
Aby saling bertukar pandangan dengan istrinya. Seharusnya ia senang mendengar apa yang baru saja dituturkan Laras namun Aby justru khawatir.
Beberapa bulan belakangan ia melihat begitu banyak kelicikan wanita itu sehingga Aby jadi sulit mempercayainya sekarang meski ia sama sekali tak melihat raut wajah kebohongan di muka Laras.
"Kau sedang tidak merencanakan sesuatu kan? Ingat Laras aku lebih baik mencari donor sampai keujung dunia dari pada harus melakukan syaratmu!" Tegas Aby yang masih menggenggam erat tangan istrinya.
Mereka bertiga tengah berada didalam ruang kerja Abyansyah.
Aby mengajak Senja begitu menerima pesan dari Laras yang meminta bertemu, dengan alis yang berkerut wajah Aby diliputi tanya karena seingatnya ia sudah memblok kontak Laras.
Senja tak berani berbicara bagaimanapun ia tak berhak mencampuri masalah ini karena Laras dan Aby adalah orang tua kandung Kaila.
Laras sempat menunduk mengamati tangan Aby yang selalu bertautan dengan tangan Senja, namun ia tak lagi menunjukkan rasa cemburu justru sebaliknya ia ketakutan seakan mata Baruna ada disini untuk mengamatinya.
"Aku serius tak ada rencana apapun maupun pernikahan, aku tulus ingin menyelamatkan putriku mas mengapa kau sulit percaya padaku" ujar Laras memelas, ia tengah membujuk Aby agar membawanya serta ke Belanda karena jika ia tidak berhasil mendonorkan ginjalnya Laras takut Baruna akan membocorkan semuanya.
"Aku akan membicarakannya pada istriku dulu" Tukas Aby namun nyatanya ia tengah berbahagia karena akhirnya Laras setuju tanpa syarat.
"Kenapa keselamatan Kaila harus melalui persetujuannya?" Laras melirik Senja dengan sinis.
__ADS_1
"Iya mas semua keputusan ada di Mas" Senja tersenyum bahagia, namun entah mengapa hatinya menjadi tak tenang jika Laras sampai ikut Ke Belanda, firasat Senja mengatakan akan ada sesuatu yang besar terjadi disana.
.
.
.
"Mami...mami....mami...." ucap Kaila lemah.
cup.
"Iya sayang" Senja membelai pipi Kaila yang nampak semakin lemas setelah sebelumnya mengecup pipi batita yang sudah tidak gembul itu lagi.
Senja tersenyum hangat, selama dirumah sakit Kaila semakin pintar saja, ia sudah bisa mengungkapkan perasaannya dan seakan mengerti apa yang tengah dibicarakan orang disekitarnya. Mungkin jika anak tiga tahun lainnya itu adalah hal yang wajar namun tidak bagi bocah DS.
Seperti tadi pagi sebelum Baruna dan Rini bertolak kembali ke Kotanya, Bocah itu nampak bersedih mendengar kakek neneknya berbincang mengenai betapa buruknya perangai Laras yang justru meminta Aby menikahinya sebelum ia mendonorkan ginjalnya, padahal Kaila adalah putri kandungnya, namun untungnya Kini Laras sudah berubah fikiran.
"Kaila bobo ya, Papa besok papa mau ajak kita jalan jalan ke Belanda" Senja mengusap pucuk kepala putrinya yang mengangguk patuh lalu mengecupnya pelan.
__ADS_1
"Mami juga sayang Kaila" ujar Senja berbisik ditelinga Batita itu.
"Kaila sudah tidur?" tanya Aby yang baru saja masuk, wajah pria 33 tahun itu nampak sangat lelah mengurus beberapa keperluan keberangkatan Kaila.
"Sudah mas" Senja menghampiri Aby dan duduk disampingnya. Aby teelihat menunduk sambil memijat pelipisnya, namun Saat Senja berada disampingnya ia berbaring dan menaruh kepalanya dipangkuan sang belahan jiwa. Beberapa hari belakangan adalah masa masa terberat bagi Aby dan Senja.
"Mas sudah pesan tiket untuk mbak Laras?" tanya Senja namun Aby hanya menjawabnya dengan anggukan Kecil sambil terus menutup matanya menikmati usapan lembut Senja yang juga menidurkan Kaila tadi.
"Aku mau tidur Senja, bisa usap aku sampai terlelap seperti Kaila"
"Tentu mas"
Namun bukannya tertidur Aby terus menatap wajah Senja dari bawah hingga membuat pipi putihnya merona. Aby merasa bersalah dengan kehidupan yang kini dijalani Senja, gadis itu memberinya kebahagiaan namun tidak dengan dirinya, ia merasa hidup Senja semakin Rumit belakangan ini bersamanya.
"Apa kau lelah?Kau nampak pucat" tanya Aby.
Senja menggeleng, "Tidak mas, Aku selalu semangat menemani mas"
"Terima kasih Senja".
__ADS_1
.
.