Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #23


__ADS_3

Awan yang menggumpal dengan langit berwarna abu gelap yang mulai menumpahkan rasa sesaknya tak membuyarkan lamunan seorang perempuan di balik kaca transparan di sebuah ruangan. Perempuan itu mengingat sekelebat pembicaraan nya dengan orang yang masih bersemayam dalam hatinya. Sepasang tangan melingkar mengejutkan perempuan itu.


"Kenapa melamun ?"


Bulu kuduk perempuan itu merinding, ketika lelaki yang memeluk nya itu berbisik di telinga nya. Perempuan itu melepas pelukan lelaki itu dan berbalik menatap sang lelaki.


"Ini kantor Gio. Kenapa kamu peluk aku ?"


"Aku rindu suasana di saat kita berdua."


"Maksud kamu ?"


"Mochira, aku rindu sama kamu."


"Aku nggak salah dengar kan ? bukan nya kamu udah melepaskan aku sama Gavin ?" tanya Mochi menatap lekat Gio meminta penjelasan.


Gio tersenyum simpul.


"Melepas ? oh, iya. Melepas kamu bertemu dengan Gavin."


Mochi menautkan alis semakin bingung mendengar kata ambigu Gio.


"Jadi kamu—"


"You are mine."


"Gio, kamu bercanda kan ?"


"No. I wan't you in my life."


Mochi menggeleng sembari melangkah mundur membentur kaca di belakang nya. Gio mendekati Mochi yang seperti nya takut melihat gurat wajah Gio.


"Kamu kenapa takut sama aku ? ayolah— aku Gio. Bukan hantu." Gio membelai halus pipi Mochi yang memejamkan mata menahan napas.


"Gio, a-aku mau keluar." Mochi berusaha menepis tangan Gio.


Gio dengan kasar menyentak tangan Mochi.


"Dengar Mochira, Gio Atmajaya nggak akan tinggal diam, jika orang yang dia cintai tidak bisa dia miliki."


Mochi mendongak menatap iris mata kecoklatan Gio yang menyiratkan amarah terpendam.


"Gio, tangan aku sakit," ringis Mochi berusaha melepas cekalan tangan Gio.


Gio semakin merapatkan tubuh nya dengan Mochi. Gio mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Mochi.


"Bibir ini—harus suci seperti semula. Tidak ada yang boleh menyentuh nya selain aku."


Gio memegang bibir Mochi. Air mata Mochi menggenang di pelupuk matanya.


"Please, Gio. Jangan lakukan itu."


Gio menatap nyalang Mochi.


"Jangan lakukan ? tapi kenapa Gavin bisa menyentuh bibir ini !" teriak Gavin.


Mochi memejamkan mata mendengar amarah yang terlontar dari mulut Gio. Sebelumnya, Mochi belum pernah melihat secara langsung kemarahan Gio.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam Mo ? ayo jawab !" bentak Gio lagi.


"A-aku, ma-maaf Gio. Aku—"


"Banyak alasan !" Gio melepas paksa tangan Mochi dengan kasar.


"Gio, itu nggak sengaja," dalih Mochi.


"Nggak sengaja ? oh, baru tahu kalau terpaksa menikmati !" sindir Gio.


Mochi meneguk ludah nya kasar. Mochi takut melihat Gio yang seperti ini.


"Gio—aku takut sama kamu yang kayak gini," cicit Mochi.


"Keluar !"


Mochi tersentak mendengar nada sarkas yang keluar dari mulut Gio.


"KELUAR !"


Mochi bergegas keluar dari ruangan Gio setelah Gio memberi jalan pada Mochi.


"Shit !" umpatan itu keluar dari mulut Gio setelah Mochi keluar dari ruangannya.


Gio mengusap wajah nya frustasi, dan bergegas keluar ruangan.


"Gio, kamu mau kemana ?"


Gio tak menghiraukan panggilan Mochi. Mochi merasa bersalah.


Pukul 18.00 wib


"Mo, lo nggak pulang ? mau hujan nih," seru Salwa—salah satu teman kantor Mochi yang menunggu di lobi.


"Bentar lagi Wa," jawab Mochi gelisah sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


"Lo mau nunggu Gio ?" tebak Salwa.


Mochi menoleh dan mengangguk cemas.


"Lebih baik, lo pulang Mo. Gio nggak akan datang lagi ke kantor," kata Salwa.


"Nggak Wa. Gue mau nunggu disini."


"Yaudah, gue duluan ya Mo. Pacar gue udah jemput. Lo hati-hati,"peringat Salwa.


"Iya Wa, lo hati-hati juga."


Gumpalan awan yang berubah menjadi hitam disertai hembusan angin menderu kencang membuat Mochi semakin gelisah. Mochi bersikukuh untuk tetap menunggu kedatangan Gio.


Tepat, setelah Mochi meninggalkan lobi, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi dan seisi nya. Semakin lama, semakin deras.


Suasana kantor sudah sangat sepi. Mochi sungguh takut, mengingat diri nya hanya sendirian.


"Duh, telepon Gavin aja deh," gumam Mochi mengambil ponsel nya.


Naas, ponsel Mochi low batrai. Mochi mendesah kasar. Mochi ingat, di ruangan Gio listrik selalu menyala. Mochi bergegas pergi ke ruangan Gio.

__ADS_1


"Mudah-mudahan cepat penuh. Hawa disini kok nggak enak banget ya," gumam Mochi memperhatikan suasana sekitar.


Beberapa menit menunggu, Mochi bergegas mengutak-atik ponsel nya. Batrai Mochi baru terisi 15 persen. Mochi mencoba mendial nomor Gavin.


Calling My Lovely Gavin ...


Maaf, nomor yang anda tuju tidak menjawab.


Mochi mengulang kembali. Namun, tetap sama. Mochi merasa gelisah. Mochi mengurungkan niat untuk menunggu Gio. Mochi bergegas keluar dari ruangan Gio.


Mochi menarik gagang pintu ruangan Gio.


"Gio."


Mochi membantu Gio berdiri. Mochi mengendus aroma alkohol yang menyerbak dari mulut Gio. Gio berjalan lunglai, dan tersenyum miring.


"Mochi—aku nggak mau kehilangan kamu."


Gio meracau tiada henti. Gio melihat Mochi dengan samar-samar.


"Gio, kenapa kamu mabuk begini ? aku kan udah bilang, jangan dibiasakan kalau ada masalah lari keminuman," omel Mochi memapah Gio ke kamar yang tersedia di ruangan Gio.


"Kamu cantik," puji Gio ketika menatap Mochi yang membuka sepatu Gio.


"Kamu istirahat ya, aku kasih tahu Tante Nindi kalau kamu disini," ucap Mochi mengambil ponsel nya di dalam tas.


"Jangan. Temani aku Mo," balas Gio mencekal tangan Mochi yang ingin beranjak.


"Iya, ini kan aku disini."


Gio berusaha mendudukkan diri nya dan memijit pelipis nya pusing. Gio menatap Mochi sendu.


"Aku sangat mencintai kamu Mochi."


Mochi menatap mata Gio yang memancarkan ketulusan serta keraguan.


"Gio, kamu istirahat ya," dalih Mochi membimbing Gio berbaring.


Gio menepis tangan Mochi dan memegang bahu Mochi.


"Nggak akan. Sebelum kamu jadi milik aku seutuhnya."


Mochi menautkan alisnya. Gio mendekap Mochi membuat Mochi meronta.


"Gio, sadar. Kamu dipengaruhi minuman alkohol."


Gio semakin mempererat pelukan nya dan membalikkan keadaan. Mochi ikut berbaring dibawah kungkungan Gio. Napas Mochi tersengal-sengal menatap Gio.


"Aku nggak main-main Mochira. Aku ingin kamu menjadi milik ku."


"Nggak Gio. Please ...."


"You are Mine."


Mochi ketakutan berusaha melawan Gio ketika Gio mulai mencumbu diri nya.


Sekuat tenaga, Mochi berteriak meminta tolong dan melawan Gio. Mochi menendang Gio menggunakan lutut nya ketika Gio mengunci pergerakan Mochi. Tidak habis akal, Mochi menggigit bibir Gio ketika Gio mencium bibirnya kasar. Gio semakin geram tatkala Mochi terus melawan. Gio mengunci gerakan tangan Mochi, serta melilit kaki Mochi dengan kaki Gio. Mochi tidak dapat bergerak lagi.

__ADS_1


"Gio please ... kalau kamu sampai melakukan itu. Aku akan membenci kamu ...," lirih Mochi dengan air mata yang mengalir.


"Aku mencintai kamu Mochi."


__ADS_2