Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 74


__ADS_3

"Wah......."Nata tak bisa mengatupkan Rahangnya menyaksikan betapa indah dan besarnya bandara Internasional Seota, ini adalah penerbangan pertama Nata dengan menggunakan pesawat. biasanya ia hanya menaiki helly milik sang kakek untuk pergi berlibur ke pulau yang masih diarea sulawesi.


Bocah kecil itu masih terkagum kagum sambil terus menggenggam Tangan saudarinya yang hanya diam menggendong boneka andalannya.


"Adik ...Adik Nata Suka?"Akhirnya Kaila angkat suara melihat betapa Bocah itu antusias dan tidak bisa berhenti bergerak.


"heem Suka, kakak dulu tinggal di Jakarta ini kan?"


"Iya iya kakak tinggal di Jakarta "


Dua bocah yang berjalan didepan kedua orang tuanya sambil berbincang khas anak kecil itu terlihat sangat lucu.


Meski usianya lebih muda namun Nata nampak sangat dewasa menuntun Kaila berjalan dengan terus menggenggam erat tangannya.


"Bibi bibi bibi" Ujar Kaila kegirangan saat mendapati Bi Asih dan Pak Ahmad yang sudah menunggu mereka di Bandara .


"Non Kaila" Bi Asih segera berlutut dihadapan gadis kecil yang terakhir kali ia lihat masih berusia 3 tahun. Wanita bertubuh gempal itu tidak menyangka Kaila masih memgingatnya padahal tak pernah bertemu selama 5 tahun.


"Dan ini pasti Den Nata iyakan" Terkadang Senja memang menceritakan mengenai putranya kepada Bi Asih melalui panggilan telepon.


"Iya! Nata Abyansyah putra" Jawab Nata tegas sambil mengangkat dagunya, namun setelahnya ia segera menyalami wanita itu dan mencium punggung tanganya takzim.


Senja memang selalu mengajarkan anak anaknya agar lebih sopan kepada orang tua.


"Non Senja" Kali ini Bi Asih memeluk Senja penuh haru.


"Bi Asih gimana kabarnya?"


"Baik Non, bibi liat Non makin cantik aja" puji Bi Asih.


"Makasih banyak bi pujiannya"


"Iya cantik. karena Mami adik cantiknya papa, iyakan pa?" Celetuk Nata.


"Haha iya" Aby tersenyum malu saat Nata menoleh dan meminta pembenaran darinya.


Mereka Semua lalu masuk kedalam mobil pajero milik Aby yang sengaja ia simpan diJakarta, sementara mobil yang satunya sudah ia jual.


Mobil itu masih terlihat baru walau usia pemakaiannya sudah 7 tahun karena Aby membelinya ketika baru saja bercerai dari Laras.


"Mobilnya gak pernah dipake jalan jalan pak? Masih baru gini" dulu sebelum meninggalkan Jakarta, Aby sudah berpesan agar Bi Asih dan keluarga tidak sungkan menggunakan mobil ini.


"Pakai kok Den, setiap pulang mudik mobilnya selalu kami bawa kekampung" jawab pak Ahmad yang tengah mengemudikan mobil.


Senja dan Aby duduk dibangku tengah bersama anak anaknya sementara Bi Asih disamping suaminya.


"Jangan cuman dipakai mudik pak, bawa cucu kalian jalan jalan pakai mobil ini" entah ini yang kesekian kalinya Aby menyuruh bawahannya menggunakan mobilnya, setiap bulan saat ia selesai mengirimkan gaji mereka Aby juga selalu mengatakan hal itu. Ia bahkan menyuruh Bi Asih untuk pindah saja ke Apartemennya namun Wanita itu dan keluarganya enggan karena meski rumahnya tidak bagus ia tetap lebih merasa nyaman tinggal disana dari pada di tempat mewah namun bukan miliknya


Mereka akhirnya tiba dingedung Apartemennya, para penjaga keamanan dan resepsionis menyambut mereka dengan hangat, 5 tahun merek kehilangan salah satu penghuni yang baik hati karena Aby dan Senja sering membagi makanan dan THR Untuk mereka.


"Rumah Papa di Jakarta bagus sekali tapi sayang gak ada pantainya" Nata terlihat kecewa karena ia sudah terbiasa berlarian di pantai tanpa alas kaki.


"Nanti kita kepantai yang ada diJakarta ya, sekarang adik Nata dan Kakak Kaila istirahat dulu " Senja menuntun kedua buah hatinya menuju kamar Kaila yang masih sama seperti dulu, Bi Asih benar benar berhasil menjaga Apartemen itu dalam kondisi persis seperti 5 tahun yang lalu.


Pak Ahmad tak ikut naik ia langsung kembali setelah mengantar keluarga kecil itu. Hanya Bi Asih yang menemani mereka dan tak lama berselang Risya muncul dengan beberapa camilan ditangannya.


"Wah...Dokter Risya Apa kabar?" Senja dan Wanita yang kini tengah hamil tua itu saling berpelukan.


"Baik sayang, Astaga Senja kenapa semakin dewasa kau terlihat semakin muda, tidak seperti suamimu" Risya sengaja menggoda Aby.


"Cih..."Aby berdecih sambil menjabat tangan sahabatnya itu, "Setidaknya aku masih sadar usia lihat dirimu" Kini Aby bersedekap sambil mengamati Risya.

__ADS_1


"Usiamu hampir 40 tahun tapi kau masih mengandung? Dokter kok tidak tahu resiko" Aby mencibir penuh canda.


"Yeh...syirik aja, makanya kamu juga buat donk iyakan Senja"


"Diusahakan setiap hari kok Dok"


Hahaha


Semua tertawa mendengar penuturan Senja.


Risya pulang setelah berkenalan dengan Nata kecil, ia sempat menitikkan Air mata sambil mengusap wajah Nata mengingat apa yang terjadi pada Pasiennya itu. Risya benar benar menyesal tak ada saat Nata menjalani proses donor organnya karena tengah mengambil cuty liburan saat itu.


.


.


.


"Mas jalanannya tidak banyak berubah ya" Sepanjang perjalanan ke Panti Hanya kenangan indah bersama Nata yang ada di fikiran Senja.


"ini" Aby yang tengah mengemudi menyidorkan kotak tissue pada istrinya karena melihat mata Senja yang berkaca kaca.


"Makasih mas"


"Mami...mami...mami..mau ketemu om Nata?" tanya Kaila yang Duduk di bangku belakang bersama Nata kecil yang selalu terlihat antusias.


"Iya sayang"


"Mami sayang sama om Nata?" Kali ini Nata kecil yang bertanya. Pertanyaan itu muncuk begitu Ia yang melihat ibunya menitikkan Air mata.


Sebelum menjawab pertanyaan putranya Senja terlebih dahulu melirik suaminya yang tersenyum hangat padanya.


"Mami sayang sama om Nata, dia satu satunya sahabat dan teman mami" Jawab Senja.


Beberapa Anak yang dikenal Senja kini sudah dewasa sedangkan ada beberapa anak kecil yang sama sekali asing dimata Senja, mungkin mereka adalah penghuni panti yang baru.


"Aaaa........" Seorang Bocah 10 tahun langsung menghambur dan memeluk Senja, setelah mengurai pelukannya ia melakukan gerakan isyarat yang artinya Kakak cantik apa kabar? Itu adalah kata yang selalu diajarkan Nata untuk menyapa Senja.


"Baik Dimas" Senja yang tak bisa menahan laju air matanya kembali memeluk Dimas, bagaimana tidak bocah itu ternyata masih memakai jaket denim kesukaan Nata. Dan kini ukurannya sudah mulai pas ditubuhnya.


"Kakak bawa oleh oleh, kamu bagi sama teman teman ya" Senja berusaha berbicara dengan pelan agar Dimas bisa mengerti gerakan bibirnya.


Bocah tuna rungu itu mengangguk pasti.


Sebenarnya selama 5 tahun ini Aby tak pernah absen mengirimkan Donasi untuk panti setiap bulannya.


.


.


"Nak Senja" Wanita tua dengan tongkat kayu ditangannya itu berjalan tertatih memghampiri Aby dan Senja yang masih berada di halaman panti.


"Duduk saja Bunda" Pinta Senja, ia kemudian menuntun Bunda Maryam untuk duduk disampingnya, disebuah kursi panjang yang dulu sering ia pakai bercengkrama bersama Nata.


Senja duduk diapit Aby dan Maryam.


"Pak Aby, terima kasih atas bantuannya selama ini, waktu terlalu lama membawa anda kembali kesini, saya sampai takut tidak sempat berterima kasih kepada Anda secara langsung" ucap Bunda Maryam tulus.


"Jangan bicara seperti itu Bunda, itu sudah kewajiban saya sebagai manusia tidak perlu berterima kasih, itu memang rejeki anak anak disini"Timpal Aby.


"Senja kau mau melihat anak itu?"

__ADS_1


"Iya Bunda"


Bunda Maryam lalu memerintahkan salah satu anak untuk memanggil bocah laki laki yang bernama Rahman.


Kini bocah seusia Dimas itu sudah berdiri dihadapan Senja.


Lagi lagi Senja menitikkan air mata, tangannya bergetar memegang kedua pundak Rahman yang nampak selalu tersenyum, ia senang akhirnya bisa melihat Senja yang dulu hanya bisa ia dengar Suaranya itu.


Senja menggigit bibir bawahnya yang bergetar, ia meraba wajah Rahman, "Boleh kak Senja mengecup kedua matamu" Pinta Senja dengan suara pilu.


Rahman mengangguk lalu mengatupkan matanya, Senja pun mengecupnya bergantian lalu mengusap kelopak mata Bocah itu.


Didalam sana ada Kornea mata Nata, yang selalu memandangnya dengan tatapan teduh penuh perasaan.


Aby tak tahan melihat kesedihan Senja ia meraih tubuh istrinya yang mendekapnya erat, "Bukankah sudah ku katakan Nata adalàh orang baik, jangan lagi menangisinya ia akan sedih disana" ucap Aby menepuk pundak Senja yang masih bergetar.


Setelah merasa lebih baik, Bunda Maryam mengajak Senja menuju ke makam Nata. Pemuda yang meninggal diusia 25 tahun itu dikuburkan di atas tanah panti tepatnya sekitar 150 meter dibelakang bangunan utama, disana juga ada makam suami Bunda Maryam, dan beberapa anak panti lainnya yang harus menghembuskan nafas terakhir diusia kecil.


Makam Nata terlihat sangat bersih hanya ada rumput rumput kecil dengan bunga indahnya yang tumbuh disana seakan berdoa untuk si pemilik makam.


Senja duduk dengan kedua lutut bertumpuh pada gundukan tanah yang memeluk Raga Nata.


"Hai Kak Nata, adik cantikmu datang, aku juga mengajak Mas Aby," sapa Nata sambil mengusap Nisan dimana terdapat tanggal kematian dan tanggal kelahiran yang merupakan hari dimana Nata ditemukan.


"Dipanti Ada Nata kecil, ia putraku mas Aby yang memberikan namamu untuknya, berharap ia bisa tumbuh menjadi pemuda baik hati sepertimu"


"Aku sekarang bahagia kak, aku..... "Senja tak bisa melanjutkan kata katanya karena ia kembali menangis, begitupun dengan Bunda Maryam yang tak kuasa melihag kesedihan Senja.


"Kami hidup bahagia sesuai dengan keinginanmu, aku berjanji akan membahagiakan wanita yang kau cintai ini" Aby merangkul pundak Senja, "Aku berharap kau bahagia disana, bersama para bidadari bidadari surga, semoga Tuhan memgampuni segala kesalahanmu semasa hidup dan memberikanmu tempat terbaik disisinya" Untaian Doa Aby menjadi diangguki dan diaminkan Senja dan Juga Bunda Maryam.


.


.


.


Setelah Kembali dari Panti Senja sudah kembali terlihat Ceria, ia bercanda ria didalam mobil bersama anak dan suaminya. Ia Berjanji pada Nata akan hidup sebagai seorang Istri dan Ibu yang paling bahagia dimuka bumi ini.


Perjalanan 3 hari di Jakarta ditutup Aby dengan membawa keluarga kecilnya disebuah pantai pasir putih yang terletak didaerah Jakarta Utara.


Aby dan Senja saling berpelukan mesra sembari duduk diatas hamparan pasir putih, menikmati Senja dan Tawa riang kedua anaknya yang tengah tertawa riang sambil berlari kesana kemari.


"Senja, Mas sangat mencintaimu" ucap Aby tulus Saat malam benar benar hampir menenggelamkan Semburat jingga diujung cakrawala.


"Aku Juga Mas, sangat sangat mencintai mas" Senja berujar sambil menutup matanya rapat untuk menunjukkan keseriusannya..


Cup...Aby mengecup Senja, ia tak peduli dengan keberadaan orang lain disana.


Senjapun tak menolak, ini pertama kalinya Senja tak merasa malu Aby melakukannya di depan umum. Karena merasa tak ada penolakan Aby kemudia semakin memperdalam ciumannya namun tiba tiba tautan itu terlepas dengan paksa saat Nata tiba tiba menarik kepala Aby dan membuat wajah ayahnya itu menatap matanya yang terlihat kesal.


"Ih papa gak malu cium cium mami, disinikan banyak orang" ketus Nata, sementara Kaila yang bersedekap didada juga melayangkan tatapan protes.


Senja dan Aby hanya bisa tertawa meratapi tingkahnya yang ternyata tidak direstui anak anak mereka.


Hah.....


Selesai!!!


...TAMAT ...


Mohon maaf jika karya ini banyak kekurangan, maklum hanya penulis remah remah rengginang, Author ucapkan banyak banyak terima kasih kepada para pembaca Setia karya Bahagia diujung Senja. semoga kalian sehat selalu dimanapun kalian berada .

__ADS_1


Sampai jumpa di Karya Selanjutnya 🥰🥰🥰


__ADS_2