Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 69


__ADS_3

Wanita paruh baya dengan gelar kepala sekolah itu menatap Senja Lamat. Lagi lagi wanita hamil itu bertanya mengenai ia semalam yang spontan menyebutkan nama lengkapnya.


Semalam Ibu Jum pendiri sekolah terapung itu langsung meralat perkataannya. Dan mempersilahkan Senja naik keatas rumah beristirahat. Dan berhubung wanita hamil itu memang sangat kelelahan ia langsung terlelap setelah sedikit membersihkan tubuhya.


Kini mereka berdua tengah menikmati secangkir teh diteras rumah sambil menikmati angin pagi yang menyapa disertai lambaian daun nyiur.


"Seseorang pernah memperlihatkan foto anda kepada Saya, ia bilang anda seorang calon guru yang memiliki cita cita mengajar di sebuah daerah terpencil, namun karena satu hal anda tidak akan melanjutkan niat mulia itu"Jelas Bu Jum, ia memang tak berbohong,Pemuda yang ia maksud mengatakan itu saat bertanya mengenai apa sebenarnya tujuannya ke Pulau ini dan melakukan segala kebaikan untuk sekolah, sesuatu yang tak akan pernah bisa dibalas oleh ia dan anak anak.


"Siapa?"


"Hahhh" terdengar helaan nafas dari bu Jum yang begitu berat, "Entahlah, ia tak pernah mau menyebutkan namanya, anak anak disini memanggil mereka dengan sebutan kakak, sementara saya sendiri menjulukinya sebagai anak baik" Mata Bu jum terlihat menerawang, seakan mengingat beberapa memori indah karena sampai membuatnya tersenyum dengan nyaman.


"Ia hanya kemari sekali seminggu dan kadang menginap sampai 3 hari, disini tak ada listrik jadi setiap saat ia harus kembali ke Kota mungkin untuk menghubungi keluarganya"


"Seorang pria?" Tanya Senja penasaran, entah detak jantungnya seakan bertalu talu menebak satu nama yang seakan terlintas dibenaknya.


Tak banyak yang mengetahui mengenai cita citanya, hanya segelintir orang disekitarnya saja.


"Hemm pemuda yang sangat tampan" Bu Jum lalu mengusap perut Senja dengan tatapan Sendu.


"Sepertinya saya sudah mendapatkan jawaban mengapa anda tak pernah datang kemari" Bu Jum lalu menatap Senja "Dia berkata, suatu saat kau pasti akan kesini entah itu 1,2, atau puluhan tahun lagi karena ia yakin saat kesedihan melandamu kau akan kembali dengan tujuan awalmu, dan ia berkeliling mencari tempat nyaman untukmu, sampai menemukan pulau ini, awalnya saya bingung apa yang pemuda itu bicarakan, tapi sepertinya kini saya paham"


"Cinta tak berbalas benar?"


Senja bergeming matanya berkaca -kaca "Dimana dia?" tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis, ada rindu yang begitu besar didalam dirinya yang selama ini ia pendam, bukan rindu layaknya kekasih namun lebih kepada sahabat.


Flashback....


Semua dimulai dari awal.


Mereka duduk dibangku taman Panti sambil mengamati anak anak yang tengah berlarian. ada Dimas juga yang tengah bermain bersama seorang bocah tuna netra berusia sama dengannya . Senja tersenyum simpul melihat bagaimana Dimas dan bocah itu bisa nyambung padahal satu tak mendengar dan satunya tak melihat, namun sekali lagi anak anak punya naluri untuk bermain dan tak menjadikan apapun sebagai penghalang.


"Aku pernah punya cita cita ingin menjadi seorang guru didesa terpencil"


"Kau sudah mengatakannya dulu"


"Hah...bukankah semua kembali dari awal?" Senja mengingatkan Nata jika mereka baru saja bertemu dan berkenalan diluar tadi. Ia sedikit mencebik kesal.


"Iya yah maaf lupa adik cantik" Lagi lagi Nata menyugar rambut Senja pelan.


"Pernah? Apa sekarang tidak lagi?"


"Hemmm, aku ingin mencoba menerima segalanya maaf"


"Heh...." Nata tertawa hambar, "Mengapa minta maaf? Itukan cita cita mu" Ada kesedihan yang nampak dimata Nata. dan Senja tahu itu, ia meminta maaf bukan karena cita cita nya, namun karena pemgakuan perasaannya pada sang suami dihadapan pria yang menyukainya.


"Aku harap kau akan selalu bahagia, namun jika kau tak bahagia, lanjutkan cita citamu aku akan membantumu mencari tempat yang benar benar terpencil hingga tak ada yang bisa menemukan dan menyakitimu lagi"


flashback off.


"Saya tidak tahu, sudah lebih dari sebulan ia tak pernah mengunjungi pulau ini lagi, entah kemana si pemuda baik hati itu, ia banyak menyumbangkan buku buku bacaan dan membiayai renovasi sekolah bersama penduduk pulau lainnya"

__ADS_1


Senja merasa keringat dingin diseluruh tubuhnya, "Nata...Kak Nata? Apa itu namanya?"


Lagi lagi Bu Jum menggeleng pelan "Ia tak pernah menyebutkan namanya" ia kembali memgingatkan Senja.


Senja meremat kedua jarinya ingin sekali ia memperlihatkan foto Nata yang berada diponselnya namun sayangnya benda pipih itu tak memiliki daya sama sekali.


"Kepala sekolah.......!!!" Teriak beberapa Anak dibawah mengalihkan atensi keduanya, karena tak kunjung muncul disekolah mereka akhirnya menyusul kerumah.


Kini Senja Senja bisa melihat wajah wajah polos yang selalu ia pandangi potret dan Videonya.


"Oh....kakak yang itu"


"Iya...adik cantik milik kakak"


"Ternyata dia datang, kata kakak belum tentu"


"Atau jangan jangan istri kakak"


Dengan jelas Senja bisa mendengar perbincangan gerombolan anak kecil tanpa alas kaki yang berjalan tidak jauh dibelakangnya.


Senja hanya tersenyum, kini ia yakin kakak dan pemuda baik hati yang dimaksud warga pulau adalah Nata.


Bu Jum mulai bercerita sambil mengajak Senja menapaki sebuah jembatan yang menjadi satu satunya akses dengan bangunan sekolah yang terletak diatas laut.


Wanita paruh Baya itu hanyalah seorang tamatan SMA yang bersuamikan seorang Nelayan yang berasal dari pulau ini.


"Ini bukan sekolah resmi, kami tak memiliki ijin operasional atau apapun itu, saya mendirikannya hanya sebagai wadah agar anak anak semangat untuk belajar membaca, menulis dan menghitung, hanya tiga hal itu yang bisa saya ajarkan agar mereka kelak tidak diperdaya jika menjual hasil tangkapannya, karena bagaimanapun kelak mereka akan menjadi Nelayan meneruskan pèrjuangan sang ayah" Terang bu Jum.


"Lihat itu Senja" Bu Jum menunjuk atap sekolah yang nampak silau karena terpaan matahari pagi, jejeran aluminium itu nampak pongah menunjukkan kekokohannya, "Dulu atapnya bocor, tapi pemuda baik hati itu yang berinisiatif menggantinya"


"Dia memang sangat baik bu" timpal Senja sembari tersenyum, ada rasa sedih setiap mengingat Nata namun ia tak tahan untuk tersenyum melihat kebaikan pria itu.


"Kau yakin mereka adalah orang yang sama?"


"Hemmm" Senja mengangguk pasti, kini ia tahu siapa pengirim Email itu selama ini. Nata orangnya.


Bi Jum membalas dengan senyuman" ia pasti sangat senang jika tahu kau akhirnya datang kesini.


"Dia akan menyesal bu jika bertemu denganku disini, aku berjanji akan memukulinya, dia menghilang sekian lama dan ternyata bersembunyi ditempat seindah ini" ujar Senja penuh canda, ia serius ingin tinggal lebih lama lagi dipulau ini, karena ia yakin akan bertemu Nata disini.


Aby?


Senja selalu mengingat suaminya itu namun ia ingin sedikit lebih egois kali ini seperti halnya Aby yang masih mengurusi Laras.


Senja membantu Bu Jum mengajar, ia mengajarkan perkalian susun kepada anak anak hari ini.


Saat hari sudah mulai sore Senja duduk menikmati Senja yang begitu indah di belakang kelas. Ada sebuah teras berkanopi disana dengan jejeran botol air mineral bekas yang diisi air berwarna warni bergelantungan indah.


"Kakak Senja ternyata sangat cantik" puji salah satu anak laki laki berusia sekitar 10 tahun yang tiba tiba muncul disampingnya. Senja fikir semua anak sudah pulang tadi siang ternyata ia salah nyatanya masih ada anak dengan seragam sekolah disini.


"Kamu tidak pulang? Eh....hati hati" panik Senja saat melihat anak itu berdiri di ujung pagar pembatas dan mengambil salah satu botol mineral berisikan air berwarna hijau, Senja bisa melihat ada sesuatu selain air didalam botol mineral tersebut.

__ADS_1


"Ini" Anak itu memberikan botol yang tadi diraihnya kepada Senja.


"Semua botol disini adalah sampah yang dipungut kakak kecuali botol itu" Anak itu menunjuk Botol yang kini dipegang Senja.


"Kata kakak itu untuk diberikan pada kakak Senja jika datang kesini"


"Untukku?" Senja lalu membuka botol tersebut dan meminta ijin melihat isinya.


.


.


.


"Dok" panggil Asisten Aby saat Dokter itu baru saja keluar dari Ruang Operasi. Asiten Aby mengikuti langkah Aby menuju sebuah ruangan untuk membuka kaos tangan dan apron khas operasinya.


"Ada kabar? " Aby meraih ponselnya yang disodorkan Sang Asisten.


"orang suruhan Ayah anda menelpon"


"Terima kasih kau boleh kembali"


Aby lalu berbicara dengan suruhan sang Ayah, Pria itu tak bisa memyembunyikan raut wajah bahagianya saat mengtahui kabar jika keberadaan Senja sudah ditemukan melalui rekaman cctv yang ada di bandara dan keterangan supir Taxi yang membawa Senja malam itu.


"Ah syukurlah...."Aby mengusap wajahnya penuh haru begitu panggilan diponselnya berakhir. Namun ia tak bisa berlama lama menikmati bahagianya, karena masih harus memberikan penghormatan untuk sang pendonor.


"Sudah Selesai? "Tanya Aby pada dua orang Resident yang ditugaskan menjahit kembali tubuh sang pendonor.


"Sudah Dok" Dua orang Dokter muda itu lalu menyingkir memberi ruang bagi Aby untuk mendekat. Namun Aby berhenti tatkala melihat ujung kaki dari manusia mulia yang kini sudah menjadi jenazah itu sedikit tersingkap.


Aby lalu memegang kaki jenazah yang mulai mendingin itu sambil melafazkan doa agar ia mendapatkan tempat terbaik disisi tuhannya.


"Bisa bacakan laporannya" titah Aby dan salah satu Residen membuka map yang terletak disamping tubuh sang mayit.


"Nama Nata, jenis kelamin pria usia 25 tahun lahir Jakarta 20 Januari 1998, waktu kematian Jakarta pukul 08.00 Wib 28 agustus 2023"


Tubuh Aby seketika menegang "Nata?" Beonya, "Bukakah pasien berasal dari Makasar?" Yah Setau Aby pasien diterbangkan langsung dari kota daeng itu tadi pagi. jadi tidak mungkin mereka adalah Nata yang sama.


"Benar Dok"


Dengan gerakan cepat Aby berdiri didekat kepala jenazah itu dan membuka selimut penutup wajahnya.


Tubuh Aby bergetar sempurna, ia memucat melihat Nata kini terbujur kaku dengan wajah tanpa aliran darah.


Aby tetiba merasa sesak, wajah yang dulu begitu pongah mengatakan begitu mencintai istrinya kini sudah tak bernyawa lagi.


"Nata..tidak...tidak mungkin" Aby berlutut dilantai sambil menggengam tangan Nata yang sedingin es itu.


"Dok...anda tidak apa apa?" Khawatir dua residen dibelakang Aby namun mereka tak berani mendekat.


"Maafkan aku Nata" Lirih Aby disertai buliran kristal dari Netranya seakan melepas kepergian Nata untuk selama lamanya.

__ADS_1


__ADS_2