Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #37


__ADS_3

Gavin mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Jemari tangannya menggenggam erat setir kemudi. Giginya gemeletuk menahan amarah. Sekelebat ingatan Gavin mengingat kenangannya bersama Mochi. Gavin hilang arah, hingga dia memutuskan untuk pergi ke apartment Tasya.


Beberapa menit kemudian, Gavin sampai di apartmen x yang di huni oleh kalangan jelas menengah. Kamar Tasya ada di lantai 17. Gavin memperlebar langkah kakinya menuju kamar Tasya.


"Gavin! Lo kalau masuk tekan bel dong, bikin orang kaget aja tahu!" omel Tasya melihat Gavin sekilas, melanjutkan memakan cemilannya sembari menonton televisi.


Gavin diam, duduk di seberang sofa Tasya. Dahi Tasya mengerut melihat wajah Gavin yang kusut.


"Lo kenapa Gavin?"


"Lo ada vodka gak? Gue minta Sya," kata Gavin tiba-tiba.


"Hah? Lo gila? Mana ada di apart gue vodka, lo kira club apa," celoteh Tasya.


"Ck, gue lagi ingin minum," keluh Gavin.


Tasya mengalihkan pandangan dari televisi menatap Gavin.


"Lo ada masalah? Gak biasanya lo kayak gini, kalau Mochi tahu—"


"Gak usah lo sebut nama pengkhianat itu!" sentak Gavin.


"Vin! Lo apa-apaan sih? Masalah lo apa lagi kali ini?" cecar Tasya.


"Sya, ini bukan sekadar masalah biasa. Gio udah menang sekarang," tutur Gavin sendu.


Tasya mengambil remot mematikan televisinya.


"Maksud lo menang apa?"


"Mochi sama Gio menikah."


"APA? Lo pasti bercanda. Gak mungkin Mochi mau nikah sama Gio," sanggah Tasya.


"Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, Sya. Gue gak habis pikir sama Mochi," ungkap Gavin memijit pelipisnya.


"Gavin, lo gak boleh ambil keputusan secara sepihak, belum tentu apa yang lo lihat itu yang terjadi sebenarnya," tutur Tasya.


Gavin memandang Tasya.


"Maksud lo?"


"Ck, lo bodoh atau apa sih, Gavin? Bisa aja kan, Gio mengancam Mochi makanya Mochi mau menikah sama Gio," cerocos Tasya.


Gavin terdiam mengingat ancaman Gio waktu itu.


"Gio sialan," desis Gavin dengan tangan mengepal erat.


"Lo jangan emosi, Vin. Lo harus bisa kendalikan emosi lo," kata Tasya mengingatkan.


"Gimana gue gak emosi Sya? Mochi lagi hamil, Gio memaksa Mochi untuk mengikuti apa yang Gio mau, termasuk mengancam orang tua Mochi!" sarkas Gavin.


"Kenapa lo lampiasin ke gue?" sentak Tasya merengut sebal.

__ADS_1


"Sorry, Sya."


"Gini nih, kalau badboy insaf. Di butakan sama perasaan, gak bisa berpikir jernih," cibir Tasya.


"Diam lo!" ketus Gavin, "lo punya rencana apa?"


"Lo tenang aja, gue bakal buat rumah tangga Gio berantakan," celetuk Tasya.


"Lo mau jadi pelakor di rumah tangga Gio sama Mochi?" tebak Gavin.


"Menurut lo? Tugas lo hanya mendekati Mochi. Gue yakin, rumah tangga mereka gak akan bertahan lama," tutur Tasya tersenyum miring.


"Tahu darimana lo?"


"Mana ada cinta yang harus memaksa memiliki. Bukannya itu obsesi? Dengan cara Gio memperlakukan Mochi, pasti Mochi gak akan bisa membalas perasaan Gio, atau malah sebaliknya."


Tasya tersenyum miring, melanjutkan acara menonton televisinya. Sementara Gavin, mengerutkan dahi mencerna kata ambigu Tasya. Gavin mengambil kunci mobilnya bergegas pergi meninggalkan apartment Tasya.


"Eh, Gavin, lo mau kemana? Dasar, Gavin bucin!" rutuk Tasya kesal melihat Gavin datang dan pergi seenaknya dari apartmentnya.


***


"Mochi, kenapa dari tadi kamu nangis terus? Aku malu dengan rekan bisnisku. Seakan-akan kamu menikah dengan aku karena terpaksa kata mereka!" sergah Gio mengajak Mochi ke kamar berdalih ganti baju.


"Memang seperti itu kan, kenyataannya?"


Gio memandang tajam Mochi yang duduk di kasur. Gio melangkah mendekati Mochi.


"Hah, jadi kamu menyesal menikah dengan aku? Baik, kalau begitu, selamat datang di kehidupan Gio, Mochira," bisik Gio menyeringai.


"Hanya karena anak ini, dan untuk kebaikan semua orang, aku menikah dengan kamu! Mana Gio yang lembut seperti dulu, yang aku kenal?"


"Jangan salahkan aku, Mochi. Ini semua berawal dari siapa? Aku berubah, juga karena kamu," ungkap Gio berdiri membelakangi Mochi.


"Salah aku? Kenapa kamu selalu suka menyalahkan orang lain, Gio!" sentak Mochi.


Gio berbalik memegang rahang Mochi.


"Mochira, jaga nada bicara kamu. Aku suami kamu! Jangan harap, kamu bisa lepas dari aku," ujar Gio melepas tangannya dari rahang Mochi dengan kasar.


Air mata Mochi menetes. Mochi tak menyangka, jika sifat Gio yang sebenarnya seperti ini.


Gio pergi meninggalkan Mochi keluar dari kamar. Mochi terisak lirih.


Ketukan pintu membuat Mochi menghapus air matanya. Perempuan paruh baya masuk ke kemar Gio.


"Kamu ada masalah dengan Gio, Sayang?"


Perempuan paruh baya itu melanglah mendekati Mochi, duduk di samping Mochi.


"Gak ada Ma, Mochi baik-baik aja," dalihnya tersenyum memandang Naura.


"Kamu bisa bohong di depan semua orang, Sayang, tapi, kamu gak bisa bohong di depan Mama. Sekarang, kamu sudah jadi putri Mama juga," kata Naura mengusap air mata yang menetes di pipi Mochi.

__ADS_1


"Maafkan Mochi Ma, bukan maksud Mochi—"


"Mama sangat mengerti. Gio sudah memaksa kamu untuk menikah kan?" potong Naura.


Mochi mengangguk lirih. Naura membawa Mochi ke pelukannya.


"Kamu harus sabar menghadapi Gio. Gio tidak seperti apa yang terlihat, Mochi. Kamu tahu kan? Sejak dulu, Gio menaruh perasaan sama kamu," ucap Naura.


"Ma, apa salah, Mochi memberontak sama Gio, jika Gio sudah berani mengancam orang tua Mochi?"


Naura mengurai pelukannya menatap Mochi lekat.


"Sayang, Mama mengerti, apa yang kamu rasakan. Sebagai seorang Ibu, Mama merasa gagal tidak bisa mendidik Gio. Karena, Papa Gio, selalu memprioritaskan kebahagiaan Gio, meski itu dengan cara yang salah," terang Naura.


"Tapi, kenapa Ma?"


"Karena ... kakak laki-laki Gio telah meninggal."


"Ma-maaf, Ma. Mochi gak tahu, Mama jadi sedih karena Mochi," pinta Mochi meminta maaf.


"Mama gak apa. Mama minta, kamu sabar ya menghadapi Gio. Karena hal itu juga, Gio menjadi punya sisi gelap. Gio bisa menjadi anak yang sangat baik, tak jarang sebaliknya," ungkap Naura.


Mochi termenung. Apakah dirinya bisa? Bahkan, Mochi sudah terlanjur membenci Gio. Hanya karena nyawa yang ada di rahimnya, Mochi bertahan. Mochi memandang perutnya yang masih datar.


"Mama tahu kan, bagaimana Mochi menganggap Gio selama ini?"


"Mama tahu, Sayang. Maafkan, Mama karena tidak bisa membantah perkataan papa Gio," lirih Naura.


Mochi menggenggam tangan Naura.


"Mama, jangan sedih. Mochi sangat berterima kasih sama Mama, karena Mama sudah baik selama ini sama Mochi, dan keluarga Mochi," ujarnya tersenyum.


"Sama-sama, Sayang," sahut Naura tersenyum.


"Mama, kenapa lama jemput Mochi? Tamu di luar nunggu Mochi," keluh Gio masuk begitu saja ke kamarnya.


"Ah, iya, tadi perut Mochi sedikit sakit, makanya lama," dalih Naura.


Gio melangkah mendekati Mochi.


"Benar, Sayang? Kenapa dengan anak kita? Kamu mau istirahat?"


Mochi mengangguk.


"Mama keluar ya," kata Naura pergi dari kamar Gio.


"Jangan banyak alasan Mochi, aku tahu kamu tidak apa-apa. Sekarang, rapikan riasan wajah kamu, dan ikut aku sekarang juga. Kalau tidak, aku tidak akan menepati janjiku," bisik Gio tersenyum miring.


Mochi menelan salivanya memandang Gio dengan tatapan sengit. Tangan Mochi mengepal erat.


*Gio sialan! rutuk Mochi dalam hati.


Jangan lupa saran dan kritik ya 😘

__ADS_1


Huaaa ceritanya makin gak jelas wkwk🙈*


__ADS_2