Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 73


__ADS_3

Pasangan halal itu masih saling bergelut manja dibalik Selimut dengan keadaan polos tanpa busana, Aby terus mengendus aroma Wangi Senja yang seakan sudah menyatu dengan tubuhnya.


Tangan besar Aby melingkar diperut Rata Senja saat ia berbisik lirih "Setelah pesta ulang tahun perusahaan kita ke Jakarta yuk"


"Jakarta?" Senja membalik tubuhnya dan menatap Suaminya. Matanya berkaca kaca.


Jakarta!


Tempat dimana ia dan Nata menciptakan kenangan indah meski hanya dengan waktu singkat. 5 tahun mungkin belum bisa menghilangkan kesedihannya. Yah Pria yang selalu mengusap kepalanya sambil memanggilnya 'Adik cantik' benar benar memporak porandakan Hatinya.


"Kita akan menjenguk Nata" ujar Aby lagi


"Iya mas, boleh aku kepanti juga untuk bertemu anak itu?"


"Tentu saja sayang" Aby mengusap kepala Senja lembut dan istrinya itu membenamkam wajahnya didada bidangnya.


"Adik cantikku" Panggil Aby, ia tahu sebutan itu melalui surat Nata.


"Hemmm" Senja hanya berdehem.


"Sungguh malang nasib mas mu ini, ia harus terus cemburu pada orang yang sudah tak ada"


"Jangan Cemburu mas, karena kau adalah pemilik raga dan seluruh cintaku"


"Aku bersyukur menjadi pria beruntung itu, cinta Nata padamu semakin menyadarkanku jika aku tak boleh lalai menjagamu, Mas salah sedikit saja mungkin akan ada Nata nata yang lainnya"


"Jangan cuman dimulut" Senja kini mengangkat wajahnya lalu mengusap bibir Aby, "Harus dibuktikan mas, Aku bisa menjamin cintaku untuk mas, akupun percaya pada hati mas" Tangan Senja kini mengusap dada bidang Aby "Tapi aku tidak bisa menjamin tak akan ada lagi ujian ujian rumah tangga berikutnya" Senja teringat dengan tatapan para karyawan wanita di perusahaan Baruna setiap melihat Aby. Meski para karyawan laki laki juga selalu menatapnya penuh damba namun Senja tak peduli, ia selalu dihantui ketakutan setiap melepas sang suami pergi bekerja namun ia berusaha untuk tetap berpegang teguh pada Cinta Aby.


"Kita sudah melewatinya 6 tahun ini, jangan selalu memikirkan hal hal yang tidak penting" Aby tahu apa yang tengah difikirrkan Senja, meski pernah berucap tak akan cemburu lagi nyatanya Senja tak bisa. Cintanya yang besar untuk Aby membuatnya selalu takut kehilangan begitupun sebaliknya.


"Jika masmu menjadi Presdir kelak, maka semua pegawai wanita akan ku pecat"Ucap Aby dengan senyum jahilnya.


"Ih apaan sih mas, memangnya bisa ?kalau bisa aku setuju" Balas Senja.


.


.


.


Pesta ulang tahun perusahaan Baruna Jaya diadakan disalah satu Ballroom hotel ternama, acara makan malam dan kata sambutan dari Baruna dan Aby baru saja selesai.


Kini Baruna dan Aby sebagai pemilik pesta menyapa satu satu tamu yang sudah menyempatkan diri untuk hadir disana sambil menggandeng pasangan masing masing.


Aby nampak mendengus kasar melihat beberapa pasang mata para pengusaha laki laki menatap lapar kearah istrinya padahal jelas jelas mereka datang dengan pasangan masing masing, meski tidak semua namun semenjak terjun didunia bisnis, Aby tahu ada beberapa pengusaha Nakal yang hobby mempermainkan wanita dan ia benci pria nakal itu terus memandangi Senja.


"Selamat malam pak Abyansyah" Sapa salah seorang pengusaha tambang yang nampak penasaran dengan sosok wanita yang digandeng Aby.


Bukan untuk menggoda namun memang ada beberapa pria yang puas hanya dengan menjabat tangan wanita cantik incarannya.


"Selamat malam pak Albert" Balas Aby berusaha terlihat ramah meski hatinya panas saat pria yang terkenal playboy itu justru dengan cepat berpindah pada sang istri setelah berbasa basi dengan Aby.


"Dan Ini" Pak Albert mengulurkan tangannya kearah Senja. wanita 24 tahun itupun menyambutnya dengan senyuman, bagaimanapun Sekarang ia seorang istri pengusaha jadi ia harus terbiasa dengan sapaan dari rekan bisnis suaminya.


"Senja Anindita" ujar Senja menyalami Albert dengan ujung jemarinya.


"Wah...ternyata betul yang dikatakan orang orang jika Pak Aby berhasil mencuri salah satu bidadari dari surga" Latar belakang Playboy membuat Albert tidak sungkan memuji istri orang lain didepan suaminya.


"Ah..hah..." Senja terseyum kikuk ia bingung harus bereaksi seperti apa dengan ucapan berlebihan pria yang usianya hampir sepantaran ayah mertuanya itu. Senja mengeratkan genggamannya pada lengan Aby.


"Terima kasih atas pujiannya pak Alberrt" Aby terlihat mengetatkan rahangnya, mata merah pria itu benar benar membuatnya jijik.

__ADS_1


"Saya serius pak, istri Anda biasa nya jadi bahan perbincangan para pengusaha-pengusaha" Albert tidak membual, ia memang kerap mendengar para pengusaha membicarakan menantu Baruna yang sangat cantik, dan kini ia tahu para rekannya yang pernah melihat Senja memang tidak berbohong.


Seketika mata Aby membeliak.


Istrinya dibicarakan oleh para pengusaha?


Rahang tegasnya semakin mengetat, tangan yang tadi menggenggam tangan Senja kini melingkar dipinggang istrinya dengan posesif.


Senjapun tak kalah terkejutnya, ia yang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama kedua buah hatinya ternyata tak luput dari gibahan para bapak bapak.


Menggelikan.


Ia kemudian melirik sang suami yang wajahnya mulai memerah menahan Amarah namun Senja tak peduli itu.


Senja tidak lupa Kini Aby seorang pengusaha, ia salah satu petinggi diperusahaan yang cukup disegani di area Sulawesi.


Apa mebahas wanita di kalangan pengusaha adalah sesuatu yang biasa terjadi?


"Kalau begitu saya permisi Pak Aby" Albert yang melihat air wajah Abyansyah berubah muram lekas pamit.


Dan Aby hanya berdehem membalasnya.


"Apa Mas juga seperti itu? Membahas istri orang? atau wanita lainnya?" Cecar Senja kesal.


Aby yang masih kesal melirik istrinya dengan alis berkerut, belum habis rasa kesalnya pada Albert kini Senja malah terdengar seperti menuduhnya.


Aby terdengar menghela nafas, "Untuk apa aku membahas wanita lain jika wanita yang ternyata seorang primadona berada tepat disampingku" Aby mencubit hidung Senja dengan lembut, ia sedikit meredam emosinya melihat Senja juga dalam kondisi kesal.


"Primadona apaan, jijik tau mas"


"Besok besok, kalau keluar rumah kamu harus pakai masker atau cadar sekalian, mas gak mau mendengar pujian dari laki laki lain untuk Istri cantikku ini" Aby semakin mengeratkan rangkulannya.


"Oke"


"Mas mau?"


"Mau kok"


Sambil melangkah pelan Aby dan Senja terlihat begitu mesra dengan obrolan obrolan anehnya.


"Pak Abyansyah" Lagi lagi seseorang menyapa namun kali ini adalah manager personalia perusahaannya.


"Oh pak Johan" ucap Aby, ia dan Senja tersenyum kepada pria paruh baya itu.


"Anda datang bersama istri?" tanya Aby lagi.


"Iya pak, istri saya sedang menyapa Nyonya Rini" Jawab pak Johan, meski lebih tua namun ia begitu hormat pada Aby.


"Ah, silahkan dinikmati pestanya pak saya akan menyapa tamu yang lainnya" Saat Aby dan Senja ingin pamit pria itu justru menahan mereka.


"Tunggu pak, saya ingin memperkenalkan seseorang"


Aby dan Senja kemudian mengurungkan langkahnya.


Pak Johan nampak melambai pada seorang wanita muda dengan penampilan menarik, tubuhnya yang tinggi dan dibalut dress panjang yang melekat ditubuh membuatnya terlihat bak seorang model.


"Kenalkan pak ini Lady, keponakan saya dia yang akan melamar diperusahaan untuk mengisi kekosongan jabatan sebagai sekertaris anda" Ujar Pak Johàn


Lady lalu mengulurkan tangannya pada Aby dan Senja namun hanya Senja yang meraihnya, sedangkan Aby nampak tak Acuh dengan satu tangan disaku sementara tangan lainnya menggenggam jemari istrinya.


Sekertaris? Jangan tanya bagaimana terkejutnya Senja. Ia menelisik wanita yang nampak lebih tua darinya itu.

__ADS_1


Sepengetahuan Senja sekertaris suaminya selama ini adalah Roy. Dan ia seorang pria.


Cantik dan ****, membayangkan jika suaminya menghabiskan waktu sepanjang hari dengan wanita itu membuat darah senja mendidih.


Aby tak menoleh sama sekali kearah istrinya ia memilih berpura pura tidak tahu.


"Ia belum melamar berarti masih belum menjadi bagian dari perusahaan benar?" tanya Aby pada Johan.


"Iya pak, saya berencana memperkenalkannya dulu. Lady ini lulusan terbaik di angkatannya ia memiliki pengalaman sebagai sekertaris presdir di beberapa perusahaan besar di Ibu kota"


"Oh...." Aby bisa mencium bau nepotisme yang sangat kuat dari mulut Pak Johan. Dan itu memuakkan, ia juga tak menyukai bagaimana Cara Lady terus tersenyum dengan gestur tubuh terlihat tidak biasa karena ia seakan berusaha mengekspos kaki jenjangnya melalui belahan gaun hingga batas pertengahan pahanya.


"Mas, Roy kemana?" Tanya Senja tak sabaran, ia penasaran mengapa suaminya tiba tiba membutuhkan seorang sekertaris.


"Roy diberi kepercayaan menjalankan proyek Ayah yang ada di pulau Buton" Saat berbicara dengan istrinya Wajah Aby berubah begitu teduh dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.


"Ohhh...." Senja kembali menyorot wanita dihadapannya yang seakan membuat nyalinya menciut.


"Jika belum menjadi bagian PT. Baruna Jaya lantas sebagai apa dia ada disini? Bukankah pesta ini hanya untuk para kolega dan Senior staf perusahaan?" Aby memicingkan matanya, bahkan undang hanya diperuntukkan bagi yang bersangkutan dan istri. dan tak ada yang membawa anak mereka termasuk Senja dan Aby yang menitip bocahnya di rumah Baruna dalam pengawasan pelayan disana.


"Ah....dia, ah keponakan saya hanya ingin berkenalan dengan anda sebelum mulai bekerja" jawab Pak Johan gagu, Bukan hanya dirumah sakit Aby bersikap dingin dan sedikit tempramen, ia juga menerapkannya di perusahaan dan pak Johan lupa akan hal itu. Seharusnya ia berfikir dua kali untuk mengajak keponakanya yang katanya begitu kagum dengan sosok Abyansyah sang wakil presdir perusahaan terbaik di daerah Sulawesi.


"Maafkan kelancangan saya pak Aby" kini Lady yang meminta maaf ia sedikit menunduk hingga belahan dadanya yang memang sudah rendah memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya.


Aby lekas memalingkan wajahnya ke istrinya, dan kembali lagi menyorot pak Johan dengan tajam setelah wanita yang berdiri disampingnya sudah berdiri tegak.


"Apa anda tidak menerima laporan dari manajer HRD jika saya mencari sekertaris pria? Bukan Wanita!!" tukas Aby, ia yang gemar bekerja dengan cepat dan teliti memang lebih nyaman bekerja dengan Pria, begitu pula dirumah sakit asisten Aby yang dulu pun seorang perawat pria karena pria lebih tahan banting dengan sikap Aby yang tegas, dan hanya melunak didepan istrinya tercinta.


"Oh...begitu ya pak, maaf saya tidak tahu" Pak Johan terlihat sangat malu, ia sempat berfikir Lady sang keponakan akan memiliki nilai lebih dimata Aby karena ia adalah wanita cantik yang terlihat elegan namun Pak Johan nyatanya salah.


"Satu lagi saya paling benci dengan Nepotisme, permisi pak Johan" Tukas Aby sebelum meninggalkan sepasang paman dan keponakan itu dengan wajah takut bècampur malu.


Aby menarik Senja keluar dari Ballroom menuju kolam renang yang nampak sangat sepi, mereka duduk disebuah bangku panjang mengamati kumpulan air yang begitu tenang dihadapannya.


"Mas, Lady itu cantik loh" Goda Senja yang langsung ditatap Aby dengan tatapan tidak suka.


"Bagiku hanya Senja Anindita yang tercantik" Tegas Aby.


Senja terkekeh, sebenarnya ia begitu puas dengan sikap Aby tadi, mengingat Perangai Aby jika berada dirumah Senja tak berfikir suaminya itu akan begitu menakutkan jika berada diluar rumah.


Prianya nyatanya memang belum berubah, masih Aby yang dingin, tegas dan sedikit tempramen, ia tak pandai menjaga perasaan orang. Itu yang biasa Senja dengar dari para Dokter Residen di departemen Badah. Saat Senja tak sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka dikamar mandi.


"Tatapan mas ke wanita itu mengingatkanku pada tatapan mas dulu kepadaku" Senja berujar sambil tersenyum.


"Jangan diingat, aku tak pernah menatapmu seperti itu." Aby memeluk kepala Senja dan menyandarkannya pada dada bidangnya.


"Tapi benar mas" Senja mengangkat lagi kepalanya untuk lebih meyakinkan Aby.


Cup...kali ini Aby mencuri sebuah kecupan kilat dari bibir sang istri agar wanita itu diam.


"Mas dulu kan__"


Cup.


"Ih mas kalau ada orang yang liat gimana?" protes Senja yang gagal menggoda Aby.


"Jangan ungkit masa lalu, mas sudah menyesali semuanya" Ucap Aby mengusap pipi Senja.


"Bercanda mas" Senja kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Aby.


Mereka akhirnya melewati malam pesta hanya berdua ditepi kolam renang. Aby terlalu malas untuk kembali dan membiarkan mata nakal terus menatap sang istri.

__ADS_1


__ADS_2