
"Kau serius akan mengundurkan diri By?" Risya nyaris saja tersedak jus buah naga yang baru diseruputnya mendengar penuturan Aby.
Aby memang belum mengajukan surat pengunduran diri namun ia sudah meminta kepada asistennya untuk mengurangi jadwal operasinya dan mengalihkannya pada dokter bedah lainnya. Ia hanya akan fokus dengan jadwal yang sudah ada. dan Risya menjadi orang pertama yang ia beritahu.
"Harusnya kau berembuk dengan orang tuamu dan Senja terlebih dahulu" Usul Risya, ia tahu betul impian Aby adalah bekerja dirumah sakit besar dengan jadwal operasi yang padat. Yah secinta itu Aby pada pekerjaannya hingga lelahpun kadang tak ia rasakan.
Aby berasal disalah satu kabupaten di Pulau yang nyaris menyerupai huruf K yang terkenal dengan tambang nikelnya, dan Risya tahu disana hanya ada satu rumah sakit umum daerah yang lumayan besar namun fasilitasnya tidak terlalu lengkap mereka bahkan harus merujuk pasien ke kota provinsi hanya untuk melakukan CT scan, lantas apa guna Aby disana? Dia hanya akan melakukan operasi tertentu. Ketererampilan Aby dalam mengangkat, tumor, transplantasi dan operasi besar lainnya tak akan digunakan kecuali ia bekerja di Rumah sakit umum provinsi disana tapi Risya Yakin Baruna tak akan mengijinkannya, ayah otoriter itu akan mengunci putranya saat ia kembali. Baruna memang tak pernah mengijinkan Aby mengambil jurusan kedokteran, ia berharap Aby mengambil jurusan bisnis atau sejenisnya untuk melanjutkan perusahaannya yang notabene bisa menghasilkan cuan berkali kali lipat lebih banyak dari pada gaji seorang Dokter.
"Kau tahu orang tuaku sudah lama berharap aku kembali, dan Senja....." Aby menghela nafas panjang" Aku melakukannya demi istriku, aku ingin kami hidup dengan tenang disana"
Kali ini Risya mulai paham maksud Aby, ia menyandarkan punggungnya sambil melipat tangan didepan dada. Risya sudah mendengar pasal kejadian di Resto depan, Soal Laras yang seolah menjebak Aby untuk makan siang bersama. Memalukan sekali, Dan wanita itu bahkan masih begitu percaya diri berjalan dikoridor rumah sakit.
"Bukankah kau ingin menjadi seorang Profesor? Yang jurnalnya diterbitkan dan menjadi bahan pembelajaran bagi para mahasiswa kedokteran?" Risya sekali lagi mengingatkan cita cita Aby, ibu dua anak itu tak ingin Aby menyianyiakan bakatnya.
Aby tak menanggapi, pengaruh Senja memang begitu besar dihidupnya ia bahkan lupa cita cita nya menjadi seorang yang berdedikasi untuk dunia kesehatan, baginya hidup dengan Senja adalah cita cita tertingginya saat ini.
Aby menyeruput kopi dihadapannya lalu tersenyum miris, bahkan untuk soal kopi pun ia masih memikirkan istrinnya, kopi buatan SenJa bahkan lebih enak dari pada buatan siapapun.
"Jangan lagi katakan kau melakukannya demi istrimu!"Geram Risya melihat sikap tak acuh Aby. Namun wanita bertubuh gempal itu masih setengah berbisik, ia tak ingin pengunjung kantin yang hanya beberapa biji mendengar kemarahannya.
"Kau melakukannya bukan karena Senja tapi karena Laras, kau ingin ia tak lagi mengganggu rumah tanggamu iyakan?"
"Bukankah sama saja? Aku melakukannya demi Senja agar wanita itu tak lagi merecoki istriku" jawab Aby santai.
"Kau kurang tegas Aby"
"Kurang tegas apa lagi?"
"Hentikan semua aliran dananya"Tukas Risya dengan tatapan yang mengancam.
"Itu tidak mungkin, kau tau sendiri keadaannya seperti apa, Laras sudah tidak punya orang tua dan kerabat yang bisa menopang hidupnya"
"Cih...ini yang akan membuat rumah tanggamu rusak, rasa Iba!" Risya yang kesal segera meninggalkan Aby. Pria yang dianggapnya masih bodoh seperti dulu.
.
.
.
__ADS_1
Aby terus berfikir, memang kenapa jika ia masih mengirimkan dana untuk Laras, toh tidak lama lagi pendidikannya selesai, ia melakukan ini juga demi Kaila.
"Dok kenapa jadwal operasi yang minggu depan dibatalkan? Pasien sudah selesai melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, semua berkasnya juga sudah lengkap" Heran seorang perawat pria yang merupakan asisten Aby.
"Alihkan ke Dokter Risya atau dokter bedah lainnya" Jawab Aby santai sambil terus membaca beberapa rekam medis pasien dihadapannya.
"Tapi pasien secara khusus meminta agar tidak ditangani oleh dokter wanita"
"Sejak kapan pasien punya hak untuk memilih seorang Dokter" Aby menutup map didepannya dengan keras.
"Baik dok lalau begitu" Sang asisten pamit tanpa protes lagi, jika sudah mode seperti ini biasanya Aby akan berubah menjadi seekor Singa. Dan perawat itu tak ingin mengambil resiko menjadi santap sore sang singa Rumah sakit.
Saat hendak kembali melanjutkan aktifitasnya ponsel Aby tiba tiba berdering.
Bunda calling...
"Bun" sapa Aby lembut.
"Apa benar kau akan mengundurkan diri dan kembali kesini?" Tanya Rini tanpa basa basi. sebagai orang yang paling mendukung putranya mengikuti jejaknya tentu Rini tidak setuju. Kembali ke kota mereka berarti Aby akan melanjutkan bisnis Ayahnya. Bukan Rini tak ingin Aby mengambil alih aset Baruna hanya saja untuk sekarang ini Aby masih terlalu muda meninggalkan karir kedokterannya.
"Risya yang telepon Bunda?" Tebak Aby, ia memijat pangkal hidungnya.
"Iya, Aby apa kau pernah bertanya Senja lebih suka tinggal dimana?"
"Jika kau ingin kembali tolong pastikan kondisi mental istrimu lebih kuat dari sebelumnya, dan itu bukan sekarang, mungkin butuh beberapa tahun lagi" Suara Rini bergetar seperti menahan tangis.
"Maksud Bunda apa? ada apa dengan mental Senja? Dan kenapa ia harus memilih lebih suka dimana? Bukankah disana adalah kota kelahirannya?"
"Bunda banyak bersalah dengan gadis itu"
.
.
.
Aby lagi lagi memeluk Senja, tubuh kecilnya benar benar terbenam dalam raga kekarnya.
"Mengapa semakin hari kau begitu menggemaskan?" ucap Aby sambil mengecup wajah Senja bertubi tubi ia bahkantak peduli ada sisa saliva yang melekat disana serta krim malam Senja yang seakan ikut menempel dibibirnya.
__ADS_1
"Mas gak mau tidur sudah pukul 11 malam loh, gak capek? " Senja mengingatkan karena suaminya itu baru pulang dari Rumah sakit jam 10 tadi. Lagi lagi Aby lembur.
"Senja, boleh aku bertanya?" Aby memainkan Jemarinya diwajah teduh Senja, wajah rupawan yang membuatnya selalu ingin segera pulang kerumah, wajah yang bahkan selalu muncul dalam benaknya bahkan ketika diruang operasi pun. Bukan untuk memecah konsentrasinya namun sebagai penambah semangatnya.
Aby terus terngiang tangisan Bundanya di telepon tadi. Tangisan rasa bersalah yang baru Aby ketahui kebenarannya, jika saja dari dulu Rini jujur tentu Aby akan menerima kehadiran Senja dengan baik bahkan sejak pertama kali gadis itu masuk kedalam keluarganya. Ia juga tak akan memupuk kebencian mendalam kepada Wanita yang telah melahirkan sosok gadis Cantik untuknya.
"Tanya Apa mas?"
"Apa kau ingin kembali ke kota kita?"
'Tidak!' namun tentu jawaban itu hanya bisa diungkapkan Senja didalam hati.
"Dimanapun mas membawaku aku akan ikut" dan akhirnya jawaban seperti itu yang keluar dari bibir tipis Senja. Gadis itu tetap tersenyum.
'Gadis itu memikul beban yang sangat berat sejak usianya 7 tahun'
Aby teringat kata kata sang Bunda, jika Senja dan ibunya sudah menjadi bahan bulan bulanan orang sejak lama karena kesalahan Rini.
Rini pernah menderita sakit yang tidak memungkinkan ia memberikan kebutuhan biologis untuk suaminya, itu sekitar 12 tahun yang lalu. Rini sudah berusaha membujuk Baruna berpoligami namun pria keras kepala itu tetap tak mau membagi cintanya dengan wanita lain. Sampai akhirnya ia memaksa Baruna untuk menikahi Sarah ibu dari Senja yang bekerja sebagai cleaning Service di Rumah sakit bersalin miliknya, Awalnya sarah menolak namun setelah diancam akan dipecat akhirnya sarah luluh sebagai orang tua tunggal dengan gelar tamatan smp tentu sangat sulit mencari pekerjaan.
Begitu pula Baruna, Rini yang mengancam akan menceraikannya akhirnya menuruti keinginan gila istrinya.
Rini membuat Sarah berjanji jika selama pernikahan mereka Sarah tak boleh hamil, karena Aby akan menjadi satu satunya penerus keluarga Mereka.
Namun sekitar 3 tahun yang lalu sarah ternyata hamil dan Rini marah besar, padahal saat itu ia sudah ada niatan untuk menyuruh Baruna menceraikan sarah karena ia sudah kembali sehat. Namun semarah marahnya Rini ia tak tega menyuruh Sarah menggugurkan kandungannya, Rini akhirnya menerima kehamilan madunya, namun karena rasa bersalah pada Rini yang sudah memberikannya materi dan bisa menyekolahkan Senja saat itu Sarah akhirnya melakukan hal bodoh ia sengaja memakan makanan yang bisa memicu keguguran hingga akhirnya nyawa Sarah tak tertolong lagi dan meninggal setelah pendarahan yang hebat.
Senja tak pernah tahu mengenai rahasia kehidupan ibunya itu.
Sejak saat itu Rini mengasuh Senja yang baru saja masuk SMA, ia memberikan semua kebutuhan yang terbaik bagi gadis itu, namun satu yang tak bisa Rini lakukan, yakni menunjukkan kasih sayangnya ia takut hanya dengan menatap lekat gadis itu ia akan menangis dan berlutut untuk meminta maaf pada Senja meski memang sebenarnya harus ia lakukan.
Mata Aby berembun hingga akhirnya dua butir air bening itu jatuh dan membasahi pipinya.
"Mas menangis?" Heran Senja, ia hendak duduk namun Aby kembali menariknya untuk tetap berada dalam pelukannya.
"Maafkan mas Senja" Aby berusaha menahan air matanya namun tetap tak bisa, senjapun dibuat semakin panik. Gadis kecil yang tak pernah ia senyumi itu ternyata menyimpan luka yang disebabkan oleh ibu kandungnya sendiri.
"Mas...jangan begini aku takut mas kenapa napa"
"Tidak apa apa sayang, tidurlah aku hanya terlalu rindu dan takut kehilanganmu" ucap Aby.
__ADS_1