
Senja kembali berkunjung ke Panti setelah sekitar satu bulan lebih tak menginjakkan kaki ditempat yang selalu membuatnya tenang itu, Air matanya sempat menetes tatkala mengingat Kaila yang selalu antusias jika diajak kesini.
Senja mengedarkan pandangan begitu kakinya berpijak pada halaman yang didominasi warna hijau dari rerumputan dan pepohonan yang tumbuh subur disana. Seperti biasa anak anak panti asyik bermain sambil berlarian disana.
Mata Senja sedikit memicing tatkala melihat Dimas yang masih berusia 5 tahun itu nampak memakai jaket denim yang kedodoran ditubuh kecilnya.
Ujung Jaket itu nyaris menyentuh permukaan tanah ketika ia berjalan.
"Kak Nata?" Senja ingat itu adalah Jaket favorit Nata yang selalu ia pakai kemanapun. Apa itu artinya Nata ada disini? Senja berlari kecil untuk masuk kedalam bangunan panti dan langsung mencari Bunda maryam.
Wanita yang nyaris sepuh itu ia temukan dipojok kamarnya tengah menyusun beberapa lembar pakaian sambil menagis, mata tuanya yang keriput seakan tak kuat lagi untuk menangis lebih dalam.
"Bunda" panggil Senja.
Buru buru Maryam menyusut air mata dan lendir yang sempat keluar dari hidungnya.
"Oh Senja" Maryam tersenyum ramah, namun suara dan wajah sembabnya tak bisa menutupi kenyataan jika ia baru saja menangis, tapi Senja tak peduli ada hal yang lebih penting yang ingin segera ia tanyakan.
"Bunda aku melihat Dimas mengenakan pakaian Kak Nata, apa ia ada disini?atau baru saja kesini?" Cecar Senja tak sabaran.
Maryam tak menjawab ia malah menunjuk tumpukan pakaian yang baru ia lipat dan diletakkan diatas tempat tidur, "Nata mengirim semua pakaiannya untuk dipakai adik adiknya dipanti ini" jelas Maryam.
"Maksudnya kak nata tidak ada disini?"
Maryam hanya mengangguk kecil.
"Lalu dimana Kak Nata sekarang Bunda, aku mohon jika bunda tahu tolong beritahu padaku, Pria itu harus segera menjalani operasi jika tidak__" Senja tak bisa melanjutkan kata katanya, membayangkan Kondisi Nata yang memburuk rasanya begitu menyakitkan bagi Senja. Dan lagi ia tidak tahu apakah Bunda Maryam sudah tahu mengenai kondisi Nata atau tidak.
"Dia baik baik saja Nak, Nata adalah anak yang kuat, dia sudah bandel sejak kecil sehingga penyakit seperti itu tidak akan membunuhnya"
__ADS_1
"Bunda sudah tahu?"
"Mengenai penyakitnya?"
Senja tertunduk sedih atau lebih tepatnya merasa bersalah sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit timbul namun tak kentara, ia yang seorang gadis biasa tak menyangka akan begitu berpengaruh pada kehidupan Nata, pria yang nampak tak baik diluar namun memiliki hati selembut sutra.
"Bunda tahu semuanya dari Bobby, bocah nakal itu tak mengatakan apapun pada bunda" Senja masih menundukkan wajahnya.
"Maafkan aku Bunda" Senja masih tak mengangkat wajahnya.
Maryam tahu posisi serba sulit Senja, gadis itu sama sekali tak melakukan kesalahan begitupun suaminya, satu satunya yang bersalah hanya Nata.
"Kamu hamil nak?" Maryam mengalihkan pembicaraan sambil mengusap perut Senja, tadi ia sempat melihat wanita itu mengusap perutnya "Berapa bulan?" Lanjut Maryam lagi.
"Sudah 3 bulan Bunda" jawab Senja, ia sangat antusias setiap kali orang bertanya mengenai kehamilannya.
"Tapi perutmu sangat kecil, kau harus banyak makan ya"
"Yuk temani bunda masak, nanti kita makan sama sama dengan semua anak panti".
Senja langsung pulang begitu selesai makan dan menyampaikan amanah suaminya, kini ia terjebak macet dalam sebuah taxi online, dan untuk menikmati waktu ia membuka beberapa pesan email yang masuk melalui ponselnya karena tugas dan materi kuliahnya memang dikirimkan melalui email.
Lagi lagi Senja menerima email mengenai sekolah terapung itu.
Senja tersenyum sendiri melihat beberapa foto anak anak sekolah disana yang bahkan tak memakai sepatu.
Sebuab video pendek juga terlampir disana, video yang bahkan tak sampai 10 detik itu memperlihatkan jejeran anak anak berpakaian merah putih yang kusam melambai kearah kamera dan kompak berteriak.
"Kakak kami tunggu kehadiranmu"
__ADS_1
Senja menekuk Alis seraya tersenyum bingung, ia merasa anak anak itu tengah menyapanya, namun kemudian ia menggeleng pelan dan memeriksa kembali alamat Email yang mengirimkannya, Senja fikir itu adalah kelakuan salah satu orang kampus atau mungkin salah satu teman kuliah onlinenya sebagai referensi tempat Prakteknya kelak.
Sesampainya di Apartemen Senja mulai membuka maps di Laptopnya, memasukkan nama pulau tersebut yang ternyata merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di Sulawesi bagian tengah.
Senja mengelus perutnya, smester 2 nanti akan ada agenda praktek mengajar, apakah ia bisa kepulau itu dengan kondisi hamil seperti ini?.
.
.
.
"Bagaimana kabar anda?"
"Baik Prof" ucap Nata pada pria tua bernama Anton itu, lebih tepatnya profesor Anton salah satu ahli bedah terbaik yang ada di Indonesia.
"Silahkan di makan" Anton mempersilahkan Nata mencicipi makanan yang dihidangkan dihadapannya. Kini mereka berdua berada didalam sebuah Rumah makan sederhana yang tidak terlalu jauh dari Rumah sakit sambil Menikmati makan siang dalam diam..
"Ah ini obatnya" Anton menyodorkan sebungkus obat yang memang ia resepkan untu Nata, namun saat Nata hendak merainyanya ia justru menariknya kembali. "Tolong lakukan kemoterapi" ucap Profesor Anton dengan nada sedikit memelas.
Sebenarnya Nata bukannya tak ingin operasi, namun Stadium penyakitnya yang meningkat drastis membuat tubuhnya tak mungkin melakukan proses pembedahan.
"Biarkan seperti ini saja Dok" Nata akhirnya mengambil bungkusan obatnya.
"Anda masih muda "
"Heh" Nata tersenyum miris "Maaf Dok tapi saya tidak ingin melakukannya"
"Terima kasih atas bantuan Dokter Selama ini" Nata menundukkan kepala memberi hormat.
__ADS_1
"Apa kau tahu Dokter Abyansyah mencarimu seperti orang gila"
Nata bergeming tak menaggapi ucapan Dokter senior itu, ia justru berlalu setelah menganggap urusannya dengan sang dokter sudah selesai.