Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 71


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing saat Aby akhirnya tiba di Makassar, disana sudah menunggu orang suruhan Baruna yang diperintakhan khusus mencari keberadaan Senja.


"Bagaimana?" Tanya Aby yang sudah masuk kedalam sebuah mobil dan duduk di belakang sopir.


Seorang pria muda yang duduk didepan berbalik dan memberikan Aby sebuah benda pipih berukuran sedang dengan layar menyala.


Disana memperlihatkan bagaimana Senja berjalan di Bandara hingga akhirnya masuk kesebuah taxi.


Sorot mata Aby melemah melihat gambar sang istri yang pergi dengan perasaan kecewa yang mendalam kepada dirinya, ia sadar selama Ini banyak menimbulkan luka hati bagi Senja.


"Kenapa pergerakan kalian sangat lambat?" ujar Aby kesal. Karena anak buah ayahnya itu sempat melaporkan jika mereka sudah menemukan keberadaan Senja melalui keterangan orang orang dipelelangan ikan.


Hanya dengan melihat foto Senja mereka langsung bisa mengenali wanita hamil itu. Bagaimana tidak wajah Senja Terlalu kontras berada disana sehingga ia menjadi pusat perhatian saat kedatangannya.


Dan salah satu Nelayan memberitahu jika Senja menaiki sampan menuju pulau X.


"Kami menunggu speed boat kiriman Tuan Baruna Pak, tak ada kapal besar didermaga sehingga ayah anda khawatir Menantunya kenapa napa" ujar Roy anak buah Baruna itu membela diri, dan itu memang kenyataan.


setelah 2 jam perjalanan dari Bandara Aby akhirnya tiba ditempat yang dituju, sebuah speed boat lumayan besar sudah menanti mereka, itu adalah milik Baruna yang biasa ia gunakan untuk memancing dilaut bersama para rekan bisnisnya.


"Kau yakin istriku ada dipulau itu?"


"Yakin pak, itu yang dikatakan para nelayan"


Aby mengerutkan alis terlihat berfikir keras, apa sebenarnya yang dicari Senja hingga membuatnya pergi ke pulau itu, segitu kecewanyakan istrinya itu sehingga memilih tempat yang sukar untuk ditemukan. Padahal kali ini Aby tak bersalah sama sekali meski ia tak memungkiri perhatiannya Ke Laras sebelumnya memang begitu melukai Senja.


Meski Senja kabur Aby tak pernah menyalahkan istrinya itu, ia menempatkan dirinya pada posisi yang paling salah. Mungkin bagi Aby apa yang ia lakukan kepada Laras dulu adalah suatu yang wajar dan ia begitu menikmati Senja cemburu kepadanya. Tapi ternyata Aby salah menganggap hal itu patut dinikmati.


Senja gadis yang belum genap 20 tahun itu ternyata memendamnya hingga penuh dan Sesak.


Sebagai yang lebih dewasa Aby menyadari dirinya memang bodoh. Ia saja bisa sebegitu cemburunya kepada Nata lantas bagiamana dengan Senja?


Pulau yang dituju sudah semakin terlihat, tak ada penerangan selain beberapa lampu petromax yang nampak mengitari sebuah sampan.


Semakin speed boat menepi semakin Aby dan rekan rekannya bisa melihat dengan jelas kerumumunan orang mengelilingi Sampan.


"Sepertinya ada yang terjadi dipulau ini" ujar Roy.


"Sampan siap!!"


"Angkat sekarang woi!!!"


Aby bisa mendengar dengan jelas suara bapak bapak yang berteriak setelah berhasil menghidupkan mesin sampan.


tak lama kemudian sekelompok ibu ibu datang sembari menggotong sebuah tubuh yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dengan penerangan seadanya Aby langsung bisa mengenali tubuh istrinya, betis wanita itu terlalu putih untuk seorang yang menetap didaerah pesisir.


"Senja!!" Teriak Aby sambil melompat cepat saat Speed boat bahkan belum berhenti sempurna.


"Bapak kenal ibu muda ini?"


"Dia istri saya bu" Aby mengambil alih tubuh Senja, hatinya hancur sehancur hancurnya melihat kondisi Senja yang pucat pasi, hari ini ia melihat Nata yang sudah menjadi jenazah dan itu membuat Aby takut dengan kondisi istrinya.


"Roy!!! Putar Balik" titah Aby.


Roy lekas menyuruh sang nahkoda bersiap sementara ia turun dan membantu Aby membawa Senja kedalam Speed Boat.


Didalam ada sebuah ruangan dengan sebuah tempat tidur, tubuh Senja dibaringkan disana dan segera diselimuti oleh Aby, naluri seorang Dokter membawa Aby untuk terlebih dahulu mengecek tanda tanda vital Senja, Aby berusaha menyingkirkan kepanikannya. tangan Aby bergetar saat menekan denyut nadi Senja yang seakan melemah, degup jantung yang ia periksa dengan cara menempelkan telinga kedada istrinya juga tak kalah lemahnya.


"Bertahan sayang, tolong jangan membuatku takut" Aby menangkup tangan Senja sambil menangis, yah Jika menyangkut Senja Aby rela menggelontorkan air matanya, sesuatu yang hampir tidak pernah ia lakukan untuk orang lain. Bahkan saat Kaila sakitpun Aby masih bisa setegar karang yang dihantam Badai, tapi ia lemah jika menyangkut Senja.


"Permisi pak" Aby menoleh saat menemukan sosok wanita paruh baya yang baru saja masuk.


 Dengan pencahayaan yang terang diatas Speed Aby bisa melihat jika Wanita itu baru saja menangis.


Apakah ia menangisi kondisi Senja? Pikir Aby.


"Sepertinya ini yang membuat Senja pingsan" wanita paruh baya yang ternyata Bu Jum itu menyerahkan sebuah botol mineral dengan gulungan kertas didalamnya.


Yah wanita itu membaca semuanya, dan tak bisa menahan derai air matanya saat selesai melihat tulisan tangan Nata itu.


"Jika dia masih hidup sampaikan rasa terima kasihku padanya, dan katakan jika warga pulau sangat menanti kedatangannya, namun jika benar ia sudah tiada, maka kami akan mendoakan tempat terbaik untuknya" Diujung kalimatnya Bu Jum tak tahan untuk tidak terisak.


ia akhirnya pamit dan membiarkan Aby membawa Senja ke Kota.


.


.


Senja dibawa disebuah rumah sakit terbesar yang ada di Kota Makassar, beruntung tak ada cidera serius dan kandungannya pun baik baik saja, Senja hanya sedikit Anemia mungkin ia syok dan tak bisa menerima jika isi surat Nata nyatanya adalah sebuah kenyataan.


 Aby yang duduk di samping ranjang Senja hanya bisa menghela nafas setelah selesai membaca surat terakhir Nata untuk istrinya, ia mulai menerka kemungkinan Senja kesana karena mencari Nata.


Aby meraup wajahnya dengan perasaan tak menentu.


Apa sesakit itu? Ia seakan bertanya kepada istrinya yang masih terlelap karena pengaruh obat.


"Mas...." panggil Senja lirih melihat Aby yang tertidur dengan posisi duduk dengan wajah menelungkup diaatas ranjang,wanita hamil itu masih belum sepenuhnya sadar, ia masih berusaha mengumpulkan nyawa yang baru saja tercerai berai.


"Senja kau sudah sadar sayang" Aby mengecup wajah Senja bertubi tubi, namun saat semuanya sudah kembali Senja tak lagi bisa menahan air matanya, ia teringat dengan isi surat Nata.

__ADS_1


Senja berusaha untuk duduk namun Aby mencegahnya "Tidurlah dulu kondisimu masih belum stabil" ujar Aby namun Senja tak mengindahkannya. Ia bersikeras untuk duduk.


Senja lalu memegang kedua tangan Aby dan menatapnya dengan tatapan penuh permohonan , ia seakan lupa dengan kesalahan suaminya yang membuatnya pergi dan harus terdampar dipulau itu.


"Mas...kita harus cari kak Nata, ia harus segera di Operasi Mas, Kak Nata fikir ia akan mati padahal ia masih bisa selamat iya kan Mas? Mas maukan menyelamatkan nyawa kak Nata?"


"Senja itu..." Aby benar benar bingung, ia bisa melihat Senja benar benar terpukul, benar yang dikatakan wanita pulau itu jika Penyebab Senja kehilangan kesadarannya adalah Nata.


"Mas...ayo cari Kak Nata, aku janji tidak akan cemburu cemburu lagi, mas boleh mengurusi Mbak laras lagi, mas mau belikan apapun aku tak akan marah lagi,asal mas menyelamatkan kak Nata mas" Senja menggoyang goyangkan kedua tangan Aby persis seperti seorang anak yang merengek pada ayahnya.


"Senja apa yang kau katakan?" hati Aby benar benar terluka dengan apa yang keluar dari bibir Senja. Ia segera memeluk Senja.


"Mas.....kak Nata bilang dia...."


"Dia sudah tidak ada Senja" Aby memotong kalimat Senja.


"Tidak mas, mas sudah baca suratnya? Itu salah ia fikir aku akan datang setelah bertahun tahun, ia masih bisa diselamatkan mas"


"Senja," Aby mengurai pelukannya dan menangkup wajah cantik istrinya, "Nata sudah meninggalkan kita"


"Tidak Mas!! Jangan bicara begitu kata bunda maryam, kak Nata itu kuat, dia bandel sejak kecil penyakit itu tidak akan membunuhnya kita hanya perlu menemukannya, selamatkan dia mas hanya ia sahabat yang kupunya. sejak sekolah dasar aku tak pernah memiliki teman hanya dia yang mau berteman denganku"


Sakit, sedih dan haru dirasakan Aby secara bersamaan, setelah membaca surat Nata ia baru sadar cinta pria itu untuk istrinya begitu besar dan tulus.


Sebuah cinta yang salah!


Aby kembali memeluk Senja, ternyata begitu sakit melihat istrinya menangis dan memohon demi pria lain yang bahkan sudah tidak ada didunia ini.


"Senja," Aby mengusap surai hitam senja, "Tidak ada cinta yang lebih besar dari yang mas punya untukmu, jika ada orang lain mencintaimu aku pastikan cintaku adalah yang paling tulus, tolong jangan begini, ini benar benar menyakitiku" Aby semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas" Senja menangis dengan isakan yang begitu menyayat hati.


"Dia sudah tidak ada, Nata meninggal tadi pagi di Jakarta"


"Mas bohong kan?" Senja berusaha melepas pelukan Aby, menatap netra sang suami yang terlihat begitu sayu. Ia berusaha mencari kebohongan disana namun Senja hanya bisa menemukan isyarat kejujuran.


"Nata pria yang baik hati, ia memutuskan untuk mendonorkan semua organnya sebelum benar benar pergi"


"Jadi...."


"Dia sudah tidak ada"


"Kenapa dia melakukan ini padaku mas? Mengapa ia bisa mencintaiku seperti itu mas? Aku merasa bersalah...aku salah mas, aku tidak pantas dicintai seperti ini, ini manyakitiku mas"


Lagi lagi Aby menagkup kedua pipi Senja, "Jangan merasa bersalah dengan perasaanmu mas mohon, kau tidak salah kau sudah benar tak bisa membalas perasaannya, karena cintamu hanya untukku dan Mas janji akan menjaga itu selama lamanya, kau sangat pantas untuk dicintai seperti itu Senja."

__ADS_1


"Tebus cinta Nata dengan hidup bahagia bersamaku dan anak anak kita" Aby mengecup kening Senja penuh perasaan.


__ADS_2