
"Bunda tau Nata menyukaimu, dan kau tak bisa membalas perasaannya karena jika kau melakukannya maka kalian akan melakukan suatu dosa dan kesalahan yang fatal"
Kata kata Bunda Maryam terus beeputar dikepala Senja, gadis itu kembali menoleh manatap bangunan tua dibelakangnya lalu melihat Nata yang kini datang dengan motor sportnya.
Bunda Maryam mengingatkan agar Senja menjauhi Nata, karena diantara mereka berdua hanya Senja yang waras. Bunda Maryam tahu betul sifat Nata. Pria itu keras kepala jika menginginkan Sesuatu.
Meski kini Nata bersikap wajar kepada Senja namun sesungguhnya ia hanya berusaha menutup perasaannya yang semakin menjadi.
"Maaf Kak, aku pulang dengan taxi saja terima kasih atas tawarannya" Ujar Senja, Benar kata Bunda Maryam jika ia ingin melindungi rumah tangganya maka ia tak boleh memberi celah sedikitpun untuk orang lain memberinya kenyamanan.
"Kamu yakin? "
Senja mengangguk pelan.
"Ya sudah aku antar sampai depan saja, disini tidak ada taxi" tawar Nata Lagi.
"Aku sudah memesannya kak, sebentar lagi tiba" Senja memperlihatkan Layar ponselnya.
Nata tersenyum miring, namun berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia tak akan memaksa Senja lagi kali ini karena ia sudah memutuskan untuk menunggu gadis itu.
"Ya sudah, Aku duluan"
"Iya hati hati kak"
Tak lama kemudian Taxi yang dipesan Senja tiba, ia terlebih dahulu mampir disebuah Swalayan untuk memberi beberapa kebutuhan dapurnya. Kemudian ia mengarahkan Taxi untuk pergi kesebuah restauran didepan Rumah Sakit tempat Aby bekerja.
Entah mengapa sejak dibawakan oleh Aby Seafood dari sana Senja terus menginginkan makanan itu.Karena jalan pulang ke Apartemen melewati restauran Senja memutuskan untuk Kesana, Tentu ia tak ingin mampir di Rumah Sakit, Senja tak ingin menggangu pekerjaan Aby dengan kedatangannya, ia tahu sang suami punya jadwal yang sangat padat di Rumah sakit.
Restaurant tersebut nampak sangat ramai karena jam makan siang, Senja mendapatkan Meja yang berlindung dari sebuah pohon hias yang ditanam disebuah pot berukuran besar sehingga ia akan kesulitan melihat pengunjung yang duduk di meja sebelahnya, Lagian Senja juga tak berniat mengedarkan pandangan ia hanya memesan beberapa menu seafood di Menu dan meminta pelayan membungkusnya.
Saat masih menunggu samar samar Senja bisa mendengar percakapan disampingnya, dan ia merasa mengenal dengan semua suara disana.
"Kaila makan lagi ya aaaaa" Tawar Laras namun Kaila enggan untuk membuka mulutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu papa yang suapin Ya aaaa" Kali ini giliran Aby dan Gadis kecil itupun menurut.
"Nah kan mas, aku bilang juga apa Kaila pasti makan kalau sama kamu" Laras terdengar cekikikan namun Senja tak bisa melihat ekspresi wajah Aby karena membelakanginya.
Setelahnya Senja seakan tak bisa mendengar apapun lagi kedua rungunya seperti berdengung, tubuhnya tiba tiba sedingin es. Perlahan tangan Senja yang tadi menyingkap dedaunan tanaman hias di sampingnya terjatuh lemas, Pemandangan di sampingnya dan percakapan mereka terdengar seperti sebuah keluarga kecil yang begitu hangat.
Dengan berjalan Gontai Senja menuju kasir ia membayar semua pesanannya dan meninggalkan restauran itu tanpa menunggu makanan yang belum selesai disiapkan sang Pelayan.
Senja kembali masuk kedalam taxinya lalu menangis dalam diam sehingga membuat sang supir terkejut namun enggan untuk bertanya, tugasnya kini hanya mengantar gadis muda dibelakangnya ketempat tujuan.
"Selamat siang Dokter" Sapa Nata dengan tangan mengepal namun bibirnya tetap menyinggingkan sebuah senyuman kepura puraan.
Yah! Nata memang sejak tadi mengikuti Senja ia bahkan memesan meja paling pojok hanya untuk melihat kegiatan Senja dan memastikan gadis itu pulang dengan selamat.
Nata sangat khawatir dan ingin menanyakan kondisi Senja Senja saat melihat wajah gadis itu yang tiba tiba pucat namun urung ia lakukan karena tak ingin dianggap penguntit oleh Senja.
Akhirnya Nata memutuskan untuk lebih dekat dengan meja Senja setelah gadis itu meninggalkannya.
 karena Aby sempat melihat gerak gerik yanh tidak biasa dari Senja tadi. dan betapa terkejutnya Nata dengan keberadaan Aby dan Laras serta anak mereka.
Sementara Aby masih terlihat santai meski tetap menyorot Nata dengan tatapan yang tajam, ia benci jika ada seseorang yang memandangnya dengan tatapan menuduh persis seperti yang terpancar dari kedua netra Nata.
"Aku hanya ingin menyapa dokter"Nata masih tetap tersenyum.
"Dia pasienmu mas?" Tanya laras.
"Heem" Jawab Aby singkat.
"Ya sudah dok saya pamit, permisi" Nata berlalu disertai senyum devilnya.
"Om..om...om...." Ujar Kaila tiba tiba sambil menunjuk punggung Nata yang semakin menjauh.
"Om?" Aby menatap putrinya penuh tanya.
__ADS_1
Bagaimana bisa putrinya bisa memanggil Nata dengan sebutan om disaat Kaila sama sekali belum pernah memanggil siapapun seperti itu. Aby mengenal betuk karakter sang putri yang tidak mudah bergaul dengan orang asing namun mengapa Kaila menatap Nata yang sudah menjauh dengan tatapan berbinar dan terus menunjuk pria itu.
"Kaila itu om siapa?" Tanya Abu dengan perasaan yang berkecamuk.
"Om..om...om ata..om ata..om Ata mami"
"Om Nata?" Seketika tubuh Aby menegang, ia ingat Senja pernah memberitahunya nama teman yang biasa menemaninya ke Panti adalah Nata, dan pria itu juga yang membuat istrinya harus keluar rumah demi menjaganya di Rumah sakit.
"Sial!!!" Geram Aby sambil memukul meja dengan kepalang tangannya.
"Mas kenapa?" Tanya Laras Heran, ia segera mengambil Kaila dari kursi khusus batita dan memangkunya karena putrinya itu terlihat kaget dengan ekspresi sang papa.
"Kau" Aby menunjuk wajah Laras dan menatapnya penuh kebencian. Jangan pernah menggunakan trik ini lagi untuk menjebakku keluar makan siang bersamamu. Geram Aby
"Mas tapi ini demi Kai...."
"Diam laras!" Sentak Aby cukup keras hingga membuat beberapa pasang mata menatap mereka, "Pulangkan Kaila ke Maminya karena aku yakin Senja sudah tiba di Apartemen sekarang" Tukas Aby sebelum meninggalkan Laras dengan sekujur tubuh yang bergetar ketakutan. Laras bahkan bisa melihat dengan jelas urat dileher dan dahi Aby yang ikut menegang.
Semarah itukah Aby kepadanya hanya karena makan siang ini?
Flashback.
'Mas aku dan Kaila ada di Resto depan rumah sakit, mas bisa kesinikan Kaila rewel dan nangis '
Laras sengaja memilih Resto depan rumah sakit, ia sengaja mengirim pesan tersebut di jam makan siang karena yakin Aby tak akan mengabaikan putrinya.
Saat tiba sebenarnya Aby langsung ingin membawa Kaila pulang namun Laras menggunakan segala bujuk rayunya agar Aby tinggal dan makan bersama Kaila.
Laras sempat kecewa karena selama makan siang itu Aby sama sekali tak menyentuh makanannya dan hanya fokus pada sang putri, wajahnya juga selalu nampak ditekuk. Tapi mau diapa lagi yang bisa laras lakukan kini hanya bersabar dan berusaha hingga Aby bisa kembali menerimanya.
Flashback off.
Aby keluar dengan langkah besar berharap masih bisa bertemu dengan Nata namun nihil. Pria itu sudah pergi.
__ADS_1
Mendengar putrinya memanggil Nata dengan panggilan om, Aby yakin Nata dan teman Senja adalah orang yang sama.
"Brengsek!!!" Aby hanya bisa meninju udara mengingat semua kebetulan cerita Nata yang menginginkan seorang wanita yang merupakan istri seseorang. Kini Aby sadar setiap senyum Nata kepadanya sejak pertemuan di Club dan ia bertanya tempat tinggalnya adalah senyuman mencemooh.