
Bobby menyingkirkan beberapa botol kosong yang berserakan dilantai agar tidak menghalangi jalannya sambil sesekali ikut memungut puntung rokok yang juga berhamburan.
Suasana kamar kos Nata begitu mencekam. setiap pagi hingga sore sipemiliknya hanya akan mabuk mabukan lalu tidur. Untungnya kesadaran Nata kembali dimalam hari sehingga ia tak perlu Absen untuk masuk kerja bagaimanapun satu satunya tumpuan hidup Nata saat ini hanya gajinya sebagai bartender.
"Mau gua bawaain lagi? berapa botol hemmm?"tanya Bobby dengan nada bicara yang terdengar geram, ia sudah lelah mengingatkan sahabatnya itu mengenai penyakit yang kini menggerogoti lambungnya.
"Gak sekalian aja lo tentuin hari kematian lo, minum nih 10 botol dalam sejam biar mampus sekalian" Bobby menendang botol setengah isi disamping Nata hingga tumpah. Pria yang setahun lebih muda dari Nata itu lalu meremas rambutnya kuat "Bodoh! Bodoh !" Rutuk Bobby seraya mensejajarkan posisinya dengan nata yang terkulai sambil bersandar pada badan tempat tidurnya.
"Sadar! Sadar Bro! Kemana Nata yang bisa menaklukkan gadis cantik di club hanya dengan satu kali kedipan mata? Senja tidak ada apa apanya dibandingkan gadis gadis itu bro. Ingat Senja sudah punya suami sedangkan mereka lajang"
"Senja berbeda!" Tukas Nata dengan tatapan sayunya khas orang mabuk, ia menunjuk Bobby lalu kembali menjatuhkan tangannya karena tak memiliki kekuatan untuk memarahi pria dihadapannya."Jangan samakan! " Nata lalu kembali mengangkat tangan guna menggerak gerakkan telunjunya di hadapan wajah bobby " Senja itu spesial" Lanjutnya lagi.
"Spesial Cuih" Bobby berlagak membuang ludah kesamping, dan dengan berani ia mengangkat dagu Nata yang tengah menunduk. "Kenapa? Karena Kau fikir dia masih virgin? Virgin kepalamu" Bobby menghempaskan kepa Nata hingga pria itu tersungkur dilantai.
saat sadar tentu Bobby tak akan berani melakukan hal itu pada Nata. Kini Bobby berdiri sambil mendengus kesal.
Sementara Nata hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah tahu hubungan Senja dan suaminya membaik dan itu sebagai pertanda jika Senja sudah memberikan segalanya, meski begitu hal tersebut tak mengapa bagi Nata bahkan jika Senja memiliki anak dua , tiga ,atau empat sekalipun Nata masih mau menerimanya. Gila memang tapi itulah cinta.
.
.
.
'Temui ia sekali saja atau kau akan membuatnya mati konyol'
Senja kembali menghapus pesan yang baru saja dikirim Bobby, pelan namun Pasti Senja mulai terganggu dengan sahabat Nata itu tapi ia masih berfikir untuk memblocknya.
jika tidak terpaksa karena takut hatinya akan nyaman pada orang yang salah Senja juga tidak akan memblokir Nata, ia menganggap hal tersebut sangatlah tidak sopan.
"Pesan dari siapa?"Aby memeluk Senja dari belakang sambil memainkan tangannya diatas perut istrinya yang masih rata. Pemandangan Kota Jakarta pusat dari atas ketinggian menemani mereka saling berpagut mesra diatas Balkon.
Senja terengah engah saat Aby melepas ciumanný kemudian memeluk kembali tubuh sang istri dengan erat.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku, pesan dari siapa yang membuatmu tiba tiba keluar kebalkon hanya untuk membacanya"
"Bagaimana bisa jawab mas kalau mas langsung nyosor kayak tadi"
"Ya udah duduk sini yuk" Aby menarik tangan Senja untuk duduk disebuah ayunan sambil menikmati pemandangan malam kota Jakarta.
"Mas ingat teman yang aku jenguk kerumah sakit tempo hari katanya ia sedang sakit"
"Belum sembuh juga? Bilang sama dia untuk periksa kerumah sakit" Ujar Aby tenang.
"Iya Mas"
"Rekomendasikan Rumah sakit tempatku bekerja dan katakan padanya Suamimu ini salah satu dokter bedah terbaik disana, aku bisa menjamin ia mendapat pelayan terbaik"
"Iya Mas" Senja tesenyum malu mendengar Aby begitu percaya diri memuji dirinya sendiri.
"Mas dulu Kuliah di Jakarta juga?"Entah mengapa Senja begitu tertarik dengan masa lalu Suaminya.
"Pantas saja aku jarang melihat mas, pas ketemu dua tahun yang lalu dirumah Bunda aku takut sama mas karena terus menatapku dengan tatapan tidak suka" Senja ingat sekujur tubuhnya terasa bergetar saat pertama kali melihat Aby pulang kerumah Baruna, saat itu ia cuty dan pulang membawa Kaila yang masih bayi.
"Maaf ya, dulu tidak memperlakukanmu dengan baik, dulu Mas ketus banget ya?" Aby menarik tubuh Senja kedalam pelukannya lagi, sambil mengusap surai hitamnya.
Sesaat perbincangan mengenai terlupakan.
"Gak ketus cuman mas Dingin banget, padahal sejak melihat mas aku kagum banget sama mas. mas tampan, masih muda tapi sudah menjadi Dokter bedah yang hebat aku sering mendengar ayah dan bunda membanggakan Mas dihadapan teman temannya" Senja sedikit mendongak dan mengusap wajah pria berkacamata minus itu.
"Bagaimana tidak dingin kamu nunduk duluan saat melihat mas kayak lihat hantu padahal katanya mas tampan "
"Iya, aku tidak menyangka bisa dipeluk mas seperti ini"
"Sama, aku juga tak menyangka gadis yang gemar memakai daster kaos bergambar kartun itu akan berakhir di tempat tidurku dan sebentar lagi mengandung anakku" Aby mencubit hidung Senja gemas.
"Ih mas.....apaan sih" Disinggung mengenai kehamilan Senja menjadi malu.
__ADS_1
"loh kenapa?Kamu gak mau? Tidak ada penghalang kok kuliah kamu kan juga online, Setelah kita punya Anak, aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit kita kembali ke Sulawesi dan tingga sama ayah dan Bunda"
Bibir Senja tak bisa terkatup rapat mendengar keinginan Aby, belum hilang keterkejutannya karena Aby mengharap anak darinya kini Aby mengajaknya untuk kembali ke Kota kelahirannya.
Jika masalah Anak mungkin Senja akan memikirkannya namun kembali ke Kota dimana orang mengenalnya sebagai anak Pelakor rasanya begitu berat, Rini dan Baruna bukanlah masalah karena kedua orang itu baik padanya meski Rini kerap bersikap Dingin.
Senja sebenarnya sangat nyaman tinggal Di Jakarta.
"Kenapa mas mau kembali?" tanya Senja gugup.
"Bagaimanapun Ayah kelak akan membutuhkanku, aku juga ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku di Kota kelahiranku" Lagi lagi Aby mengusap surai hitam Senja.
Bayangan kehidupan keluaga yang sangag bahagia rasanya sudah terpampang nyata dihadapan Aby namun tidak bagi Senja, jika ia kembali orang orang akan semakin menghinanya apalagi ia seperti mendapat keuntungan dari keluarga Baruna setelah sang ibu menghancurkan kenahagiaan Rini dan Baruna.
Senja tersenyum miris sambil menunduk dalam "Aku akan ikut kemanapun Mas pergi" Ucapnya dengan nada getir.
.
.
"Lemah!!" Hardik seorang pria yang baru saja akan mendekati seorang wanita cantik yang duduk didepan meja bar sambil menikmati beberapa gelas minuman beralkohol namun baru saja ia menghabiskan gelas ke Empatnya wanita itu sudah ambruk, wajahnya terbenam diatas meja Bar.
Pria hidung belang tadi akhirnya meninggalkan wanita itu seorang diri.
"Sepertinya dia sendirian" Bobby yang baru saja datang memeriksa kondisi wanita tadi.
" sepertinya Ini kali pertamanya ke Club" Ucap Nata dari balik meja Bar, ia mengamati wajah wanita yang sudah pernah ditemuinya sekali itu.
"lo kenal wanita ini?"
"Hemmm, dia salah satu Dokter dirumah sakit yang biasa gue datangi" Yah Nata ingat betul wanita dihadapannya adalah wanita yang memeluk selingkuhanya yang juga seorang dokter dan memintanya agar tak menyentuh istrinya.
Nata tertawa hambar sambil bergumam "Dokter Abyansyah"
__ADS_1