Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 37


__ADS_3

"Dokter Laras nih buat Dokter" Seorang Residen lainnya menyodorkan sekotak macaron warna warni yang nampak menggugah selera kemeja Laras, tak lupa segelas kopi dari kafe ternama.


"Makanan dari mana?" Laras mencomot satu macaron dan melahapnya, dilihat dari kotaknya kue itu berasal dari dari toko kue milik salah satu artis ibu kota yang sangat terkenal.


"Dari Dokter Aby" Jawab residen tersebut.


Laras sempat memgerjapkan matanya.


Aby? Mengapa pria itu tiba tiba mengirim kue ke departemen obgyn? Laras sempat salah kaprah berfikir Aby sengaja mengirim kue khusus untuknya namun agar tidak ketahuan ia mengirim untuk semua pagawai bagian Obgyn.


Laras mulai berfikir mungkinkah Aby mulai kembali luluh melihat kelembutan sikapnya selama beberapa hari ini.


"Bukan hanya di Departemen kita, Dokter Aby bahkan mentraktir departemen lain dan semua keluarga pasien bedah umum" Lanjut Residen itu lagi. Ia tak tahan melihat Laras yang tersenyum memalukan, semenjak Rumor hubungan laras dan Aby menyeruak di Rumah sakit banyak yang kerap memandang sinis kepada Laras. Namun wanita yang sebentar lagi menyandang gelar Spog itu tak peduli.


"Oh..Ohya..." jawab Laras kikuk.


"Sepertinya ada hal baik yang terjadi dikehidupan rumah tangga dokter galak itu, Semua residen dan Dokter Koas di bedah umum bilang jika Dokter Aby bahagia pasti dia akan berubah menjadi malaikat dan begitupun sebaliknya"


"Itu artinya ia tidak bahagia di kehidupan rumah tangganya yang ini, karena masih sering galakin orang" Jawab Laras tak Acuh sambil menyeruput kopi mahalnya dengan sedotan.


"Ish..ish... Apa sebagai mantan Dokter Laras tidak merasa aneh berucap seperti itu? kesannya agak gimana gitu " Dokter muda pejuang spog itu tersenyum mencibir, ia merasa laras seakan hendak berkata jika Aby lebih bahagia dengannya dulu.


"Apa mantan huk...uhuk...." Laras tersedak kopinya sendiri, apa Rekan sejawatnya itu tahu dirinya adalah mantan istri Aby? Namun setelah sepersekian detik Laras kembali tersenyum itu artinya ia tak perlu sembunyi sembunyi lagi. Karena selama ini yang menginginkan semuanya tertutup adalah Aby ia tak ingin ada scandal memgenai dirinya dirumah sakit.


"Iya, Dokter Risya yang cerita semuanya, katanya Dokter Laras ini sudah punya anak satu dan ikut Dokter Aby, terus Dokter Aby nikah sama adik tirinya sendiri yang baru lulus SMA dan wajahnya super duper cantik"


"Dokter Risya yang cerita?"


"Iya Dokter jangan pura pura tidak tahu mengenai rumor hubungan anda dengan Dokter Aby, beberapa tenaga medis sering melihat Dokter Laras bolak balik ruangan Dokter Aby. Orang orang terus bergosip namun sekarang tidak lagi karena Dokter Risya sudah menjelaskan semuanya. "


"Oh...begitu ya, kalian sempat berfikir aku ada hubungan dengan Dokter Aby begitu?"


"Iya itu dulu, tapi sekarang tidak lagi kata Dokter Risya Dokter Aby sangat memcintai istrinya, lagi pula ia tidak mungkinkan kembali sama wanita yang mencampakkannnya Heheh, sekarang orang paham kenapa kalian masih kerap berhubungan karena ada anak diantara kalian"


"Jangan asal bicara ya!! Mencampakkan? Huh" Laras mendengus sambil melipat tangan didepan dada. Risya benar benar keterlaluan bagaimana mungkin diabercerita mengenai masalah rumah tangganya pada seisi rumah sakit.


"Oppss maaf Dokter Laras" Residen yang tadi berbincang dengan Laras segera menutup mulutnya.


.

__ADS_1


.


.


"Aman kan? Scandal scandal, scandal apaan! Harusnya dari awal kamu jujur agar tidak ada rumor yang tidak tidak" ujar Risya, ia merasa sudah menjadi pahlawan bagi Aby, karena dia tak ada lagi yang salah paham antara dirinya dan Larasati.


"Iya...iya..."


"Bagaimana kalau kamu traktir aku makan siang di Resto depan rumah sakit, Seafood disana enak loh"


"Ya udah, aku beresin ini dulu katanya diet takut koletrol naik" ledek Aby sambil membereskan meja kerjanya.


"Besok diet lagi" Risya nyengir kuda.


Karena mereka akan makan siang diluar Risya dan Aby tak memakai jas putih kebanggaannya, mereka menggunakan mobil Aby untuk pergi direstoran depan rumah sakit. Cuaca yang panas ditambah lagi halaman RS yang begitu luas membuat keduanya enggan untuk berjalan kaki lagi pula jalanan utama juga lumayan lebar.


Di Resto sambil menyantap makan siangnya Risya bertanya mengenai Nata.


"Oh iya By apa kamu sudah tahu mengenai Nata?"


"Nata siapa?"


Aby sedikit mengernyitkan dahinya guna mengingat sosok yang dimaksud oleh risya.


"Heh...Nata pecinta istri orang itu?" Aby tertawa miris mengingat Pasiennya yang satu itu " Ada apa dengannya?"


"Dia membatalkan jadwal operasi"


Seketika Aby menghentikan aktifitas makannya dan menatap Risya penuh tanda tanya.


"Dia juga menolak menemuiku saat menyambanginya ketempat kerja, sial kenapa security di tempat hiburan malam seperti macan ya" Keluh Risya mengingat bagaimana Nata menyuruh petugas keamanan membawanya keluar.


"Hufht" Aby menghela nafas panjang" Ya sudah terima saja keputusannya toh kita sudah berupaya membantunya" Lanjut Aby Santai, ia bukan type dokter seperti Risya yang gemar mencampuri kehidupan pribadi pasiennya.


"Oh iya kenapa kau mengatakan Nata pecinta istri orang"


Aby mengangkat bahu tak acuh " Ia sendiri yang bilang, ada seorang wanita yang merupakan istri orang dan menjadi motivasinya untuk hidup"


"Dasar bocah itu! Menurutmu apa istri orang itu memutuskan hubungan mereka sehingga Nata kembali kehilangan semangat hidup ?"

__ADS_1


"Entahlah"


"Sepertinya aku harus menemui istri orang itu agar kembali membujuk Nata"


"Kau gila!" Aby hanya bisa menggelengkan kepalanya.


.


.


.


"Mbak Laras silahkan diminum" Seperti biasa jika Laras datang berkunjung ke Apartemen Aby Senja selalu menyambutnya dengan hangat, Laras juga bersandiwara sedemikian rupa agar terlihat baik hati dihadapan Senja dan Aby.


Ini sudah kali ketiga Laras berkunjung dan Kaila juga sudah menunjukkan kemajuan ia tak lagi menolak Laras untuk bermain bersamanya.


Aby selalu berpesan agar Laras datang ketika ia sedang tidak ada dirumah yakni pada jam istirahat siang agar mereka tidak perlu bertemu dihadapan Senja.


Hari ini ada yang menarik atensi Laras yakni bekas kiss mark yang terdapat dileher senja. Biasanya Senja selalu menutupinya dengan make up agar tak dilihat Bi Asih namun hari ini ia lupa karena bukan jadwal Kerja Bi Asih. Maklum Semenjak merasakan Senja Aby tak pernah absen dalam seharipun meminta haknya.


Kini Laras Tahu sudah sejauh mana hubungan Aby dan istrinya, rasanya ia ingin mengamuk dan menghancurkan semua benda yang ada disekitarnya namun itu tidak mungkin ia lakukan. Laras hanya bisa menahannya hingga amarah seakan menggerogoti sebagian hatinya.


"Bukankah Aby jago diranjang?"


"Hah..." Senja yang ingin kembali membawa nampan kedapur tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Ternyata dia masih sama ya, Aby benar benar tidak kehilangan pesonanya dulu kami sering melakukannya hingga 3 kali dalam sehari"


Mendengar hal itu Senja hanya bisa mengepalkan kepalang tangannya kuat dan Laras menyadari emosi Senja yang tersulut.


"Ah maaf Senja aku gak ada maksud membuatmu cemburu hanya saja aku melihat tanda dilehermu itu" Laras cekikikan tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Maaf aku lupa menutupinya" Jawab Senja kesal sembari berlalu masuk.


Didalam dapur Senja berusaha mengatur deru nafasnya yang memburu, membayangkan sang suami pernah bercinta dengan wanita lain rasanya sungguh sakit tapi mau bagaimana lagi ini harus ia terima sebagai konsekuensi menikahi seorang duda beranak satu.


Ponsel di meja makan milik Senja lagi lagi bergetar dengan nomor yang sama, yah itu adalah Bobby beberapa waktu yang lalu ia mengaku mendapatkan kontak senja dari ponsel Nata. Bisa ditebak oleh Senja jika bobby pasti hendak membujuknya untuk membuka blokir Nata dan kembali seperti dulu.


Sebelum memutuskan hubungan dengan Nata, Senja terlebih dahulu pamit kepada pria itu, dan Nata memohon agar Mereka bisa berteman seperti dulu tanpa memikirkan perasaan namun Senja menolak baginya tak ada pertemanan yang mirno diantara laki laki dan seorang wanita terlebib lagi ia sudah menikah.

__ADS_1


Senja hanya menunggu hingga Ponselnya kembali terdiam, sementara diseberang sana Bobby dibuat khawatir dengan kondisi Nata yang mabuk mabukan di siang hari tanpa memikirkan kesehatannya.


__ADS_2