
Sambil memutar tutup botol yang sedikit keras Senja menatap kemuning yang terlihat begitu indah, Nata tak berbohong Senja disini memang beda dari yang lain seakan Senja merasa berada lebih dekat dengan pancaran cahaya jingga yang menghiasi ujung cakrawala.
Krek...botol itu akhirnya terbuka, anak laki laki yang tadi juga sudah kembali. Namun sebelum pulang ia sempat berpesan agar Senja tidak berlama lama disekolah ini karena saat malam maka tak ada lagi cahaya yang akan menemani peerjalanan pulangnya ke rumah kepala Sekolah.
Senja menumpahkan semua isi botol air mineral itu lalu mengambil sebuah gulungan kertas yang dibungkus plastik dan lilitan selotip bening. Meski berada didalam air namun kertas itu sama sekali tak basah.
Senja akhirnya bisa membuka gulunganya dan mendapati rangkaian aksara indah yang ditulis sendiri oleh Nata.
Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menemukan tempat ini adik cantikku?
Satu tahun, dua tahun, sepuluh tahun ? Atau kau sama sekali tak pernah membuka gulungan ini?
"Bahkan tidak sampai setahun kak Nata" Senja seakan membalas ucapan Nata yang ia tulis dalam surat itu, ia masih bisa tersenyum meski hanya dengan sebuah surat namun Senja puas, ia seakan bercengkrama langsung dengan sang pemilik tulisan.
Jika kau tak pernah membukanya biarlah aku menulisnya sebagai orang bodoh.
Senja apa kau sudah melihat Senjaku disini? aku paling suka bagian teras belakang sekolah, itu adalah tempat terbaik untuk menikmati Senja.
Yah Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyalurkan kerinduanku padamu, dengan melihat Senja dalam artian sebenarnya.
Oh iya, yang memberimu botol ini adalah anak yang paling penasaran tentang sosok dirimu entah sebesar apa dia sekarang.
"Dia masih kecil kak , mengapa kau berfikir aku akan lama menemukan tempat ini hemmm" kedua Netra Senja mulai basah membaca tulisan tangan Nata.
Aku selalu bercerita mengenai dirimu padanya. aku menghabiskan waktu berjam jam setiap berkunjung kemari hanya untuk memberitahunya betapa cantik dan baiknya Senjaku, dan hanya ia yang kuberi tahu mengenai surat ini.
Senja, bagaimana kabarmu? Apa kau tengah bersedih sehingga waktu membawa ragamu ketempat ini?
Bahkan sampai akhir aku menjadi Nata yang jahat, Nata yang menginginkan pilihan hidumu tidak memberikanmu kebahagiaan sehingga kau membutuhkan tempat ini sebagai pelarian dan tempatmu bersembunyi.
__ADS_1
Aku Egois berkhayal bisa memberimu kebahagiaan namun nyatanya tidak, aku hanya malam pekat yang akan menenggelamkan Senja sehingga pesona keindahannya lenyap tak bersisa.
Aku harap bukan kesedihan yang membawamu kesini, kau harus selalu bahagia bersama Dokter Aby karena hanya ia yang pantas untukmu, bukan pria penyakitan sepertiku. Hah....Senja berulang kali aku menghela nafas sambil menulis surat ini, merutuki kepercayaan diriku yang akhirnya trrkikis hingga akhir.
Aku menyerah ingin membahagiakan dan melindungimu, karena nyatanya aku bahkan tak lagi bisa menopang tubuhku sendiri.
Aku bahagia melihat tawa riangmu bersama Dokter Aby dari kejauhan, dan tak pernah lagi berani menatap wajahmu secara langsung karena aku tak ingin menunjukkan sisi terlemahku, Wajahku semakin menirus dengan tubuh yang makin kurus, penyakit itu menggerogoti raga dan jiwaku hingga akhirnya aku benar benar menyerah.
Senja saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tak lagi berpijak dimuka bumi ini, mungkin aku sudah tak lagi bisa menatap Senja diujung cakrawala indah itu, tapi percaya aku sudah merekam dengan jelas semuanya dan membawa kenangan itu untuk menemani akhir perjalanan panjangku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku jika suatu saat kau merasa teracuhkan ingatlah ada manusia bernama Nata yang pernah mencintaimu sepenuh hati.
Satu lagi, botol mineral ini adalah pemberianmu pada hari pertama kita bertemu, entah mengapa aku justru menyimpannya dan ingin menjadikannya kenangan saat semakin mengenalmu lebih jauh.
Jaga dirimu baik baik adik cantikku.
Kedua Netra Senja memancarkan kesedihan yang begitu nyata, tubuhnya menggigil dan bergetar. Senja tak tertawa layaknya orang bodoh sambil menangis.
"Tidak tidak" Senja menggeleng kuat,"kak Nata kau sangat jahat mengapa berbohong seperti ini? Jika kau tak ingin bertemu denganku seharusnya jangan seperti ini" Pekik Senja sambil memeluk botol mineral kosong di dadanya.
"Salah ini salah, yah ia fikir aku datang puluhan tahun lagi, tapi kau salah kak aku datang sekarang aku yakin kau masih hidup, Bodoh!! kau penyusun skenario yang bodoh, Aku harus mencarinya" Senja terus berbicara pada dirinya sendiri. dengan tertatih ia berusaha bangkit masih sambil memeluk botol mineral dan selembar kertasnya.
Senja berjalan terseok seok meninggalkan pelataran teras sekolah, membawa raga lemahnya yang seolah lemas tak bertulang sambil terus menitikkan air mata kesedihan dan meracau meyakinkan diri jika apa yang ada didalam surat itu bohong. Karena Nata mempersiapkannya untuk ia baca beberapa tahun kedepan.
.
.
.
Siangnya di Jakarta.
__ADS_1
Meski tidak Semua namun cukup banyak Dokter dan para petugas medis lainnya mengantarkan kepergian Jenazah Nata termasuk Aby yang masih belum sepenuhnya percaya. Mereka menundukkan kepala sejenak saat mobil Ambulance berwarna putih dengan gaungan sirinenya membawa jasad manusia mulia didalamnya.
"Lihatlah mereka Sahabatku, mereka yang berpendidikan tinggi bahkan menunduk dihadapanmu yang tak lagi bernyawa, memberi hormat pada manusia yang penuh hardikan semasa hidupnya, loe hebat bro, gue kagum" bahu Bobby naik turun menahan iskannya, ia menagis namun justru suara kekehan pilu yang terdengar keluar dari bibirnya, menatap sang sahabat seperjuangan kini tak bernyawa dengan balutan kain putih diseluruh tubuhnya.
Sementara Bunda Maryam hanya bisa menahan sesak sambil memukul mukul dadanya. Anak bandel yang dulu sering membuat tenggorokannya sakit karena lelah menegurnya kini sudah tiada.
"Mengapa kau menyumbangkan semua milikmu hah???" Bunda Maryam memukul bahu Nata berkali kali sambil terisak lirih.
Namun pria yang duduk dilantai sambil mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam dus itu hanya membalasnya dengan sebuah senyuman hangat, ia mendongak menatap wajah wanita tua yang duduk di tepi ranjang, wanita yang membesarkannya selama ini.
"Aku akan pergi jauh Bunda, semua milikku tidak akan berguna disana"
"Bicara apa kau hah!!!kau mau kemana jangan bicara sembarangan, masih banyak orang yang menyayangimu disini, Bunda, adik adik panti, Bobby dan____ Senja" Bunda Maryam ragu saat menyebut nama wanita itu.
"Heh..." Nata terkekeh pelan," Bunda benar, wanita itu masih belum melupakannku, ia masih khawatir padaku" mata Nata menerawang jauh mengingat Senja yang mengejar dan tak henti mencari keberadaannya di Bandara. Padahal saat itu kedatangan Nata hanya ingin mengantar kepergian Senja dari jauh. Hati Nata begitu sakit saat melihat Senja jatuh pingsan namun saat ingin mendekat orang orang terlebih dahulu menolongnya.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri" prof Anton yang baru saja datang menepuk pundak Aby dari belakang.
Kini hanya Aby yang tinggal didepan sebuah bangunan yang berpisah dengan gedung utama rumah sakit.
Ruang Jenazah.
Aby seakan tak bisa melangkahkan kakinya pergi dari sana ia terus menatap jalan yang tadi dilalui Ambulance yang membawa raga Nata.
"Prof" ujar Aby.
Prof Anton Keluar secepat mungkin dari Ruang Operasi begitu proses transplantasi ginjal kedua yang ia lakukan selesai. Ia berharap masih bisa mengantar kepergian Nata namun nyatanya ia terlambat.
"Kondisinya memang tak memungkinkan ia menjalani operasi, dan ia tahu itu dengan pasti, ia tak pernah menyalahkanmu, ia justru berterima kasih jika kau bisa membahagiakan istrimu selama hidupnya, hanya itu pesan yang ia sampaikan padaku".
__ADS_1