Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 66


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Meski tak berjanji namun Aby menuruti keinginan Senja, ia tak lagi mengunjungi Laras.


Terakhir kali Aby mentransfer uang sebanyak 1 milyar sebagai bentuk tanggung jawab Aby yang terakhir kalinya dan ia tak menyembunyikannya dari Senja. Meski sedikit terusik namun Senja masih bisa menrimanya.


Ia membiarkan Risya mengurus semuanya. Laras juga tahu diri, setengah tahun lagi ia akan menyelesaikan studynya dan saatnya ia kembali ke Rumah sakit Universitasnya.


Kaila juga sudah kembali ke Apartemen, Gadis kecil itu mulai bisa berjalan dan berlari lari kecil meski Senja tetap menjaganya ekstra tanpa bantuan baby sitter sama sekali.


Perut Senja yang mulai membuncit menyebabkan pergedakannya kadang terhambat.


"Kaila jangan lari lari lagi ya....Mami lelah ngajar Kaila" Senja mendudukkan bokongnya pada sofa empuk di ruang tengah dengan nafas yang tersenggal senggal.


"Iya Mami" Kaila yang memang hanya bisa menuruti Senja akhirnya kembali duduk diatas karpet dan bermain dengan segala mainan keroppinya.


Tak lama kemudian ponsel yang berada disamping Senja berdering, wanita hamil 7 bulan yang nampak mempesona dengan daster rumahannya itu segera menjawab panggilan video yang ternyata dari mertuanya.


"Bagaimana kabarmu? " Rini terlihat duduk di ruang kerjanya yang berada dirumah sakit bersalinnya.


"Baik bunda, bunda gimana?"


"Tekanan darah bagaimana? Kau terlihat pucat, apa kau makan dengan baik? Kapan Aby membawamu pulang? Waktu yang kau punya tidak banyak! Kenapa suamimu itu begitu keras kepala!" oceh Rini desertai rentetan pertanyaan yang menghawatirkan kondisi Senja dan calon cucunya.


"Baik Bunda, Mas Aby masih banyak pekerjaan katanya beberapa minggu lagi" jawab Senja, Mertuanya itu memang kerap kali mengomel seperti itu yah Senja sadar Rini menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.


Aby berencana membawa Senja untuk melahirkan di kota mereka, meski Fasilitas kesehatan di Jakarta jauh lebih baik namun mereka tak punya kerabat yang bisa menjaga Senja disini pasca melahirkan maka dari itu Rini Ngotot meminta pada Aby agar membawa pulang menantunya itu.


Aby pun belum bisa menyerahkan surat pemgunduran diri karena masih terikat beberapa pekerjaan.


"Mas" Senja dengan perut buncitnya menghampiri Aby yang selalu pulang dalam keadaan bersemangat tak peduli dengan rentetan kelelahan yang menimpa raganya.


Baginya senyum Senja dan melihat keadaan Istrinya dengan perut buncitnya bagai isi daya tersendiri bagi Aby.


"Kamu gak menyusahkan mami kan" Aby lekas berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri, ketika ia menempelkan tangannya disana Aby merasa bayinya menendang seakan menyambut kepulangannya.


"Gak dong kan Baby anak baik Papa" Jawab Senja.

__ADS_1


Aby lalu berdiri dan mengecup kening istrinya, wanita yang terlihat semakin cantik dengan tubuh yang sedikit berisi.


"Mas, Bunda tadi telepon, ia lagi lagi bertanya kapan kita pulang? Saat perutku sudah 8 Bunda tak mau aku naik pesawat"


"Iya sayang aku akan ambil cuty untuk antar kamu dan Kaila pulang ke Sulawesi"


" Cuman antar? Mas gak nunggu sampai aku lahiran?"


"Mas akan pulang lagi pada bulan persalinanmu sayang, masih banyak yang harus diselesaikan disini"


*


Senja membawa teh hijau untuk menemani Aby di Ruang kerjanya, namun saat ia hendak beranjak pria itu tiba tiba mencekal pergelangan tangannya hingga ia akhirnya harus berakhir dipangkuan Sang suami.


"Mas aku berat loh" ujar Senja sambil mengerucutkan bibirnya, namun Aby justru semakin erat melingkarkan kedua tangannya dipinggang Senja.


"Oh iya coba lihat ini" Aby menyodorkan ponsel yang menampilkan salah satu gambar rumah panggung yang terbuat dari kayu jati dengan kualitas super.


"Ini apa mas?" Senja menautkan alisnya, ia tahu suaminya akhir akhir ini banyak melihat brosur brosur Rumah Unik, kemarin Senja mendapati sebuah brosur diatas meja kerja suaminya dari berbagai daerah, entah apa yang sebenarnya ia cari.


"Rumah ini Jaraknya hanya dua jam dari Rumah Bunda, Aku ingin membelinya kita akan tinggal disana"


"Aku mau tinggal sama bunda dan Ayah saja mas" Senja memang merasa nyaman dengan kedua mertuanya dari pada harus pisah rumah, Para pelayan di rumah mewah Baruna juga tak ada yang memperlakukannya dengan buruk.


"Kalau begitu kita akan tetap membelinya sebagai Rumah Liburan saja, bagaimana kamu setuju?"


Senja menghela nafas, "Itu terserah mas saja namun, untuk tempat tinggal tetap sama Bunda ya"


"Iya sayangku" Aby akhirnya menurunkan Senja dari pangkuannya,"Aku mau kekamar mandi sebentar" Aby mengecup pipi istrinya sebelum pergi.


Langh Senja terhenti saat ia mendengar notifikasi pesan dari ponsel Aby, biasanya ia tak ambil pusing namun Kali ini Entah Mengapa Senja ingin memeriksanya, yah lagi lagi hormon kehamilan mengganggunya.


Senja sama sekali tak memegang ponsel Aby, ia hanya membaca Notifikasi berupa potongan pesan dari sebuah kontak baru.


'Mas ini aku Laras, maaf menghubungimu melalui____'

__ADS_1


Senja tentu harus membuka ponsel itu sepenuhnya untuk membaca kelanjutannya, Dada Senja bergemuruh Hebat saat Laras kembali menghubungi suaminya, Senja Tahu Aby sudah lama memblok kontak mantan istrinya itu, sejak pindah dari rumah Sakit, Aby juga tak pernah bertemu Laras lagi, apalagi mencari tahu keberadaan mama Kaila itu.


Tangan Senja bergetar saat sudah memegang ponsel Aby yang memeng belum terkunci karena Aby meninggalkannya dalam kondisi layar menyala.


Beberapa bulan tak di ganggui masalah Laras membuat Senja cukup tenang.


'Mas ini aku Laras, maaf menghubungimu melalui kontak baru karena aku tahu kau memblok kontakku, aku tak peduli jika setelah ini kau kembali memblokku, aku hanya ingin bilang terima kasih atas hadiah terakhirnya'


Senja terduduk lemas dengan perut yang terasa keram. Peluh dingin tiba tiba bercucuran dari pelipisnya saat melihat gambar rumah type 45 bergaya minimalis yang dikirimkan Laras.


Tidak bukan masalah uang atau rumah, Senja tak pernah peduli pada uang Aby yang ia habiskan untuk apa, ia hanya tak bisa menerima jika Aby masih berhubungan dengan Laras. Senja sadar ia terlalu egois padahal ada Kaila diantara mereka, tapi ia bisa apa jika keinginan itu datang dari dalam dan itu baru muncul saat ia mengandung.


Senja menangis dan beranjak menuju kamarnya, ia tak menghapus pesan Laras namun mengembalikan layar Ponsel Aby seperti diawal.


Apakah karena itu Aby banyak membaca brosur perumahan?


Senja benar benar tak bisa menahan gejolak cemburunya, ia tertidur dalam kondisi menutup seluruh tubuhnya dengan Selimut. Dan Aby sempat bertanya tanya apakah Senja memang semengantuk itu sehingga tak bisa menunggunya, padahal biasanya ia dan Senja menghabiskan waktu hingga tengah malam hanya untuk bersenda gurau.


Saat pagi hari Senja mencoba bersikap biasa saja, ia melayani Aby seperti sedia kala seolah tak mengetahui apapun.


"Mas gak minat beli rumah di Bogor?" Senja sengaja memancing Aby, Laras memang sudah kembali ke Kota hujan itu tempat dimana ia kembali bertugas di Rumah Sakit universitasnya.


"Bogor?" Aby yang tengah menikmati nasi goreng buatan Senja menautkan Alis bingung, "Kenapa? Kamu berminat punya rumah disana?" Tanya Aby ragu, memang kedengarannya tak mungkin karena Senja sama Sekali belum pernah kedaerah sana.


"Enggak cuman nanya mas" Senja memutar bola matanya malas, dan Aby bisa melihatnya dengan jelas.


"Kamu mau rumah disana?" Nada bìcara Aby terdengar seolah tengah membujuk istrinya.


"Tidak mas" Senja mencoba tersenyum meski terlihat begitu kecut.


Aby tak ingin memperpanjang perdebatan ini ia tahu mood Senja memang berubah ubah sejak hamil, ia memutuskan sarapan dengan tenang tanpa berbicara lagi.


.


.

__ADS_1


Melapas kepergian Aby ke rumah sakit Senja kembali kekamar Kaila, menjaga putrinya yang masih tertidur sambil memainkan ponselnya, Senja lalu melakukan panggilan ke Rini.


"Bunda, kalau aku pulang Sendiri bagaimana Bun? Mas aby bisa menyusul belakangan" ucap Senja setelah sebelumnya berbasa basi menanyakan kabar.


__ADS_2