
Gavin merasa jengah melihat seorang perempuan di hadapannya yang selalu mencob menggodanya. Gavin berada di apartment perempuan itu karena terpaksa.
"Kamu kenapa, Gavin?" tanya perempuan itu.
"Gak usah sok nanya lo! Kenapa lo mau nuruti permintaan Gio?"
"Ck, Gavin, Gavin. Tentu saja karena barter. Gio menjamin hidup keluarga gue, dan kebutuhan gue," celetuk perempuan itu santai.
"Demi uang, heh?" sindir Gavin.
"Of course, Gavin. Kamu gak usah sok munafik. Dulu aja, kamu suka aku sentuh."
"Dulu sama sekarang, beda!" sarkas Gavin.
"Ck, kenapa kamu juga mau ikuti permainan Gio? Karena gadis dekil itu?"
Perempuan itu duduk di dekat Gavin sembari merapikan kuku-kukunya. Gavin menyentak tangan perempuan itu kasar.
"Jaga ucapan lo! Dia punya nama, Mochi!"
"Ups, sorry Gavin. Lepasin tangan gue, sakit!" sentak perempuan itu.
Perempuan itu dengan usilnya menggoda Gavin, semakin membuat Gavin marah.
"TASYA!"
Tasya tergelak melihat wajah Gavin yang memerah menahan emosi.
"Ahaha! Santai, Gavin. Gitu aja, lo sewot," celetuk Tasya.
Gavin mengernyit mendengar Tasya mengubah panggilannya.
"Lo ...."
Tasya memandang Gavin.
"Lo bingung kenapa gue ubah panggilan? Itu hanya belajar, supaya di depan Gio, terlihat beneran," lanjut Tasya.
"Jadi, lo?"
"Ck, Gavin lambat! Sejak kapan lo loading lama gini? Iya kali, gue mau nuruti kemauan Gio."
"Gak, gue heran aja, kenapa lo mau nuruti kemauan Gio," balas Gavin.
"Sejak Gio membuat perusahaan bokap gue bangkrut, karena masalah Mochi beberapa tahun lalu."
Tasya melanjutkan merapikan kuku-kukunya lagi.
"Gio?"
"Iya, Mochi trauma karena hampir di perkosa sama Nicho, dan masalah lo yang di pukul teman-teman Nicho."
"Masalahnya, apa?"
"Ck, lo bodoh apa gimana, Gavin? Jelas ada. Lo tahu kan? Gio pernah punya perasaan sama Mochi sejak zaman sekolah. Lo pikir deh, kayak gimana kekuasaan keluarga, Gio?"
__ADS_1
Tasya memandang Gavin.
"Keluarga lo di buat bangkrut sama Gio?"
Tasya memijit pelipis mendengar ucapan Gavin yang lambat tanggap.
"Gavin ... kan, tadi udah gue bilang di awal ...."
"Terus, kenapa lo mau pura-pura kayak gini?"
"Sekarang, gue tanya sama lo. Kenapa lo mau pura-pura di depan Mochi?"
"Gue, gak mau Gio menyakiti Mochi. Kemungkinan besar, Mochi bisa saja mengandung anak Gio."
"Maksud lo?" Tasya mengernyit.
"Gio mabuk, Mochi jadi sasaran."
"What? Maksud lo, Gio memperkosa Mochi?"
Gavin mengangguk lirih.
"Astaga, gue kira lo yang lebih ********, nyatanya, Gio yang diam-diam menghanyutkan." Tasya berdecak.
"Sialan lo!" desis Gavin.
"Tapi, kenapa lo menjauhi Mochi? Lo kan, gak punya masalah sama Gio, hanya Mochi."
"Perusahaan gue di ambang batas. Bokap gue banyak kehilangan rekan bisnisnya. Belum lagi, sebentar lagi di pastikan perusahaan gue akan bangkrut kalau gue gak menuruti permintaan dia."
Gio mengajak Gavin bertemu di danau tempat favorit Mochi dan Gavin. Tentu saja, hal ini, membuat Gavin bingung. Darimana, Gio tahu.
"Lo bingung kenapa gue bisa tahu tempat favorit lo sama Mochi?" Gio menatap Gavin menyeringai.
"Apa maksud lo, Gio!"
Gio duduk di kap mobilnya dengan memasukkan tangan ke saku celana.
"Ck, lo pikir gue bodoh? Melepaskan Mochi setelah susah payah selama ini gue dekati dia! Karena kedatangan lo kembali, semua rencana gue jadi rusak!"
"Lo salahin gue? Lo takut kalah saing sama gue?" Gavin mengejek Gio.
"Terserah apa kata lo. Sejak awal, gue emang gak suka lo dekati Mochi. Tapi, gak masalah, Mochi udah jadi milik gue."
"*******! Lo menghancurkan hidup Mochi!"
Bugh! Gavin mendekati Gio mendaratkan satu pukulan rahang Gio. Gio mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan tersenyum mengejek.
"Lo iri? Terima aja Gavin. Mochi bakal jadi milik gue. Lo tahu kan, sepasang anak adam dan hawa jika menyatu, yang bakal terjadi apa?"
Gavin terdiam merenung memikirkan kata-kata Gio.
"Kemungkinan terburuk lo harus terima Gavin," lanjut Gio.
Gavin memandang Gio dengan mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Gue akan ambil Mochi dari lo!"
"Silakan. Gue tinggal tunggu kabar, kalau keluarga lo bakal menderita."
"Lo yang udah buat perusahaan bokap gue hampir bangkrut?"
"Gavin Angsaka ... tebakan lo tepat. Lo mau, keluarga lo menderita dengan hancurnya perusahaan bokap lo?"
"Gio *******!" Gavin kembali melayangkan pukulan, namun keadaan berbanding terbalik. Gio menangkis serangan tangan Gavin, dengan memutar tangan Gavin ke belakang.
"Dengar , Gavin. Gue minta, lo jauhi Mochi. Karena, sebentar lagi, Mochi akan menikah dengan gue. Dan, kalau sampai lo nekat merebut Mochi dari gue, gue akan sakiti Mochi!"
Gio melepas tangan Gavin.
"Lo pikir gue takut? Gue gak takut sama ancaman lo!" hardik Gavin emosi.
"Oh, ya? Gimana kalau lo dapat kabar tentang kehamilan Mochi. Lo tega memisahkan anak dengan ayahnya?" Gio menyeringai melihat tatapan Gavin mulai lemah.
"Di tempat ini, lo berani sentuh Mochi. Seharusnya, gue yang udah lama dekat sama Mochi bisa menyentuhnya. Sejak kedatangan lo, semua hancur. Tapi, takdir berpihak pada gue," ungkap Gio memandang Gavin yang semakin terdiam.
"Mau lo apa?"
"Gue mau, lo jauhi Mochi, perusahaan lo aman, dan ikuti permainan gue. Kalau gak, gue akan menyakiti Mochi bahkan, ayah dan bundanya, kalau lo nekat mendekati Mochi."
"*******! Lo udah rencanakan ini semua, hah?" Gavin memandang Gio tajam.
"Of, course. Gio Atmajaya selalu punya cara untuk menaklukkan lawan."
Gavin semakin terpuruk. Gavin tidak ingin mengambil resiko. Gavin hanya ingin Mochi aman, dan keluarganya aman. Untuk sementara, Gavin akan menyetujui permintaan Gio. Tapi, secepatnya, Gavin akan menyusun rencana
"Oke, apa yang harus gue lakukan?" tanya Gavin.
"Lo akan tahu nanti, lo pasti senang bertemu dengan orang masa lalu lo," celetuk Gio.
Gavin mengernyit. Gavin melangkah mendekati Gio memegang kerah kemejanya.
"Gue ingat kan, sekali lagi, Gio, sampai lo menyakiti Mochi, keluarganya, dan keluarga gue, gue pastikan lo habis di tangan gue!"
Gavin pergi meninggalkan Gio. Gio hanya tersenyum menyeringai.
"Oh, jadi karena itu, lo mau pura-pura jadi pacar gue?"
"Iya. Gue terpaksa, demi Mochi."
"Sejak kapan seorang Gavin yang player taubat, dan jatuh cinta sama kue Mochi?"
Tasya tertawa mengejek.
"Itu dulu, sekarang berbeda, Sya," elak Gavin.
"Dasar lo, Gavin. Gue akan bantu lo buat jebak Gio. Gue gak terima, dia selalu ngancam gue sama keluarga gue. Gue gak nyangka, Gio yang dulu baik, pendiam sekarang kayak gini," keluh Tasya.
"Makasih, Sya. Gue gak tenang," kata Gavin menyandarkan punggung ke sofa.
"Gue tebak, lo pikirin kata-kata Gio kan? Kalau Mochi hamil, apa lo tega memisahkan anak dengan ayahnya?" tebak Tasya.
__ADS_1
Gavin terdiam menatap langit-langit. Pikiran Gavin berkecamuk memikirkan rencana apa yang akan di lakukan untuk membebaskan Mochi dari kungkungan Gio.