Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 42


__ADS_3

Tamu yang datang merecoki kemesraan pagi hari Senja dan Aby adalah Laras.


Wanita itu ingin mengajak Kaila untuk jalan jalan karena mendapatkan cuti dari rumah sakit dan kampusnya.


Laras menolak saat Senja menawarkan diri untuk ikut, meski Kaila sudah terlihat bisa menerima keberadaan Laras namun Senja masih saja khawatir putri sambungnya itu akan menangis.


"Mas makasih Ya kamu sudah jemput aku semalam" Laras tak lupa memanas manasi Senja sebelum keluar dari pintu, ia terus melirik Senja yang menundukkan pandangannya.


"Aku harap itu yang terakhir Laras, Jika kau masih mendatangi tempat seperti itu maka aku pastikan kau tak bisa lagi melihat Kaila. Aku tak ingin putriku memiliki Mama seorang pecandu alkohol" Tegas Aby sambil merangkul pundak Senja yang berdiri disampingnya.


"Ah...I-iya mas, maaf aku janji itu yang terakhir" jawab Laras gugup, ia tak menyangka Aby akan mengeluarkan jawaban yang menohok dan mempermalukannya dihadapan Senja.


Laras mengepalkan tangannnya kuat sebelum pamit dan berlalu dari hadapan Aby dan Senja, namun saat diluar ia malah tersenyum devil. rencana untuk mengajak Kaila keluar sudah terlaksana kini ia tinggal menjalankan rencana selanjutnya.


"Maafkan mama ya sayang memanfaatkanmu, tapi ini demi keluarga kita" Laras mengecup pipi gembul putrinya yang hanya menatapnya dengan tatapan datar.


.


.


Sebenarnya hari ini Senja ingin ke panti bersama Kaila, namun karena putrinya itu sudah pergi bersama Laras jadilah ia pergi sendiri, lagian Senja sudah lama tidak mengunjungi Panti, ia rindu dengan kebersamaan anak anak disana.


Senja meminta ijin untuk pergi sendiri kepada Aby, tanpa disupiri Pak Ahmad. Tadinya Aby ragu melepas istrinya seorang diri namun agar tidak terkesan memghalangi kebebasan Senja Aby akhirnya mengijinkan.


Senja berangkat dengan taxi online namun ia turun didepan lorong panti karena ingin membeli beberapa cemilan di toko sana, ia kemudian berjalan sekitar 200 m agar bisa sampai ke panti Namun ditengah perjalan ia dibertemu seorang anak yang mengajaknya bicara dengan bahasa yang tidak begitu jelas mulutnya mengutarakan kata yang terdengar berdengung di telinga Senja.


Bocah laki laki berusia sekitar 5 tahun itu menarik narik kantong belanjaan Senja lalu sesekali menggerakkan jarinya seperti sedang bertanya sesuatu.

__ADS_1


"Adik mau?" Senja sadar bocah itu sepertinya seorang tuna rungu. Senja berusaha menyodorkan beberapa bungkus cemilan namun bocah itu menolaknya.


Senja yang tadi mensejajarkan dirinya dengan sang bocah kembali berdiri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung apa sebenarnya kemauan bocah dihadapannya.


"Hei...dasar!!" terdengar suara bariton dari depan, seorang pria muda yang sangat dikenali Senja terengah engah dengan nafas sedikit memburu.


'Nata' gumam Senja dalam benaknya, ia fikir tak akan mungkin bertemu pria itu hari ini, tapi ternyata semesta berkata lain.


Nata sejenak tersenyum pada Senja lalu mengabaikan gadis itu ia kembali fokus dengan bocah yang sudah dicari oleh seisi panti.


"Kamu mau kemana?" Ujar Nata disertai gerakan bahasa isyarat agar sang bocah bisa mengerti dari gerak bibir dan tangannya apa yang ia katakan.


"Mau beli chiki?" tanya Nata lagi setelah melihat balasan bocah kecil itu sambil menunjukkan uang 20.000 rupiah ditangannya. Yah hari ini Nata gajian sehingga ia membagikannya untuk anak anak panti.


Cukup lama Nata berbincang dengan bahasa isyarat ia membujuk sang bocah untuk kembali ke Panti dan ia yang akan pergi membelikan apa yang diinginkan bocah kecil itu.


"Aku sudah menawarkannya kak tapi ia tidak mau" Senja berujar Lirih, melihat Nata dan bocah itu asyik berbincang Senja merasa terabaikan. dalam hati ia bertanya apakah pria dihadapannya ini benar Nata? Pria yang katanya sangat menyukainya dan akan mati konyol jika tidak melihatnya, pria yang beberapa waktu lalu memohon agar ia tidak memutuskan hubungan pertemanan ini. Lantas mengapa hari ini Nata terlihat sangat cuek.


"Kakak ini mau ke panti, kau lihat bawaannya?" Nata berbahasa Isyarat sambil menunjuk kantong kresek Senja " Itu akan dibagikan untukmu dan teman teman yang lain"


Setelah Nata berujar bocah kecil itu terlihat menggerak gerakkan kedua tangannya bahagia, dalam bahasa isyarat itu artinya ia sedang bersorak kegirangan.


Nata pun menaikkan bocah yang ia panggil dengan sebutan Dimas itu kepunggungnya.


"Dimas anak baru ya kak" Tanya Senja, mereka kini berjalan bersisian menuju panti.


"Heem, katanya baru datang kemarin, Ibunya meninggal saat melahirkannya, dan seminggu yang lalu ayahnya meninggal sehingga ia dibawa ke Panti karena tak ada kerabat yang mau mengasuhnya" Terang Nata tanpa sedikitpun menoleh kearah Senja, namun pria tampan itu masih tetap tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi kakak sekarang? Bauk baik sajakan?" Tanya Senja lagi, ia teringat beberapa kali pria itu jatuh sakit.


"Baik baik saja, semua berkat kamu" Kali ini Nata menoleh dan tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Senja.


Gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman kikuk, entah itu sindiran atau pria itu benar benar baik baik saja hanya Nata yang tahu.


"Maaf kak"


"Maaf kenapa? Justru aku yang harusnya minta maaf, maaf karena sudah membebani fikiranmu beberapa hari ini" Nata terdengar begitu tulus.


Senja terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa,benar yang dikatakan Nata Ia memang memikirkan kondisi pria itu beberapa hari belakangan.


Dalam keheningan Senja dan fikirannya tiba tiba saja tangan Nata terulur seperti hendak menyalami Senja. Kali ini dimas sudah ia turunkan dan digandengnya disebelah kiri sementara Senja berada disisi kananya.


Senja menautkan Alis melihat uluran tangan Nata .


"Ayo Jabat" titah Nata sambil menganggukkan kepalanya, dan dengan penuh keraguan akhirnya Senja menjabat tangan Nata.


"Nata, hanya Nata tanpa nama belakang, kamu siapa?"


"Senja" Jawab Senja bingung ia merasa Nata seperti mengajaknya bercanda.


Keduanya lalu saling melepas tautan tangan.


"Hari ini Senja dan Nata baru saja bertemu, hari ini kita adalah teman, semoga tidak ada kecanggungan lagi dimasa depan" ucap Nata dengan senyum yang seolah menyimpan luka yang begitu dalam.


Senja mengangguk pelan dengan mata yang berkaca kaca, sejujurnya ia tak ingin kehilangan teman seperti Nata, seseorang yang tahu mengenai masa lalunya namun tak pernah menghardiknya, seseorang yang juga pernah mempercayakan rahasianya kepada dirinya. Seorang Kenalan pertama yang ia temui di Kota asing ini.

__ADS_1


"Senang berkenalan denganmu Kak Nata" Senja tersenyum hangat.


Mereka lalu berbincang tanpa rasa canggung Senja menceritakan berbagai hal mengenai dirinya, cita citanya hingga rencana kehidupannya kedepan. Senja juga bertanya bagaimana Nata bisa begitu fasih beebahasa Isyarat dan Gadis itu dibuat takjub dengan penjelasan Nata yang ternyata menguasai bahasa Isyarat jenis Sibi dan Bisindo. Nata belajar secara otididak karena ada beberapa anak panti yang memang menyandang Tuna Rungu.


__ADS_2