
"Kamu belum memberitahukan Aby?" Risya terlihat kecewa.
"Belum Dok, mas Aby sangat sibuk mengurus kepulangan kami kembali di Indonesia, Mbak Laras dan Kaila juga masih dirawat intensif dirumah sakit"
"Astaga Senja, hal penting seperti ini tidak bisa dirahasiakan lama, apa Aby tidak menyadarinya?" Risya mengusap perut Senja dibalik daster rumahan yang ia kenakan.
"Mas Aby terlalu sibuk dan Lelah untuk menyadarinya Dok"
"Kalian sama sekali belum...." Risya membentuk kedua tangannya saling berciuman memberi isyarat.
Senja menggeleng dan menunduk, pagi ini Sebelum ke Rumah Sakit Aby meminta Risya agar mampir melihat kondisi istrinya, ia merasa bersalah karena 3 hari sejak kepulangannya dari Belanda Aby tak pernah pulang ke Apartemen dikarenakan mengurus Kaila, Laras dan beberapa pekerjaannya, Aby juga menggantikan jadwal operasi rekannya yang juga menggantikannya dulu.
"Aku kasihan dengan Mas Aby dok"
"Kau benar Senja, suamimu itu terlihat begitu tertekan".
Ditinggal Risya, Senja menyandarkan punggunggnya pada sandaran sofa yang empuk, mendongak menatap langit langit ruang tengah Apartemen suaminya yang begitu indah, lampu hias kristal diatas sana seakan ikut memberinya kekuatan seperti Risya tadi. Yah! Senja menguatkan diri, Aby membutuhkan istri yang kuat saat ini,jika ia mengeluh dengan semua perlakuan Aby pada mantannya sama saja Senja menjadi beban bagi Aby.
Tapi sampai kapan? Senja tertunduk lesu.
.
.
.
Aby mengusap dahi Senja yang lagi lagi tertidur disofa, Aby tahu Senja tengah menunggunya, mungkin gadis mungil yang menurutnya sangat imut itu melakukan hal ini selama 3 malam berturut turut.
Menatap wajah teduh sang istri adalah suatu hal yang paling indah dan bisa memberi semangat bagi Aby, jelas Sekali Senja begitu kelelahan sudah benar keputusan Aby melarang Senja ikut merawat Kaila dirumah sakit. Kaila kini dibawah pemgawasan seorang perawat departemen Anak selama 24 jam.
Dengan perlahan dan penuh kehati hatian Aby mengangkat tubuh kecil Senja dan memindahkannya di dalam kamar.
Setelah membersihkan tubuhnya Aby ikut berbaring dibawah selimut dan mendekap tubuh istrinya itu, merasakan sesuatu menekan raganya mata Senja mengerjap beberapa kali sehingga ia bisa melihat dengan jelas wajah pria yang sangat dicintainya itu.
"Mas...." panggil Senja dengan suara parau khas bangun tidur.
"Hemm" Aby semakin merapatkan tubuhnya kepunggung Senja dengan tangan didepan dada istrinya.
"Kenapa pulang? Bagaimana dengan Mbak Laras?"meski masih terdengar begitu lembut namun Aby bisa menagkap kekesalan dari pertanyaan Senja.
__ADS_1
"Kau baik baik saja kan?" Aby sebenarnya sudah mulai menjalankan misinya, ia sengaja mengundang mantan suami Laras untuk menjenguknya tadi dan entah apa yang mereka bicarakan tapi Aby berharap hal itu sedikit banyak bisa membangkitkan ingatan Laras. Aby terlalu malas berbicara banyak dan menjelaskan banyak hal pada Laras.
"Maaf ya Senja, aku tahu kau sangat terluka, tunggu sebentar lagi saat Kaila sudah bisa dirawat dirumah dan pekerjaan Rumah sakit teratasi semua, kita akan pindak ke tempat Ayah dan Bunda"
Kali ini Senja sudah tidak masalah dengan cibiran , terakhir kali kesana Senja sudah tidak mendengar bisik bisik aneh itu tepat saat Senja dan Aby berkunjung kerumah sakit bersalin Rini dan perusahaan Baruna. Para pekerja dan karyawan malah memperlakukan Senja layaknya seorang nyonya.
"Mbak Laras bukan prioritas lagi?" Senja tak mendengar Alasan Laras yang menahan pengunduran diri Aby.
"Sejak kapan Laras jadi prioritasku hemm, aku melakukannya hanya sebagai seorang dokter dan Ayah yang nyawa anaknya telah diselamatkan"
"Prioritasku sekarang hanya kamu dan Kaila"
"Nambah satu lagi mas" Kali ini Senja berbalik sehingga ia dan Aby saling bertatapan.
"Siapa?"Alis Aby saling menyatu.
"ini" Senja membawa Aby mengusap perutnya yang sudah agak menonjol walaupun sedikit.
"Senja kamu" tatapan Aby begitu berbinar. Jika tebakannya tidak salah istrinya sekarang tengah mengandung buah cinta mereka.
Ah...mengecup pucuk kepala Senja penuh penghayatan, matanya terpejam mengapa ia tak menyadarinya padahal perut Senja sudah begitu terasa perubahannya.
"Maafkan aku juga mas karena tidak kasih tahu diawal" timpal Senja.
"Berapa usianya? Kamu tahunya kapan?" tanya Aby penasaran ia tak peduli dengan permintaan maaf Senja.
"Sedikit lagi 16 minggu mas"jawab Senja.
Aby sedikit menurunkan posisi tubuhnya sehingga wajahnya sejajar dengan perut sang istri, ia menyingkap piyama Senja dan mengecupnya bertubi tubi.
Senja mulai bercerita awal mula ia mengetahui kehamilannya, sampai akhirnya ia harus menunda penerbangannya ke Belanda.
"Lalu bagaimana dengan?" Mata Aby memicing nakal.
"Aman mas" Senja tersenyum ia tentu tahu apa yang dimaksud suaminya.
"Syukurlah" Aby menghela nafas lega. Hampir 2 bulan tak menyentuh Senja dan kini waktunya ia menuntaskan hasrat terpendamnya.
Semalaman Aby dan Senja tak bisa tidur mereka asyik bercengkrama mengenai masa depan, anak kedua yang akan diberi nama siapa jika laki laki maupun perempuan dan anak anak yang akan disekolahkan dimana, mereka bahkan sudah merencanakan cita cita anak mereka.
__ADS_1
.
.
Setelah sarapan Aby memainkan ponselnya diatas meja makan sambil sesekali menyeruput kopi hitam buatan Senja yang selalu menjadi favoritnya.
Sementara Senja ikut nimbrung juga dengan memainkan ponselnya, setelah sebelumnya selesai mencuci piring karena hari ini bukanlah jadwal kerja Bi Asih.
"Mulai besok Bi Asih akan masuk setiap hari" ujar Aby, namun matanya masih fokus pada layar ponselnya.
"Tapi mas kasihan Bi Asih" protes Senja dengan nada sendu, ia tahu wanita paruh baya itu gemar bermain bersama cucunya, dan jika tiap hari masuk otomatis bi Asih tidak punya waktu lagi dengan cucunya.
Aby mengusap pipi Senja," Lebih kasihan lagi kamu sayang, aku gak mau lihat kamu kerja saat hamil begini"
"Ta-tapi mas"
"lagian Bi Asih pasti senang karena gajinya naik sampai 2 kali lipat" kali ini Aby mengusap kepala Senja lalu kembali disibukkan dengan ponselnya.
"Hemmm mas, kapan tepanya kita akan pindah?" tanya Senja tiba tiba, pria itu selalu mengatakan akan pindah dari Jakarta tapi tak pernah memberikan waktu tepatnya kapan.
"Sepertinya setelah aku selesai membantu profesor Anton"
"Bantuan Apa mas?"
"Sebelum pensiun dia ingin agar aku menjadi Asistenya pada operasi terakhirnya" Aby mulai menjelaskan jika sang guru akan melakukan operasi transplantasi secara gratis dan semua biaya ditanggung olehnya pribadi. Profesor Anton ingin melakukan tugas mulia sebelum akhirnya menutup karirnya sebagai seorang Dokter.
"Kapan itu mas?"
"Aku juga tidak bisa memastikan Senja"
Senja menghela nafas, namun sepersekian detik berikutnya ia kembali tersenyum dan memperlihatkan layar ponselnya pada Aby.
"Mas, aku ingin memajukan jadwal praktekku bolehkan? Karena saat kandunganku sudah semakin besar sepertinya aku harus mengajukan cuty kuliah"
"Heem boleh, kamu mau praktek disekolah ini?" Aby membaca denga serius artikel terkait lalu menatap Senja dengan tatapan tidak setuju. "Ini terlalu jauh Senja, aku tidak bisa memberi ijin. Jika dalam keadaan tidak hamil saja aku tidak bisa apa lagi sekarang, pokoknya tidak bisa, mas mu ini akan memastikan kau akan selalu berada dibawah kungkunganku" tegas Aby.
Senja tertawa kecil, sebenarnya ia sudah tahu jawaban Aby akan seperti itu ia hanya iseng memperlihatkan artikelnya.
"Iya iya mas, aku akan beritahu pihak kampus agar bisa ditempatkan di Sekolah dasar dekat dekat sini saja" ucap Senja menenangkan.
__ADS_1
Setelah sarapan dan berbincang sedikit Aby akhirnya pamit ke Rumah sakit namun begitu pintu lift yang membawanya ke lantai basement terbuka Aby terburu buru mengendarai mobilnya dengan kecepatan cepat.