Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 58


__ADS_3

Aby dan Rombonganya akan terbang dengan penerbangan first class, ia membawa serta dua orang perawat yang akan menangani Kaila di pesawat.


Sambil menunggu, Senja mengedarkan pandangan dan ia menemukan sesosok bayangan itu lagi, persis seperti yang diam diam mengamatinya dipantai dulu. Yah Senja yakin kali ini ia tidak salah liat.


Senja Berdiri dan ingin mengejar sosok yang sudah berlalu itu namun Aby mencegat pergelangan tangannya dan itu mendapat tatapan sinis dari Laras yang muak dengan sentuhan antara suami istri itu.


"Senja kau mau kemana pesawat kita akan segera berangkat" ucap Aby.


"Sebentar mas" Senja mengurai genggaman Aby dan berlalu pergi, ia sedikit berlari kecil guna mencari sosok itu.


.


.


Senja ditemukan pingsan di salah satu pojok Bandara yang sangat luas sehiangga ia harus dilarikan di Rumah sakit terdekat.


"Aku harus bersamanya Risya" Ucap Aby pada Risya yang memang turut mengantar mereka ke Bandara.


Aby terus memegang tangan Senja yang kini tak sadarkan diri diatas brankar Ambulance. Wajahnya dialiri peluh dingin melukiskan ia tengah ketakutan dan kalut menghadapi situasi ini.


"Tidak Bisa Aby, kalian harus berangkat hari ini, Senja baik baik saja, semua tanda vitalnya aman ia hanya kelelahan,aku janji akan mengantarnya ke Belanda besok dengan penerbangan pertama"Risya berusaha membujuk Aby.


"Pesawat tidak akan menunggumu, apa kau tega meninggalkan Kaila seorang diri disana?" ucap wanita bertubuh gempal itu lagi.


Aby tahu Senja baik baik saja, ia memang nampak pucat belakangan ini dan kemungkinan tubuhnya sudah tak mampu lagi bertahan sehingga ambruk disaat yang tidak tepat.


"Tidak jangan antarkan ia besok pagi, biarkan istriku beristirahat, aku percayakan Senja padamu Risya jaga dia baik baik" ujar Aby penuh pengharapan pada sahabatnya itu.


"Pasti!" Risya mengangguk yakin.


Aby mengecup wajah Senja bertubi tubi dengan berderai air mata, ia tak ingin meninggalkan Senja disaat seperti ini namun apalah daya kondisi Kaila lebih membutuhkannya.


Pria itu akhirnya keluar dari dalam Ambulance dan hanya bisa menatap mobil putih itu berlalu dari hadapannya dengan hati yang hancur.


Risya membawa Senja kesalah satu Rumah sakit yang paling terdekat dari Bandara, Ia membiarkan Dokter UGD dirumah sakit itu melakukan tugasnya tanpa ikut campur karena ini bukan area kerjanya.

__ADS_1


Kini Senja masih terbaring lemas dengan selang infus yang menempel pada punggung jarinya. Sambil menunggu hasil tes darah untuk melihat kadar HBnya Risya tak berhenti mengamati wajah pucat Senja, hal ini mengingatkannya dengan kondisi dirinya dulu yang juga harus pingsan setelah melakukan operasi selama 8 jam berturut turut tanpa jeda sama sekali, dan setelah pemeriksaan ternyata ia dinyatakan Hamil muda.


"Ah, sus bisa rujuk adik saya ini ke Divisi Obgyn, aku curiga ia mengandung" Pinta Risya pada salah seorang perawat yang kini mengatur aliran cairan infus Senja.


"Iya bu setelah hasil tesnya keluar dan pasien sadar ya" ucap perawat itu ramah.


Dan ditengah peebincangan itu Senja ternyata mulai mengerjapkan matanya.


"Senja kau bisa mengenaliku?" Tanya Risya dengan nada yang tidak terlalu panik.


"Dok-dokter Risya" Jawab Senja Lirih disertai anggukan kepala kecil.


"Ah..Syukurlah"


"Mas Aby??"Senja masih terdengar begitu lemah.


"Suami keras kepalamu itu tadinya bersikeras menjagamu, tapi aku berhasil memaksanya untuk terbang terlebih dahulu bersama Kaila" Risya tersenyum sebisa mungkin ia tidak membuat Senja khawatir.


"Syukurlah, Maaf merepotkan Anda Dokter" Senja terlihat penuh penyesalan. Seandainya ia tak mengikuti Seseorang yang ia Fikir Nata itu mungkin ia tak akan sampai kelelahan dan pingsan di Bandara.


"Terima kasih banyak Dokter"


"Sama sama sayang"


"Anda seorang Dokter?" Perawat yang sejak tadi mengamati interaksi kedua wanita beda usia itu bertanya.


"Iya sus, saya Dokter Bedah di RS.X" Laras menyebutkan sebuah nama Rumah Sakit Swasta terbesar yang menjadi langganan orang orang penting di Indonesia.


" Ah...begitu ya, kalau begitu karena pasien sudah sadar akan kami pindahkan di Ruang rawat, namun sebelumnya Adik anda akan kami bawa ke Divisi Obgyn terlebih dahulu. Selang beberapa Menit seorang perawat dari Laboratorium membawa hasil tes darah Senja yang langsung diperiksa Dokter Jaga di IGD. Senja baik baik saja seperti perkiraan Dokter Risya, hanya HBnya saja yang sedikit turun yakni 10,2. Senja tak memerlukan Transfusi hanya perlu makan makanan yang bergizi.


"Dokter Risya kenapa disini??"


"Sudah tenang saja" Risya mengusap kepala Senja yang kini duduk diatas kursi Roda menunggu sang Dokter ahli kandungan mewawncarai mereka.


" Nyonya Senja Anindita, kapan terakhir kali anda datang bulan?" tanya Dokter Obgyn.

__ADS_1


Senja nampak bingung dan menoleh menatap Risya yang duduk disampingnya, Dokter itu mengangguk memberi isyarat agar Senja menjawab pertanyaan Dokter dihadapannya.


sejak menikah jadwal menstruasi Senja memang tak menentu sehingga ia lupa. Namun sepertinya bulan ini Senja juga tak mendapatkan tamu bulanannya.


"Sepertinya Bulan Lalu Dok" Jawab Senja Ragu.


Dokter obgyn dan Risya saling berpendangan sebelun Wanita berjas putih itu memutuskan untuk langsung memeriksa dengan alat USG.


Senja dibantu seorang bidan untuk berbaring, bajunya disingkap keatas dan diolesi gel bening yang lengket.


Gadis itu terus menggigit bibirnya gugup, ia tahu alat itu adalah alat yang digunakan Dokter untuk memeriksa Bayi karena Senja biasa melihat Rini memakainya di Rumah sakit bersalin miliknya.


Senja keringat dingin, antara takut dan bahagia jika benar nanti dikatakan ia tengah mengandung.


Ia yakin Aby akan bahagia menerima kabar ini namun rasanya ia tak rela harus berbahagia ditengah kondisi Kaila yang semakin tidak stabil.


Senja menatap layar yang tak bisa ia terka gambarnya itu dengan perut yang terus di tekan oleh sebuah alat yang terhubung dengan layar usg.


"Anda mengandung dan usianya sudah 8 minggu"


"Hah...." Senja sampai tak bisa mengatupkan rahangnya, itu artinya sebelum pulang kekotanya Dirinya sudah mengandung namun tak menyadarinya.


"Itu biasa terjadi senja, iyakan Dok" Risya seakan tahu apa yang difikirkan Senja sehingga ia merasa perlu pembenaran dari Dokter yang berwenang.


"Benar, salah satu pasienku bahkan baru menyadarinya saat sudah berusia 4 bulan" Dokter Obgyn itu tersenyum.


"Ja-jadi sa-saya hamil Dok?" Senja masih ingin memastikan. Risya dan Dokter yang memeriksanya mengangguk bersamaan.


Senja menangis bahagia, bukan tak merasakannya namun Senja tak menyadarinya, ia memang bebrapa kali mengalami gejolak diperut dan akhirnya berakhir muntah dikamar mandi ia juga tak menyukai bau yang begitu menyengat akhir akhir ini seperti bau bawang dan bau farfum. Senja ingat pernah mual mencium bau farfum Laras yang tertinggal ditubuh Kaila dan Aby.


"Dokter Risya Aku sudah merasakan ngidam"


"Iya sayang sekarang kamu baru ingat kan dengan apa yang kamu rasakan akhir akhir ini?" Risya mengusap pucuk kepala Senja.


"Kita sama persis Senja, meski Seorang Dokter namun aku juga selalu tak sadar diawal jika tengah mengandung" lanjut Risya Lagi.

__ADS_1


__ADS_2