Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 61


__ADS_3

"Kamu yakin berangkat sendiri?, ini belum 14 minggu loh, masih 2 hari lagi" Risya menatap Kahawatir pada Senja yang sudah selesai mengepak beberapa potong pakaiannya dan dimasukkan kedalam koper berukuran sedang.


"Aku khawatir Dok, sejak mas Aby mengabar Kaila sudah siuman dan Operasinya berjalan lancar ia sama sekali tak bisa dihubungi"


Risya berdecak kesal, aneh memang Aby sudah 5 hari tak bisa dihubungi, ia juga mencobanya beberapa kali.


"Kamu yakin aku tak perlu ikut, aku bisa mengambil cutiku untuk menemanimu" Tawar Risya.


"Dan lagi, ini penerbangan pertamamu ke luar negeri kamu yakin bisa?"


Sebelum menjawab Senja mengusap perutnya.


 sudah nyaris 14 minggu dan agak sedikit menonjol, namun tak ada yang tahu ia hamil jika tengah memakai dress longgar dibawah lutut seperti ini.


"Pergunakan cuti dokter untuk berlibur dengan keluarga , aku yakin kok baik baik saja kan ada Geogle translate" Risya menggoyang goyangkan layar ponselnya dihadapan Risya.


Dengan berat hati Risya akhirnya melepas kepergian Senja, Ibu dua anak itu mengantar Senja hingga melewati Security check.


Selama perjalanan Senja lebih banyak tidur karena kelelahan, untungnya Risya memilihkan penerbangan first class untuknya jadi Senja bisa nyaman dalam istirahatnya.


Setelah Lima belas jam berada diatas udara Senja akhirnya tiba di Amsterdam, ia meninggalkan Bandara dengan sebuah taxi menuju rumah sakit karena tak tahu alamat Apartemen yang disewa Aby, ia hanya berbekal nama rumah sakit terbesar di Amsterdam itu.


Untungnya Senja hanya membawa sebuah koper dan tas jinjing kecil sehingga ia tidak nampak begitu kerepotan, di perjalan Senja masih mencoba menghubungi nomor ponsel Aby namun tak ada jawaban entah apa yang terjadi Senja semakin khawatir.


Senja dibuat kagum dengan kemegahan rumah sakit dihadapanya yang besarnya 3 kali lipat dari rumah sakit tempat Aby bekerja, namun ia gugup dengan semua orang yang berlalu lalang disana tak ada satupun yang nampak sejenis dengan dirinya. Senja memberanikan diri bertanya pada resepsionis dengan menggunakan penerjemah di ponselnya, hingga akhinya Senja mendapatkan informasi jika Pasien yang bernama Kaila asal Indonesia baru saja dipindahkan keruang rawat inap setelah mendapat perawatan intensif di ruang PICU.


Seorang perawat baik hati mengantar Senja ke Lantai 30 dimana Kaila berada, dan memintanya menyimpan kopernya di lantai bawah saja setelah Senja memperlihatkan alasan mengapa ia bisa sampai membawa koper agar tidak kerepotan nantinya.


Senja akhirnya tiba didepan sebuah ruangan VVIP, sang perawat mengantarnya sampai depan pintu.


"Thank you" ucap Senja tulus sembari tersenyum.


"You are welcome" jawab perawat tersebut, sebelum berlalu pergi.


Senja membuka gagang pintu pelan, ia berharap Aby tak terlalu terkejut dengan kedatangannya.


Namun sayangnya tak ada siapapun disana selain Kaila yang terlelap dan masih memakai selang oksigen di permukaan wajahnya.


Senja mengusap pipi putrinya itu penuh kasih, tak ada lagi pipi chuby yang gembul disana namun Senja bersyukur kini Kaila sudah tidak perlu merasakan sakit lagi setelah Aby menginformasikan jika operasinya berhasil.


 Senja lalu menelisik setiap sudut ruangan yang cukup luas itu bahkan mencari sampai kamar mandi namun tetap tak menemukan Suaminya disana.Sampai akhirnya langkah Senja yang hendak keluar dari kamar mandi terhenti tepat didepan pintu yang tidak menutup rapat, Sayup sayup Senja memdengar Suara Aby yang bercengkrama pelan dengan seorang wanita dan menggunakan bahasa indonesia.


'Mbak Laras' Senja membatin, ia membuka sedikit pintu dan melihat Suaminya yang nampak begitu kelelahan dengan wajah kusamnya, kaca mata yang biasa membuatnya nampak cool kini malah membuatnya terlihat seperti seorang cupu, rambutnya yang tidak rapi membuat Senja menebak jika Aby tak mengurus dirinya selama di Belanda.


Tidak! Senja menggeleng kuat, beberapa hari yang lalu sebelum Aby hilang kabar pria itu masih nampak gagah dipanggilan video terakhirnya.


Senja menatap Aby yang terus mendorong kursi Roda Laras mendekati ranjang Kaila. Wajar jika Laras menggunakan kursi roda karena ia baru saja menjalani proses Operasi.

__ADS_1


"Mas, aku masih tidak habis fikir bagaimana mungkin aku kehilangan ingatan dimana aku mengurus putri kita" Laras berujar dengan nada Sendu sembari mengusap betis Kaila yang tetutup Selimut.


Aby hanya berdehem lirih dan menatap Datar entah kemana.


Senja masih mencerna maksud perkataan Laras,namun entah mengapa jantungnya sedikit berpacu lebih cepat dari biasanya, ada hawa dingin yang tiba tiba menyeruak masuk kesekujur tubuhnya membawa serta ketakutan yang seakan menyelimuti seluruh raganya.


"Mas, apa masih dua minggu lagi ya" Laras mendongak menatap Aby yang berdiri dibelakang kursi rodanya.


"Sepertinya" jawab Aby singkat.


"Mas!"


"Hemm"


"Kalau pulang nanti kita liburan ke Bali yuk mas" Laras memperlihatkan senyuman terbaiknya namun gagal membuar Aby membalasnya. Pria itu rasanya makin dingin saja. apa ia kelelahan dengan semua musibah ini, pikir Laras.


"Iya, Aku antar kamu kembali keruanganmu" Aby menjawabnya dengan mode datar se datar lapangan sepak bola. Yah itu usaha terbaiknya kini.


Sekujur tubuh Senja seakan gemetar mendengar percakan Aby dan juga Laras diluar sana.


Satu setengah bulan tinggal bersama apakah mungkin kembali menumbuhkan benih benih cinta diantara mereka? Senja tak sanggup membayangkannya, tubuhnya melangkah mundur dan hampir Ambruk namun Senja berhasil kembali menyeimbangkan diri meski harus menyenggol beberapa benda disana dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Aby dan Laras kompak menoleh ke sumber suara, tak lama kemudian sesosok gadis cantik nampak keluar dari sana.


"Se-senja" Ujar Aby terbata, ia fikir Senja akan tiba dua atau 3 hari lagi, tapi kini wanita yang memenuhi setiap sisi hatinya itu berdiri dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Aby meninggalkan Laras dan berlari memeluk tubuh Wanita sang pemilik Rindunya itu. Seperti biasa tubuh Senja tenggelam dalam dekapan Hangat Aby.


Masih sama ! Batin Senja, tapi kenapa? Benak Senja dipenuhi tanda tanya.


Aby mengurai pelukannya lalu menangkup wajah mungil Senja, ia hendak mendaratkan sebuah kecupan disana namun terlihat Ragu setelah Laras memanggil namanya.


"Ma-mas Aby, di-dia siapa?" wajah Laras terlihat makin pias, bibir pucatnya bergetar dengan kedua tangan mengepal di kedua sisi kursi roda.


Sementara Senja mengernyitkan alis bingung dan menatap Aby, menuntut jawaban mengapa Laras tidak mengenalinya.


"Di dia Senja, Dia adalah____" Kalimat Aby terpenggal saat Laras sudah lebih dulu menimpalinya.


"Ah, dia adik tirimu? Anak tiri Ayah baruna ya?" Laras ingat beberapa kali Baruna menyebut nama Senja sebagai putrinya tiap kali ia berkunjung ke kota Mertuanya itu.


"Kalian sudah akrab dalam 3 tahun ini?" Laras mencoba tersenyum meski hantinya masih perih.


"Mas, mbak Laras kenapa?" Senja dan Aby tak menjawab dugaan dan pertanyaan Laras.


"Sebentar Senja" Aby juga tak segera memberi jawaban atas rasa penasaran Senja, ia mengusap lengan Senja sebelum akhirnya menekan sebuah tombol diatas kepala Kaila untuk memanggil perawat.


Aby meminta perawat membawa Laras kekamarnya dengan bahasa Belanda yang fasih, meski sempat protes namun Laras akhirnya menurut setelah Aby berjanji akan menemuinya ketika urusannya dengan Senja selesai, Aby berbohong Jika Kedatangan Senja Sebagai utusan dari Baruna.

__ADS_1


"Mas mbak Laras kenapa tidak?___astaga mas!!" Senja memekik tiba tiba diujung kalimat tanyanya yang tidak terselesaikan, karena Aby berbalik dan menggendongnya sambil berputar putar.


"Mas hentikan mas!! Aku bisa jatuh" Senja memeluk erat leher Aby.


"Kau memang harus diberi hukuman Senja" Aby lalu menidurkan Senja pada sebuah sofa panjang, memagut mesra sang pujaan hati selama hampir 15 menit. Aby tak mungkin melakukan hal lebih di dalam rumah sakit, cukup hanya untuk melepas rindunya selama lebih sebulan Ia tak bertemu Senja.


"Mas..." Keluh Senja sambil mengusap bibirnya yang basah dan lengket, seluruh permukaan wajahnya seakan dipenuhi liur Aby.


"Sini" Aby lalu mengambil tisue disebuah meja bundar dan membantu sang istri membersihkan wajah serta merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku tidak sabar ingin memakanmu" Aby menggigit hidung mancung Senja dengan gemas.


"Mas....ih..." Senja lagi lagi menggosok hidungnya dengan Tisue.


kini posisi keduanya sudah sama sama duduk, aby duduk disofa sementara Senja duduk dipangkuannya, ia langsung menarik Tubuh Senja saat hendak beranjak tadi.


"Kenapa datang tidak kasih kabar hemmm"


"Ponsel mas tidak__"


Cup. Lagi lagi Senja tak bisa melanjutkan perkataannya karena Aby sudah keburu mendaratkan kecupan ringan dibibirnya.


"Maafkan Aku, belakangan ini aku seakan melupakan semuanya karena sesuatu hal yang begitu berat, aku takut menceritakannya melalui telepon karena tak ingin melukaimu lagi"


"Ada apa sebenarnya mas, dan mbak laras kenapa bisa seperti itu?" Senja mengusap wajah Aby yang nampak Sendu. Sangat kentara jika pria itu tengah menyimpan beban berat difikirannya.


Aby mulai bercerita mengenai Laras yang mengatakan semua masa lalu menjijikkannya, dan itu membuatnya semakin benci dan bersikap dingin terhadap mantan istrinya itu, Seandainya saja Aby bisa menemukan donor lain untuk putrinya karena tak ingin organ wanita seperti Laras masuk kedalam tubuh Kaila, dan seandainya saja Darah Laras yang memgalir ditubuh Kaila bisa dikuras habis tak bersisa maka Aby akan melakukannya, ia meluapkan itu semua kepada Laras beberapa hari sebelun operasi.


Aby lagi tak bertindak sebagai seorang Dokter, ia memposisikan dirinya sebagai laki laki bodoh yang berhasil ditipu oleh Laras.


Aby tak sadar itu semua melukai psikis Laras, sehingga efek dari operasi pengangkatan ginjal yang memang bisa menyebabkan kerusakan beberapa jaringan Syaraf berpengaruh pada ingatannya. Dokter yang menagani Laras dan Kaila sudah menjelaskan semuanya.


"Jadi mbak Laras Amnesia mas?"


"Tidak Sepenuhnya, ia hanya kehilangan memorynya pada 3 tahun terakhir ini, Laras tidak ingat jika ia dan aku sudah bercerai"


Bahu Senja seketika melemas "Lalu bagaimana mas?" Tanya Senja dengan suara bergetar, pantas saja Laras tak mengingatnya, dan hanya mengetahui namanya, karena selama jadi istri Aby Laras sama sekali tak pernah bertemu dengan Senja.


"Bantu aku melewati ini semua Senja, seperti yang selalu aku katakan tetaplah disampingku maka kita akan mlewati semuanya"


"Mas entah mengapa aku takut"


"Tidak sayang semuanya akan baik baik saja".


Flashback......


Aby tak sejahat itu, ia tetap mendampingi Laras sampai ia siuman, namun begitu bangun tatapan wanita itu terlihat berbeda.

__ADS_1


"Mas....anak kita sudah lahir?" Ingatan Laras terhenti saat ia tengah melahirkan Kaila.


Wanita itu melihat sekeliling dan mengangap ia memang baru saja menjalani operasi sesar.


__ADS_2