
"Minggu depan aku ambil cuti dua hari kita pulang ya ziarah kuburannya ibu" Ucap Aby yang rambutnya tengah dikeringkan oleh Senja menggunakan sebuah handuk putih berukuran kecil, ini adalah kebiasan baru Aby, ia akan meminta Senja mengeringkan rambutnya tanpa hairdryer, karena ingin lebih lama bermanja manja dengan istrinya itu.
Aby duduk didepan meja hias dengan Senja dibelakangnya. Senja menatap Aby melalui pantulan cermin.
"Ibu"gumamnya lirih, kali ini bukan Ibumu, atau wanita itu, dan Senja tak bisa menemukan keterpaksaan dari wajah Aby saat menyebutkannya.
"Ibuku?" Senja ingin lebih memastikan.
Aby menarik tangan Senja dan membawa wanita itu kedalam pangkuannya.
"Mas, jangan lagi aku udah mandi" Senja mengerucutkan bibirnya yang langsung dihadiahi kecupan ringan oleh Aby lalu tersenyum lebar.
Dini hari tadi Aby memang membangunkan Senja untuk olahraga malam sampai subuh, dan itu membuat sang istri kelelahan.
"Tidak sayang" Aby kali ini menyampirkan anak rambut Senja ke samping "Bukan hanya ibumu tapi, ibu mertuaku. Seorang wanita baik yang sudah melahirkan gadis kecil cantik untuk menjadi istriku" lanjut Aby.
Senja bergeming, ia menatap lamat wajah suaminya, matanya mengerjap beberapa kali tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Mas...." Senja menahan tangisnya lalu memeluk Aby erat, "Makasih mas sudah menerima aku dan ibuku" lanjutnya.
"Aku yang harusnya berterima kasih Senja" balas Aby.
.
.
.
"Nata setengah mendegus melihat sosok dokter yang kini tengah memeriksanya, Dokter pria berkepala plontos itu kemudian duduk dan mengamati sebuah layar yang menampilkan hasil pemindaian seluruh tubuh Aby yang kini berada di dalam sebuah benda menyerupai terowongan yang menelan seluruh tubuhnya.
"Lain kali jangan biarkan masalah pribadi mengganggu pekerjaanmu" Hanya kata itu yang diucapkan Dokter Anton saat Aby menceritakan alasan ia tak bisa menerima Nata sebagai pasiennya.
Aby tahu gurunya itu sebenarnya sangat kecewa padanya, namun mau bagaimana lagi, ia juga hanya manusia biasa yang tak bisa menahan emosinya. Ia tak bisa membayangkan harus memegang pisau bedah di depan musuhnya yang tak berdaya karena pengaruh Anastesi.
Nata mendatangi Ruang kerja Aby meski belum membuat janji sebelumnya.
__ADS_1
"Kaget melihatku dokter?" tanya Nata yang tanpa permisi langsung masuk dan duduk dihadapan Dokter berkaca mata minus itu. mereka diantarai sebuah meja yang dimana banyak catatan medis serta beberapa jurnal yang tengah dibaca Aby.
"Mau protes? Padahal seharusnya kau berterima kasih akan di bedah oleh seorang profesor yang sudah ahli dibidangnya"
Nata tertawa sumbang, " Aku hanya ingin mengingatkan agar kau menjaga Senja dengan baik, karena dia gadis pertama yang membuatku berfikir untuk melindungi seseorang, jika kau menyakitinya sedikit saja maka aku tak akan segan segan untuk membawanya pergi dari sisimu hingga kau tak akan bisa melihatnya kembali"
"Cih...."Aby yang kini melipat tangannya berdecih jijik.
Kenapa ia harus menyakiti Senja disaat gadis itu sudah menempati tahta tertinggi dihatinya.
"Kenapa? Kau baru sadar akan istrimu yang begitu baik? Aku masih ingat bagaimana kau berjanji didepan mantan istrimu___"
"DIAM!!!" Bentak Aby sembari mèmukul mèja dengan kedua tangannya, Abybtak ingin lagi mengingat semua kesalahannya dimasa lalu. Ia lalu berdiri dan menunduk. Mencengkram erat leher kaos yang digunakan Nata namun tak cukup membuat pria 24 tahun itu gentar, ia malah tertawa mencemooh.
"Kenapa takut pada pria yang menunggu mati sepertiku?, Senja tidak akan memilihku walau aku lebih kaya darimu" Nata menghempaskan tangan Aby dengan kasar, "Kau tahu kenapa? Karena ia bukan wanita seperti yang kebanyakan. ia spesial maka dari itu jaga Senja baik baik!" Nata melanjutkan perkataannya sebelum bangkit dari duduknya.
"satu lagi, kau tidak perlu repot memilihkanku Dokter karena aku tidak akan datang kerumah sakit ini lagi!!" Tukas Nata sebelum hilang dibalik pintu yang ia tutup dengan keras.
__ADS_1
"Brengsek!!!" Rutuk Aby sembari menahan amarahnya.