Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 45


__ADS_3

Aby mengusap pecuk kepala istrinya hingga pipi dengan lembut, ia menyesal telah melukai hati Senja begitu dalam hingga gadis itu berfikir untuk menyerah.


"Maafkan mas mu yang bodoh ini" Lirih Aby sembari mengecup pucuk kepala istrinya.


Aby lalu mengambil ponselnya diatas nakas dan memeriksa jadwal operasinya hingga tiga bulan kedepan itu belum terhitung dengan pasien darurat. Bulan ini saja jadwalnya sudah begitu padat, Aby berhenti menscrol layar ponselnya ketika membaca satu nama yang begitu ingin ia temui sekarang.


Tangan Aby bergetar, dengan rahang yang ikut mengeras, darahnya seakan mendidih hingga ke ubun ubun mengingat semua kata kata Nata yang pernah terucap dari bibirnya.


Kata orang puncak tertinggi dari mencintai adalah ikhlas, tapi itu adalah tindakan pengecut, ikhlas artinya tak melakukan apa apa. Bagiku puncak tertinggi mencintai adalah menunggu dan aku akan melakukannya.


Menunggu Suaminya lebih memilih selingkuhannya dari pada istri sahnya.


Suara Nata bagai kaset kusut yang terus berputar dikepala Aby. Ia mengepalkan tangannya kuat rasanya kali ini Aby ingin Tidak profesional yah hanya satu kali ini saja Aby hendak membatalkan jadwal operasi atas nama Pria brengsek itu. Ia tak sudih menyelamatkan nyawa pria yang terang terangan menaruh hati kepada istrinya bahkan berani mengutarakan langsung kepadanya.


Aby keluar kamar mandi dan mendapati istri tercintanya sudah tak ada di tempat tidur, gadis itu berdiri dibalkon dengan kedua tangan yang berpegangan pada pagar pembatas, menikmati suasana sore kota Jakarta yang masih dipenuhi polusi.


"Sudah bangun" Aby memeluk Senja dari belakang lalu menuntunnya untuk duduk disebuah ayunan.


Tangan Aby tak pernah melepaskan genggamannya pada jemari sang istri. Aby menggerakkan ayunan itu perlahan lalu menaruh kepalanya dibahu Senja dengan manja.


"Sebenarnya bukan kau yang takut kehilanganku, tapi aku yang beribu kali lipat sangat takut kehilanganmu" ujar Aby dengan tatapan hampanya.


Senja ingin menarik bahunya tapi Aby enggan untuk mengangkat kepalaya," Biarkan seperti ini dulu, aku sangat ingin bermanja manja padamu, bukan hanya Kaila"

__ADS_1


"Mas apaan sih" timpak Senja lembut.


"Nata, Bisa kau menceritakan bagaimana hubungan kalian bisa sedekat sekarang ini?" Aby mencoba untuk tidak menampakkan emosi dihadapan Senja, gadis itu sudah terlalu banyak memiliki trauma padanya, bahkan setiap Kali Aby mengingat ia pernah menampar istrinya rasanya ia ingin mamatahkan tangannya.


Alis Senja mengkerut, mengapa Aby bertanya hal itu? Tapi bukankah semua memang harus terbuka dalam rumah tangga. Pikir Senja.


"Kak Nata. Mas ingat waktu kita pertama kali tiba di Jakarta? Aku menunggu di dalam mobil, saat itu aku melihat Kak Nata, penampilannya dulu tidak serapi sekarang, Rambutnya gondrong dan sedikit urakan, celananya bahkan robek kiri kanan" Senja tersenyum kecil mengingat waktu itu, dan itu membuat Aby menggemertakkan giginya, saat ia sedikit mendongak Aby bisa melihat binar kagum dari sorot mata Senja.


"Saat itu ia terlihat kesakitan, karena kasihan aku bertanya dan ternyata ia kelaparan, jadi aku memberinya satu buah roti yang langsung ia habiskan saat itu juga" lagi lagi senja tersenyum dan membuat Aby semakin tak tahan.


"Pertemuan kedua diswalayan, dan pertemuan ketiga di depan rumah sakit waktu aku selesai mengantar makan siang untuk mas Aby" Entah mengapa begitu menyebut nama Aby wajah Senja berubah Sendu. Karena Hari itu adalah hari dimana ia menagis ditrotoar dan Nata melihatnya.


Senja menceritakan segalanya hingga membuat Aby merasa bersalah dengan kejadian hari itu.


"Jangan minta maaf mas" Cegah Senja, ia sudah melihat gelagat rasa bersalah diwajah Aby.


"Aku senang karena kak Nata bisa mengenalkanku pada anak anak panti, ia berkata jika ingin menangis maka aku harus mengingat ada banyak manusia yang lebih tidak beruntung dariku" Hanya sampai disitu, Senja tidak mungkin menceritakan jika Nata pernah menyukainya, dan ia pernah merasa nyaman berada disamping pria itu.


"Apa kau percaya ada hubungan pertemanan antara laki laki dewasa dan perempuan dewasa?"Tanya Aby dan dengan polosnya Senja mengangguk.


Aby tertawa sumbang, amarahnya kepada Nata semakin menjadi, yah hanya kepada pria itu tidak dengan istrinya. Aby yakin Senja terlalu polos untuk menyadari perasaan Nata. Namun nyatanya ia salah karena Senja tahu segalanya mengenai perasaan Nata.


Untung Aby masih mengingat jika Senja sudah memutuskan hubungan dengan Nata, Yah Nata sendiri yang mengatakan padanya.

__ADS_1


"Tapi kau memutuskan hubungan dengannya? Kenapa? Bukankah kalian berteman?" Tanya Aby namun raut wajah yang ditunjukkan Senja nyatanya tidak sesuai harapannya. Tangan istrinya didalam genggamannya seketika sedingin Es, Aby juga melihat pergerakan leher Senja yang beberapa kali menelan Saliva karena gugup.


Aby tahu ia salah menebak, Senja tahu semuanya, bahkan kemungkin terburuknya Senja menjalin hubungan spesial, Tidak!! Aby segera menepis prasangka itu. Senjanya tak mungkin melakukan hal serendah itu.


"Mas, aku boleh jujur?" Kali ini giliran Senja yang menoleh dan menatap wajah Aby yang sudah terlihat memerah.


Aby mengangguk pelan.


"Aku memblokir kontak kak Nata setelah sadar hubungan kita seharusnya tidak dilanjutkan, karena ia memupuk perasaan yang salah kepadaku" Senja tertunduk penuh penyesalan.


Kali ini Aby menghela nafas lega, istrinya tidak sepolos itu, dia gadis yang pandai menjaga marwahnya sebagai seorang wanita dan Istri.


"Kau tahu ia menyukaimu?" Aby mengusap surai hitam Senja yang selembut sutra.


Senja mengangguk Lemah.


"Karena itu kau menjauhinya?" dan lagi lagi Senja menganggukan kepala.


Aby membawa Senja kedalam dekapannya.


"Kenapa Hemm?"


"Karena aku sudah memiliki mas, namun aku tidak akan memaksa jika suatu saat mas....." Senja tak melanjutkan perkataannya karena Aby memotongnya.

__ADS_1


"Tetaplah dengan prasangkamu sayang, meskipun itu buruk, karena aku jamin semuanya tidak akan terjadi".


Senja tersenyum kecut, ia berharap bisa menua bersama Aby biarpun pada kenyataannya pria itu akan menua duluan karena usianya yang lebih tinggi. Namun kali ini Senja tak ingin terlena ia harus menguatkan hati sejak dini dengan kemingkinan buruk yang mungkin akan menghampirinya dimasa depan.


__ADS_2