
"Ajak mas mu makan siang berdua" Titah Rini pada Senja, menantunya itu nampak sangat kelelahan dan pucat, mungkin karena jam makan yang tidak teratur selama Kaila masuk rumah sakit.
"Iya bunda nanti aja, nunggu Ayah sama mas Aby kembali" kawab Senja seraya tersenyum.
"Mas mu ada diruangannya, barusan Ayah kirim pesan" Rini memperlihatkan layar ponselnya yang menyala, "Kaila biar bunda yang jaga" lanjutnya lagi.
"Ah, baik bun kalau begitu aku nyusul mas Aby dulu" Sebenarnya Senja tak enak meninggalkan Kaila, namun ia tak ingin membuat Rini kecewa lagi pula sejak tadi berdua bersama Rini wanita paruh baya itu hanya membahas masalah kehamilan.
Makanan apa yang baik ia konsumsi untuk mendapatkan anak laki laki atau perempuan, Posisi berhubungan, yang membuat Senja sedikit bergidik ngeri membahasnya, sampai kepada Dokter Ahli kandungan terbaik di Jakarta yang ia rekomendasikan kepada Senja yang merupakan teman kuliah Rini dulu.
Senja urung membuka pintu yang memang sudah terbuka sedikit itu saat mendengar Laras yang tengah berbicara panjang lebar dengan nafas yang memburu, ia terdengar menuntut sesuatu dari Aby.
Senja sempat tersenyum tatkala Laras mengatakan jika ia akan mendonorkan ginjalnya namun dunianya runtuh ketika wanita yang mengatakan padanya tak lagi mengharapkan cinta suaminya nyatanya meminta untuk dinikahi.
Tubuh Senja Lemas dan bergetar hingga akhirnya ia terduduk di lantai selama beberapa menit. Setelahnya Senja memilih untuk pergi ke taman belakang untuk menenangkan hatinya.
"Gila kamu Laras!" Hardik Aby sambil mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk beberapa kali, seolah mengisyaratkan agar Mantan istrinya itu bisa berfikir jernih.
Menikahi Laras?
Tidak! Aby menggeleng kuat dalam benaknya.
"Mas, aku hanya memintamu menikahiku kau tak perlu menceraikan Senja kita jalani pernikahan ini diam diam ya mas" Laras mengambil kedua tangan Aby dan menatapnya penuh obsesi.Namun Aby segera menyentaknya dengan kuat.
"Sadar Laras, ini kesempatan yang diberikan tuhan untuk menebus dosa dosamu pada Kaila"
"Tidak mas...aku tak punya salah pada Kaila, kau yang bersalah mas!"
"Sinting!!!Aku akan mencari donor lain dan saat aku menemukanny jangan berharap bisa melihat Kaila lagi" Geram Aby, mendorong tubuh Laras hingga ia jatuh tersungkur.
"MAS!!MAS ABY!!"teriak Laras tak karuan seraya menatap kepergian Aby. Ia lalu tertawa bodoh setelah sadar Aby sama sekali sudah benar benar melupakannya, padahal ia fikir Aby akan melakukan apapun demi keselamatan Kaila.
.
.
"Bagaimana kondisi putrimu?" seorang pemuda dengan kondisi pergelangan tangan hingga siku dibalut gips untuk patah tulang menghampiri Senja yang tengah bersendirian disebuah bangku taman, luka seperti ini memang sudah terbiasa bagi Bobby sebagai seorang penjaga keamanan Bar, tak jarang ada orang mabuk membuat keonaran dan memang agak sedikit sulit diatur.
Bobby sudah mengamati Senja beberapa hari ini dari kejauhan karena itu ia tahu gadis kecil yang pernah ia temui di swalayan itu tengah dirawat.
__ADS_1
Letak taman bagian belakang rumah sakit yang tidak terlalu jauh dengan ruang jenazah membuat taman itu selalu dalam kondisi sepi.
Mata Senja yang Yang mulai sembap menyipit dan langsung mengenali sosok tersebut, namun Senja terlalu malas menyapa atau menanyakan kondisinya.
Senja kembali menatap hamparan taman bunga dihadapannya, ia tak terlalu peduli dengan sosok yang kini duduk disampingnya, disebuah kursi taman panjang berukuran satu setengah meter.
"Ternyata apa yang dikatakan temanku memang benar, uang tak bisa memberikan kebahagiaan" Ujar pria bernama Bobby itu.
"Bagaimana kabarnya?" Tanya Senja, tanpa menoleh sedikitpun.
"Entah, dia memutuskan untuk menjelajahi Indonesia katanya. Cih..." Bobby berdecih diakhir kalimat sembari mengingat kebodohan Nata.
"Keliling Indonesia?" Alis Senja bertautan, ia teringat Dimas dan Bunda Maryam yang mengatakan Nata pergi ketempat yang jauh.
"Sebenarnya sibodoh itu ingin keliling Dunia akan tetapi ia tidak punya cukup uang. Dasar pria bodoh bajingan!!" Bobby terdengar menahan amarahnya, ia kesal kini sudah tak punya seorang kawan lagi yang bisa ia ajak menghabiskan waktu.
"Kemana ia?"
"Kau juga mencarinya sama seperti suamimu?"
"Suamiku mencari Kak Nata?" Air mata senja sudah benar benar kering kini, sesaat ia melupakan perkara Aby dan Laras.
Bagaimana Nata yang menjadikannya sebagai motivasi hidup hingga Aby yang enggan lagi merawat Nata setelah tahu jika wanita yang dicintai Nata adalah istrinya sendiri.
"Kak Nata sakit?" Senja masih tidak percaya.
"Aku juga awalnya tak percaya, aku fikir sibodoh itu hanya mengalami magh biasa, tapi ternyata ia tengah menikmati kanker yang menggerogoti tubuhnya"
"Tapi tidak mungkin Mas Aby....."Senja mengingat kejadian dimana Aby mengaku sudah melakukan sebuah kesalahan sebagai seorang Dokter.
"Jangan menyalahkan suamimu, jika jadi dia aku juga akan melakukan hal yang sama, siapa yang mau menyelamatkan nyawa pria yang kelas jelas akan menusuk kita dari belakang"
Senja memegang dadanya yang seakan sesak, nyatanya masalah yang ia anggap sepele ternyata tidak seperti kenyataannya. Selama ini Aby mengetahui semuanya, dan Nata? Senja lalu menatap bobby yang masih duduk disampingnya.
Senja merasa tidak pantas dijadikan alasan untuk Nata mempertahankan kehidupannya.
"Kak Bobby bohong kan?Tidak mungkin kak Nata menganggapku setinggi itu, Tidak tidak..." Senja menggeleng pelan.
"Justru itu kenapa aku menyebutnya bodoh"ujar Bobby.
__ADS_1
Beberapa kali Senja menelan salivanya.
"Apa kepergiannya ada hubungannya denganku?"
Hufht.....Bobbu menghembuskan nafas panjang sebelun menjawab " Menurutmu?"
"Dia ingin melihatmu bahagia Senja, jika ia terus berada disampingmu maka ia tidak tahan untuk terus merecoki rumah tanggamu"
Senja memegang perutnya yang terasa keram.
Mengapa semuanya jadi rumit begini?
"Senja...." Dalam kekalutannya tiba tiba sebuah suara datang dari arah belakang.
Pria berkacamata menggunakan jas putih itu berlari kecil menghampiri Senja.
"Kau disini syukurlah" Aby menarik Senja berdiri dan memeluknya erat ia tak peduli dengan senyuman miris Bobby.
"A-ada apa mas?" Senja berpura pura seolah tak terjadi apa apa, baik dengan Nata maupun Laras. Sementara bahkan deru nafas Abypun kini terdengar sangat khawatir.
"Aku tak bisa menemukanmu dimana mana, Aku takut kau pergi" Mata Aby benar benar berkaca kaca. Bagaimana tidaķ saat ia kembali keruangan Kaila Rini memberitahunya jika Senja baru saja menyusnya keruangan. Dan waktu yang disebutkan Rini persis dengan waktu kedatangan Laras.
Aby yakin seratus persen Senja mendengar semua yang dibicarakan Laras dan dirinya diruangan.
"Mas aku hanya mencari udara segar" jawab Senja sendu sambil mengurai pelukan Senja, bagaimanapun ada Bobby disekitar Mereka.
"Senja aku Duluan"
"Iya Kak"
"Senang bertemu anda kembali Dokter" sapa Bobby pada Aby.
"Kamu...?" Alis Aby bertautan berusaha mengingat wajah tengil dihadapannya.
Yah! Dia Bobby, pikir Aby. sahabat Nata yang ia temui di club malam, suasana remang disana menyulitkan Aby mengenali Bobby dalam keadaan terang seperti ini.
"Oh senang bertemu anda juga" jawab Aby lagi sambil sesekali melirik Senja.
Aby takut Bobby sudah berbicara yang tidak tidak mengenai dirinya kepada Senja, karena pria itu menghardiknya malam itu sebab secara sepihak membatalkan jadwal operasi Nata.
__ADS_1