
"Mami Atid cini Atid" Rengek Kaila, ia mengatakan sakit meski tampangnya terlihat datar seperti biasanya.Kaila terus menunjuk perut sebelah kirinya.
"Mami kasih minyak telon ya, mungkin Kaila masuk angin"
"Biar Bi Asih aja Non yang ambil minyak telonnya" Bi Asih yang baru muncul dari dapur mengintrupsi, ia membiarkan Senja membaringkan Kaila diatas sofa lalu menepuk nepuk perut anak itu.
Senja teringat sang ibu yang biasa melakukan hal seperti itu kepadanya jika ia sedang sakit perut. Dalam ingatan Senja ibunya adalah wanita sempurna dengan segala kemurahan hati dan tingkah lembutnya. Sayang ia harus berakhir sebagai Istri ke kedua Baruna dan menorehkan luka dalam bagi senja hingga kini. Terkadang Senja ingin membenci ibunya namun ia tak bisa melakukannya.
"Emang masuk angin ya Non?" Bi Asih menyodorkan sebotol minyak telon yang langsung di usapkan senja keseluruh permukaan perut Kaila.
"Kayaknya si Bi, soalnya tadi pagi dia mual sama muntah"
"Masih sakit ya nak?"
"Kaila menggeleng lalu bangun, ia membenamkan tubuhnya dalam pelukan Senja"
"Mami mami peyuk" Ucap anak kecil yang meski usianya sudah 3 tahun namun kosa katanya masih sangat terbatas.
Kaila sangat jarang berbicara dengan kalimat yang panjang yang sepenggal yang langsung bisa dipahami Senja dan juga Aby.
Kaila tertidur dalam dekapan hangat sang mami, gadis muda yang pertama kali memegangnya saat masih bayi sudah memberikannya kasih sayang yang tulus layaknya seorang Ibu.
Meski dulu Senja takut pada Aby namun ia tak pernah mengabaikan Kaila, setiap bayi Kaila berkunjung ke Kota mereka Senja adalah orang pertama yang akan menggendonggnya karena Kaila akan sangat tenang dalam pengasuhan Senja meski saat Itu senja masih duduk di Bangku SMA.
Mata Senja terlihat begitu lelah, Sepanjang hari ia hanya menggendong putri sambungnya yang hanya mau tidur dalam pelukannya sambil disenandungkan lagu anak anak.
Sudah hampir 4 bulan Senja menjadi Ibu sambung Kaila namun baru kali ini mendapati Kaila yang begitu rewel, badannya tak panas hanya perut yang dikeluhkan Kaila tadi pagi namun sekarang tidak lagi.
"Perutnya mami kompres pake air hangat ya nak" Tawar Senja lembut namin wajah Kaila yang melekat pada ceruk lehernya menggeleng kuat.
"Tidak atid"
"Oh.....perutnya tidak sakit lagi? Jadi Kaila cuman mau bermanja manja sama mami ya" Senja tersenyum meski tubuhnya begitu lelah. Ia bahkan harus melewati kuliah onlinenya hari ini karena sibuk dengan Kaila.
Tak terasa sudah sore saja, jarum jam tepat diangkan jam 5 sore, dan Aby akhirnya pulang.
Ia mendapati Senja tengah menggendong Kaila sambil mengusap usap punggung gadis kecilnya.
"Mas sudah pulang. Maaf ya mas aku gak menyambut mas, soalnya Kaila lagi rewel"
"Iya sayang gak apa apa" Aby melepas sendiri sepatunya lalu menyusunnya di lemari sepatu.
Ia berjalan pelan mendekati sang istri untuk memberikan kecupan singkat selamat datang di bibir Senja.
__ADS_1
"Mas ih, ada Kaila"
"Loh kan Kaila juga dapat" Aby lalu mengecup pucuk kepala putrinya.
"Papa papa"
"Iya nak papa sudah pulang"
Meski masih wangi namun mata Aby sedikit menelisik dengan piyama yang dikenakan Senja, selain masih sore Piyama itu juga pakaian yang sama yang ia pakai semalam.
"Maminya Kaila belum mandi ya dari pagi?" Aby tersenyum jahil sambil mencolek hidung mancung istrinya.
"Bau ya mas ? Maaf ya" wajah Senja menunduk penuh penyesalan.
Biasanya Senja memang tak langsung mandi, ia terlebih dahulu memandikan Kaila hingga wangi lalu mengurusi beberapa tugasnya. Senja akan mandi pada jam 10, namun hari ini karena Kaila rewel dia melewatkan mandi paginya.
"Siapa bilang bau? Wangi koq" Aby lalu mengecup wajah istrinya bertubi tubi, ia tak peduli meski Kaila menatapnya dengan alis berkerut. bahkan jika bisa ia ingin melakukannya didepan semua orang agar mereka tahu kalau gadis muda yang sangat cantik ini adalah istri seorang Abyansyah Baruna Putra.
"Mas ih gak malu apa dilihat Kaila"
Terkadang dengan tingkah laku Aby yang sekarang Senja lupa jika dimasa lalu pria itu adalah kulkas 2 pintu yang sangat dingin kepadanya.
"Emang Kaila rewel kenapa hemm?"
Semua nampak normal bagi Aby.
"Tadi perutnya Sakit tapi setelah digosok minyak telon katanya Kaila sudah sembuh"
"Apa hari ini ia buang air besar seperti biasanya? Fasesnya keras? Atau Lunak?"
"Normal mas seperti biasanya" Senja ingat semua hal tersebut karena ia sendiri yang mengganti popok Kaila, yah meski sudah 3 tahun namun Kaila belum bisa mengontrol pembuangannya sendiri sehingga masih memakai popok.
"Buang air kecilnya bagaimana? Gak kesakitan? Warnanya normal seperti biasa?" Aby mulai mengaktifkan mode dokternya.
Senja terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab "Iya mas, pipisnya juga baik baik saja seperti biasanya".Senja sedikit menunduk, ketegasan Aby sebagai Dokter membuatnya merasa ia bukanlah ibu yang baik.
"Maaf ya, Biasanya aku seperti itu jika berbicara dengan keluarga pasien,sejenak aku lupa kalau gadis kecil ini adalah istriku yang sangat menggemaskan" Aby mengusap surai hitam Senja dengan lembut, ia sadar intonasi suaranya sedikit berubah tadi.
"Iya mas maaf kalau aku kurang memperhatikan Kaila"
"Tidak Senja, kau mami dan istri terbaik bagi kami justru aku yang harusnya minta maaf karena aku kau harus mengurusi keluarga diusia yang masih sangat muda"
"Mungkin Kaila hanya mengalami gangguan pencernaan biasa, nanti akan aku kasih obat" ujar Aby menenangkan sang istri.
__ADS_1
Aby lalu membawa Senja dan putrinya kekamar, malam ini ia memutuskan untuk tidur bertiga. Tak mungkin membiarkan Kaila tidur Sendiri jika ia sedang rewel seperti ini.
Untungnya Ranjang Aby berukuran King size jadi meski harus menambah satu anak lagi tempat tidur itu masih akan muat.
Paginya semua berjalan seperti Biasa Senja bangun pagi dan menyiapkan sarapan setelah sebelumnya ia mengurus pakaian kerja Aby. Kaila juga nampak sudah ceria kembali. Saat ditanya mengenai sakit perutnya ia selalu menggeleng dan itu membuat Senja bisa bernafas dengan lega.
"Mas kemarin ada pasien darurat ya?"
"Kemarin?" Aby yang sudah duduk di kursi meja makan sambil menyeruput kopi buatan Senja mengerutkan Alisnya.
"Iya kemarin mas berangkat jam 4 subuh"
'Astaga!' Aby menepuk jidat dalam benaknya.
Kemarin setelah dari Club menjemput Laras ia memang langsung ke Rumah Sakit, kepalanya pusing setelah melihat wajah Laras dan Nata yang notabene orang asing tapi mengetahui hubungannya dengan Laras dulu.
"Senja maafkan mas lagi, Maaf karena terus terusan meminta maaf" Aby menyimpan kembali cangkir kopinya.
Perasaan Senja mulai tidak enak melihat tingkah sang suami yang seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kemarin seseorang dari club malam memberi kabar kalau Laras mabuk dan tidak sadarkan diri, Mungkin aku salah karena masih peduli namun bagaimanapun ia tetap mama Kaila, jadi aku kesana dan menyewa supir pengganti untuk mengurusnya pulang, aku sama sekali tidak menyentuhnya"
Senja tersenyum getir, ternyata suaminya keluar disaat matahari belum menampakkan sinarnya hanya untuk wanita yang pernah berbagi ranjang dengannya.
"Iya mas tak apa apa" Jawab Senja datar ia membalik badan dan mengaduk bubur Kaila diatas kompor.
Aby menghela nafas berat, ia tahu Senja kecewa meski bibirnya berkata tidak apa apa.
Aby berinisiatif memeluk Senja dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu wanita bertubuh tidak tinggi itu.
"Andai waktu bisa diulang Senja, andai aku bisa kembali dan membawa semua ingatan dimasa sekarang aku lebih memilih melajang hingga usia 33 tahun lalu menikahimu."
"Mas jangan berkata seperti itu, bagaimanapun ada Kaila diantara Kalian, jika mas bicara seperti itu sama saja menyesali keberadaan Kaila" Suara Senja masih terdengar datar.
"Kita bisa membuat Kaila dimasa Sekarang. Iya kan?"
"Mas bicara apa sih? mas ini dokter tidak pantas berbicara hal tidak masuk akal seperti itu, mana bisa seperti itu" gerutu Senja sambil memanyunkan bibirnya.
"Senja," Aby membalik tubuh Senja menghadapnya dan mematikan kompor.
"Mas bodoh jika berhadapan dengan cinta, bahkan hal tidak masuk akal sekalipun bisa aku fikirkan jika itu menyangkut dirimu"
Cup....Sebuah kecupan ringan mendarat dibibir Senja, namun saat Aby ingin mendapatkan lebih bell pintu berbunyi dan mengganggu mereka.
__ADS_1
Aby mengeraskan rahangnya, merutuki siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini, jika itu Bi Asih tidak mungkin karena ini bukan jadwal kunjungannya.