Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 59


__ADS_3

"Jangan beritahu mas Aby dulu Dok"


Risya menghela nafas setelah memandang wajah teduh Senja yang kini terlelap diatas ranjang rumah sakit. Sebenarnya ia sudah diperbolehkan untuk pulang namun Risya menyarankan agar ia istirahat dulu semalaman.


Risya tak habis fikir mengapa Senja menolak untuk memberitahu Aby padahal kabar kehamilannya kemungkinan bisa saja membuat Aby tambah semangat disana.


Namun alasan sebenarnya Senja tak ingin Aby kepikiran dengannya yang masih diindonesia, ia ingin suaminya fokus saja dengan urusan Kaila.


"Hemmm Halo By" Risya menjawab panggilan dari Belanda sana. Ia meliril rolex kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, itu artinya 15 jam sejak pesawat yang ditumpangi Aby terbang dari Jakarta ke Amsterdam. Dan begitu tiba pria itu langsung menghubunginya karena ponsel Senja memang tengah kehabisan daya.


"Bagaimana kondisi Senja? Dia sudah sadar? Hasil pemeriksaannya bagaimana?" Cecar Aby dengan satu kali tarikan nafas.


"Tanyanya satu satu pak, aku tahu kau sangat khawatir, Senja baik baik saja ia sedang tertidur, besok ia sudah bisa pulang dari Rumah Sakit Y" Jawab Risya tanpa rasa panik sedikitpun, ia ingin agar sahabatnya itu tidak terlalu banyak beban fikiran.


"Istrimu hanya kelelahan By, usianya belum genap 20 tahun raganya tak mampu memikul beban berat yang belakangan ini menimpa Kaila" Lanjut Risya lagi.


"Syukurlah" terdengar helaan nafas yang begitu panjang dari seberang telepon.


"Bi tapi sepertinya Senja baru bisa terbang satu setengah bulan lagi" Ucapan Risya kembali membuat Aby terdengar khawatir. perawatan Kaila di Belanda memang diperkirakan memakan waktu yang lama, kemungkinan bisa sampai 3 atau 4 bulan.


"Kenapa? Apa kondisi nya____"


"Dia baik baik saja" Risya cepat memotong ucapan Aby, "Apa kau tidak tau istrimu seorang mahasiswa? Dia kan harus menyelesaikan beberapa tugas terlebih dahulu, kau ini main pesan2 tiket saja tanpa bertanya terlebih dahulu, ada untungnya juga kan Senja pingsan jadi ia bisa menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu"


"Apa Senja yang mengatakannya?"


"Te-tentu saja" jawab Risya gugup kerena ia tengah berbohong, pada kenyataannya Dokter yang mengatakan jika Senja belum boleh melakukan penerbangan jauh sebelum kandungannya memasuki usia 14 minggu karena rentan terjadi keguguran.


"Tapi aku tidak bisa tanpa dia disini"


"Astaga Aby jangan bicara begitu, aku jijik mendengarnya dasar Alay, jika kau ingin di belai suru Laras melakukannya hahahahah" tentu Saja Risya hanya bercanda karena ia adalah orang yang paling tidak menyetujui hubungan Laras dan Aby.


"Sinting!!" umpat Aby kesal, "Sudah! Aku akan rubah panggilannya menjadi Video".


Risya lalu mengarahkan Kamera ponselnya keseluruh tubuh Senja yang dibalut selimut, wanita hamil itu nampak sangat damai dalam tidurnya dan itu membuag kerinduan Aby semakin memuncah, padahal baru sekitar 15 jam ia tak bertemu dengan Istrinya. Jika di Rumah sakit saja ia bisa merindukan Senja apalagi sekarang mereka dipisahkan oleh jarak dan Waktu. Yah Indonesia dan Belanda memiliki selisih waktu kurang lebih 7 jam.


.


.


.


Setelah mengurus proses perawatan dan administrasi Kaila di Rumah Sakit, Aby, Laras dan salah satu perawat yang memdampingi Kaila dari Indonesia pergi ke sebuah apartemen Mewah yang memang sudah Di Sewa Aby sebelum berangkat ke Amsterdam. Sementara 1 orang perawat lagi diRumah sakit menjaga Kaila.

__ADS_1


"Kau tidur dikamar tamu bersama Perawat Naila, dan jangan masuk kedalam sana" ucap Aby pada Laras sembari menunjuk sebuah kamar utama berukuran besar yang memang di persiapkan untuk dirinya dan Senja.


" jika Senja sudah datang aku akan menyewa satu flat khusus untukmu" ujar Aby lagi sambil mengambil 1 buah koper berukuran besar menuju pintu keluar.


"Mas mau kemana?" tanya Laras panik melihat Aby hendak keluar dengan kopernya padahal ia sudah senang kembali 1 atap dengan Aby tanpa Senja, meski beda kamar dan ia harus tidur dengan perawat namun Laras sudah berbunga bunga, lagi pula kedua perawat itu akan pulang dua hari lagi ke Jakarta, kini bayangan berdua bersama Aby sebelum Senja datang Sirna sudah.


 "Aku akan tidur di Hotel tak jauh dari sini"


"Ta-tapi mas kenapa?"


Aby tak menjawab ia langsung keluar dan menutup pintu dengan kasar.


Hari berlalu Aby dan Senja hanya berhubungan melalui Video call, dua minggu lagi Senja sudah akan berangkat ke Belanda tepat seminggu setelah Kaila operasi yah minggu depan Kaila sudah siap menjalani operasi, dan Laras sama sekali belum berhasil menarik simpati Aby. Apalagi setelah Aby tahu Laras akan menerima uang 3 milyar lagi dari Baruna setelah ginjalnya dipindahkan ke Kaila.


Sebenarnya bukan tak Rela dengan 5 milyar itu hanya saja rasa simpati Aby memang sudah lenyap dari wanita itu. Bagi Aby sebenarnya Laras begitu bodoh dengan pilihannya padahal tawaran darinya dulu lebih menggiurkan tapi entah apa yang dikatakan Baruna kepada mantan menantunya itu sehingga Laras lebih memilih lima milyar dari pada jumlah keseluruhan harta Aby yang mencapai puluhan milyar.


"Kau semakin chuby" ucap Aby gemas seakan ingin mencubit pipi istrinya melalui layar ponsel.


"Benarkah mas" Seketika senyum Senja memudar ia memegang pipinya yang terasa sedikit berisi, Senja memang mengalami kenaikan berat badan selama hamil namun sepertinya tidak terlalu banyak.


Senja berlari ke pojok kamar dimana terdapat timbangan digital dan membiarkan kameranya tetap terhubung dengan Aby.


Aby tak bisa menahan tawanya saat melihat tingkah istrinya itu.


"Gak sayang aku kan gak bilang gendut hanya cuby aja"


Keduanya lalu saling tetawa.


"Mas Kaila jadi Operasi minggu depan?"


"Iya jadi, kamu jadi kan datang 2 minggu lagi"


"Pasti mas" Senja sebenarnya juga tidak sabar ingin bertemu dengan Kaila dan Aby.


Senyum Aby seketika lenyap saat melihat Laras yang baru masuk keruangan Kaila.


"Sayang sudah dulu ya, jangan begadang mengerjakan tugas, jangan lupa makan, oh iya Mas ada kirim uang kamu bawa kepanti ya minta anak anak disana mendoakan kesembuhan Kaila" Pesan Aby sebelum mengakhiri Panggilannya.


"Iya mas" Senja tersenyum diakhir.


.


.

__ADS_1


"Senja gimana mas dia baik baik aja?" Laras tahu Aby baru saja berteleponan ria dengan Istrinya sehingga ia merasa setidaknya harus sedikit berbasa basi.


"Baik!" Jawab Aby singkat sambil membetulkan selimut Kaila.


"Mas kenapa sih kamu jarang banget bicara sama aku selama disini, kalau bukan baik, hemm, iya , apa, hanya kata kata singkat itu yang selalu keluar dari mulutmu, apa kamu gak punya rasa kasihan sedikitpun mas sama aku? Aku sudah berusaha menjadi seorang mantan yang baik selama 1 bulan kita di Belanda, tapi kamu memperlakukanku seperti kuman yang harus dijauhi" Ujar Laras, tak apalah ia mengeluarkan semua isi hatinya toh harapan untuk kembali bersama pria itu sudah lebih tipis dari selembar tisu.


Aby menghela nafas lalu berbalik menatap Laras yang sudah berkaca kaca.


"Laras tolong jangan berbicara banyak padaku, disini kita hanya sebagai mantan pasangan dengan kata lain kita adalah orang asing, sesuatu yang wajar jika aku mengabaikan keberadaanmu meski ada Kaila diantara kita"


"MAS!!" sentak Laras.


"Turunkan suaramu Laras apa kau tak lihat Kaila sedang tidur" ucap Aby datar, Laras yang juga kasihan kepada Kaila akhirnya sedikit menurunkan nada bicaranya.


"Orang Asing katamu? Yah, aku orang asing yang merupakan ibu dari anak kandungmu, aku orang asing yang akan menyelamatkan putrimu, aku orang asing yang minggu depan akan bertaruh nyawa demi kebahagian keluargamu" Cecar Laras sambil berderai air mata, hatinya sakit melihat perlakuan buruk pria yang pernah ia cintai sepenuh hati itu.


"Cih" Aby berdecih jijik," bukankah 5 milyar bayaran yang sepadan?"


Laras mengerutkan alisnya, jadi Baruna memberitahukan semuanya, lalu bagaimana dengan masa lalunya?


Cepat atau lambat Baruna pasti akan mengatakan semuanya pada Aby, jadi tak ada salahnya jika Laras mengakui semuanya sendiri setidaknya Baruna tak akan mengancam akan menghancurkan karirnya lagi.


"Mas apa kau tahu kalau Ayahmu mengancamku, apa kau tidak berfikir mengapa aku memilih 5 milyar dibanding seluruh harta kekayaanmu dimana harga Apartemenmu saja lebih mahal dari pada uang yang ditawarkan Ayah"


Laras mulai bercerita mengenai masa lalunya tanpa satu pun yang ia tutupi, yah ia nyatanya Laras memang lebih mencintai karirnya dari pada Aby, ia memilih menyelamatkan perkerjaannya dibanding kembali berusaha mendapatkan cinta Aby.


Ia mengawali kisahnya saat sang Ayah di temukan gantung diri di kamar pribadinya karena kasus korupsi yang menjeratnya di perusahaan, kemudian disusul ibunya yang melakukan hal serupa karena tak kuat menahan rasa malu.


Laras hidup dengan sisa harta yang sedikit dan tak ikut disita oleh bank dan perusahaan. Sejak saat itu ia memilih untuk menjual tubuhnya kepada banyak lelaki tua kaya raya,demi untuk melanjutkan hidup dan pendidikannya. Ia bukanlah gadis nakal dulunya namun keadaan memaksanya untuk berubah menjadi binal, karena ia tak punya apapun yang bisa menghasilkan uang selain daripada tubuh indah dan wajah cantiknyaa.


Lutut Aby seakan gemetar mendengar penuturan Laras, puluhan tahun ia ditipu dan nyaris kembali kepelukan wanita itu untuk yang kedua kalinya.


Aby tertawa sumbang menertawakan kebodohannya selama ini, tangannya mengepal rasanya ia ingin menampar wajah wanita dihadapannya. Ia bodoh karena menyerahkan tubuhnya pada wanita yang sudah terbiasa dijamah lelaki lain.


Untungnya Tuhan cepat mengirimkan Senja.


"Apa Kaila benar putriku?"cibir Aby, Pertanyaan itu tiba tiba meluncur begitu saja dari bibir Aby, ia juga takpercaya sudah meragukan putri yang begitu ia sayangi itu, namun mendengar cerita Laras bukan tidak mungkin wanita itu berbuat asusila selama masa pernikahan mereka.


"MAS! APA KAU GILA?" Bentak Laras tak terima dengan tuduhan pertanyaan Aby.


"Demi tuhan Mas, sejak berpacaran denganmu aku tak pernah lagi berhubungan dengan pria lainnya" geram Laras.


Aby menelisik wajah Laras dan memang ia tak bisa menemukan kebohongan disana.

__ADS_1


Aby senang jika Kaila memang putrinya, lagi pula ia tidak akan sanggup menerima kenyataan pahit seperti itu.


__ADS_2