Bahagia Di Ujung Senja

Bahagia Di Ujung Senja
Bab 72


__ADS_3

Aby akhirnya resmi mengundurkan diri dari Rumah sakit, meski berat namun para petinggi rumah sakit dan juga Dokter Risya harus rela dengan keputusan Aby itu.


Ia juga meninggalkan Apartemennya di Jakarta dan menyerahkan perawatannya kepada Bi Asih.


Aby memenuhi janjinya untuk lebih dekat dengan istri dan anak anaknya, ia merasa jika masih menjadi seorang Dokter ia tak akan memiliki waktu luang karena pekerjaannya hampir tidak mengenal waktu libur jika ada pasien Darurat. Ia menyimpan kenangan operasi terakhirnya adalah pemindahan Organ Nata dan Aby tak ingin mengubahnya.


Pria itu bukan hanya berhenti dari Rumah Sakit, namun ia benar benar meninggalkan Pekerjaan yang sangat ia impikan dulu. ia memutuskan untuk membantu Baruna di Perusahaannya sebagai wakil Presdir, sesuai dengan keinginan Baruna sejak Awal.


Lalu bagaimana dengan Rini? Ia pun sama mendukung keputusan anak semata wayangnya itu, toh untuk melanjutkan Rumah sakit bersalinnya kelak, Aby tak perlu menjadi Dokter aktif.


Sementara Sejak mengetahui jika kematian Nata adalah sebuah kenyataan pahit yang memang harus ia terima, Senja lebih memilih berdiam diri selama hampir 2 bulan. Ia bersikap Acuh hanya kepada Aby meski pria itu sudah berulang kali menjelaskan jika ia sama sekali tak membelikan rumah untuk Laras, Aby bahkan harus ikhlas menyaksikan air mata sang istri yang tertumpah setiap malam hanya untuk Nata.


Senja kecewa bukan hanya karena Laras, namun ia masih berfikir kematian Nata adalah kesalahan Aby yang menolak menangani Nata dimasa lalu dan melimpahkan tanggung jawab itu pada Dokter lain. Aby terlambat menyadari kesalah pahaman Senja sampai akhirnya ia harus berlutut dihadapan istrinya dan menjelaskan semuanya secara Rinci. Barulah Senja mulai kembali menyadari ketidakberdayaan Suaminya dan ia memutuskan memaafkan Aby seminggu sebelum persalinannya.


Kini mereka hidup bahagia di sebuah Rumah pinggir pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah Baruna, jarak tempuhnya hanya butuh waktu berkendara sekitar 20 menit dengan mobil. Senja tak keberatan saat Aby mengutarakan untuk berpisah dari kediaman mertuanya karena jaraknya juga tidak terlalu jauh.


5 tahun kemudian......


"Nata....Nata....." Teriak seorang wanita cantik berusia 24 tahun yang meski sudah memiliki seorang putra namun wajah dan tampilannya masih terlihat seperti Remaja SMA.


"Mami......" Bocah yang dipanggil namanya muncul dari kejauhan, pekatnya Senja yang hampir menyatu dengan malam membawa bocah 5 tahun itu kembali kerumah panggung mewah milik keluarganya yang berdiri di pesisir pantai.


Senja tak sendiri disana. rata rata para pengusaha daerah itu juga memiliki villa disana namun hanya Senja dan Aby yang tinggal menetap.


"Mami Adik Nata" Kaila yang kini berusia 8 tahun itu menatap datar sambil menunjuk bocah kecil yang berlarian diatas pasir itu, ia yang memeluk boneka keroppi kesayangannya terus di gandeng sang mami.


"Iya sayang, adik harus dimarahi" Tukas Senja kesal lalu mengusap pucuk kepala putri sambungnya.


"Mami mami jangan marah marah tuhan marah" Bujuk Kaila, meski lebih tua 3 tahun dari Nata namun pemikiran Kaila jauh dibawah Nata itu karena kondisinya.


"Iya sayang"


"Kakak!! mami!!!" Teriak Nata dan langsung menghambur memeluk Kaila "Tadi Nata tangkap keroppi" ucapnya pada sang kakak, bocah 5 tahun itu tak peduli dengan tatapan ibunya yang kesal harus menunggunya pulang. Lagi pula hal ini sudah biasa terjadi, Senja akan meneriakkan nama putranya itu ketika ia tak kunjung kembali padahal hari sudah mulai gelap.

__ADS_1


"Mana Keroppi?" Tanya Kaila dengan suara seraknya,ia lalu meletakkan begitu saja boneka yang sejak tadi dipeluknya dan menengadahkan kedua telapak tangannya, meminta sesuatu dari sang adik yang sebentar lagi akan menyamai tinggi badannya itu.


"Ini" Nata lalu menaruh seekor anak katak diatas telapak tangan Kaila dan membuat gadis kecil itu berbinar bahagia.


"Hah" Senja hanya bisa menghela nafas pasrah melihat tingkah kedua anaknya, entah itu kodok yang keberapa yang ditangkap Nata, kemarin ia membawa kaki seribu, siput, bahkan pernah Nata membawa Tupai liar untuk sang kakak.


Lama lama ia akan membawa ular kobra juga masuk kedalam rumah ini! Pikir Senja. Wanita itu terus menggelengkan kepalanya bagaimana tidak dua kakak beradik itu malah mengelus punggung katak itu layaknya anak kucing lucu.


"Nah Sekarang kataknya bawa ke belakang ya, kakak Kaila dan Ade Nata harus bersih bersih dulu, kalau papa pulang terus anaknya bau nanti gak di kiss loh"


"Iya iya iya" Kaila berlari kecil menuju tempat yang dimaksud.


Aby memang menyiapkan sebuah taman dengan dinding kaca dibelakang rumah, disanalah Kaila dan Nata menyimpan hewan peliharaannya yang aneh aneh itu. Kaila jadi ikut ketularan kebiasaan Nata. sejak bocah itu memulai hobby barunya diusia 3 tahun.


Aby belum juga kembali padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, mungkin ia mampir dirumah Baruna atau lembur dikantor, tebak Senja karena sejak sore ponselnya sudah tidak aktif.


Senja membuka kamar anak anaknya, yah Kaila dan Nata masih sekamar itu karena Nata yang tidak ingin berpisah dari saudarinya itu.


Ia fikir mereka sudah tertidur namun nyatanya hanya Kaila yang terlelap, sementara Nata duduk dibawah kaki kakaknya sambil mengolesi minyak tawon pada pergelangan kaki Kaila dimana terdapat bekas gigitan nyamuk yang cukup kentara, sambil sesekali mengusir nyamuk dengan mengibas ngibaskan tangannya keudara.


"Banyak nyamuk yang gigit kakak Mami"


" hemmYa udah mama pasang kelambu ya"


"Jangan" Nata mengibas ngibaskan tangan didepan dada mencegah Senja beranjak untuk mengambil kelambu lipat dilemari.


"Kenapa hemm?? Kan banyak nyamuk"


"Ini kan Nata," Bocah ingusan itu memukul dadanya pelan" kata papa Nata artinya pelindung seperti teman mami yang katanya melindungi mami kalau lagi sakit dan sedih jadi Nata juga harus seperti itu sama kakak"


Hati Senja terenyuh mendengar penjelasan putranya, ia tak menyangka Aby akan menceritakan sedetail itu mengenai Nata.


Saat lahir Aby langsung menyematkan nama Nata pada putranya, katanya untuk mengenang manusia baik itu, dan agar sang istri tidak pernah lagi merasa kehilangan karena Nata akan selalu ada disekitarnya.

__ADS_1


Nata Abyansyah putra, Nama lengkap bocah lucu itu.


"Gak begitu konsepnya sayang, kalau Nata kipasin kakak terus kapan tidurnya? besok bisa telat kesekolah" Bujuk Senja dan Natapun akhirnya mengangguki keinginan Maminya untuk memasang kelambu.


Saat keluar dari kamar anaknya ia sudah menemukan Aby dengan senyum yang selalu merekah jika bertemu istrinya.


"Sayang" Aby mengecup kening Senja.


"Lembur Mas?"


"Ia ada beberapa pekerjaan yang harus Aku selesaikan soalnya minggu depan ulang tahun perusahaan, Ayah memberi libur 3 hari bagi semua staf kantor dan lapangan"


"Anak anak Sudah tidur?"


"Sudah Mas"


Senja yang duduk bersandar di tempat tidur menatap Suaminya yang masih juga belum beranjak Dari depan kaca meja hias sang istri.


"Kenapa mas? Ada yang salah?" Tanya senja melihat Aby yang terus menyela nyela rambutnya.


"Hah" terdengar helaan nafas dari Aby " Mas ada uban Lagi Senja, padahalkan belum genap 40 tahun. baru juga 38"


Senja tertawa kecil melihat tingkah Aby, pria itu memang sangat takut terlihat menua karena selalu ingin memantaskan diri jika berada didekat Senja.


Senja lalu beranjak dan memeluk suaminya dari belakang, "Mas itu bukan karena usia, bisa jadi karena beban fikiran, lagian kenapa sih kalau ada uban mas tetap tampan gini kok"


Aby lalu melepas lingkaran tangan Senja diperutnya dan berbalik untuk memeluk istrinya dengan posisi saling berhadapan.


"Tapi aku malu kalau kita jalan nanti ada yang bilang mas ini bapakmu, atau om , atau jangan jangan ada yang berfikir aku ini kakek kakek"


"Astaga Mas" Senja mendongak mencubit hidung mancung Aby, "Mana ada seperti itu. mas masih kayak mas Aby yang dulu muda dan tampan dan berkarisma" lanjut Senja lagi memuji Pria yang memang masih terlihat sangat tampan itu walau usianya sudah mendekati angka kepala 4.


"Benar nih aku masih muda? Berarti masih bisa punya anak lagi donk"

__ADS_1


"Bisa lah mas kenapa tidak"


"kalau begitu____" tanpa banyak bicara lagi Aby mengangkat tubuh Senja seperti membawa karung beras di pundaknya. Dan Senja hanya bisa pasrah toh ini memang aktifitas rutin mereka kecuali jika sedang lelah dan dan kedatangan tamu bulanan.


__ADS_2