Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 53


__ADS_3

Laras membasuh wajahnya dengan kasar didalam kamar mandi Departemennya, ia segera keluar dari ruangan Kaila saat Aby menguliti masa lalunya tanpa ampun.


Wanita itu mendengus sebal, Aby hanya mengingat kesalahannya tapi tak memikirkan perasaannya, padahal saat menikah dulu mereka sepakat menunda momongan namun Aby melanggarnya dikemudian hari. lalu saat hamil Aby berjanji Laras tetap akan melanjutkan pendidikannya saat anak mereka lahir tapi Aby lagi lagi tidak mengijinkannya karena kondisi Kaila yang lahir tak sempurna.


Laras tetap tak terima disalahkan bagaimanapun Aby juga ikut andil dalam kesalahan ini.


Setelah memastikan Aby kembali keruangannya, Laras kembali keruangan Kaila.


"Kau bisa pulang, biar aku yang menjaga Kaila" titah Laras pada Senja.


"Tapi mbak, aku dan mas Aby sudah sepakat menjaga Kaila disini" Senja mencoba berbicara santai tanpa rasa sungkan lagi. Aby melarangnya merendahkan dirinya didepan Laras.


lagi pula meninggalkan suaminya dengan mantan istrinya yang masih menyimpan rasa akan sangat berbahaya, Senja percaya pada suaminya namun ia tak percaya pada wanita dewasa dihadapannya.


Laras menghela nafas kesal," Senja.."Laras memegang besi ranjang Kaila yang masih tertidur, sementara Senja duduk disamping Pembaringan Kaila, "Aku bukan lagi wanita muda yang ingin berebut pria denganmu, kau tak percaya padaku bukan? Kau fikir aku akan menggoda suamimu setelah penghinaan yang kuterima darinya?" Laras berdecih. Namun pada kenyataannya ia tengah berbohong, Laras terlalu licik untuk menyerah mengejar Aby. Ia hanya sedang mencari celah sambil tetap mengamankan sumber dananya.


"Maaf Mbak, aku tetap tidak bisa"


"Dokter Laras" Seorang perawat masuk dan berbicara sebentar dengan Laras, ia mengatakan jika Aby menunggunya di ruangan untuk melakukan pemeriksaan bersama.


Sebelum keluar Laras sempat menoleh kearah Senja dan tertawa mengejek, ia bangga karena Aby malah mencarinya alih alih Senja. Namun Senja tak terprovokasi.


"Pemeriksaan apa?" Tanya Laras Penasaran saat ia dan perawat yang memanggilnya tadi berjalan bersisian di koridor rumah sakit.


"Sepertinya Kaila dipersiapkan untuk menjalani transplantasi, mungkin Dokter Aby ingin kalian menjalani pemeriksaan sebagai calon pendonor"


"Apa!!" Laras menghentikan langkahnya.


Donor? Reflek Laras memegang perut sebelah kirinya.


Ia memang menginginkan kesembuhan bagi Kaila tapi ia tak bisa membayangkan untuk merelakan satu ginjalnya didonorkan. Itu sama seperti bunuh diri.


Laras tak sadar jika ia sebenarnya sudah berdiri tepat didepan ruangan yang dimaksud Aby.


Tak ada penolakan dari Laras ia menjalani semua pemeriksaannya demi Aby, sambil berharap jika ginjalnya tak akan cocok untuk Kaila, lagi pula ia yakin Aby akan menemukan donor Lain bahkan jika harus kelapisan bumi terdalam sekalipun.


"Mas, ginjal kita berdua tidak akan cocok untuk Kaila, dia masih 3 tahun sementara kita berusia diatas 30 tahun , lagi pula bukankah dokternya menyarankan untuk cuci darah dulu." Laras berbicara lemah lembut kepada Aby yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan bersamanya.


"Jika dalam seminggu kondisi Kaila memburuk maka jalan satu satunya adalah transplantasi, aku akan membawa Kaila ke Belanda, ada seorang spesialis transpalantasi organ disana yang biasa menangani kasus seperti Kaila, ia bahkan pernah memindahkan ginjal seorang wanita paruh baya dalam raga seorang anak berusia 2 tahun" terang Aby.

__ADS_1


"Mas tapi"


"Jangan berfikir untuk kabur Laras, sebagai Dokter kita berdua paling tahu jika salah satu diantara kita pasti memiliki kecocokan organ dengan Kaila, dan aku harap itu orang itu adalah aku!"


"Mas aku sama sekali tak pernah berfikir untuk kabur, kau terlalu menilaiku picik mas!"


"Heh" Aby hanya tersenyum miring sembari meninggalkan Laras.


Jika saja wanita itu bukan ibu dari putrinya ia tidak akan sudi memintanya untuk menjalani pemeriksaan itu.


.


.


.


Tiga hari berlalu dan kondisi Kaila terus mengalami penurunan.


Baruna dan Rini juga sudah tiba di Jakarta untuk menjenguk cucu semata wayangnya, dan Laras masih berusaha menampilkan kepeduliannya pada Kaila didepan mantan Mertuanya.


"Ayah mau bicara!" Tukas Baruna saat laras baru saja meninggalkan ruang perawatan Kaila. Wajah pria 60 tahun itu nampak sangat tegas, ia memang gak pernah tersenyum meski Laras bersusah payah menarik simpatinya.


Aby membawa ayahnya keruang kerja pribadinya.


"Kalian masih berhubungan? Didepan Senja?"


"Ayah jangan salah paham, Bagaimanapun Laras ibu kandung Kaila, disaat seperti ini bukan hal yang aneh kalau Laras juga terus berada disekitar Kami." Aby membantah persangkaan ayahnya. Mau bagaimanapun Laras sekarang Hati Aby sudah benar terisi penuh oleh Senja sehingga tak ada ruang lagi untuk Laras maupun wanita lain.


Aby adalah pria tampan dewasa meski terkenal sedikit tempramen namun hal itu tak pernah menyurutkan pesonanya, beberapa perawat dan dokter muda bahkan kerap kali mencari perhatiannya namun ia sama sekali tak terpengaruh.


"Ayah tidak mau tahu, sekali kau menyakiti Senja maka jangan harap bisa melihatnya lagi! perlu kamu ingat aku mengatakannya sebagai Ayah Senja bukan sebagai Ayahmu" Ucap Baruna Tegas lalu meninggalkan Aby seorang diri di ruangannya.


Pria 33 tahun itu hanya bisa menghela nafas dan menyenderkan punggungnya disandaran kursi, ia mengerti Baruna sangat ingin melindungi Senja namun sayangnya apa yang ditakutkan Baruna tak akan pernah terjadi.


Dering telepon dimeja kerja Aby mengalihkan atensinya.


"Dok hasilnya sudah keluar" ucap seseorang diseberang sana.


Namun belum juga ia keluar Laras sudah menghadangnya didepan pintu sehingga ia kembali masuk keruangannya.

__ADS_1


"Hasilnya sudah keluar!" Ujar Aby datar.


"Aku tahu" Laras menyimpan sebuah amplop coklat berisi hasil pemeriksaan dirinya dan Aby 3 hari yang lalu.


Saa Aby hendak membukanya Laras tiba tuba berujar dengan suara sedikit bergetar.


"Ginjalmu tak cocok untuk Kaila, yang bisa jadi Donor Kaila hanya aku ibunya!"


Dan benar yang dikatakan Laras, 99 persen angka yang tertera disana adalah nama Laras dan putrinya, Pupus sudah harapan Aby untuk bisa memberikan salah satu organnya.


"Kau harus mau!" Kini Aby menatap Laras.


"Aku mau, tapi sebagai seorang dokter kita sama sama tahu bagaimana manusia yang menjalani hidupnya hanya dengan 1 ginjal, saat aku mendonorkannya Kaila tentu akan selamat dan hidup bahagia dengan dirimu dan Senja. Apa aku rela? ya ! Aku rela bagaimanapun ia adalah putriku, tapi apakah ini tidak terdengar egois bagimu? Bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya kau tahu pekerjaan kita membutuhkan stamina diatas rata rata kita bisa tidak tidur semalaman karena pekerjaan bukan hanya sehari dua hari tapi selamanya dokter seperti kita menjalani kehidupan seperti itu, apa kau fikir aku bisa menjalaninya dengan 1 ginjal? Bagaimana dengan kehidupan rumah tanggaku nanti, kemungkinannya sangat besar aku tidak akan bisa hamil lagi, Lantas bagaimana denganku!! Aku akan sendiri selama sisa hidupku, tak ada pria yang mau menikah dengan wanita mandul!" Terang Laras dengan Nafas yang memburu.


"Jangan bodoh Laras, teori mana yang kau baca jika wanita dengan satu ginjal tak bisa hamil"


"Cih...berapa persen mas kemungkinannya? Hemm? Aku paling tahu masalah ini mas!"


"Kalau begitu jual ginjalmu padaku aku akan membelinya" Tukas Aby.


"Apa setelah aku memiliki uang aku bisa membeli seseorang yang menemani hidupku kelak?"


"Lantas apa maumu?"


"Aku ingin kau juga berkorban mas, bukan hanya aku seorang"


"Uang! aku akan mengorbankan semuanya untuk Kaila, deposito, apartemen, mobil akan kuserahkan semua padamu"


"Uang, uang, hanya itu yang ada dikepalamu mas. Enteng sekali kau berujar seperti itu karena kau masih memiliki kekayaan Orang tuamu yang sangat banyak itu"


"Itu harta mereka bukan milikku"


"Lalu pengorbanan apa yang kau inginkan?"


"Nikahi aku Mas"


.


Senja yang sedari tadi mencuri dengar dibalik pintu yang tidak tertutup rapat itu seketika meluruhkan tubuhnya ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2