mana ada orang miskin karena kebaikannya langsung jadi kaya? Terus, nemu dompet atau barang berharga di jalan, karena jujur di kasih hadiah kerja di kantoran. Kalau nyata mah, gue mau Vin," celoteh Tasya.
"Gue harus apa, Sya?" Gavin memandang Tasya dengan tatapan sendu.
"Ck, bisa juga lo bucin. Gue kira, seorang Gavin gak bisa bucin," cibir Tasya.
"Diam lo!" ketus Gavin.
Tasya tergelak.
"Gavin, semua keputusan ada di tangan Mochi. Jika Mochi mengiyakan permintaan Gio, pasti pernikahan mereka akan terjadi."
"Gue gak tahu, keputusan apa yang Mochi ambil. Karena, taruhannya keluarga gue dan keluarga Mochi," kata Gavin.
"Gavin, masih ada waktu untuk bicara dengan Mochi. Lo pasti tahu, apa yang harus lo lakukan," balas Tasya memandang lekat Gavin.
Gavin terdiam. Gavin sudah tahu jawabannya.
"Thanks, Sya. Gue mau ke rumah Mochi," ucap Gavin beranjak dari duduknya keluar dari apartment Tasya.
"Good luck, Gav!"
***
"Ada apalagi Gio? Kenapa kamu datang lagi?" Mochi sangat tidak nyaman Gio mengunjunginya kali ini.
Gio membawa sebuah kotak di tangannya.
"Aku mau, kamu pakai ini besok di pernikahan kita." Gio menyodorkan kotak itu.
"Apa? Menikah?" ulang Mochi membuka kotak yang di berikan Gio.
Mochi mengeluarkan isi kotak itu. Sebuah kebaya berwarna putih tulang dengan banyak hiasan mutiara kecil, semakin menambah keanggunan kebaya itu.
"Kamu gak salah, Gio? Besok? Aku belum setuju Gio," bantah Mochi.
"Setuju atau tidak, besok kita akan menikah," putus Gio.
"Maaf, Nak, Gio, Ayah rasa yang namanya pernikahan itu, tidak bisa terburu-buru," sambung Haris datang bersama Rita menghampiri.
"Loh, bukannya Papa sudah memberi tahu masalah ini sama Ayah?"
Rita dan Mochi memandang Haris meminta penjelasan.
"Memang benar, tapi, Ayah tidak bisa mengikuti kemauan papa kamu. Ayah ingin, Mochi lah yang memutuskan," terang Haris.
"Nak, Gio, sebagai seorang Ibu, Bunda tidak ingin Mochi salah memilih pasangan," lanjut Rita.
__ADS_1
Gio tersenyum mengejek.
"Salah memilih pasangan? Gio bukan lelaki yang tepat untuk Mochi, begitu?" tuduh Gio.
"Bukan, Nak, Gio salah paham. Maksud Ayahโ"
Gio mengangkat tangannya ke atas memotong ucapan Haris.
"Gio tidak ingin basa-basi lagi. Besok, Supir akan menjemput Mochi. Gio rasa, semua ini setimpal dengan apa yang keluarga Gio lakukan untuk keluarga Ayah," tuturnya.
"Jadi, kamu pamrih Gio? Ayah tidak pernah meminta semua ini. Lebih baik, Ayah miskin daripada harus menuruti permintaan kamu!" hardik Haris.
Rita menenangkan emosi suaminya. Sementara Mochi meringis memegang perutnya.
"Akh!" jerit Mochi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rita khawatir mendekati Mochi.
"Perut Mochi sakit, Bunda," keluh Mochi memegang perutnya.
"Kamu harus istirahat, Mochi, aku antar ke kamar kamu," sambung Gio menggendong Mochi bridal style ke kamar.
Gio membaringkan Mochi di kasur.
"Aku minta, jaga anak aku baik-baik. Aku tidak ingin terjadi sesuatu apapun dengan anak aku. Jangan banyak pikiran, Mochi. Jika terjadi sesuatu sama anak aku, kamu akan tahu akibatnya," peringat Gio.
Mochi memandang sendu Gio.
"Gio, tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. Anak yang di kandung Mochi, anak kalian, bukan anak kamu saja," tegur Rita.
"Pokoknya, besok, Gio tidak mau tahu. Ayah, Bunda, harus menemani Mochi," putus Gio.
Haris menghela napas, begitu juga dengan Rita.
"Nak, Gavin?"
"Assalammualaikum, Bunda," ucap Gavin menyalami tangan Rita.
"Ada perlu apa lagi lo datang ke sini?" sarkas Gio.
Gavin mengabaikan ucapan Gio. Gavin menyalami tangan Haris.
"Ayah, Mochi ada? Boleh Gavin bertemu Mochi?" pinta Gavin.
Gio mengepalkan kedua tangannya. Gio mendekati Gavin.
Bugh! Gio menarik kaos Gavin melayangkan tinjuan di rahangnya.
Bugh! Gio lagi-lagi memukul Gavin. Gavin yang sudah muak, menangkis serangan ketiga Gio.
Gavin memelintir tangan Gio ke belakang, mengunci pergerakan Gio. Gavin menendang lutut belakang Gio, hingga Gio terduduk. Gavin melepaskan Gio. Gio yang tidak terima kembali menyerang Gavin membabi buta.
"HENTIKAN!"
Gavin dan Gio menoleh. Mereka melihat Mochi berurai air mata.
"Mochi," gumam Gavin mendekati Mochi.
"Kalianโ" Mochi meringis memegang kepalanya yang terasa sakit. Pandangan Mochi buram, badan Mochi terhuyung yang segera di tangkap Haris yang berada di dekat Mochi.
"Mochi, bangun, Sayang. Kamu kenapa?" Haris menepuk pelan pipi Mochi.
__ADS_1
"Mochi, bangun ...," pinta Rita membantu menyadarkan Mochi.
Gio lebih dulu sigap membantu Mochi.
"Biar Gio bawa ke kemar."
Gavin yang merasa khawatir mengikuti Mochi ke kamar. Gio membaringkan Mochi di kasur. Gio menelepon dokter keluarganya. Sementara, Gavin memegang tangan Mochi.
"Mochi, maafkan aku. Karena aku, kamu jadi kayak gini," lirih Gavin.
Gio menyentak tangan Gavin kasar.
"Sekarang, lo pergi!" usir Gio.
"Apa hak lo Gio? Ini rumah Mochi, bukan punya lo!" balas Gavin sengit.
"Gue calon suaminya Mochi!"
"Cih, baru calon," desis Gavin.
Gio kembali ingin melayangkan pukulan, namun, di cegah oleh Haris.
"Gavin, Gio, selesaikan masalah kalian di luar. Kasian Mochi. Kalian tidak lihat, bagaimana menderitanya Mochi akibat pertengkaran kalian?"
"Seharusnya, Ayah usir Gavin, karena dia yang menyebabkan semua masalah ini terjadi!" Gio menatap tajam Gavin.
"Gio, tidak baik bicara seperti itu. Ini bukan salah siapa-siapa," tegur Rita.
"Semua salah Gavin Bunda. Bunda ingat? Kejadian yang Mochi alami tiga tahun lalu, sampai Mochi trauma, dan sekarang tanpa rasa bersalah, Gavin kembali merebut Mochi dari Gio? Apa salah, Gio bersikap kayak gini Bunda?"
Gavin bungkam merangkai semua memori lama. Ingatan demi ingatan berputar di benaknya. Gavin sadar, jika kedatangannya kembali membawa malapetaka untuk Mochi. Tak seharusnya, dia kembali.
"Gio, semua sudah takdir, kamu tidak bisa menyalahkan siapa pun," sambung Rita mengingatkan.
"Bunda, coba jadi Mochi, apa pantas Bunda menerima kembali, orang yang sudah membuat Mochi pernah trauma atas kejadian itu? Apa Bunda masih bisa menerima?" sahut Gio.
"Tidak ada yang tidak bisa Gio, jika Mochi dan Gavin saling mencintai," lanjut Haris.
Gavin masih bungkam. Dering telepon menyadarkan lamunan Gavin.
Diandra calling ...
Gavin segera menggeser slide tombol menjawab.
"Halo, Dian"
"...."
"Apa? Kakak segera kesana"
Gavin mematikan telepon dan berpamitan pada Haris dan Rita.
"Ayah, Bunda, Gavin izin pulang ya, ada hal yang harus Gavin selesaikan."
"Hati-hati, Nak," peringat Haris.
Gavin mengangguk setelahnya mengucap salam. Gio tersenyum miring.
***Uwu, apa yang terjadi ya sama keluarga Gavin? ๐ค
Jangan lupa saran dan kritik ๐
__ADS_1
Maaf, ya ceritanya banyak konflik wkwk soalnya kalau di buat lurus aja, gak greget dong ๐
Happy Reading ๐***