Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 48


__ADS_3

"Mas kamu gak bisa melakukan ini! Kaila juga putriku mas" Ucap Laras mencegat Aby yang hendak membuka pintu mobilnya.


Aby menghempaskan tangan Laras lalu mengedarkan pandangan keseluruh area parkir melihat apakah ada orang lain disekitar sana, dan untungnya tidak ada.


"Laras pelankan suaramu!" ujar Aby tegas.


"Mas....bagaimana bisa kau melarangka bertemu Kaila disaat ia sudah mulai menerima keberadaanku" Laras memelas dengan lelehan air mata membanjiri pipinya.


"Kau licik ras!!" Aby menunjuk wajah Laras tepat didepan hidungnya, "Aku tahu apa yang ada dikepalamu, tapi maaf apapun yang terjadi kita tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu, sekuat apapun usahamu"


"Mas!"


"Terima keputusan ini atau kuhentikan aliran danamu"


"Hehe..." Laras tertawa sumbang, ia menatap Aby tajam kemidian merogoh saku jas kebanggaannya.


Laras memang sudah menyiapkan segalanya, sebuah kartu kredit, kartu debit dan kunci mobil Lcgc ia keluarkan dan ditaruh diatas kap mobil Aby. Sementara Apartemen tak bisa ia kembalikan karena memang itu bukan milik Aby statusnya hanya sewaan.


Laras tahu Aby bukan pria pecundang yang akan mengambil kembali apa yang sudah ia berikan maka dari itu ia berani menggertaknya.


"Ambil semua mas! Ambil!" ujar Laras tanpa rasa takut sedikitpun. "Sedikit dikit dana, dana, dana hanya uang yang ada dikepalamu mas!" Marah Laras, kali ini ia ingin totalitas terlihat begitu peduli pada putrinya, meski sebenarnya dilubuk hatinya yang terdalam Laras memang menyayangi Kaila dengan sepenuh hati walau kondisi balita itu tidak sempurna seperti kebanyakan anak anak yang lainnya.


"Kau paling tahu pantang bagiku mengambil apa yang sudah kuberikan" Aby mengambil semua yang disimpan laras dan membuangnya tepat diwajah mantan istrinya itu.


"Mas" Sebuah suara lembut nan mendayu mengalihkan atensi keduanya, hingga hanya deru nafas memburu yang tersisa dari luapan Emosi masing masing mantan pasangan halal itu.


"Senja" ucap dan Laras bersamaan.


"Senja" Aby segera menghampiri istri yang tengah menggendong anaknya itu, lalu memeluk keduanya"ini tidak seperti yang kau lihat, tolong jangan salah pa__"


"Aku tahu mas" Senja segera memotong kalimat Aby, dari kejauhan ia bisa melihat jika keduanya bukan sedang bermesraan melainkan bertengkar.


 Sore ini Aby dan Senja janjian akan pergi ke Panti bersama sama, maka dari itu Aby memilih untuk pulang lebih cepat yakni pukul 3 sore. Namun ia tidak tahu jika Senja dan Kaila justru menyusul ke Rumah Sakit.


"Kamu kenapa disini?" Tanya Aby yang sudah mengurai pelukannya.


"Mas gak baca pesanku? Aku tadi bilang mau nyusul aja dengan taxi online" Senja tersenyum pada Aby dan juga Laras, namun Laras malah menatapnya sinis kemudian tersenyum pada Kaila yang menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Senja.

__ADS_1


Senja menyadari kekecewaan Laras ia lalu membawa Kaila kehadapan Laras.


"Mbak mau gendong Kaila?" Tawar Senja.


Namun saat Laras hendak mengambil Kaila gadis kecil itu malah berteriak histeris memanggil Maminya sehingga Laras menarik kembali tangannya.


"Kau lihat mas, betapa susah aku membuatnya mengenalku kini ia kembali merasa asing denganku" Geram Laras pada Aby, Kaila memang sudah beberapa hari tak melihat Laras sehingga ia kembali enggan digendong Ibu kandungnya itu.


"Itu karena kau tidak tulus Laras"


"Mas!!"


"Ayo Senja" Aby menarik Senja dengan paksa dan membawa wanita itu duduk disamping kemudi,ia kemudian mengitari mobil Pajeronya dan duduk di sebelah Senja, meninggalkan Laras dengan semua sumpah serapahnya. Namun saat kendaraan Aby sudah tak terlihat Laras kembali memungut barang yang tadi dibuang Aby sambil tersenyum jahat.


"Mas kenapa bilang mbak laras tidak tulus? Tak ada seorang ibu yang pura pura menyayangi anaknya, mbak laras pasti sedih".


"Kaila bukan type anak yang mudah lupa Senja, kau ingat aku pulang ke rumah Bunda hanya tiap cuti saja dan setiap kali kami datang Kaila bisa langsung akrab kembali denganmu, padahal kalian tak bertemu selama berbulan bulan"


Senja terdiam menatap Kaila dipangkuannya, "Iya ya mas, aku juga heran padahal sama pengasuhnya saja Kaila sangat susah dekat" lanjutnya.


"Ih..mas kan jadi berantakan" Protes Senja seraya kembali merapikan rambutnya.


"Papa janan gangu mami" ucap Kaila menatap tajam sang papa.


"Iya iya sayang, Kaila juga mau?" Aby kemudian mengusap kepala gadis down syndrom itu agar mimik wajahnya bisa kembali ceria.


"Kan, Kaila jadi marah. Mas sih gangguin maminya" Senja mengusap lembut pipi Kaila lalu mengecupnya.


"Iya iya papa gak akan gangguin Mami Kaila lagi" Aby mengambil tangan senja yang menganggur lalu menautkannya dengan jemarinya sedangkan tangan yang satunya sibuk mengendalikan kemudi.


Keduanya senyam senyum sendiri selama perjalanan seperti seseorang yang baru saja mengenal cinta.


.


.


.

__ADS_1


"Ah...jadi anda suaminya nak Senja? Pak Abyansyah Baruna Putra?" Bunda Maryam begitu antusias bertemu Aby, selama ini ia hanya tahu nama Aby melalui Senja yang rutin memberikan donasi dari suaminya.


jemari keriput itu terulur menjabat tangan seseorang yang sudi menyisihkan tidak sedikit namun sangat banyak rejeki yang dibawa Senja hampir setiap minggu.


"Panggil Aby saja bu" Ujar Aby.


Aby lalu diajak berkeliling oleh maryam disekitar panti sementara Senja dan Kaila langsung ke halaman depan guna bermain bersama anak anak lainnya.


Dihalaman luas itu Kaila sangat suka berlari lepas bersama kawan sebayanya, sedangkan senja hanya mengawasinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Saat tengah duduk seorang diri Senja didekati oleh Dimas, bocah tuna rungu itu menangis dan menghambur kedalam pelukan Senja.


"Dimas kenapa?" Tanya Senja meski ia tahu Dimas tak akan pernah mendengarnya, ia mengusap punggung bocah lima tahun itu.


"Kangen kak Nata kak" Sosor seorang anak yang usianya mungkin sekitar 7 tahun, salah satu penghuni panti juga, ia mengambil bola yang tadi menggelinding dibawah kaki Senja.


"Memangnya Kak Nata belum menjenguk Dimas?"


"Udah kak, tiga hari yang lalu kak Nata datang tapi kata kakak kakak yang lain kak Nata datang buat pamit sama bunda" kakak kakak yang dimaksud anak itu adalah para penghuni panti yang sudah berusia dewasa.


"Kakak kakak tidak sengaja mendengar Kak Nata bilang sama Bunda kalau dia bakalan pergi jauh" Bocah laki laki itu kemudian tertunduk lesu.


"Pergi Jauh?" Beo Senja.


Namun saat ia hendak bertanya lebih jauh Suaminya dan juga Bunda Maryam sedang berjalan kearahnya.


Anak 7 tahun itupun kembali kelapangan untuk bermain bola bersama kawan kawan yang lainnya termasuk Kaila.


"Dimas Nangis lagi? Astaga sini sayang" Bunda Maryam menarik pelan tubuh Dimas dari dalam pelukan Senja.


Bunda maryam terlihat berbicara isyarat tanpa suara sehingga Senja tak paham apa yang ia katakan, Hal itu membuat Dimas kembali kelapangan guna bermain bersama yang lainnya.


"Dimas katanya...."Senja tak melanjutkan perkataannya saat Aby sudah duduk disisi sebelah kirinya sedangkan Maryam disebelah kanannya.


"Bocah itu masih perlu beradaptasi, dia tidak apa apa nak tidak usah difikirkan" ucap Maryam menenangkan namun tak bisa menyembunyikan raut kesedihan diwajahnya.


Untuk menghargai Senja dan Aby Maryam menemani mereka berbincang hingga Kaila akhirnya kelelahan dan meminta untuk tidur dipangkuan Senja. Aby pun pamit dan seperti biasa ia menitipkan segepok Uang didalam Amplop sebelum meninggalkan Panti.

__ADS_1


__ADS_2