
Aby menunaikan janjinya kepada Senja, membawa istrinya pulang dan berziarah ke makam Ibunya, Sarah.
Sebuah prasasti kayu dengan ukiran nama Sarah beserta tahun lahir dan tahun kematiannya menancap diatas gundukan tanah merah yang baru saja ditaburi bunga oleh Baruna. Senja menatap Heran kearah Rini yang dengan telaten mencabuti rerumputan kecil yang tumbuh disekitar makam Ibunya.
"Bunda sama Ayah duluan, kasihan Kaila ditinggal sama Bi Asih" Ucap Rini seraya mengusap bahu Senja sebelum meninggalkan Area pemakaman.
"Iya Bunda" Diperlakukan seperti itu membuat Senja rasanya ingin terbang melayang, Aby yang bisa membaca kondisi hati Senja merangkul bahu istrinya itu.
"Mas, Bunda sepertinya sudah menerimaku" Senja mendongak menatap Aby dengan tatapan berbinar.
"Bunda selalu menerimamu sayang, hanya Bunda tidak tahu cara menunjukkannya, ia juga seperti itu padaku"
"Sekarang kita sapa Ibu ya"
"Iya Mas"
Senja duduk disamping pusara wanita yang sudah melahirkannya itu, seorang wanita kuat yang mampu membesarkan bayi kecil hingga berusia 7 tahun tanpa seorang suami disampingnya, Air mata Senja kadang masih menetes tatkala mengingat betapa memilukannya kehidupan mereka dulu sebelum kehadiran Baruna yang mengangkat derajat mereka meski harus menerima cemoohan dari banyak orang.
"Ibu, Senja datang maaf baru sempat menengok ibu" Senja mengusap Nisan Ibunya lembut, "Senja datang sama mas Aby bu, Ibu dulu selalu bercerita kalau anak Ayah sangat tampan, ternyata Mas memang tampan Bu" Senja menoleh dan tersenyum pada Aby yang duduk disampingnya. Sarah memang biasa melihat Aby saat masih Dokter Ahli bedah itu masih SMA dulu.
"Bu...Mas Aby sekarang bukan cuman sekadar masnya Senja, tapi Mas Aby sudah menjadi Imam dan suami bagi Senja, anak Ibu sekarang sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab bu"
"Ibu...." Kali ini Aby yang menimpali, " Terima kasih sudah melahirkan gadis cantik dan baik hati seperti Senja, Aby janji akan menjaga Anak Ibu dan tidak akan menyakitinya lagi, maaf harus ada kata "Lagi"," Aby menunduk penuh penyesalan.
__ADS_1
"Mas Aby tidak pernah menyakitiku bu " Senja mengusap punggung suaminya, " Mas Aby baik sama aku bu, dia mencintai putri ibu apa adanya dan aku juga sangat mencintainya bu" Tatapan Senja tak lepas dari Aby meski ia tengah berbicara dengan nisan ibunya.
"Kamu bukan gadis apa adanya sayang tapi kamu ada apanya, dan yang kamu punya itu spesial" Kini giliran Abu yang mengusap surai hitam Senja.
Setelah dari pemakaman, Aby dan Senja tak langsung pulang, karena Aby menerima pesan dari Rini yang mengabarkan Kaila tertidur sehingga ia meminta Aby membawa Senja berjalan jalan terlebih dahulu.
"Mas kenapa kesini?" Senja menatap bingung hamparan laut dan pasir hitam dihadapannya.
Pria disampingnya yang kini menggengam erat jemarinya hanya tersenyum tipis, "kita belum pernah kencan berdua, anggap ini Kencan kita"Sahut Aby.
Senja menahan tawanya hingga hanya sebuah senyum samar yang tersungging dibibirnya ,"Aku tersinggung mas, memangnya mas gak tau disini juga ada pantai yang pasirnya putih dan lebih halus dari pada disini"
"Kamu gak suka diajak kesini?" Aby mencolek hidung mancung Senja.
"Kemanapun asal sama mas aku suka, cuman kenapa kesini?" Senja menunjuk beberapa Sampah kayu kering yang berserakan dibibir pantai, sepertinya musim barat baru saja berakhir dan menyisakam tumpukan kayu lapuk itu.
sebelum kesini Aby dan Senja tadi terlebih dahulu mampir disebuah cafe yang ramai pengunjung. Disana ada sekumpulan pemuda yang tengah nongkrong dan tak pernah mengalihkan pandangannya dari Senja sementara saat melihat Aby melalui netra Mereka Aby seakan bisa membaca jika mereka berkata dirinya terlalu tua untuk berada disamping Senja.
"Mas, aku ini apa sih. yang seharusnya berbicara seperti itu aku" Senja menghentikan langkahnya yang tengah menyusuri bibir pantai bersama sang suami, tangannya yang satu terulur dan mengusap rahang tegas Aby, sedangngan tangan satunya masih dalam genggaman suaminya itu.
"Mas terlalu sempurna untukku yang hanya seorang gadis yatim piatu dan menum___mphhhhhh" Senja tak bisa melanjutkan perkataannya, padahal ia ingin bilang kalau dirinya hanya menumpang hidup pada keluarga Suaminya.
Karena tiba tiba Aby membekap mulutnya dengan sebuah tautan panas yang saling membelit.
__ADS_1
Pria itu tak peduli ini tempat terbuka dan ada kemungkinan orang melihat kelakuannya, meski pada kenyataaanya pantai itu sangat sepi.
Aby hanya mencegah sekaligus menikmati agar Senja tak berbicara hal yang merendahkan dirinya lagi.
"Ah...ah...ah...." Senja terengah engah dengan nafas yang saling memburu, menatap suaminya dengan tatapan permohonan Ampun.
"Ma_s.. Hhhhh"
"Kalau bicara yang sejenis itu lagi, Mas gak segan segan melakukan hal itu disini" Aby tersenyum smirk. Tentu perkataannya itu hanya sebuah candaan semata, Aby terlalu dewasa dan berpendidikan untuk melakukan hal bodoh semacam itu. Walau berciuman di tempat terbuka juga bukan hal yang wajar.
"Mas ih....." Senja mencubit perut Aby dengan gemas mendengar ucapan tidak senonoh suaminya.
"Idih Kdrt, berani ya kamu"
"Mas!!!!" Senja berteriak histeris saat merasakan tubuhnya melayang keudara, Yah Aby menggendong Senja ala Bridal dan membawanya berlari menuju ombak yang saling memburu.
"Mas!! Aku gak mau basah!"
"Mas! mobil Ayah nanti karatan mas"
Teriakan Senja pun tak dihiraukan Aby, ia terlampau bahagia bisa menghabiskan waktu berdua bersama Senja di luar rumah.
Byur.... Aby menceburkan tubuh mungil istrinya kedalam Air lalu ia juga ikut luruh bersama wanita kesayangannya itu.
__ADS_1
Keduanya larut dalam permainan air layaknya bocah Esde, saling mengguyur lalu tertawa lepas tanpa beban.
'Tuhan ijinkan aku untuk membuat istriku bahagia selamanya seperti ini' Batin Aby yang tak sadar menitikkan air mata namun disamarkan dengan guyuran air Asin yang dilontarkan senja kearah Aby sambil tertawa.