Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #43


__ADS_3

Mochi menghela napas ketika Gio kembali bersikap dingin padanya. Pertengkaran yang terjadi sejak bulan lalu, berimbas hingga detik ini ketika usia kandungan Mochi berusia sembilan bulan.


Mochi mengusap perut besarnya.


"Mochi," panggil Gio.


"Iya?" Mochi menoleh menatap Gio yang kesulitan memasang dasi.


"Tolong pasangkan dasi aku," pinta Gio mengulurkan dasi pada Mochi.


Mochi berdiri memakaikan dasi ke leher Gio. Gio menatap Mochi lekat.


"Aku minta maaf, selama ini sikap aku dingin sama kamu," ungkap Gio.


"Nggak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk."


Gio mengusap perut besar Mochi yang mendapat tendangan. Mochi meringis.


"Stop, Gio, jangan usap lagi." Mochi menjauh dari Gio setelah selesai merapikan dasi Gio.


"Kenapa? Anak kita marah sama aku?" Gio mensejajarkan tinggi badannya dengan perut besar Mochi.


"Baby boy, cepat lahir ya. Papa udah nggak ada sabar nunggu kamu lahir." Gio mencium perut Mochi dari balik daster yang di pakainya.


"Kok, kamu bisa nebak anak kita cowok?"


"Nebak aja. Aku sangat bahagia kalau dia cowok," tutur Gio tersenyum lebar.


"Iya, mudah-mudahan aja."


"Aku berangkat dulu, ya," pamit Gio.


"Hati-hati," peringat Mochi.


Gio mengucap salam setelahnya mencium dahi Mochi dan mengusap perut Mochi.


Mochi tersenyum lebar. Senyum Mochi pufar ketika Naura mengejek.


"Hmhm, yang di sayang suami, beda auranya nih," goda Naura.


"Mamaaa ..."


Pipi Mochi merona malu. Naura tertawa.


"Kamu udah minum susu hamil, Sayang?" tanya Naura.


"Udah, kok, Ma. Tapi, perut Mochi sering sakit," keluhnya.


"Kenapa? Kamu kan dalam masa nunggu hari. Jangan sampai air ketuban kamu pecah," ujar Naura khawatir.


"Iya, Ma. Mochi tahu."


Naura membantu Mochi duduk di sofa.


"Kamu udah ada ngerasain sakit nggak?" Naura mengelus perut Mochi.


"Udah, Ma. Setiap Mochi buang air kecil, ada seperti cairan warna putih gitu Ma," terangnya.


"Berarti waktunya sudah dekat, mau Mama antar ke rumah sakit? Kita periksa Mo," ajak Naura.


"Boleh, Ma." Naura membantu Mochi berdiri. Mochi berjalan tertatih ketika merasa perutnya di cengkeram kuat.


"Kenapa, Sayang?" tanya Naura khawatir.


"Ma, perut Mochi sakit ...."


"Ayo, Mama bantu," tawar Naura memapah Mochi.

__ADS_1


Naura membawa Mochi ke rumah sakit Bakti Husada.


Di dalam perjalanan, Mochi menjerit menahan sakit. Naura sangat cemas mempercepat laju mobilnya. Sampai di rumah sakit, Naura berteriak memanggil suster.


Suster membawa brankar untuk membawa Mochi ke ruang pemeriksaan. Napas Mochi memburu ketika merasakan cengkeraman yang teramat sakit di perutnya.


"Argh! Mama ... sakit!" jerit Mochi.


"Istigfar, Sayang."


"Maaf, Bu tolong keluar dulu," kata Dokter Lisa yang menangani Mochi.


Naura segera memberi kabar Gio dan Elang, serta orang tua Mochi.


"Maaf, Bu, pasien baru pembukaan pertama. Setelah pembukaan selesai, kami akan memindahkan pasien ke ruang bersalin. Saya permisi," tutur Dokter Lisa.


"Terimakasih Dokter."


Naura masuk ke kamar pemeriksaan Mochi. Mochi terlihat takut.


"Sayang, kamu jangan takut ya, istigfar," peringat Naura memegang tangan Mochi.


"Mo-Mochi, ta-takut ...."


"Kamu harus kuat ya, demi anak kamu yang akan lahir," Naura mengusap perut besar Mochi.


Gio, Elang, dan orang tua Mochi datang.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Gio khawatir.


"Nggak. Ayah, Bunda," panggil Mochi melihat Haris dan Rita.


Mereka mendekati brankar Mochi.


"Bunda rindu Mochi ...." Rita mencium dahi Mochi.


"Kamu harus kuat ya, Sayang. Ayah akan selalu mendoakan kamu." Haris mengusap rambut Mochi.


Mochi meneteskan air matanya.


"Ayah, Bunda, kalau Mochi ada salah, Mochi minta maaf. Begitu juga dengan Papa, Mama," kata Mochi.


"Kami sudah memaafkan kamu Mochi. Semoga anak kamu lahir dengan sehat," sahut Elang.


"Aamiin ...."


Mochi kembali merasa perutnya di cengkeram. Dokter Lisa kembali datang menyuruh suster memindahkan Mochi ke ruang bersalin. Mereka semua khawatir ketika melihat Mochi kesakitan.


Gio keukeuh ingin menemani Mochi melahirkan. Gio sangat tidak sabar menanti buah hatinya lahir.


Dua jam kemudian, suara tangis bayi terdengar. Haris, Rita dan Naura mengucap syukur ketika proses persalinan Mochi berjalan lancar.


"Alhamdulillah, kita sudah jadi nenek, kakek, Ayah," Rita menangis haru.


"Iya, Bunda, alhamdulillah. Ayah tidak sabar melihat bagaimana keadaan Mochi dan bayinya," timpal Haris.


Dokter Lisa keluar dari ruang persalinan.


"Alhamdulillah, bayinya sehat tanpa ada yang kurang satu apapun."


"Bagaimana keadaan menantu saya, Dokter?" sahut Naura.


"Alhamdulillah, pasien baik-baik saja. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Sebelumnya, pasien harus memberi ASI pertama agar si bayi bisa terangsang kepekaannya," ungkap Dokter Lisa.


"Baiklah, Dokter, terima kasih," sambung Rita.


"Jenis kelamin cucu saya apa Dokter?" Elang ikut menyahut.

__ADS_1


"Perempuan, cantik seperti ibunya. Saya permisi."


Raut wajah Elang berubah masam.


"Papa tidak senang dengan kelahiran cucu kita?" tanya Naura memperhatikan raut wajah Elang.


"Ma, gimana Papa bisa senang? Kalau cucu Papa perempuan! Papa ingin cucu laki-laki, yang bisa menggantikan Papa kelak menjadi penerus perusahaan kita," terang Elang.


"Maaf, Pak Elang. Saya rasa, ini bukan waktu yang tepat. Saya pikir, anak perempuan dan laki-laki sama saja," Haris ikut berkomentar.


"Bapak bisa bicara seperti itu, karena Pak Haris tidak punya apa-apa. Saya hanya ingin cucu laki-laki!" tandas Elang.


"Sudah, Pa. Jangan bertengkar, ini rumah sakit. Kata pak Haris ada benarnya. Mau perempuan atau laki-laki sama saja. Yang paling penting, cucu kita sehat," lerai Naura memperingatkan suaminya.


"Pokoknya Papa tidak ingin cucu perempuan!" Elang pergi meninggalkan rumah sakit.


Naura menghembuskan napas.


"Maafkan atas sikap suami saya, Pak Haris, Bu Rita. Saya harap kalian memaklumi. Mungkin, papa Gio sedang ada masalah di kantor, jadi dia seperti ini," ujar Naura.


"Tidak apa, Bu Naura. Kami mengerti," balas Rita tersenyum kecut.


Rita berusaha menenangkan emosi suaminya.


Gio menggendong putrinya yang telah di balut dengan bedung. Setelah di azankan dan di beri ASI pertama, anak mereka tertidur.


"Mau di beri nama siapa?"


Mochi yang masih terlihat lemas hanya membalas pelan," terserah kamu aja."


"Azalea Giora Atmajaya."


"Nama yang cantik," lirih Mochi.


"Semoga dengan nama ini, Lea seperti bunga Azalea yang indah dan cantik ya, kebanggaan papa dan mama," kata Gio mencium pipi Lea.


Lea bergerak gelisah ketika Gio mencium pipi Azalea.


"Assalamnualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Gio.


"Cucu Oma," kata Naura tersenyum lebar memgambil Azalea dari tangan Gio.


"Siapa namanya, Sayang?" tanya Rita mengusap rambut Mochi.


"Azalea Giora Atmajaya."


"Nama yang indah, semoga Lea bisa jadi anak yang berbakti pada orang tua ya, Sayang," ucap Naura mencium Azalea.


"Ma, Papa mana?" Gio melihat arah pintu, namun Elang tak kunjung masuk.


"Papa ... ada urusan bisnis, Sayang," dalih Naura.


"Urusan bisnis apa Ma? Apa bisnis papa lebih penting dari cucu pertamanya?" Gio berdecak kesal.


Haris dan Rita saling pandang khawatir melihat Mochi yang memejamkan mata sebentar.


*Maaf, baru update!


Jika ada typo, atau masalah persalinan di atas salah komen ya, biar aku tahu salahnya di mana 🙈


Maklum, belum pernah melahirkan wkwk 🙈


Huhu maaf, ceritanya emang gaje 🙈


Jangan lupa tinggalkan jejak 😘*

__ADS_1


__ADS_2