
"Mas aku gak tanggung jawab ya kalau Ayah marah karena mobilnya basah" Senja mengamati tubuhnya dan tubuh Aby yang basah kuyup.
"Tenang aja Mas yg akan tanggung jawab, lagian mana mungkin Ayah marah sama menantu dan putra kesayangannya. Aby mengacak rambut Senja yang basah.
Saat mobil Rubicon keluaran terbaru itu hendak meninggalkan pantai Senja melihat sebuah bayangan sepintas di kaca spion namun ketika ia berbalik tak ada apa lagi disana.
"Kenapa Sayang?" Aby ikut mengamati spion ditengah.
"Gak ada mas, aku kira tadi ada orang"
"Mungkin penunggunya " Aby tertawa jahil.
"Ih apaan sih mas, mana ada yang yang seperti itu" protes Senja.
Senja tak mengalihkan pandangannya dari Spion berharap apa yang sekilas ia tadi adalah nyata namun ternyata ia memang salah. bayangan itu tak lagi muncul sampai Aby menyadarkannya dengan menggenggam erat tangannya lalu menciuminya lembut.
.
.
.
"Maaf ya Bunda kami pulang telat soalnya___"
"Soalnya aku mengajak menantu Bunda kencan dulu" Aby yang datang bersama Senja memotong kalimat istrinya. Mereka berdua ikut nimbrung dengan Baruna Dan Rini yang tengah bermain bersama Kaila.
"Mami mami mami" Kaila memgulurkan kedua tangannya kearah Senja.
"Yuk Sayang" Senja mengambil Kaila dari pangkuan Rini.
"Tadi Kaila sakit perut tapi udah di kasi minyak telon sama Bi Asih" Ujar Rini, wanita paruh baya itu tersenyum bahagia melihat raut wajah putra dan menantunya, sangat berbeda ketika ia menginap diapartemen mereka dulu, kini Rini sudah yakin 100 persen Aby dan Senja sudah membina rumah tangga Normal layaknya orang kebanyakan.
"Iya Bun, kaila emang sering masuk Angin" Senja mengecup pucuk kepala putri sambungnya lalu membawanya untuk duduk diatas karpet dengan banyak mainan yang berhamburan disana. Sedangkan Baruna, Rini dan Aby tetap diatas Sofa.
"Katanya anak anak lebih mudah sakit kalau tidak punya saudara" Mimik wajah Rini kembali serius.
"Eh...." Senja menelan Saliva. entah mengapa ia malu tiap membahas hal semacam ini.
"Jadi dulu Aku sakit sakitan ya Bun kan tidak punya saudara" Timpal Aby sambil menggelengkan kepalanya," Bunda ini orang kesehatan masih aja punya fikiran kayak itu" Lanjut Aby lagi seraya teryawa pelan.
"Bunda sama ayah itu sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kamu dan Senja" kali ini Baruna yang menimpali, Sehingga membuat wajah Senja semakin merah merona.
__ADS_1
"Kamu usahakan ya Senja harus buat tiap malam" Baruna menatap Senja yang tengah bermain dengan cucunya.
"Eh...tiap malam" Beo Senja, ia sangat malu jika pembicaraan sudah menjurus ke arah ranjang. Senja itu sangat pemalu bahkan saat sudah berdua Abypun dan melakukan hal itu kadang ia masih sungkan menunjukka ekapresinya, dan itu yang membuat Aby merasa bahagia, Senja membuatnya merasakan sensasi melakukannya dengan wanita tersegel terus.
"Tiap malam kok yah" Aby menimpali santai.
Senja rasanya ingin berlari saja, apa apaan pembahasan ini padahal ia ia merasa dirinya masih seorang gadis polos.
Aby dan Baruna tak beehenti membahas hal unfaedah, bahkan Baruna tak segan segan mengatakan pertahanan Aby lemah.
Dua tahun?
Baruna berdecih mengejek sang putra, semetara Aby tertawa terbahak bahak. Ayahnya mengingatkannya dengan kesombongannya dulu.
Ada rasa haru yang menangkup segenap hati Rini, sudah sangat lama Sekali Baruna dan Aby tak mengobrol sesantai itu. Semenjak Aby memutuskan kuliah kedokteran Baruna bersikap dingin kepada putranya karena pada dasarnya Aby memang keras kepala ia tak akan mau mengikuti keinginan sang Ayah, ditambah lagi saat Aby memutuskan untuk menikahi Laras meski tanpa Restunya hubungan anak Ayah itu semakin menjauh saja.
Rini menatap Senja, gadis kecil yang sebenarnya sudah ia sayangi sejak lama . Menantunya itu berhasil membawa kembali kehangatan keluarga yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
.
.
"Iya 29 besok kita balik keJakarta. Kenapa? Sudah betah tinggal disini?" Aby memeluk Senja dari belakang.
"Ih mas jangan gerak gerak nanti Kaila bangun" Senja yang tidur ditengah antara suami dan putri sambungnya itu menghentikan gerilya tangan Aby.
"Ya udah kita tidur ya....kamu pasti cape habis lari larian di Pantai, nanti malam aja mas kasih bangunnya ya" Aby mengecup belakang leher Senja yang seketika membuat tubuh gadis itu menegang.
Senja menghela nafas panjang, sepertinya malam ini ia tak akan tidur nyenyak lagi. Sebelum benar benar terlelap Senja kepikiran deretan angka itu sudah hampir habis bulan namun ia belum juga mendapatkan tamu bulanan. Padahal bulan lalu ia masih dapat meski sedikit dan lebih banyak hanya berupa flek.
Sepertinya kehidupan rumah tangganya yang rumit beberapa waktu yang lalu membuat siklus haidnya tidak lancar. Pikir Senja!
Pagi pagi sekali supir Baruna sudah mengantarkan Aby, senja, Bi Asih dan Kaila untuk pergi ke Bandara. Seperti biasa Aby langsung mengantar Bi Asih pulang kerumahnya terlebih dahulu sebelum ke Apartemennya begitu tiba di Jakarta.
"Mas, Kaila koq akhir akhir ini suka sekali tidur ya"
Senja yang duduk di bangku samping kemudi sambil mengusap wajah Kaila yang tengah terlellap didadanya nampak sedikit khawatir dengan kondisi putrinya.
"Dia cuman kelelahan saja" jawab Aby menenangkan sang istri
"Mungkin saja mas, soalnya Kaila sekarang udah gak seperti Kaila yang dulu . kemarin aja semua pelayan di rumah Bunda ia ajak main berlarian di taman" Air muka Senja sudah tak nampak khawatir, ia tersenyum tatkala mengingat Kaila yang sudah mudah bergaul sejak sering diajak ke Panti.
__ADS_1
"Iya itu semua karena maminya" Aby mengacak gemas rambut Senja sembari tersenyum kearah istrinya itu.
.
.
"Dok pasien yang tempo hari dijadwalkan Operàsi bersama Dokteŕ Anton ternyata membatalkan operasinya " ucap Asisten Aby memberitahu Dokter yang baru pulang dari cutinya.
Aby terdiam setelah mengenakan jas kebanggaannya yang tergantung ditiang gantungan, ia berfikir sejenak mengenai kata kata nata saat terakhir kali mereka bertemu.
'Aku tidak akan kembali kerumah sakit ini lagi'
Aby tertawa sumbang sambil beekacak pinggang. Ia tak menyangka ada pria yang begitu bodohnya.
Mungkinkah ia sudah kelihalangan motivasi hidupnya? Jika benar Senja adalah orang yang membuatnya bersemangat selama ini maka Aby bisa memastikan Nata adalah pria paling bodoh didunia. Ia fikir kata kata Nata itu hanya gurauan semata Nyatanya pria itu benar benar serius mempermainkan kehidupannya.
"Apa aku punya jadwal Operasi malam?" Tanya Aby.
"Punya Dok"
"Ah Baiklah"
Sepenjang Hari Aby menyelesaikan semua pekerjaannya tanpa hambatan meski dengan Fikiran yang dipenuhi Nata, bohong jika Aby tidak merasa bersalah dengan apa yang dialami Nata.
Andai saja Aby tak pernah membatalkan untuk menagani Nata mungkin pria itu sekarang sudah menjalani operasinya.
Aby mengabari Senja jika ia akan pulang sangat terlambat malam ini, dan istrinya pun tak menaruh curiga karena setelah cuty biasanya Aby memang akan Lembur.
Aby pergi ke midnight club untuk menemui Nata. Namun saat disana ia sama sekali tak melihat pemuda itu. ada beberapa bartender yang bertugas disana namun tak ada nata diantara mereka.
"Apa Nata tidak masuk malam Ini?" Tanya Aby pada salah satu bartender disana.
"Nata sudah resign tuan beberapa hari yang lalu" jawab Bartender itu santai sambil menyajikan orange jus yang dipesan Aby.
"Apa saya bisa mendapatkan Kontak barunya atau mungkin alamatnya?" tanya Aby lagi, ia sebenarnya sudah mencoba menghubungi kontak Nata yang biasa namun nomor tersebut tak pernah aktif.
"Maaf Tuan mungkin tuan bisa bertanya pada petugas keamanan didepan yang bernama Bobby "
"Oh, terima kasih kalau begitu" Aby memberikan tip sebanyak dua lembar uang merah yang disambut senyum merekah oleh sang bartender.
Aby keluar dengan terburu buru tanpa mencicipi jusnya, ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan kerasnya suara musik didalam sana, maklum ini kali pertama Aby masuk ketempat hiburan malam .
__ADS_1